Menyentuh Pribadi

Dian Nugraheni

 

Sebenarnya, bagaimana membuat anak mau mempelajari sesuatu, salah satu jalan yang harus ditempuh adalah, menumbuhkan motivasi. Dan motivasi ini, sifatnya sangat pribadi, individual …

Inilah pintarnya sistem sekolah di Amerika menumbuhkan motivasi individu, salah satunya adalah dengan “MENYENTUH PRIBADI” masing-masing anak.

educate

1. Kenali Dirimu Sendiri

Di awal sekolah, anak-anak diminta menuliskan pada selembar kertas separo folio, “APAKAH ARTI NAMAMU DALAM BAHASA ASALMU..” tanyakan pada orang tuamu, apabila kalian belum atau tidak memahaminya.

Nah.., langkah ini sudah membuat masing-masing anak surprise, bangga, dan merasa dirinya dihargai. Setelah menuliskan namanya, keesokan harinya gurunya akan membacakan di depan kelas, masing-masing nama anak dan artinya..

Bisa bayangkan kan..,pasti anak-anak ini senang, karena pastilah nama mereka indah, penuh arti..Bukankah orang tua memberi nama selalu mengandung arti dan harapan yang baik? (Untung kelas di sini adalah “kelas kurus”, sekitar 20 anak per kelas, jadi gurunya gak capek-capek amat membahas satu-satu…)

Setelah itu, kertas yang berisi NAMAMU dan ARTINYA ini akan ditempel di kertas berwarna-warni, dihias,kemudian dipajang untuk beberapa hari di kelas masing-masing. Dan mereka, anak-anak ini akan saling memperbincangkan, bertukar cerita, tentang nama-nama mereka…

Lain hari, anak-anak diminta menggambar seekor ikan, seukuran setengah folio lagi. Pada badan ikan, dituliskan hal-hal yang berkaitan dengan pribadi anak, dan diminta mengisi jawaban tanpa bantuan orang tua.

Hal yang ditanyakan, adalah kurang lebih begini, misalnya, Name : Almasita, I’m best at: Art, I see myself : (as an) Artist, People who support me : my mom, my dad, and my sister.

Besoknya anak-anak diminta bawa foto diri, kecil saja, di tempel di badan ikan. Tak lupa, lagi-lagi anak-anak diminta menghias ikannya seindah mungkin. Lain hari, gambar-gambar ikan ini sudah dipajang di tembok lobi sekolah, per kelas..Dan, anak-anak exciting banget ketika orang tuanya jemput sekolah, “Mama, ini punyaku…”

Ini adalah salah satu usaha sekolah “mendeteksi”, sebenarnya, apakah “special gift”, bakat dari masing-masing anak…(Karena biasanya..biasanya lho.., kalau bapaknya jadi dokter, maka anaknya disuruh jadi dokter juga..he..he..).

2. Membaca

Di Amerika, hampir bisa dikatakan, orang-orang sangat dekat dengan yang namanya buku, bacaan. Di mana-mana terdapat perpustakaan bebas biaya, siapa pun boleh mendaftar, meminjam buku, dan seterusnya.

Di ruang londri, ketika seseorang menunggu cuciannya, di Food Court di mal-mal, di taman ketika matahari cerah, di kereta bawah tanah ketika orang berangkat pulang kerja.., yang paling lazim mereka lakukan adalah membaca.

Toko buku pun, di dalamnya ada semacam kedai kecil. Kita boleh ambil setumpuk buku, duduk di kedai, boleh pesan minum atau tidak sama sekali, dan boleh baca buku berjam-jam tanpa membeli. Dan gak usah repot-repot kembalikan buku ke raknya semula.., tinggal pulang aja, gak akan ada yang sakit hati atau ngedumel karena harus merapikan buku-buku yang kita ambil tanpa jadi membeli.

Dan memotivasi anak untuk membaca ini, lumayan “memaksa” pada awalnya, tapi kemudian yang aku lihat, mereka telah mengalir dengan kebiasaannya membaca buku.

Aku bilang lumayan “memaksa” karena dari sekolah, anak-anak akan diberikan blangko berjuluk READING LOG. Isinya, ya seperti tanggal mulai dan selesai membaca, judul buku, Pengarang, dan ini yang penting : phrase mana, bagian mana yang menarik buat kamu dalam bacaan itu..

Jadi tiap hari anak-anak “wajib” membaca di rumah, untuk anak SD dijatahkan 30 menit, dan anak SMP 45 menit. Mereka bebas saja menuliskan, bagian mana yang menarik menurut mereka.

