Mengintip Potensi Alam dan Aktivitas Nelayan Tradisional di Pulau Kabung

Jemy Haryanto

 

Selain eksotisme lanskap, pulau ini menyimpan potensi bawah laut yang berlimpah. Hamparan perkebunan cengkeh dan Pala di atas bukit, juga aktivitas nelayan tradisional dengan kearifan lokalnya, menjadi pelengkap daya tarik bagi siapapun …….

Gelap masih membungkus kota Pontianak subuh itu. Udara dingin terus berputar-putar, menyelinap masuk dari lubang pori hingga menusuk pada tulang. Sementara peralatan yang sedang dibawa sangat banyak dan menguras tenaga. Namun hal itu tak terlalu berpengaruh pada keinginan untuk segera tiba di pulau.

Namun untuk kegiatan eksplorasi, tak banyak referensi yang berhasil dikantongi. Hanya sedikit deskripsi dari seorang Seniman, yang juga sahabat, yang mengatakan jika pulau itu sangat indah.

Di dalam bus yang tengah melaju kencang, pikiran terus mengembara ke pulau itu. Tak peduli aroma para penumpang yang khas, yang sebentar-sebentar tercium karena terbawa angin dari celah kaca yang sedikit terbuka, juga tatapan aneh seorang anak kecil dalam dekapan ibunya.

Tak sampai klimaks, tiga jam kemudian bus berhenti tepat di depan gerbang Taman rekreasi Samudra Beach, di Singkawang. Setelah membayar ongkos 25 ribu rupiah, perjalanan berlanjut menggunakan transportasi ojek menuju pelabuhan kecil di bibir pantai. Itu juga tidak mahal, hanya 5 ribu rupiah untuk biaya satu orang.

Setelah menunggu hampir dua jam lamanya, kapal motor yang merupakan alat transportasi tradisional regular untuk masyarakat di daerah itu bersandar di dermaga. Perjalanan dilanjutkan kembali, membelah laut dan memecah gelombang. Sedikit mengkhawatirkan berada di tengah laut kala itu, karena ombak yang bergulung cukup besar, mengingat pada saat itu musim angin Barat. Indikator terjadinya badai tropis.

Namun perasaan cemas seketika hilang, saat mata menangkap pulau berdiri sangat kokoh di kejauhan. Setelah satu jam menyaksikan pentas seni alam di atas laut yang menampilkan tari-tarian alun dan gelombang, kapal merapat di dermaga kecil satu jam kemudian. 10 ribu rupiah ongkos yang harus dikeluarkan.

1. Pulau kabung. Foto Jemy Haryanto

Pulau Kabung

Aku pun tiba di pulau Kabung, dusun Tanjung Gundul, desa Karimunting, kecamatan Sungai Raya Kepulauan, kabupaten Bengkayang, West Borneo, Indonesia. Yang merupakan pulau terdekat karena hanya berjarak sekitar 20 kilomener dari wilayah daratan.

Kesan pertama berada di pulau ini adalah damai dan tenang. Pulau yang memiliki luas sekitar 1.015 hektar dengan jumlah penduduk kurang lebih berjumlah 400 jiwa ini begitu eksotik. Tampilan lanskap pantai dengan barisan Bagan di atas laut yang berjumlah puluhan, dan gugusan tujuh pulau yaitu pulau Lumukutan, pulau Randayan, pulau Penata Besar dan Penata Kecil, pulau Seluas, pulau Tempurung dan pulau Semesak begitu menarik perhatian.

1. Pondok Bagan. Foto Jemy Haryanto

Pondok Bagan

 

Eksotisme Pulau Kabung

Lanskap bawah laut yang menampilkan bermacam-macam biota laut juga menjadi tujuan saat itu. Menggunakan peralatan snorkel, camera dan sedikit mengapung di atas air, kita dapat melihat alam lain yang begitu indah. Ikan badut atau clownfish, atau lebih populer dengan sebutan nemo (tokoh utama dalam film ‘Finding Nemo’) akan menyapa.

11. lanskap bawah laut, Soft Coral dan Clownfish. Foto Jemy Haryanto

Soft corals

 

12. hard coral. foto jemy haryanto

Hard corals

Bebatuan dan coral juga tak luput dari pandangan. Ada dua jenis coral terdapat di bawah laut pulau Kabung, yaitu Soft Corals dan Hard Corals. Selain itu aktivitas penyu yang berenang kesana kemari dapat dijumpai. Sayangnya saat itu bukan musim bertelur, karena jika demikian kita bisa melihat langsung aktivitas hewan laut yang hampir punah ini mengeluarkan telur-telurnya.

