Senyum Ngatimin

Handoko Widagdo

 

Secangkir kopi yang disajikan dengan senyuman setiap pagi oleh Murni adalah sebuah ritual yang mengumpulkan nyawanya. Siraman air hangat sesaat setelah subuh dan usapan tangan Murni yang semakin hari semakin kasar membangunkan raganya dari kesepian malam. Usapan dan secangkir kopi tersebut membawa bukti bahwa Murni masih mencintainya. Setelah dimandikan, Ngatimin dipakaikan pakaian yang bersih dan kembali digolekkan di dipan yang di depannya terdapat TV yang selalu menyala.

Sejak timah panas menembus pahanya, Ngatimin hanya bisa menjalani hidupnya di dipan. Peristiwa perampokan yang gagal itu telah mengubah hidupnya. Dulu dia dikenal sebagai ‘Si Belut’ yang selalu berhasil melarikan diri dengan RX-King tunggangannya. Namun sebutir peluru yang dilepaskan dari pistol Briptu Hartadi, yang adalah keponakannya sendiri, telah mengakhiri semua petualangannya.

Seandainya operasi pengangkatan peluru itu berjalan baik, mungkin Ngatimin masih bisa berjalan dengan satu kaki. Namun terlambatnya operasi menyebabkan kedua kakinya menjadi lumpuh. Bahkan kelaki-lakiannya juga ikut-ikutan lumpuh. Kondisi penjara memperparah kelumpuhannya. Infeksi yang meluas memaksa dia merelakan pahanya yang ditembus peluru diamputasi.

walking_alone_by_silentivy

Sejak pulang dari penjara, Ngatimin hanya menghabiskan waktu di atas dipan. Dia bangga dengan Murni istrinya. Murni yang dulu adalah perempuan biasa, yang berkutat antara dapur dan tempat tidur, ternyata bisa menggantikan dirinya mencari nafkah. Sejak Ngatimin tidak lagi bisa memberi nafkah, Murni membuka warung makan, memanfaatkan bakatnya memasak. Meski Murni menjadi sangat sibuk mengurus warungnya, namun Murni tidak pernah lupa mengurus dirinya. Murni selalu memandikan Ngatimin saat subuh dan selepas maghrib. Tak lupa Murni juga menyediakan secangkir kopi yang dihiasi senyum setiap pagi. Saat siang dan sore hari, Murni membawakan makanan dari warungnya yang berada di pelataran rumah. Saat malam menjelang, Murni selalu menemaninya tidur di dipan. Kisah cinta mereka berdua di atas dipan bergelora di luar raga.

Ngatimin bisa membalas senyum Murni dengan senyum yang tulus. Sebab, meski Ngatimin adalah seorang perampok, dia tidak pernah mengkhianati Murni dengan berselingkuh. Dia tak pernah mempunyai istri simpanan, apalagi membiayai perempuan lain dengan hasil kejahatannya. Itulah sebabnya dia tetap bisa membalas senyum Murni dengan tulus.

Ketika tidak sedang bersama Murni, hal yang disukai Ngatimin adalah menonton TV yang ditempatkan di depan dipannya. Dia suka membandingkan kemahirannya merampok dengan para perampok yang gagal yang diberitakan di TV. Dia merasa bangga akan kemahirannya lari dari kejaran polisi. Kegagalannya saat itu bukan karena dia tidak bisa lari. Namun dia tidak tega saat temannya akan menembak Briptu Hartadi. Dia sengaja mengerem motornya supaya teman yang membonceng dan sedang membidikkan pistolnya ke Briptu Hartadi meleset. Akibatnya dia terjatuh dan peluru yang muntah dari pistol Hartadi menembus pahanya.

