Rumah Papan dan Buah Nangka

Wendly Jebatu Marot

 

Aku menanam pohon nangka di halaman rumah. Pohon ini kurasa cocok di halaman rumah kami yang telah dibangun oleh ayah dan dilanjutkan oleh mama. Rumah itu, rumah warisan. Bangunannya mengikuti konstruksi rumah adat Manggarai kebanyakan. Bubungannya berbentuk limas dengan atap ijuk. Berlantai semen tak berubin dan berdinding papan tak bercat. Semuanya polos.

Rumah itu sudah tua. Ia setua usiaku. Dia itu dibangun ketika aku masih dalam kandungan dan selesainya saat aku sudah lahir. Yang memulai adalah ayah dan yang menyelesaikannya dalah mama hingga aku lahir karena ayah keburu pergi sebelum proyek selesai.

Untuk ukuran kampung kami, rumah kami termasuk rumah yang cukup luas. Dinding rumah itu penuh coretan dari arang kayu bakar yang diambil dari dapur. Ulah siapa lagi kalau bukan ulah kami kala kami masih bocah dulu.

Dulu kami jadikan teras keliling rumah kami sebagai tempat bermain rumah-rumahan, main kelereng, main karet, main kemiri dan berbagai permainan lainnya.

Dalam permainan rumah-rumahan biasanya ada pembagian tugas jelas. Ada yang berperan sebagai bapa dan ada mama. Ada suami dan dengan sendirinya ada istri. Tak ketinggalan juga, Ada yang berperan sebagai ibu atau bapa guru dan tentu saja ada yang menjadi murid. Ada juga berbagai peran lain yang kami bagikan sendiri tanpa ada seleksi atau ketentuan ini-itu.

Tentang peran guru murid inilah yang ada hubungannya dengan banyaknya coretan di dinding rumah papan kami.

Sebagai guru tentu saja tugasnya mengajar.  Dan media pengajarannya adalah papan tulis yang tidak lain dinding luar rumah papan kami dengan arang sebagai pengganti kapur tulis.

Begitulah! Kami menjadikan dinding luar rumah sebagai papan tulis. Dan arang kayu api adalah kapur tulisnya.

Tapi tak ada penghapus.

Untuk menulis hal baru, guru tinggal pindah tempat di mana papannya masih kosong. Tak heran kalau dinding papan itu penuh dengan tulisan hitam kelam.

Coretan di dinding itu bervariasi dan aneh-aneh.

Di sana ada angka tak beraturan 1-1-2-3-5-8-13-21-34..dst. Deretan angka-angka ini kami buat tanpa ada maksud tertentu. Dan mungkin takberaturan karena belum tahu berhitung kala itu. Kemudian setelah aku membaca novel Dan Brown The Da Vinci Code, baru aku tahu ternyata deretan angka seperti itu biasa digunakan untuk kode rahasia atau password dari sesuatu yang dirahasiakan. Namanya kalau saya tidak salah deretan fibonacci. Maaf kalau salah.

Ah lupakan deretan angka itu. Kita kembali ke rumah berdinding papan itu.

Selain coretan angka tak beraturan, dinding rumah kami juga dipenuhi gambar-gambar yang tak beraturan dan tak mempunyai tampang seni. Ada tumpang tindih di mana-mana.

Ada gambar pohon yang tumbuh di atas batu tapi ada juga gambar batu di atas pohon.

Ada lukisan anak manusia yang menumpang kerbau, tapi ada juga lukisan anak manusia menjunjung kerbau di atas kepalanya.

Ada kuda bertanduk, sapi bertanduk seperti kambing,dan kambinnya berekor ayam dan ayam berkepala manusia dan manusia bermuka serigala.

Gila memang anak-anak itu dulu.

Ada angka dua yang berubah menjadi bebek.

Ada gambar pohon pisang tapi di bawahnya ditulis pohon kelapa. Maklum dalam gambar itu sulit sekali untuk membedakan mana daun pisang dan mana daun kelapa.

Aneh memang seaneh isi kepala anak-anak.

Yang menarik bagi saya  adalah sebuah pohon yang tak jelas tetapi di bawahnya ditulis nangka salak. Aku maklumi itu!

Kalau saya tidak salah ingat, nangka salak adalah nangka yang paling kami sukai dulu terutama karena buahnya enak dimakan. Saking enaknya, kami sering mencuri nangka di depan rumah pa kepala sekolah pada tengah malam pas bulan terang. Anehnya,kepala sekolah selalu tahu bahwa yang mencuri itu adalah kami.

