Jaran Kepang Tak Seheboh Gangnam Style, tapi Lebih Magis

Joko Prayitno

 

Beberapa waktu lalu dunia dihebohkan dengan tarian “gangnam style” dari Korea yang dibawakan oleh PSY. Tarian yang mengikuti gaya kuda ini dengan bantuan media massa mulai elektronik hingga cetak mampu mempengaruhi banyak lapisan masyarakat dunia untuk menyukai tarian ini. Banyak orang ramai membicarakan trend ini dari masyarakat kecil hingga selebriti, semua terhipnotis oleh tarian ini. Bahkan official video klip musik dan tarian ini telah dilihat sebanyak lebih dari 1 milyar orang, sesuatu yang fantastis.

Ironisnya ketika masyarakat Korea bersuka-cita dengan keberhasilan PSY dengan gangnam style-nya beberapa waktu lalu di bumi Indonesia yang kaya akan tarian tradisi menakjubkan dihebohkan dengan komentar Gubernur Jawa Tengah yang mengkritik budaya kita sendiri, tarian Jaran Kepang (Kuda Lumping) sebagai seni yang jelek. Padahal seni ini sudah berakar cukup lama sebagai kesenian tradisional yang melampaui berbagai jaman untuk bertahan.

Kuda Lumping (dikenal sebagai Jaran Kepang dalam bahasa Jawa) adalah tarian tradisional Jawa yang menggambarkan sekelompok pasukan berkuda. Penari “naik” kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan dihiasi dengan cat warna-warni dan kain. Umumnya, tarian menggambarkan tentara menunggang kuda, tetapi jenis lain dari Kuda Lumping juga mencakup kesurupan dan trik sulap. Ketika “dibawakan” penari sedang melakukan tarian dalam kondisi kesurupan, dia bisa menampilkan kemampuan yang tidak biasa, seperti makan kaca dan resistensi terhadap efek cambuk atau panas bara. Meskipun tarian asli Jawa, Indonesia, tarian ini juga dilakukan oleh masyarakat Jawa di Suriname, Malaysia dan Singapura.

Asal usul Kuda Lumping tidak pasti. Dua hipotesis utama telah diusulkan. Yang pertama menunjukkan bahwa kuda lumping mungkin muncul dari perang Diponegoro melawan pasukan kolonial Belanda, sebagai pemeragaan ritual pertempuran. Yang kedua berpendapat bahwa hal itu didasarkan pada pasukan era Mataram melawan Belanda. Kuda Lumping dikenal dengan nama yang berbeda di daerah yang berbeda. Sementara Kuda Lumping adalah nama yang paling umum di Jawa Barat, di Jawa Tengah itu dikenal sebagai Jaran Kepang, di Bali, itu dikenal sebagai Sang Hyang Jaran.

koeda-kepang-paardendans-op-java-1910

Penari Jaran Kepang (Kuda Lumping) di Jawa tahun 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Jaran Kepang (Kuda Lumping) digandrungi oleh masyarakat bukan melalui hingar bingar pengiklanan budaya oleh media-media. Jaran Kepang (Kuda Lumping) seni yang dibangun oleh masyarakat itu sendiri. Karena dibangun oleh masyarakat sendiri maka ia mampu bertahan hingga berabad-abad. Tarian ini lebih enak dinikmati selain unsur seninya juga ada unsur mistiknya, sebuah perpaduan seni dan keagamaan. Jadi saya yakin Gangnam Style tidak akan bertahan lama seperti Jaran Kepang, karena ia hanya produk budaya pop yang dihebohkan oleh media untuk mendongkrak rating…..

So, Cintailah Budaya Kita..karena Budaya kita sudah melampaui berbagai jaman dan selalu hidup.

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2013/05/22/jaran-kepang-tak-seheboh-gangnam-style-tapi-lebih-magis/

 

13 Comments to "Jaran Kepang Tak Seheboh Gangnam Style, tapi Lebih Magis"

  1. dedy risanto  18 June, 2013 at 10:35

    Lany, jaran kepang atau jathilan itu, ada unsur kesurupannya, jd puncak tariananya adalah adalah ketika sang penari kerasukan roh, atraksinya lebih hidup, mulai dari makan kembang sampai makan beling, aksi aksi diluar nalar kitalah.. nah kalo kita kesenggol ( istilah gampangnya) kita bisa ikut kesurupan dan menari bersama mereka. nanti sang pawang yang akan menyembuhkan… gitu lo.

  2. Lani  17 June, 2013 at 13:53

    Dedy : kesenggol opo? trs dadi opo? aku rak mudenk iki………..

  3. dedy risanto  17 June, 2013 at 13:48

    mbak dewi, ati ati lho mbak, kalo kesenggol iso “NDADI” , makan kembang sama beling nanti…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.