[Sesendok Teh] Passion

Ita Siregar

 

Meski tidak puasa, saya rajin buka bersama (bukber). Satu waktu, saya bukber dengan teman kantor lama, satu hari lain dengan teman satu SMP, dan hari lain lagi, dengan teman lainnya. Kamis lalu, saya bukber bareng Endah, sesama pecinta buku. Berdua saja. Pilihan jatuh pada menu bebek di rumah makan yang sedang naik daun di sekitar Jakarta Timur.

”Kalau bisa kamu antre sebelum jam lima. Kamu tahu sendiri, di sana hari-hari biasa pun penuh,” pesan Endah.

Saya mengiyakan. Karena dekat, saya akan berada di sana lebih dulu, sementara Endah akan menempuh perjalanan sekitar satu jam dari kantornya. Hampir pukul lima saya tiba. Halaman parkir yang cukup luas itu sudah dipadati mobil dan sederetan motor. Saya menengok ke lantai dua restoran, sudah penuh orang. Jangan-jangan saya sudah terlambat, pikir saya khawatir.

Sebelum masuk, ada semacam pendaftaran. Lima perempuan muda memandangi catatan si petugas dengan wajah penuh harap. Bersama saya ada serombongan yang juga baru datang. “Untuk lima orang, tunggu dulu,” tukas si petugas.

”Mas, saya untuk dua orang,” ujar saya.

Si petugas tidak menjawab. Saya lihat catatannya dipenuhi tanda contreng yang mungkin artinya sudah penuh. Saya sabar menunggu. Tiba-tiba pegawai lain datang, memberitahu si petugas bahwa baru saja meja untuk dua orang, kosong. Si petugas memandang saya, saya langsung mengerti, bergegas ke tempat yang ditunjuk. Lega sekali rasanya bisa duduk di sana, waktu itu. Saya segera mengirim pesan pendek kepada Endah bahwa saya sudah berhasil dapat kursi.

Restoran ini belum lama pindah ke Jalan Pemuda. Sebelumnya, buka di Jalan Waru, jauh lebih sempit dari tempat sekarang, yang bahkan bertingkat dua. Restoran buka pukul 5 sore tiap hari kecuali Minggu. Menu yang tersedia bebek goreng, bebek bakar, dan bebek cabai hijau.

Tiap kali makan di sini, saya ingat setahun lalu mewawancarai pemilik restoran untuk sebuah tulisan. Randy, laki-laki muda dan penuh semangat. Dia dan istrinya telah lama bercita-cita mempunyai restoran yang menyajikan makanan enak dan terjangkau kalangan mana pun. Pilihan jatuh pada bebek yang belum banyak dikenal.

Pertama, mereka perlu menemukan teknik yang benar dalam memasak bebek. Tiap malam sehabis kerja kantor, mereka menekuri dapur untuk mengolah bebek. Istri Randy sudah pesan kepada tukang bebek di pasar untuk menyuplai seekor bebek tiap hari. Selama tiga bulan mereka melakukan percobaan sampai menemukan rasa yang maksimal, tekstur daging yang empuk, dan tidak berbau.

Satu kali, mereka pergi ke Magelang untuk urusan keluarga. Di sekitar Candi Borobudur mereka makan di warung sederhana milik simbok tua. Randy merasa kremes ayam goreng simbok begitu istimewa. Ia bertanya apakah simbok mau mengajarkan cara membuat kremes kepadanya. Simbok setuju. Jadilah Randy peserta pertama di sekolah memasak simbok.

A-Passion-for-Life

 

100 Kali Racikan

Untuk menentukan rasa sambal yang cocok, tidak kurang dari 100 kali Randy dan istrinya meracik berbagai bahan dan cara. Hampir setahun mereka melakukan pencarian pola memasak dan penyajian. Setelah itu mereka melakukan tes rasa kepada keluarga dan teman-teman dekat. Hasilnya mereka evaluasi dan menetapkan selera umum yang paling objektif.

Mereka mulai memperkenalkan menu bebeknya kepada publik di satu sudut jalan kompleks Cempaka Putih. Siang hari, tempat itu adalah sebuah bengkel kendaraan. Hari pertama tidak ada yang mampir. Hari kedua, tiga orang. Dalam seminggu tidak sampai tujuh orang duduk di restoran mereka. Tapi mereka terus bertahan dan tetap percaya diri dengan menu andalannya.

Minggu kedua, Randy melihat wajah yang sama mampir dan makan. Kemudian wajah yang sama mengajak wajah-wajah baru lain untuk makan di sana. Dalam tiga bulan restoran disinggahi pelanggan sedikitnya 12 orang tiap hari. Dengan promosi getok tular yang sangat efektif, satu demi satu kursi restoran diisi pelanggan yang bersemangat untuk mencicipi bebek.

Setelah itu hidangan bebek mereka makin dikenal di kawasan tersebut, dan beberapa pelanggan yang radius tempat tinggalnya lebih jauh. Setelah padat pelanggan, Randy membuka cabang demi cabang restoran, masih dengan semangat yang sama, yaitu menyajikan hidangan lezat dan bisa dinikmati kalangan mana pun.

Endah tiba pada saatnya mau berbuka. “Dahsyat ya. Kamu lihat nggak deretan mobil dan motor sampai ke luar parkir?” tanyanya.

“Ya, pemilik restoran ini bersemangat,” jawab saya.

 

7 Comments to "[Sesendok Teh] Passion"

  1. Ita Siregar  6 June, 2013 at 09:25

    Terimakasih sudah membaca tulisan ini, teman2.
    Pak Dj, semoga ada waktu ke Bandung dan ke PvJ ya. Saya bukan pecinta bebek, tapi mencicipi bebek yg saya ceritakan itu, jadi ketagihan. Pertama kali mencicipi hidangan bebek yang mengesankan di Ubud Bali, nama restorannya Bebek Bengil. Sejak itu sesekali saya ingin coba hidangan bebek.
    Salam hangat.

  2. Bagong Julianto  31 May, 2013 at 16:46

    Ita, gaya penyampaian yang apik. Baru nikmati uraian, tahu-tahu cerita habis. Sweety ending!

  3. Dj. 813  28 May, 2013 at 19:03

    Ita Seregar….
    Terimakasih, sayang tidiak ada photo bebeknya…..
    Untuk Dj. belum ada yang bisa ngalahi bebek di Paduka bebek di PvJ ( Paris van Java ) di Bandung.
    Saat mudik, di Surabaya tahun lalu, kaka dj. malah ngajak ke Maduro, setelah melewati jembatan
    Suromadu, tidak jauh lagi dan juga rame sekali pengunjungnya.
    Tapi ya… entahlah, untuk mulut Dj. kok bebek di Paduka bebek di PvJ. belum ada saingannya.
    Siapa tau satu saat Ita, ke Bandung, silahkan coba bebek di Paduka bebek di PvJ Bandung.

    Salam bebek dari Mainz.

  4. Dewi Aichi  28 May, 2013 at 18:57

    Gigih…tidak mudah menyerah …semangat, kemauan, passion…..hasilnya = sukses….

  5. Lani  28 May, 2013 at 11:46

    1 & 2 se777777777………

  6. Sumonggo  28 May, 2013 at 11:29

    Seperti ahli musik bisa menentukan apa nadanya hanya dengan mendengar suaranya, ahli masak hanya dengan mencicipi bisa tahu racikan bumbunya.

  7. J C  28 May, 2013 at 10:14

    Mengerjakan sesuatu dengan passion akan mendapatkan hasil yang optimal…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.