Meski Ngatimin lumpuh, namun dia bahagia. Cinta dari Murni, istrinya tidak berkurang. Usaha warung makan istrinya cukup untuk menghidupi keluarganya. Teman-temannya sesama perampok juga masih sering mengiriminya uang jajan. Satu-satunya yang masih merisaukan hatinya adalah tentang Aji anaknya. Dulu Ngatimin bangga karena Aji adalah jago balapan liar. Ngatimin berharap bahwa Aji akan sehebat dirinya. Dia kecewa karena Aji hanya menjadi sopir di Jakarta.

Meski Ngatimin bahagia, namun pengobatan luka pada pahanya yang tidak tuntas, menggerogoti kesehatannya. Si Belut itu semakin kurus. Kemampuan matanya semakin berkurang. Namun demikian dia tetap ingin terus menonton TV yang menyiarkan berita perampokan. Setiap kali ada berita perampokan dia selalu mendengarkan dengan penuh minat. Dia mendengarkan dengan sangat cermat karena matanya sudah tidak lagi mampu menangkap gambar dengan baik. Ada satu harapan yang ditunggu-tunggu. Berita itu tak kunjung muncul. Dia masih bangga kalau mendengar berita ada perampok atau penjambret yang mati tertembak karena gagal melarikan diri. Tapi berita seperti itu tak lagi membuatnya gembira. Dia masih terus menunggu sebuah berita yang isinya dia simpan dalam hati.

Siang itu Ngatimin sedang tergeletak di dipannya sendirian. Dia menggigil. Badannya panas. TV masih menyiarkan berita-berita kriminal. Namun Ngatimin tak bisa melihatnya, bahkan tidak bisa mendengarnya dengan baik. Tiba-tiba Hartadi masuk ke kamarnya dan memberi tahu bahwa Aji sedang diwawancarai di TV. Ngatimin mencoba mendengar, apa yang terjadi dengan Aji. Dalam siaran TV itu Aji berkisah: “Saya sopirnya Pak STT. Saya yang diminta oleh Pak STT mengantarkan bungkusan berisi uang. Saya yang mengantarkan uang itu dari Pak STT kepada Pak SF di kamar hotel. Saat itu Pak SF sedang berdua dengan seorang perempuan cantik. Saat saya diundang masuk kamar, si perempuan masuk ke kamar mandi. Pak SF saat itu hanya bercelana kolor. Bungkusan itu langsung dibukanya dan uangnya dihitung. Saya diberi persen 5 juta.”

Ngatimin tersenyum. Berita itulah yang ditunggunya selama ini. Dia bangga atas apa yang Aji lakukan. Ternyata Aji bukan sekedar sopir. Senyum Ngatimin tetap menempel di bibirnya saat nyawa meninggalkan raganya.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

59 Comments to "Senyum Ngatimin"

  1. Handoko Widagdo  4 June, 2013 at 18:27

    Bukan kumat tapi pengung.

  2. Dewi Aichi  4 June, 2013 at 17:31

    Wakakakakakakakaka..Pampam kumat ya?

  3. [email protected]  4 June, 2013 at 17:23

    HLAH!!!… disuruh nunggu ya…. nunggu masa berkabung… habis itu bergabung… dan hasilnya adalah mengandung….

    mantab….

  4. Dewi Aichi  4 June, 2013 at 17:17

    Wahhhh..Pak Han..saya sih kenyal sepanjang hari .

    “Pampam…tunggu sampai habis masa berkabung..!”..kata Murni.

  5. Handoko Widagdo  4 June, 2013 at 16:18

    Saya kira bangun tidur kenyal Mbak Dewi

  6. Dewi Aichi  4 June, 2013 at 16:17

    Ha ha ha ha….bangun tidur ngakak….

  7. Handoko Widagdo  4 June, 2013 at 16:16

    Kalau bab kenyal, silahkan kontak Murni sendiri.

  8. [email protected]  4 June, 2013 at 16:15

    nggak suka pria ngeyel…
    tapi kalo pria kenyal? :O

  9. Handoko Widagdo  4 June, 2013 at 11:21

    Setahuku Murni tidak suka pria ngeyel.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.