Berjalan sedikit ke bagian Barat pada pulau adalah pantai dengan tumpukan batu-batu besar. Salah satu batu tersebut ada yang berbentuk altar. Menurut Andi Baharudin, 51 tahun, warga setempat mengatakan batu berbentuk altar itu sangat difavoritkan para turis asing untuk berkontemplasi dengan alam sambil menikmati seafood bakar.

4. Kampung Nelayan. Foto jemy haryanto

5. Rumah tradisional penduduk nelayan. foto jemy haryanto

“Saya yang membawa turis-turis waktu itu, dan mereka sangat senang di sana. Mungkin karena suasananya sepi dan tenang. Tidak ada perkampungan penduduk, sebagian besar wilayahnya hanya ditumbuhi pepohonan kelapa,” ucap dia.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke perkampungan nelayan, atau tepatnya kearah Timur pulau. Ada hal-hal menarik ditemukan di kampung yang belum terpasang listrik itu. Adalah senyum tulus dan penduduknya sangat familiar. Jangan heran setiap bertemu siapapun, mereka akan selalu menyapa, bahkan tak sedikit menawarkan untuk menginap atau tinggal di rumah mereka, sebagai wujud penghormatan mereka kapada tamu.

Selain itu bentuk rumah penduduk itu sendiri, unik dan sangat tradisional. Sekilas, kontruksi bagian bawah rumah-rumah itu mirip rumah tradisional suku Melayu dan rumah Betang yang merupakan rumah tradisonal suku dayak, tapi bukan. Itu adalah rumah tradisional suku Bugis dari Sulawesi, suatu kelompok suku yang banyak melahirkan para Pelaut-pelaut hebat.

Menurut Andi Baharudin, sebagian besar penduduk kampung nelayan adalah suku Bugis. Mereka datang ke pulau Kabung setelah terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Kahar Muzzakar di Sulawesi sekitar tahun 1950 -1965 silam. Untuk mencari ketenangan dan hidup damai mereka berbondong-bondong mencari pulau-pulau yang bertebaran di perairan Indonesia.

“Sebelumnya, penduduk yang menempati pulau Kabung adalah suku Melayu Sambas di zaman kerajaan dulu. Setelah mereka pergi kemudian masuk bangsa China. Dan kami (suku Bugis) adalah penduduk ketiga di pulau ini,” cerita singkat Andi.

Setelah berbincang dengan Andi, aku beristirahat di sebuah pondok di tepi pantai sambil menikmati seafood dan indahnya pemandangan laut pada malam hari yang terang oleh cahaya lampu-lampu Bagan milik nelayan yang merupakan alat tradisional untuk menangkap ikan. Tak heran jika pulau ini juga pernah dujuluki pulau Seribu Bagan.

Ikan Teri dan Sotong Asin Komoditi Laut

Selain eksotisme lanskap pantai, pesona bawah laut dan keramahan kampung nelayan, pulau Kabung juga sangat kaya dengan hasil laut. Berbagai jenis ikan tropis dapat dijumpai di sini, seperti ikan Kerapu dan lain-lain. Namun komoditi laut yang menjadi andalan masyarakat pulau ini adalah ikan teri atau bilis atau Stolephorus, sp dan sotong. Dua jenis ikan itu diolah oleh mereka menjadi ikan asin, yang merupakan makanan favorit kebanyakan orang Indonesia.

“Ada dua jenis ukuran ikan teri yang biasa dipanen oleh nelayan di pulau Kabung, yaitu ikan teri halus  dan kasar,” ucap Deki Septiani, 22 tahun, warga pulau yang berprofesi sebagai nelayan.

4. Ikan masuk perangkap. Foto Jemy Haryanto

7. ikan-ikan disimpan di Ragak. Foto Jemy Haryanto

12. Proses Penjemuran. Foto Jemy Haryanto

Setelah berbincang dengan Deki, sore itu perjalanan berlajut dengan sampan menuju Bagan untuk melihat langsung proses penangkapan ikan hingga proses pengolahannya menjadi ikan asin secara tradisional. Pertama-tama Sungkur atau jaring yang berbentuk persegi panjang diturunkan kira-kira 8 meter ke dalam laut, menggunakan alat putar yang terbuat dari batang kayu.

Kemudian dua buah lampu diturunkan, namun tidak sampai menyentuh air, sekitar tiga meter jaraknya dari permukaan. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian ikan-ikan terhadap cahaya untuk berkumpul di bawah Bagan. Namun tidak seketika itu juga ikan akan berkumpul, perlu menunggu 1 sampai 2 jam.

Ketika sudah banyak ikan yang berkerumun di bawah lampu, secepatnya lampu harus diangkat, begitu pula Sungkur menggunakan alat pemutar. Lalu ikan-ikan itu dicedok menggunakan Serok dan dimasukan ke dalam Ragak yang terbuat dari anyaman bambu. Setelah banyak, -biasanya untuk menghasilkan ikan teri dan sotong dalam jumlah besar diperlukan waktu hingga tengah malam bahkan pagi hari-, ikan-ikan dimasukan ke dalam Keranjang.

“Untuk satu malam aku bisa panen ikan teri sampai 10 keranjang. Satu keranjang mampu menampung sampai 16 kg ikan. Namun kondisinya akan berbeda pada bulan Juli sampai Oktober, nelayan bisa panen besar. Karena pada bulan-bulan itu cuaca sangat tenang. sehingga harus menyediakan lebih banyak lagi keranjang,” ungkap Deki.

Setelah dibawa ke perkampungan, ikan dan sotong siap diolah menjadi asinan. Dalam tahap ini, pertama-tama ikan-ikan harus dibersihkan dengan air laut. Tujuannya adalah untuk melepaskan kotoran dan sisik-sisik yang menempel pada ikan. Selanjutnya merebus mereka di dalam Pawon atau tungku. Saat proses perebusan berlangsung, ikan-ikan diberi garam. Setelah mendidih, ikan tersebut diangkat dan ditiriskan. Lalu dijemur di atas tikar di bawah sinar matahari.

5. Sungkur diangkat dengan pemutar. Foto Jemy Haryanto

10. direbus di atas Pawon. Foto Jemy Haryanto

12. Proses Penjemuran. Foto Jemy Haryanto

13. Ikan teri. Foto Jemy Haryanto

14. Sotong. Foto Jemy Haryanto

“Jika cuaca bagus, proses penjemuran hanya memerlukan waktu sekitar 6 jam. Jika penjemuran dimulai jam 7 pagi, pada jam 12 siang sudah bisa diangkat,” jelas Deki.

Dan setelah semua kering, ikan teri dimasukan ke dalam keranjang dan siap dipasarkan.

“Untuk ikan teri halus harga pasarannya berkisar 35 ribu rupiah, namun harga jual nelayan berkisar 40 ribu rupiah. Sedikit lebih mahal dari ikan teri kasar yang harga jual nelayan 30 ribu rupiah, sementara di pasar hanya berkisar 35 ribu rupiah,” jelas Deki.

Untuk sotong kering sendiri sedikit berbeda dalam hal pengolahan. Menurut Deki ada dua macam jenis pengolahan, yaitu direbus dan tidak direbus.

15. pemasaran. Foto Jemy Haryanto

“Untuk sotong yang tidak direbus tidak perlu diberi garam,tapi hanya dibelah kemudian dijemur sampai kering,” ucap lelaki beranak satu itu.

Menurut Deki lagi, untuk harga jual sotong kering agak tinggi. “Untuk sotong belah 100 ribu rupiah perkilogramnya, sementaranya sotong rebus berkisar 70 ribu perkilogramnya, dan itu adalah harga jual nelayan,” jelas anak ketiga dari empat bersaudara itu saat berbincang di atas Bagan miliknya, malam itu.

Cengkeh Dan Pala Komoditi Perkebunan

Selain hasil laut, pulau Kabung juga memiliki komoditi andalan dibidang perkebunan yaitu cengkeh. Tanaman yang memiliki nama latin Syzygium aromaticum dan masuk dalam family jambu-jambuan Myrtaceae ini mendominasi setiap penjuru pulau hingga ke atas bukit.

Ada dua jenis cengkeh yang tumbuh di daerah ini yaitu cengkeh Zanzibar dan cengkeh lokal, yang masyarakat setempat menyebutnya cengkeh hutan. Namun cengkeh Zanzibar lebih diunggulkan dibanding cengkeh lokal. Selain ukuran buahnya besar, rumpun bunganya subur dan hasil buahnya juga lebih banyak.

“Hasil panen cengkeh Zanzibar lebih banyak, kira-kira 50 berbanding 20 kilogram dari cengkeh hutan, selain itu harga jualnya juga lebih tinggi,” ucap Andi Baharudin yang juga petani cengkeh di pulau itu.

“Untuk satu kilogram cengkeh Zanzibar kering itu berkisar 90 ribu rupiah, jika turun pun hanya 5 ribu rupiah saja, sangat jauh dari harga jual cengkeh lokal,” tambahnya lagi.

Setelah mendapat penjelasan itu, kami berdua pun kemudian memutuskan untuk melihat langsung proses pemetikan buah cengkeh sampai proses pengeringannya secara tradisional oleh masyarakat. Jalan becek akibat hujan pada malam sebelumnya, juga bukit terjal menjadi warna dalam perjalanan ke perkebunan cengkeh pagi itu.

Di atas pohon, terlihat satu persatu buah cengkeh dipetik dari tangkainya oleh seorang warga. Namun perlu hati-hati saat memanjat pohon itu, karena dahan pohon cengkeh terkenal sangat rapuh, sehingga diperlukan kecepatan untuk memindahkan kaki, jika tidak anda akan terjatuh. Kemudian buah cengkeh yang sudah dipetik dimasukan ke dalam ‘Penyedok’, alat tradisional untuk mengangkut hasil panen seperti buah-buahan dari kebun, yang terbuat dari bahan ‘Sungkur’.

Setelah ‘Penyedok’ penuh, buah cengkeh dibawa ke perkampungan untuk proses selanjutnya. Adalah Biting, yaitu suatu proses untuk memisahkan tangkai pada bunga cengkeh. Proses ini dapat dilakukan oleh siapapun. Namun dibutuhkan kecepatan tangan.

“1 Jam harus dapat menyelesaikan 10 kilogram cengkeh,” ucap Andi.

Setelah proses Biting selesai, cengkeh-cengkeh tersebut dijemur selama dua hari di bawah sinar matahari. Setelah kering cengkeh siap dipasarkan untuk kemudian diolah menjadi bumbu pada masakan, bahan pencampur rokok dan lain-lain.

Mungkin saat itu bukan waktu yang tepat untuk melihat aktivitas panen cengkeh, mengingat belum masuk pada musim panen besar. Karena biasanya pemilik kebun tidak sanggup memetik cengkeh sendiri. Mereka akan menggunakan jasa out shourching, lima sampai sepuluh orang untuk satu kebun. Yang rata-rata diupah 6 ribu rupiah untuk satu kilogram cengkeh.

“Karena jika musim panen besar, satu hari bisa mencapai 200 kilogram untuk satu kebun cengkeh,” ucap Andi.

Selain cengkeh adalah buah pala atau myristica fragrans. Bahkan untuk setahun trakhir ini, para penduduk di pulau Kabung sedang memperbanyak atau menggalakan jumlah tanaman yang telah menjadi komoditi perdagangan sangat penting di zaman Romawi dulu. Dikarenakan dari segi ekonomi, semua bagian buah, seperti biji, cangkang dan daging buah dapat diolah. Selain itu untuk mengimbangi cengkeh yang hanya bisa panen sekali dalam satu tahun, yaitu pada sekitar bulan Februari sampai Juni. Sementara pala lebih constant dan bisa dipanen dua minggu sekali.

Dari segi perawatan juga tanaman pala lebih mudah. Kondisi tanah yang ditumbuhi semak belukar paling disukai tanaman ini, berbeda pada tanaman cengkeh yang permukaan tanahnya harus selalu dibersihkan. Selain itu tidak perlu menunggu waktu lama, karena dalam umur 2-3 tahun tanaman pala sudah mulai belajar berbuah.

Manfaat buah pala juga cukup banyak. Untuk daging buah dapat diolah menjadi manisan dan sirup. Untuk biji buah pala biasanya diolah menjadi beragam bumbu masak, kosmetik, parfum, minyak Atsiri dan lain-lain. Sama halnya dengan cangkangnya.

