Tiga Sahabat (11): Makan Banyak Biar Sehat

Wesiati Setyaningsih

 

“Mas,” Iyem mengetuk pintu kamar Aji ragu.

Tak ada suara.

“Mas..!” Iyem mengetuk lebih keras.

Tak ada suara juga. Pintu kamar sebelah terbuka. Kepala Sekar muncul.

“Udah, dobrak aja Yem. Masak dari siang enggak keluar. Nggak tau makan siang apa enggak tuh anak.”

“Lha iya, ini Iyem mau tanya mas Aji mau makan malam apa enggak. Iyem kan bingung masak dari siang nggak makan. Tumben aja mas Aji nggak doyan masakan Iyem.”

“Dia nggak turun kok tadi siang Yem. Langsung masuk kamar begitu pulang sekolah.”

“Nggak nengok meja makan sama sekali?”

Sekar menggeleng. Wajah Iyem semakin kuatir.

“Kita buka aja pintunya, ya?”

Sekar mengangguk. Perlahan Iyem membuka kamar Aji. Tampak Aji bergelung di tempat tidur masih dengan baju seragam. Iyem dan Sekar berpandangan.

“Kenapa ini?” gumam Iyem sambil memandangi Aji yang tampak punggungnya.

Mereka berdua mendekat.

“Mas..” panggil mereka berdua hampir berbarengan.

Aji melenguh. Iyem memegang dahi Aji.

“Hah… Panas banget. Mas Aji sakit, ya?”

Aji bergerak mengubah posisi tidurnya telentang.

“Pusing,” keluhnya pelan.

“Iyem ambil teh panas sama obat turun panasnya. Mbak Sekar tungguin mas Aji di sini.”

Sekar mengangguk. Tak lama Iyem sudah tergopoh-gopoh membawa nampan berisi teh, sirup turun panas untuk anak-anak dan mangkok berisi air dingin dan sapu tangan.

“Banyak banget bawaannya. Apa aja sih?” tanya Sekar sambil berdiri untuk memberi ruang bagi Iyem.

“Ini sirup turun panas.” Iyem menjawab pertanyaan Sekar tanpa menoleh. “Bangun sebentar mas Aji, minum dulu obatnya, “ katanya pada Aji.

“Sirup?” tanya Sekar heran.

“Mas Aji nggak bisa minum tablet. Daripada Iyem repot suruh larutin dulu di air, mending kemarin Iyem beliin sirup turun panas anak-anak aja buat mas Aji. Yang buat anak sepuluh tahun ada kok. Dulu kan adanya cuma buat balita aja. Gitu kata mbaknya yang di apotik.”

Aji bergerak bangun. Iyem membantu menata bantal agar bisa menjadi sandaran. Dengan lemas Aji menyandarkan tubuh dan kepalanya di bantal.

“Kalo dewasa jadinya berapa sendok, dong?” tanya Sekar ingin tahu.

“Ini kalo untuk anak sepuluh tahun, takarannya satu sendok. Buat mas Aji mungkin empat sendok. Lha berat badannya kan empat kali anak umur sepuluh tahun.” Iyem meringis.

Sekar menahan tawa, tidak enak pada Aji yang terlihat lemah. Empat sendok takar sirup sudah disuapkan Iyem ke mulut Aji yang menurut saja. Aji meringis lalu menjulurkan lidahnya.

“Pahit,” keluhnya.

Sekar menjulingkan matanya ke atas, kesal. Iyem dengan sabar mengulurkan teh hangat manis untuk diminum.

“Badan aja segede gajah. Minum obat susah.” Sekar menggerutu pelan.

“Sst.. Mbak Sekar ngambilin makan aja sana. Dikit aja.” Iyem menoleh pada Sekar.

“Nggak mau makan,” keluh Aji.

Sekar yang sudah melangkah, berhenti menunggu situasi.

“Dikiit aja. Biar mas Aji kemasukan nasi perutnya. Gimana-gimana juga kalo sudah makan nasi itu badan bisa segar.” Iyem membujuk.

“Itu mah kamu, kali Yem,” bisik Sekar.

“Eh, iya ding. Itu Iyem. Meriang dikit makan nasi yang banyak langsung sembuh.” Iyem tersenyum. “Ya sudah, maunya makan apa?”

“Roti aja,” Aji berbisik lemah.

“Ya sudah, Iyem belikan roti dulu di mini market depan situ,” kata Iyem sambil bangkit dari tempat tidur.

“Jangan!” Aji menarik tangan Iyem.

Iyem tidak jadi berdiri.

“Lha terus gimana?”

“Iyem tungguin aku, Sekar aja yang beliin.”

Iyem menatap Sekar meminta persetujuan. Dengan tatapan mata kesal Sekar berkata, “Iya deeeh. Demi kakakku tercinta yang paling ganteng se-kecamatan rayaaaa…”

Sekar beranjak ke pintu. Di ambang pintu dia berhenti lalu menoleh.

“Roti apa, nih?”

“Roti yang isinya coklat. Sama biskuit mari Regal.”

“Oke..”

Sekar beranjak keluar kamar.

“Eh, uangnya di laci dapur kiri ya Mbak..! Uang belanjanya di situ.” Iyem berteriak pada Sekar yang sudah terlanjur keluar kamar.

“Iyaaa…” terdengar teriakan Sekar dari luar kamar.

Tak lama terdengar pintu depan dibuka lalu ditutup lagi.

“Mas Aji minum teh panasnya lagi, lalu tiduran. Biar Iyem kompres.”

Aji menurut, memberosotkan tubuhnya agar tidur telentang. Iyem membasahi sapu tangan dengan air dingin dari mangkuk lalu menempelkannya di dahi Aji. Aji terpejam rapat, tak lama terdengar dengkurnya. Iyem mengangkat sapu tangan dari dahi Aji kalau sapu tangan itu sudah tidak dingin lagi. Dicelupkannya lagi sapu tangan itu di mangkok, diperas dan diletakkannya lagi di dahi Aji. Begitu seterusnya.

Tak berapa lama Sekar masuk membawa tas plastik berisi roti permintaan Aji. Diulurkannya plastik itu pada Iyem. Iyem menerima dan meletakkan pelan-pelan di meja agar tidak membuat suara berisik dan mengganggu Aji yang sedang tidur dengan nyenyaknya.

Tiba-tiba Aji menggeliat dan tangannya seperti mencari-cari sesuatu untuk dipegang. Iyem segera memegangi tangan Aji dan Aji menggenggamnya erat seperti menemukan yang dicari. Sekar melihat itu semua dalam diam dan wajah prihatin. Meski biasanya mereka bertengkar dan cenderung tidak peduli satu sama lain, kali ini dia sedih melihat kakak satu-satunya sakit seperti ini.

“Mama… Mama…” Aji ngelindur.

Iyem kaget mendengar Aji memanggil-manggil mamanya yang sudah meninggal bertahun lalu. Iyem menoleh pada Sekar yang segera pura-pura melihat ke arah lain dengan mata basah. Iyem kembali menatap Aji. Dielusnya dahi Aji dengan tangannya yang lain. Dilihatnya wajah Aji yang tampak membara karena demam. Bibirnya bergetar menahan panas tubuhnya.

“Cepet sembuh mas Aji.. Bapak lagi pergi begini, cepet sembuh ya.. Nanti Iyem bingung.. ”

Iyem menunduk, bibirnya komat-kamit mengucapkan doa sebisanya dengan satu telapak tangannya masih di dahi Aji sedang yang satu lagi dalam genggaman Aji. Air mata menetes dari mata Iyem membasahi sprei.

Sekar keluar dari kamar Aji, masuk kamarnya sendiri dan menelungkupkan badannya di tempat tidur. Dia terisak perlahan beberapa saat, lalu bangun dan duduk bersila, menangkupkan kedua telapak tangan dan menengadahkan kepala ke atas dengan mata terpejam, menghadap pada patung Yesus yang ada di dinding kamarnya.

***

Pagi menjelang, Sekar keluar dari kamarnya, menengok ke kamar Aji. Dibukanya pelan-pelan pintu kamar Aji dan kepalanya masuk lebih dulu. Dilihatnya Aji sedang berganti pakaian. Aji yang tersadar adiknya tiba-tiba muncul dari balik pintu berbalik dengan marah.

“Dasar anak enggak sopan! Ngintipin aku lagi ganti baju ya? Keluar!”