Dan hari berikutnya, Reading Log ini akan diperiksa Gurunya, dan diparaf. Untuk membuat anak-anak senang, kadang dihadiahi stiker, meski cuma gambar bintang segede kuku kelingking kita…Begitulah “pemaksaan” membaca ini dilakukan terhadap anak sekolah.

Dan awal memotivasi membaca bagi anak-anak ini tidak muluk-muluk,kok.. Bacaannya dipinjamkan dari perpustakaan. Bagi anak-anak yang belum lancar membaca, boleh dibacakan oleh orang yang lebih dewasa, seperti kakak, atau orang tuanya, atau mendengarkan bacaan yang sudah direkam, mungkin bagi yang Bapak Ibunya sibuk bekerja…

Tidak muluk-muluknya lagi, bahkan bagi anak SMP, Gurunya bilang gini, “baca buku sesuai kemampuanmu (berkaitan dengan kemampuan berbahasa Inggris yang terbatas bagi pendatang).

Apabila dalam satu paragraf, kamu menemukan 5 atau lebih kata-kata sulit yang kamu harus buka kamus untuk tahu artinya, berarti buku itu TIDAK COCOK buat kamu..” (maksudnya, ketinggian, boo.., cari dari yang lebih sederhana dulu..)

Artinya, usia berapa pun kamu, bacalah buku sesuai kemampuanmu, karena kegiatan membaca ini, UTAMAnya bukan untuk mempelajari vocab, kosa kata, tetapi adalah untuk kesenanganmu…Gimana, gak muluk-muluk, kan..?

3. Olah Raga

Di SD, pelajaran Olah Raga diberikan seminggu dua kali, tidak berseragam olah raga. Berkaitan dengan masalah cuaca, maka anak-anak akan olah raga di luar ruangan jika matahari cerah. Bila cuaca tidak memungkinkan, akan dipindahkan ke gym.

Olah raga anak SD juga masih “lucu”. Seperti naik tangga tambang, berayun-ayun di tambang seperti Tarzan, lempar tangkap bola, dan diiringi musik pula. “Tadi musiknya Michael Jackson, Beat it..,” gitu anakku melapor.

Sedangkan di SMP sudah mulai agak “tertib”, dan gak tanggung-tanggung, olah raga diberikan sebagai pelajaran harian, alias tiap hari ada olah raga.

Anak-anak mempunyai seragam olah raga. Dan yang diajarkan selama ini adalah “bermain” basket, atau Football (bukan Soccer) dengan bola oval.. Tapi ya itu tadi, olahrganya adalah “main-main”, relaksasi, mengimbangan terhadap kerja otak yang sudah terperas untuk pelajaran seperti Matematika, Sains, atau IPS.

Di SMP tidak setiap hari, olahraga di lapangan atau gym. Ada kalanya diberikan pelajaran teori Olahraga di kelas. Teorinya juga bukan berapa ukuran lapangan sepak bola, atau berapa tinggi net badminton… (huih..paling sebel nih kalau disuruh ngapalin soal-soal kayak gini..he..he.., ingat gak kawan-kawan..).

Tapi lebih “menyentuh”, misalnya, akan ditanyakan, apakah makanan kesukaanmu…Kemudian akan diterangkan mengenai kandungan nutrisi dan gunanya, seperti lemak, karbohidrat, vitamin, dan lain-lain.

Nantinya, anak-anak akan disuruh menghitung sendiri, berapa jumlah kalori yang terkandung, apabila dia mengkonsumsi makanan kesukaannya itu..

4. Pekan Karir

Setiap tahun ajaran, ada acara yang dinamakan Pekan Karir. Ini akan melibatkan pihak sekolah, dan juga orang tua, atau siapa pun sebagai voluntir.

Begini acaranya, para voluntir yang bersedia, akan datang ke sekolah, masuk ke kelas, dan menceritakan apa dan bagaimanakah mereka melakukan pekerjaannya.

Waktu itu, anakku yang SD menceritakan kembali di rumah, begini, “Tadi Bapaknya Carla Soto Gomez datang ke sekolah, di kelasku dia menceritakan, bagaimana dia menanam tumbuhan bunga. Dari biji, dari potong batangnya (mungkin yang dimaksud adalah stek), pake kompos, pake shovel, sekop, bla..bla..bla..”

Hari berikutnya, anak-anak diminta menggambar atau menulis uraian sederhana, tentang AKAN JADI APAKAH KAMU KETIKA DEWASA NANTI..?

Seminggu kemudian, karya mereka sudah ditempel per kelas di dinding lobi. Lucu-lucu.., khas anak-anak.., sangat menyentuh..

Ada yang nggambar kedai Dunkin Donat, kemudian ditulisnya, “Bila besar nanti aku akan menjadi pembuat donat di Dunkin Donat..” he..he.., pastilah anak ini Dunkin Donat mania..