Untuk proses pemetikan juga sama dengan cengkeh, namun sebelum dijemur, buah pala dibuka terlebih dahulu untuk diambil biji dan cangkangnya. Kemudian direndam di dalam air. Tujuannya untuk menghilangkan getah sambil juga melepas cangkang yang membungkus pada biji.

Tahap terakhir adalah penjemuran. Biji dan cangkang dijemur selama 3-4 hari di bawah sinar matahari. Dan untuk mengetahui biji pala sudah benat-benar kering atau belum, indikatornya adalah ketika biji digoyang menghasilkan bunyi. Untuk harga jual biji dan cangkang pala sama, yaitu berkisar 45 sampai 50 ribu rupiah perkilogram.

Kearifan Lokal Penduduk Pulau

Setelah menyaksikan proses pemetikan sampai pengolahan cengkeh dan pala secara tradisional, perjalanan berlanjut ke tepi pantai pada esok harinya. Ada aktivitas penduduk yang jarang sekali ditemukan, yaitu proses pembangunan Bagan yang menggambarkan kearifan lokal penduduk pulau. Dimana kebersamaan menjadi kekuatan bagi mereka. Berikut adalah prosesnya.

Sebelum aktivitas itu dimulai, para laki-laki terlebih dahulu berkumpul di rumah salah seorang penduduk yang akan membangun Bagan, berdiskusi kemudian beramai-ramai menyiapkan kayu-kayu yang nantinya akan digunakan sebagai kontruksi Bagan. Proses pemilihan kayu pun selesai, selanjutnya menentukan titik koordinat dimana Bagan akan dibangun.

Sekarang waktunya untuk menancapkan tiang. Pada proses ini terlihat hampir seluruh warga berpartisipasi untuk membantu membawa kayu-kayu itu ke atas air dan menyeretnya dengan sampan, tanpa diminta oleh pemilik Bagan. Dengan teriakan panjang, mereka menancapkan satu persatu tiang itu ke dasar laut. Kontruksi Bagan pun selesai, selanjutnya mengikat tiang-tiang itu dengan tali. Sebagai ucapan terimakasih, pemilik Bagan mengundang seluruh warga itu untuk makan bersama di rumahnya.

Satu lagi hal menarik yang tak boleh dilewatkan dan merupakan tradisi warga di pulau Kabung adalah Ritual Keselamatan Kapal. Sebuah ritual untuk menolak balak atau hal-hal buruk yang bisa saja terjadi menimpa para pengemudi kapal motor dan penumpangnya saat berlayar di atas laut.

Merupakan tradisi nenek moyang suku Bugis yang lahir sebelum era kerajaan Mahapahit yang masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat pulau Kabung hingga saat ini. Namun Ritual Keselamatan Kapal adalah bagian terkecil dari ritual besar yang selalu digelar penduduk pulau setiap tahun.

“Kebetulan saya baru saja selesai membuat kapal motor, jadi sebelum berlayar saya harus melakukan ritual untuk keselamatan saya, kapal dan penumpangnya,” ucap Andi Baharudin, pemimpin ritual.

Dalam ritual itu nilai-nilai kebersamaan terlihat sangat kental. Dimana sebelum acara dimulai, para wanita kampung bergotong-royong menyiapkan bahan-bahan yang nantinya akan digunakan untuk ritual. Seperti membuat kue tradisional, diantaranya ketupat ketan, kue kelepon yang mereka klaim sebagai makanan tradisional raja-raja suku Bugis dan lain-lain, sambil dihibur atraksi gendang oleh Andi Baharudin.

Namun bunyi gendang tersebut juga memiliki tujuan lain. Ketukan demi ketukannya bertujuan untuk memanggil roh baik para nenek moyang mereka yang menetap dan menguasai lautan lepas untuk berkumpul di rumahnya.

“Ini tidak wajib. Tapi alangkah indahnya diiringi suara gendang, agar lebih dinamis. Karena aslinya demikian, atraksi gendang dan Pencak Silat diperagakan sebelum upaca ritual dimulai,” ucap dia.

Setelah semua siap, kemudian bahan-bahan itu diletakkan di atas nampan besar dan dibungkus dengan kain. Beberapa orang wanita yang sudah ditunjuk oleh Andi, kemudian membawa bahan-bahan tersebut ke dalam kapal motor. Seluruh masyarakat, para tokoh masyarakat, termasuk anak-anak diundang untuk ikut dalam acara tersebut.

