Aku Benci Olive, Popeye, juga Brutus

Istiqomah Almaky

 

Aku benci sekali pada Olive. Tak hanya Popeye “Jhony”, si tampan ketua OSIS, yang jatuh hati padanya, tetapi juga Brian “Brutus” cowok jago basket, murid baru di sekolah ini. Terus aku yang biasa-biasa ini dapat siapa? Kalau ada yang nanya apa yang paling kusuka akan kujawab biasa-biasa saja, “Jus apukat campur strawberry,”. Gak peduli apa komentarmu. Tapi, kalau ada yang nanya apa yang paling kubenci aku bakal teriak kencang-kencang, “Aku benci Olive, Popeye, juga Brutus!”

Mau tahu kenapa? Coba bayangin…..

Gak usah dibayangkan dech, lihatlah di halaman sekolahku saat ini. Cewek berambut panjang yang berjalan ke arahku itu dialah Olive. Nama lengkapnya Olivia Trisnani. Tapi dia lebih suka dipanggil Olive. Lihatlah bagaimana cewek itu begitu sombong memamerkan kecantikannya. Uh… aku suka sebel melihat bibirnya yang sensual itu. Kalau dia bicara, apalagi tersenyum sungguh cantik sekali. Aku yakin pasti banyak cowok yang suka padanya. Begitu pun matanya yang belo itu, wuih luar biasa beningnya. Seperti mahluk tak berdosa saja ia saat bertatapan mata. Tubuhnya juga lumayan tinggi dibanding teman-teman sekelas, mungkin sekitar 165 cm. Bandingkan, aku saja cuma 153 cm. Aku juga benci pada matahari yang seperti tak sanggup mengalahkan putih kulitnya. Padahal tiap hari dia kan naik motor. Kenapa pipinya, tangannya, juga betisnya masih putih dan mulus-mulus saja?

Aku benci Olive sebab ia membuatku tak berarti apa-apa. Lebih benci lagi karena Olive selalu duduk sebangku denganku sejak kelas X hingga kini kelas XII IPA. Lengkap sudah deritaku. Tak ada satu pun cowok yang naksir padaku. Hanya Olive, Olive, dan Olive, bukan aku.

Rasa iriku pada Olive semakin bertambah ketika dengan terang-terangan Jhony, sang ketua OSIS,meminta bantuanku untuk mendapatkan hati Olive.

“Lian… please bantu ya! Aku naksir berat nih ma Olive,” katanya suatu kali padaku di ruang sekretariat OSIS.

Tega sekali Jhony memintaku melakukan semua itu. Apakah ia tak pernah mendengar degup jantungku yang semakin kencang saat ia berbicara padaku? Apakah ia tak melihat pijar mataku saat ia menatapku? Apakah ia tak mengerti betapa besar aliran listrik yang etrjadi saat tangannya bersentuhan denganku? Jhony… mengapa tak kau mengerti juga, bahwa aku, Lilian, sekretarismu diam-diam menyayangimu?

Aku tak mampu menolak permintaan Jhony. Tak tega rasanya melihat Jhony setiap hari mengagumi Olive dari jauh. Pedih juga hatiku mendengar bagaimana ia begitu menggilai kecantikan Olive. Risih juga telingaku mendengar pujian-pujiannya.

“Lian..! Lihatlah, ” katanya suatu hari padaku.

“Apa?” tanyaku sambil mengikuti arah telunjuk Jhony.

“Kau lihat… Kau lihat Olive di sana? Ia seperti bidadari yang sedang bermain-main dengan belalang, kupu, dan kumbang di taman bunga.”

Hm… Jhony benar. Olive semakin cantik di antara mawar, seruni dan kamboja yang mekar di taman depan kelasku.

Tangan Olive begitu indah memegang setangkai mawar. Ia cium bunga itu.

“Lian…. betapa bahagianya aku kalau berhasil menjadi pangerannya. Lian…. please tolong aku! Tolong aku mendapatkan hati Olive,” pinta Jhony sungguh-sungguh padaku.

Aku hanya tersenyum.

Dengan sabar kulakukan semua untuk Jhony, yang tiba-tiba telah kupanggil menjadi Popeye di hatiku. Kusampaikan salam Jhony setiap hari pada Olive. Kuceritakan pada Olive bagaimana setiap hari Jhony memujinya dan hanya menceritakan kekagumannya pada Olive. Padahal tanpa kuceritakan semua itu pun Olive tahu betapa hebatnya Jhony. Selain menjadi ketua OSIS di sekolah kami, Jhony juga seorang atlet karate. Tahun ini ia berhasil menjadi wakil propinsi ke tingkat nasional dalam event Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) setelah lolos seleksi tingkat propinsi. Meski hanya meraih medali perak, tetap saja Jhony luar biasa, setidaknya bagiku. Jhony tak ada bandingnya di sekolahku.
Akhirnya Jhony dan Olive jadian juga. Sebenarnya bukan karena bantuanku semata, tetapi lebih karena keberhasilan Jhony menjadi pahlawan bagi Olive. Jhony benar-benar menjadi Popeye bagi Olive. Bukan untukku.

*****
Sore itu, cerita Jhony, diam-diam Olive juga bercerita padaku, tapi tak kusampaikan pada Jhony, Jhony berhasil menolong Olivia. Keduanya bercerita padaku hanya beselang satu jam saja. Olive bercerita lebih dulu paginya, Jhony siang harinya.

Saat melewati pertigaan dekat rumah Jhony, lampu merah padam. HP Olive berbunyi. OLive berhenti sekitar 10 meter dari belokan. Ia ambil HP dari dalam tasnya.

Mendadak tiga orang cowok preman menghampirinya.

‘Hm… bagus juga HP-nya Mbak?” kata salah seorang di antaranyayang langsung merebut HP Olive.

Kedua temannya memegang motor Olive.

“To…..,”hampir saja Olive berteriak. Namun,

“Mbak…. jangan macam-macam! Mbak lihat ini apa?” Kata salah seorang di antara mereka sambil menunjukkan sebuah benda berkilat di balik jaket hitamnya.

Belati! Olive bergidik.

“Hooooi!!! Lepaskan!” sebuah suara tiba-tiba mengagetkan ke empatnya.

Olive hampir berseru kegirangan ketika menyadari ada orang yang akan menolongnya. Matanya terkesiap ketika sadar orang yang akan menolongnya adalah Jhony.

“Lepasin! Dia temanku!” Jhony berkata dengan suara tegas sambil menatap tajam pemuda yang sejak tadi memegangi motor Olive.

“Ouw… sory … sory Mas Jon…. Kita gak tahu dia teman Mas Jhon!” jawab cowok yang tadi merebut HP Olive dengan suara gemetar. Sambil menunduk ia mengembalikan HP itu ke tangan Olive.

“Sudah! Sana pergi! Awas kalau macam-macam lagi!” bentak Jhony lagi.

Tanpa berkata-kata lagi, ketiga cowok preman itu berlari memasuki gang meninggalkan OLive dan Jhony.

“Kamu …..”, belum selesai Jhony menyelesaikan kalimatnya, Olive mau mengucapkan rasa terima kasihnya.

“Teri….,” akhirnya Olive tersenyum dan tak jadi mengucapkan terima kasih.

Jhony tersenyum.

“Kamu nggak papa kan Live?” tanya Jhony khawatir.

“Syukurlah, gak papa. terima kasih. Tapi…. masih gemetar juga sih,” kata Olive akhirnya mengakui juga bahwa kejadian tadi membuatnya benar-benar ketakutan.

“Oke dech kalau gitu aku antar sampai ke rumahmu,” tawar Jhony akhirnya.

“Bagaimana caranya?” Olive bertanya tak mengerti sambil memandang bergantian motornya dan motor Jhony.

“Hahaha maksudku aku akan mengiringimu sampai kamu ke rumah, ” Jhony menjawab pertanyaan Olive sambil tertawa.
Sejak sore itu, sejak Jhony tahu rumah Olive, Jhony sering bertandang ke rumah Olive. Tiga minggu berikutnya mereka jadian. Keduanya menceritakan kejadian sore itu satu hari setelah jadian.

Tidak salah bukan kalau aku menyebut Jhony sebagai Popeye dalam hatiku. Ia pacar Olive yang juga gagah. Dalam cerita cinta Popeye dan Olive tak ada cerita tentangku, cerita tentang Lilian yang malang.

Diam-diam saja, kusimpan rasa benciku pada Popeye dan Olive. Tapi aku sahabat mereka. Aku harus pandai-pandai menyimpan rapat perasaan sakit hatiku pada mereka berdua.

Diam-diam juga aku berharap bakal ada Brutus yang berhasil merebut Olive dari Popeye, dan aku bisa kembali mendapatkan Popeye.

*****
“Mbak, permisi! Deo ada?” sebuah suara mengagetkan aku.

Seorang cowok berbadan kekar, kulitnya agak hitam tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku. Uh, kaget juga aku sebab sejak tadi di sekretariat tak ada siapa-siapa kecuali aku.

“E… e nyari siapa?” tanyaku setalh dapat mengatasi kekagetanku.

“Deo, Mbak,”jawab cowok itu.

“Oh… dia keluar bentar,”jawabku kembali membaca proposal yang tadi kubenahi. Tiba-tiba aku sadar.

“Eh kamu anak basket ya?” tanyaku padanya.

Ia mengangguk.

“Iya Mbak,” jawabnya.

Gila, manis juga senyumnya. Hehehe ada-ada saja kau Lian, peringatan hatiku menyala.

“Kalau gitu tunggu saja. Tadi Deo bilang kalau ada anak basket mencarinya suruh nunggu, “kataku akhirnya. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku menjadi ramah padanya.

“Aku Brian, Mbak. Kelas XI IPS-2,” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Lian,” jawabku, “Siswa pindahan? Kok aku gak kenal kamu?” tanyaku lagi.

Rasanya aku memang baru melihatnya kali ini. Lagi pula kelas XI IPS-2 berada tepat di atas kelasku, kelasku di lantai 1, kelasnya di lantai 2.

“Iya Mbak, dari Purwokerto,” katanya.

“Duduklah,”kataku sambil menunjuk sebuah kursi padanya.

Hm… lima menit sudah kami berdiam-diaman saja. Entah kemana Deo keluar, padahal tadi bilangnya cuma sebentar.

Rasanya tak enak membiarkannya diam dan gelisah.

“Mang kenapa pindah ke sini,” kalimat awal pembicaraan kami punmeluncur dari bibirku.

Kulihat mata Brian berbinar. Mungkin ia sama dneganku, keki hanya berdiam-diaman saja.

“Ikut Nenek, Mbak. kasihan sendirian sepeninggal kakek,” jawabnya.

“Ah…. panggil saja Lian. Kita kan sama-sama kelas XI, pintaku.

Pembicaraan kami pun merembet kemana-mana. Mulai dari sekolah, hobi, teman dekat, bahkan sampai soal makanan. Sejak itu kami semakin dekat. Hampir setiap kali Brian menemuiku baik di sekretariat maupun di samping kelasku. Lalu diam-diam kami duduk berdua di sudut taman. Aku selalu mencari cara agar Brian tak bertemu Olive. Sakit hatiku saat Jhony lebih memilih Olive ketimbang aku hingga kini rasanya masih suka perih. Aku tak mau kalah untuk kedua kalinya. Hingga suatu kali, saat kami duduk berhadapan makan bakso di kantin sekolah, sebuah suara mengagetkanku.

“Wah…. senangnya yang lagi berdua?” suara Olive membuatku hampir tersedak.