Karena kebiasaan itu, pak kepala sekolah tak jarang menjewer telinga kami dan mengancam memenjarakan orang tua kami.

“Kalau kamu mencuri lagi nanti saya memanggil polisi dan memasukkan orang tua kamu ke bui!” Demikian kata-kata ancaman yangkeluar dari mulut pa kepala sekolah suatu ketika.

Waktu itu saya sudah kelas VI SD. Dan inilah yang mendorongku menanam pohon nangka di sekeliling rumah , paling kurang empat pohon dan ditempatkan di empat sudut luar rumah. Tiap sudut ditanam satu pohon nangka. Biar kami tak usah lagi mencuri nangka pak kepala, dengan demikian mama yang sudah menjanda itu tidak perlu masuk bui. Dengar kata bui saja aku sudah takut sampai buluh badanku berdiri.

Kembali ke rumah dinding papan tadi!

Dinding rumah berukuran kecil itu boleh dikatakan serba guna.

Bagian luarnya menjadi ajang mengembangkan kreativitas dan bakat anak. Saking kreatifnya, selain digunakan sebagai papan tulis, tak jarang dinding papan itu juga menjadi seperti gendang atau tambur yang dipukul sesuka hati anak-anak.

Sambilbernyanyi kami selalu menghantam dinding itu bahkan dengan kayu malah dengan batu sekali pun. Tak heran di sana-sini papannya sudah ada yang benjol, tergores bahkan pecah.

Inilah yang kadang membuat mama berang dan mengejar kami dengan kayu kudung di tangan. Kadang karena saking emosinya, dia tak sadar kalau yang dia lemparkan kepada kami adalah irus, sendok bahkan parang tajam.

Pernah sekali dia melempar kami dengan gelas berisi ampas kopi. Maka gelas menghantam dinding dan ampas itu tumpah mengena dinding rumah sedangkan gelasnya jatuh ke tanah dan pecah berantakan.

Dari ampas kopi tadi, terbentuklah sebuah lukisan hitam tak beraturan di dinding rumah kami. Kami pun terbahak-bahak.

Tapi mama juga sering kali menggunakan dinding bagian dalam rumah itu untuk menulis peristiwa-peristiwa penting. Lihat saja di kosen-kosennya selalu ada tulis tanggal-tanggal penting seperti tanggal lahir babi, tanggal menanam padi atau waktu mengetam. Pokoknya banyaklah.

Lalu aku mengikutinya menulis tanggal penanaman pohon nangka kesayanganku.

Papan-papannya juga sudah hitam lantaran asap pelita yang saban malam taruh begitu saja di regel tanpa ada tempat yang tetap. Maklum mama sering sendiri saja. Dia melakukan sesuatu tanpa memikirkan hal-hal kecil seperti itu apa lagi menyangkut dinding yang hitam karena pelita.

Bagi dia yang penting masih ada dinding penahan angin jahat dan ada pelita menghalau kegelapan malam. Itu saja! Dia tidak pernah berpikir tentang keindahan dinding rumah.

Oya dulu kami memenuhi dinding itu dengan koran-koran bekas dengan lem nanah buah labu atau bubur nasi. Tapi sekarang setelah mama sendiri, dinding itu tak ditempel apa pun. Sudah hitam kaya papan tulis di sekolah.

Itulah rumah kami!

Kembali ke pohon nangka di depan rumah tadi sebelum aku ngelantur sampai Sabang atau Merauke.

Nangka ditanam lantaran takut akan ancaman.

“Kalau kamu mencuri lagi nanti saya memanggil polisi dan memasukkan orang tua kamu ke bui!”  Ancaman itu terus menghantuiku.

Ancaman itu cukup mujarab, paling kurang untukku. Buktinya setelah itu aku tidak pernah mencuri nangka lagi. Itu adalah terakhir kalinya aku mencuri nangka pak kepala.

Aku takut, gara-gara nangka aku jadi sendiri tanpa mama, tidak menetek lagi.

Hahaha…sekedar bongkar rahasia ne. Aku ini anak bungsu dan manjanya minta ampun. Bayangkan saja! Sampai kelas 6 SD aku masih menetek di mama. Sampai kelas 3 SMP masih masih tidur seranjang dengan mama dan sampai tamat SMA aku masih makan satu piring dengan mama, minum satu gelas.