Pembacaan doa pun dimulai dipimpin oleh pak Ukas. Usai berdoa, acara dilanjutkan makan bersama. Di saat itu Andi memulai ritualnya dengan menyiramkan air yang sudah dibacakan doa oleh pak Ukas ke alat pemukul yang masyarakat setempat menyebutnya ‘Pepas’. Berupa kumpulan daun-daun yang diikat menjadi satu, yang terdiri dari daun nangka, daun juang, daun serai, daun bali dan daun ribu-ribu. Langkah selanjutnya mencelupkan Pepas tadi ke dalam Soko’, yaitu air yang sudah dicampur dengan tepung ketan. Sambil membaca doa-doa, Andi memukulkan Pepas tersebut ke setiap bagian pada kapal motornya.

“Tujuannya untuk buang sial dan mengusir roh jahat, agar ketika berlayar mendapat keberkahan,” ucap Andi. Rangkaian ritual pun selesai dan masyarakat satu persatu membubarkan diri. Begitu juga aku kemudian meninggalkan pulau Kabung pada esok harinya.

13. pemandangan bagan malam hari. Jemy haryanto

14. kapal motor, transportasi reguler. jemy haryanto

16. pantai sebelah Barat. jemy haryanto

foto jemy haryanto 2

foto jemy haryanto

 

24 Comments to "Mengintip Potensi Alam dan Aktivitas Nelayan Tradisional di Pulau Kabung"

  1. Dj. 813  30 May, 2013 at 02:22

    Lho mbak DA njaluk sing saru tho…
    Nah, yen kuwi mesti njaluk karo mas Anoew…
    Hahahahahahahahaha….!!!

  2. Dewi Aichi  30 May, 2013 at 02:01

    Pak DJ woooooooo…..kok ra saru ha ha ha ha ha…makasih ya Pak DJ…

    Asianerata….sepakat banget…juga seperti komentar Silvia…

  3. Dj. 813  30 May, 2013 at 01:54

    Okay…
    Ini Dj. terjemahkan ya, agar mbak DA ngerti.

    Freue mich dass zu hören und hoffe dass es so weiter geht.
    Liebe Grüße an die Familie zu Hause. ( Borneo ), von uns in Mainz.

    ( seneng aku ngrungok ake, lan moga tansah mengkoko.
    Salam kanggo keluargo ning omah ( Borneo ), soko kelargoku ning Mainz )

    Nah, saiki ngerti kan…???

  4. Asianerata  30 May, 2013 at 01:49

    Jemy…laporan tentang pulau Kabung ini benar2 lengkap, makasih banyak yah. Luar biasa Pulau kecil ini menghasilkan produksi besar. Semoga pulau ini tetap alami dan dipelihara kelestariannya, jangan sampai tercemar oleh para turis yg berdatangan. Biarkan pulau Kabung sebagaimana adanya…..seperti Sylvia, saya benar-benar suka dengan tulisan seperti ini

  5. Dewi Aichi  30 May, 2013 at 01:34

    Ha ha ha ha….lha saya ngga tau kok….ora mudheng…

  6. Dj. 813  30 May, 2013 at 01:11

    Mbak DA…
    Kok tau ya…???
    Hahahahahahahahaha….!!!

  7. Dewi Aichi  30 May, 2013 at 01:03

    Wah…Pak DJ sama Jemy ngomong saru ya? He he he he he ………

  8. Dj. 813  30 May, 2013 at 00:05

    Freue mich dass zu hören und hoffe dass es so weiter geht.
    Liebe Grüße an die Familie zu Hause. ( Borneo ), von uns in Mainz.

  9. Dewi Aichi  29 May, 2013 at 23:25

    Wakakaka…kalau kucing kepala item ya yang komen di bawahku ini yang kemana mana bawa camera ha ha

    Mas Jemy..kalau ingin pasang Avatar, masuk ke gravatar.com, dengan email yang dipakai di baltyra…

  10. Jemy Haryanto  29 May, 2013 at 23:14

    mbak Dewi : o iyo lali juga aku. mbak lani wes komen lho. hehe. sama2 mbak dewi. kucing? haha kebetulan gak ada, tapi kucing kepala item banyak di situ. yang akhrnya diem2 ngantongi juga 4 cumi dan langsung dibawa ke pondok, haha

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)