Atau, ada yang nggambar Burger King, ada yang nggambar guru di kelas, dokter, arsitek, petani bunga (bisnis nursery di sini sangat bagus, karena seantero Amerika memerlukan perawatan taman secara berkala, kaitannya dengan pergantian musim…)

Atau ada yang menulis essay pendek, menceritakan keinginannya dalam tulisan, “Kalau besar nanti, aku akan menjadi guru, mengajar di kelas, bla..bla..bla..”

Indah…indah…sangat indah…

Nah, kalau anak SMP, Pekan Karir ini sudah mulai fokus. Selain mendatangkan voluntir, anak-anak juga akan diberikan contoh-contoh sederhana tentang apa dan bagaaimana nantinya karir yang mereka inginkan.

Ada yang bilang, ingin jadi ahli make up artist, maka akan diperagakan bagaimana mendandani muka orang secara artistik.

Ada yang bilang pengen jadi pemusik, pemain teater.., silakan, boleh diperagakan di ruang Teater.., disediakan berbagai alat musik dan panggungnya..

Atau yang ingin jadi apa pun.., ditawarkan, “Apakah kamu sudah bisa membayangkan apa dan bagaimana karirmu itu? Bolehkah kamu sampaikan..?”

Manis.., manis.., sangat manis…

Oke anak-anak seluruh dunia.., apa pun keinginanmu.., kenalilah dirimu sendiri.., berusahalah dengan segala kemampuanmu.., semoga tercapailah keinginan mulia kalian…

Woce.., itulah sekilas, apa dan bagaimana pelajaran di sekolah di Amerika disampaikan…Senang bisa berbagi cerita tentang anak-anak.., kurang lebihnya, mohon dimaafken.., ya…

North Carlin Spring
Arlington, Virginia

Dian Nugraheni
Di sini jam 5.49 sore, hari Selasa 15 Desember 2009
Mendung dan dinginn…

 

6 Comments to "Menyentuh Pribadi"

  1. anoew  29 May, 2013 at 18:13

    Naaah.., yang begini ini harusnya ditiru oleh negara terbelakang eh, berkembang seperti Indonesia. Bebas dari intervensi lembaga tertentu, bebas dari muatan politis pihak tertentu, bebas pula dari muatan agama tertentu. Biarlah sekolah menjadi pendidikan Iptek dan Budi Pekerti, bukan hal lain.

    Mau maju? Ya berpikirlah terbuka.

    Eh, tentang ‘menyentuh yang pribadi”, itu memang mengasyikan dan, bisa bikin sakit kepala lenyap. Terbukti.

  2. Matahari  28 May, 2013 at 20:42

    Dian..tulisan yang ringan tapi…bagus

  3. Sumonggo  28 May, 2013 at 11:41

    Betul juga ya, apa ada hubungannya menghapalkan ukuran lapangan sepakbola dan tinggi net badminton dengan prestasi olahraga tersebut? Mungkin nanti di kurikulum 2013 pelajaran olahraga akan di-“blend” dengan matematika dan fisika, jadi sambil lari sambil ngukur lapangan … he he …

  4. nia  28 May, 2013 at 10:39

    mb Dian… teman sy yg jd guru SD di sekolah internasional di Jakarta cerita kalo anak2 jg diberi pengertian mendalam tentang personal hygiene jadi kalo mau makan gak perlu diingatkan untuk cuci tangan. soal cuci tangan itu anak2 bisa control sendiri tp kalo sudah mulai soal kebersihan seragam kadang ada yg sudah kotor masih dipakai. si anak sadar itu gak bersih tp apa daya dirumah SEMUA disediakan pembantu. kalo pembantunya gak ada ya pakai seragam seadanya malah ada yg disuruh gak masuk sekolah sama ortunya.

  5. J C  28 May, 2013 at 10:23

    Dian, di sekolah anakku ada beberapa yang mirip dari pemaparanmu di atas. Sekarang sekolah national plus (swasta) dan international school sudah banyak mengadopsi cara-cara seperti dalam artikel ini.

  6. Handoko Widagdo  28 May, 2013 at 09:27

    Terima kasih atas sharingnya Dian Nugraheni. Sebenarnya Kurikulum 2013 yang saat ini sedang disusun mengarah kesana. Mengarah kepada membuat anak percaya diri, berkemampuan untuk melakukan inquiry, berpikir dengan metode ilmiah. Jika Kurikulum ini disusun dengan sangat baik dan hati-hati, maka pendidikan Indonesia akan menjadi lebih baik. Sayangnya, pelaksanaan Kurikulu 2013 ini seperti dipaksakan, meski detailnya belum siap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *