Ketika Hujan Lewat

Wendly Jebatu Marot

 

Susah sekali bagiku merangkai kata untuk menyulam kisah. Apa lagi aku lahir pada malam bisu di lingkungan hening. Bahasa kami adalah hening dan kami sering berbicara dalam diam.

Ketika aku diminta untuk berceritera dengan suara, jujur saja aku kalang kabut karena lidahku kaku.

Tetapi entah mengapa, ada kekuatan yang mengalir ke ujung jariku untuk memulai menorehkan kisah ini di atas kertas lusuh. Semua tentang hujan yang lewat.

Aku tahu, aku tidak lebih cakap dari pada hujan. Dia kalau datang dia berteriak di atas atap rumahku. Kadang kalau dia masih jauh, dia bergemuruh seperti paduan suara di Gereja Tua di kampungku.

Ya itulah dia.

Aku tahu, aku tidak lebih berwibawa dari pada hujan. Kalau dia mau datang, dia selalu mengirim guntur dan petir yang menggelegar dan memotret alam ini. Itu adalah pengawalnya.

Aku tak punya suara seindah hujan dan tak pernah ada pengawal sehebat dia. Aku sendiri di hening ini saban hari bahkan ketika hujan lewat aku masih sendiri.

Ya! Aku memang memilih sendiri. Tapi ada yang mengatakan bahwa aku ditakdirkan untuk sendiri. Maaf aku tak suka kata takdir. Aku tak percaya pada takdir.

Aku sendiri dalam hening ketika hujan lewat itu bukan takdir… Aku pilih itu! Aku kehendaki itu! Jadi jangan kau persoalkan lagi dan jangan bilang itu takdirku.

Ketika hujan lewat. Aku tetap sendiri, Dan aku tak pernah menyesal.

Tapi kadang aku rindu ramai kita menyulap hening jadi gaduh melawan gaduh hujan dan gemuruh halilintar. Tapi rinduku terdampar di sana, di lereng tembok megah itu.

Kadang aku rindu mengirim asa pada kekasih pertamaku yang kini duduk berdua dengan pangerannya. Aku mau dia datang dulu untuk kembali bersendagurau dan merajut kisah baru. Tapi rinduku ditangkap suaminya. Aku pun jadi takut dia dijambak karena aku. Hahahaha..

Kadang aku rindu pergi. Ya pergi menerobos hujan untuk mencari permata hati. Tapi, gerbang itu terkunci dan lagi pula aku sudah berjanji dan tidak mau disebut pengkianat.

Lalu aku pun memilih untuk sendiri dalam gaduh alam ketika hujan lewat.

Ya, ketika hujan lewat aku tetap sendiri. Lalu aku menulis puisi tapi aku tahu darah penyair tidak ada dalam nadiku. Bapaku penjual tembakau, mamaku penganyam tikar pandan. Mereka tak suka berpuisi dan tak ada syair.

Kami adalah manusia hening. Mama dan papaku hanya berani mendongeng saat larut malam ketika mata kami tak lagi kuat untuk menonton warna langit.

Mama dan papa mendongeng ketika bibir kami sudah keluh dan tak lagi bisa berceloteh meminta nasi.

Ya kami memang manusia hening, bahkan ketika hujan lewat kami selalu duduk dalam hening diam.

Ketika aku memilih jalan sendiri, mama pun hening.

Papaku diam ketika aku pamit.

Waktu itu hujan mau lewat dan mereka berdua membiarkan aku berjalan menerobos hujan yang lewat.

Dan sekarang, ketika hujan lewat aku berceritera tetapi ceritera ini tetap hening KETIKA HUJAN LEWAT.

AKU MAU MEMBIARKAN HUJAN BERGEMURUH DAN AKU TETAP HENING.

Aku memang suka hening KETIKA HUJAN LEWAT

 

Bukit Nita, Ketika Gerimis lewat

 

7 Comments to "Ketika Hujan Lewat"

  1. wendly  11 June, 2013 at 08:18

    Mba Dewi: ini cerritera gado-gado, campur baur dan aneh. Di luar aturan bahasa yang berlaku. Harapan bagi para pembaca lainnya agar jangan menarik lagika yang baku dari sini hahahahah

  2. wendly  3 June, 2013 at 09:42

    Hujan lewat memberi banyak inspirasi. Terimakasih buat apresiasinya..

  3. Dewi Aichi  3 June, 2013 at 03:59

    Setelah aku membaca ceritamu untuk yang kedua kalinya, aku sempat ketawa ha ha….awalnya kau tulis cerita ini dengan hujan dan tanda tandanya..seperti arti kiasan, bahwa sebagai manusia semestinya memberikan kabar dulu sebelum datang, Atau entah makna apa yang ingin disampaikan oleh Wendly.

    Kemudian di tengah, Penulis mengungkapkan isi hatinya tentang rindunya kepada seseorang, namun dia sudah bersuami, ha ha…..polos banget bahasanya….dan takut nanti dia dijambak suaminya ha ha ha….

    Bagian akhir, penulis mengungkapkan tentang keluarganya, yang menurutku sangat penuh kasih, dan juga kehangatan….

    Sukaaa….lama lama aku mengenal bahasa tulisan Wendly, yang menurut ku sangat polos, apa adanya…tetapi luar biasa….

  4. Lani  3 June, 2013 at 03:40

    AKI BUTO : hujannya dimana dulu………

  5. Dewi Aichi  3 June, 2013 at 00:20

    Ketika hujan lewat dan aku berpayungan dengan dirimu, tak ingin hujan segera berakhir.

  6. J C  2 June, 2013 at 20:30

    Hujan selalu membawa bau khas yang luar biasa nikmat dihirup…

  7. Lani  2 June, 2013 at 13:09

    Satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.