Memang ancaman bisa membangun juga. Walau kadang ancaman alias terror itu membuat orang tertekan dan bahkan mati kutu. Tapi bagiku, ancaman pa kepala sekolah mendorongku  menanam nangka salak di keliling rumah.

Biar bukan hanya beliau yang makan nangka salak.

Biar bukan hanya  dia saja yang saban siang di kala kemarau duduk santai sambil mengopi dan isap rokok, duduk kaya konglomerat di bawah pohon nangka.

Aku juga mau santai kaya gitu. Biar bergelar konglomelarat yang penting gaya seperti konglomerat

Duduk di bawah pohon nangka sambil iminum kopi dan sap rokok daun lontar.

Nangka itu kutanam empat. Bibitnya aku minta di kepala sekolahku. Tidak pake mencuri lagi.

Ketika aku datang meminta bibit itu, beliau senang sekali. Dia menyuruhku mengambil sebanyak-banyaknya.

Sportif betul pak guru kala itu. Dia tidak menaruh dendam pada orang yang doyan mencuri nangka itu.

Aku mengambil empat pohon dan menanamnya di keempat sudut luar rumah. Dua di depan pada sudut kiri dan kanan dan dua di belakang pada sudut kiri kanan rumah.

Tiap sore aku siram dan kulihat bertumbuh sangat subur dan segar.

Nangka-nangka itu bertumbuh besar dan menjadi pohon yang rindang serta berbuah lebat. Bentuknya juga bagus mengikuti bentuk pohon natal atau mengikuti bentuk rumah kami. Dari bawah besar, semakin ke atas kecil dan membentuk krucut.

*********

pohon-nangka

Suatu hari di kamar kostku, aku mendapat sms dari mama. Katanya, mereka sementara makan buah pertama nangka salak yang ditanam anak manjanya. Dan indahnya lagi mereka memakannya di bawah naungan pohon nangka di halaman depan sudut kanan rumah papan bersama para tetangganya yang saban hari selalu bersantai bersama dia di bawah naungan pohon nangka itu.

Tiap kali ada kegiatan yang berkaitan dengan nangka salak itu mama selalu menginformasikannya kepadaku. Dan satu informasi yang membuat aku sedikit kecewa adalah berita tentang tiga pohon nangka yang akan segera dipotong. Menurut mama, alasan pohon itu dipotong karena rumah papan terlalu gelap.

Mama bilang bahwa keempat pohon nangka itu tidak perlu dipertahankan semua karena rumah papan itu gelap sekali di siang hari. Dia katakan bahwa kalau mau pretahankan pohon nangka itu cukup satu saja. Kalau perlu potong semua.

“Itu karena mama sudah puas makan nangka itu dan sudah bosan duduk bersantai di bawah naungannya”. Kataku sinis.

“Bukan begitu nak! Mama rasa sesak sekali kalau siang hari. Rumah kita terlalu gelap! Kita belum ada listrik! Masa mama harus nyalakan lampu terus sepanjang hari? Kasian mama dong! Mama tak punya uang mau beli minyak tanah apa lagi sekarang harganya semakin melambung! Mau jual buah nangka tak ada yang mau beli. Semua mau makan gratis.Ayo nana, kasian mama dulu.” Keluh mamaku.

Aku jadi jatuh hati padanya! Aku tak jadi marah.

Lalu aku menelfonnya dan katakan bahwa tiga pohon itu boleh ditebang tapi satu yang depan halaman sudut kanan jangan ditebang.

Lalu besoknya mama sms bahwa ketiga pohon nangka itu sudah ditebang dengan parang dan buah-buahnya dibagi-bagi ke masyarakat untuk diperam atau dijadikan sayur.

Aduh sebut sayur nangka membuatku ingat makanan khas kami dulu waktu masih kecil. Mama sering kali membuat sayur nangka dengan santan  kelapa yang enak mati punya.

Tapi ada yang lucu dengan sayur santan buah nangka itu. Maaf aku potong dulu ceritera nangka depan rumah itu.

Waktu pesta sahabatku yang mau kuliah, para tuan pesta menyediakan dua menu. Satunya daging babi yang dicampur dengand aun ndusuk (sayur dari hutan-belum tahu bahasa indonesianya) sedangkan yang lainnya kata tuan pesta daging ayam.