Sekar segera menarik kepalanya dan menutup kembali pintu kamar kakaknya dengan keras. Mendengar suara pintu dibanting Iyem berteriak dari dapur, “Mbok ya kalo nutup pintu itu pelan-pelan to! Iyem kaget ini lho. Nanti kalo Iyem jantungan lantas mati gasik, gimana coba? Iyem belum sempat nikah….”

Sekar terkikik mendengar teriakan Iyem lalu berlari ke arah dapur mendapati Iyem yang sedang membuat nasi goreng.

“Yem..” panggil Sekar dari ambang pintu dapur.

“Ada apa? Senang ya kalo Iyem kaget?” sungut Iyem.

“Mas Aji sudah sembuh ya?”

“Sudah. Tadi malam habis nglindur itu terus bangun. Iyem suapin roti yang dibeli mbak Sekar itu, lalu minum teh panas. Habis separuh roti coklatnya. Terus minta mie instant pake telor. Iyem bikinin. Mie instan habis, tidur dia. Iyem tidur di sebelah tempat tidur mas Aji, gelar tikar, takutnya malam demam lagi.”

“Terus, masih demam lagi, nggak?”

Iyem menggeleng.

“Apaan demam! Jam dua belas Iyem dibangunin. Minta dibikinin mie instant lagi dua bungkus jadi satu, sama telornya juga dua. Sudah, kalo sudah makannya banyak gitu sembuh dia.”

Sekar terkekeh.

“Iyem bilang juga apa? Kalo sakit itu makan yang banyak, pasti sembuh!”

“Halah..” Sekar meninggalkan dapur sambil masih tersenyum lebar.

Tepat pada saat itu dia berpapasan dengan Aji. Sekar berhenti, menatap kakaknya sambil tersenyum.

“Apa kamu? Senyum-senyum sendiri.”

“Ih..” Sekar monyong sambil berlalu.

“Eh, tunggu.”

Sekar berhenti dan berbalik, “Apa?”

“Makasih ya sudah beliin roti kemarin.” Aji tersenyum.

Sekar juga tersenyum. “Biasa aja.”

4-sehat-5-sempurna

Aji mengulurkan tangannya meraih kepala adiknya dan mencium ubun-ubunnya. Lalu dengan gerakan pelan yang tidak bisa dilihat Sekar digetoknya kepala Sekar perlahan.

“Aduh!” Sekar berteriak. “Dasar anak nakal!”

Kedua anak itu lantas berkelahi. Iyem di dapur menggeleng-geleng kepala.

“Wis mbuh kono, kalo sudah ribut begitu berarti sehat semua…” katanya sambil menuang nasi goreng ke mangkok.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

18 Comments to "Tiga Sahabat (11): Makan Banyak Biar Sehat"

  1. [email protected]  4 June, 2013 at 08:18

    pantes… aji badannya tumbuh menjadi besar…
    makannya banyak… indomee 2 telor 2…

  2. Matahari  3 June, 2013 at 13:17

    Saya setuju dengan James di komen 16….makan banyak atau terlalu banyak bisa jadi sumber penyakit..dan kalau orang sakit tiba tiba punya selera makan yang banyak…memang ada benarnya orang tersebut sudah sehat karena umumnya orang sakit tidak punya selera makan apalagi disaat demam…

  3. James  3 June, 2013 at 12:44

    Kebanyakan Makan Sumber Penyakit Juga

  4. Lani  3 June, 2013 at 03:38

    MBAK PROBO : yg jelas bakal nyamber kita berdua hehehe………….selamat ngorok mbak

  5. Hennie Triana Oberst  3 June, 2013 at 03:09

    Pasti sudah jarang sekali ada orang seperti Iyem.
    Dulu sewaktu aku masih kecil ada pengasuh kami mirip sekali dengan Iyem di cerita ini.

  6. Dj. 813  3 June, 2013 at 01:36

    Begitu sayangnya Iyem terhadap Aji dan Sejar.
    Hebat…!!!

  7. Dewi Aichi  2 June, 2013 at 23:12

    Wah….Iyem memang pembantu yang sangat setia dan penuh kasih….pinter lagi…iyaaaa seperti kata Elnino..pokok e jangan absen kalau bisa yaaaa….

  8. probo  2 June, 2013 at 23:08

    bene nek arep nyamber Mbak Lani….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.