Karena mau makan daging ayam, maka kami ikut jalur dua menuju menu daging ayam mengikuti petunjuk para pelayan pesta. Sampai di tempat pengambilan makanan kami tak menemukan daging ayam. Yang ada cuma nangka tok. Kami pun terbahak-bahak dan membuat tuan pesta mungkin tersinggung.

Sayur nangka memang enak tapi dapat juga mengelabui mata.

**********

Ketika liburan umum aku pulang. Yang aku pikirkan pertama adalah mama yang sedang membela nangka salak yang sudah matang dan menunggu di bawah pohon nangka depan rumah. Lalu malamnya kami menyantan buah nangka muda dan meraciknya menjadi sayur yang enak walau tanpa lauk.

Dan aku pun pulang!

Saat itu musim panas. Mentari sedang dengan semangatnya membakar muka kampung halamanku. Aku berjalan di bawah terik matahari itu. Tubuh bermandikan peluh yang merembes di sekujur tubuhku.

Dan betapa bahagianya , ketika aku mendapati mama dengan para tetangga sedang duduk di bale-bale di bawah naungan pohon nangka salak di halaman depan sudut kanan rumah papan kami. Mereka sedang asyik bercengkrama.

Begitu tiba, dan setelah beristirahat sebentar, dia langsung menyuruhku memanjat pohon nangka itu.

Sebelum memetik nangka yang masak itu aku memandang ke arah rumah, pada coretan-coretan tak beraturan pada dinding depan rumah. Lukisan-lukisan tidak seni itu masih ada. Ada pohon tak jelas tetapi dinamakan pohon nangka. Aku pun tersenyum di atas pohon nangka lalu ku petik buah yang matang dan kuturunkan. Lalu kubelah nangka itu untuk kubagikan kepada mereka semua.

“Aku yang menanam pohon ini. Sekarang giliranku untuk memetik. Sekarang giliran kupula untuk membagikan kepada kamu! Kataku sambil tertawa.

Mereka pun tertawa.

Lalu kami makan beramai-ramai.

Ketika malam tiba, mama mengundang tetangga-tetangganya untuk datang ke rumah papan dengan dinding hitam itu. Untuk menjamu kami semua dia memasak sayur nangka.Kami makan sayur nangka buatan mama di bawah terang pelita satu-satunya.

Dengan terang pelita itu, Aku, mama dan para tetangga bersukaria sambil makan sayur nangka buatan mama. Kami semua berbahagia. Ini kebahagiaan a la konglomelarat. Ini memory rumah papan dan buah nangka. Kisah malam itu kami tuliskan di dinding rumah papan kami yang telah kusam karena asap pelita.

 

St. Agustin-Ledalero

January 2011

 

17 Comments to "Rumah Papan dan Buah Nangka"

  1. Bagong Julianto  4 June, 2013 at 08:03

    Pengin juga makan gudeg Manggarai…..

  2. wendly  3 June, 2013 at 09:49

    Ternyata ceritera tentang nangka bukan hanya punyaku..

  3. Hennie Triana Oberst  1 June, 2013 at 03:25

    Wendly, kenangan masa kecil yang indah.

  4. Chandra Sasadara  31 May, 2013 at 14:19

    lodeh (nangka), sambal trasi (pedas), plus jambal roti (berdaging empuk).. abis makan pingsan saking enaknyaa..

  5. Nur Mberok  31 May, 2013 at 07:44

    Wakakak… jebul e yo mbeling kie sing jeneng e HANDOKO WIDAGDO…… tak kiro pendeta… wakakakakak……..

  6. Dewi Aichi  31 May, 2013 at 07:30

    Ha ha ha..Pak Handoko…kapokmu kapan…atau, jangan jangan ngga kapok ya….bandel, mbeling…untung Hagai kalem ha ha

  7. Handoko Widagdo  31 May, 2013 at 06:48

    Waktu kecil aku pernah tertangkap mencuri nangka dengan teman-teman. Kami berempat mencuri nangka yang sudah matang. Saat dua teman masih di atas, ternyata yang punya datang. Padahal nangka sudah terlanjur dipetik dan dibawa dengan sarung. Kami berdua yang di bawah tidak berani lari. Setelah diminta turun, kami dibawa ke depan langgar. Ayah kami diundang untuk melihat kami berempat makan nangka sebesar kambing sambil menangis. Sementara orangtua kami malah pada ngobrol sambil merokok.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.