“Eh… Oh… kenalkan, Ini Brian, “kataku kikuk.

“Olive,” kata Olive menerima uluran tangan Brian sambil tersenyum manis.

Aku benci pada senyum Olive. Aku benci cara Brian menatap Olive. Jantungku berdetak lebih kencang. Tuhan… aku tak ingin Brian menjelma Brutus yang akan merebut Olive dari Popeye. Oh….

*****
Aku semakin benci pada Olive. Meski telah berpacaran dengan Popeye, Olive masih juga terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Brian. Ia sering menanyakan kabar Brian bahkan titip salam. Yang lebih menyakitkan, Brian pun terang-terangan menunjukkan sikapnya yaitu menyukai Olive.

Seperti tadi pagi, Olive bilang padaku,

“Lian, apa kabar Brian? Titip salam dong buat dia.” kata Olive usai jam pelajaran pertama.

Aku diam saja sibuk menata hatiku yang cemburu.

“Lian….! Kok kamu diam saja sih?” Olive memandangku heran.

Saat itu kami sudah keluar dari kelas hendak menuju lab biologi yang letaknya berdampingan dengan kelas Brian. Dadaku berdegup semakin kencang.

“Lian…. kamu dengar nggak sih aku ngomong?” Olive mempercepat langkahnya hingga ia berjalan berjalan tepat di sampingku.

“Iya, aku dengar. Kenapa?” akhirnya kujawab juga kebawelannya.

“Brian cakep ya?” tanyanya smbil berjalan mundur supaya bisa menatap wajahku.

Sungguh makin panas hatiku. Rasanya ingin sekali aku menampar mulut Olive.

“Lian…. kamu belum jawab, Brian ganteng kan?” tanya Olive memaksaku.

“Iya… iya. Bisa diam nggak sih?” jawabku akhirnya.

Untung sudah sampai di depan lab biologi. Aku segera duduk bersama kelompokku. Terpisah jauh dari Olive dan kelompoknya. Tuhan, terima kasih aku bisa lepas dari teror Olive.

*****
Aku sungguh lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan Olive tentang Brian. Aku juga benci mendengar Olive memuji Brian. Demi melarikan diri dari Olive, sekarang aku lebih memilih nongkrong di sekretariat OSIS saat jam istirahat. Lebih aman bagiku.

“Lian… aku nyari kamu tadi di kelas. Kata Olive kamu akhir-akhir ini suka ngilang ya pas jam istirahat?” tanya Brian yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.

“Ada apa nyari aku?” tanyaku datar. Sungguh aku ingin menahan rasa cemburu dan kangenku padanya.

“Gak. Aku cuma mau tanya padamu,” katanya lagi.

“Soal apa?”tanyaku balik masih dengan datar saja.

“Olive sudah punya pacar belum?” pertanyaannya membuat hatiku terguncang.

“Apa urusannya denganmu? Apa aku harus membuat laporan semua tentang Olive padamu?” suaraku meninggi.

“Ya … habis Olive cantik dan… hm menarik,” akhirnya keluar juga pengakuannya.

“Kalau cuma mau muji Olive knapa harus melalui aku? Sana temui saja Olive!” hampir saja tangisku pecah.
Brian menatapku tajam. Aku memalingkan wajah. Sungguh aku tak mau ia melihat air mata yang menggantung di kelopak mataku. Aku sungguh melihat Brian berubah menjadi Brutus. Brutus yang hendak merebut Olive dari Popeye. Brutus yang tertarik pada Olive, bukan pada Lilian.

“Tapi emang benar kan Olive cantik?”  tanyanya lagi.

“Iyaaaaa. Olive cantik, aku jelek. Gak ada yang peduli sama aku. Gak ada yang sayang sama aku. Semua orang cuma muji Olive….” akhirnya tumpah juga kalimat-kalimat itu dari bibirku.

“Kenapa harus melalui aku kamu memujinya? Kenapa…..?” suaraku yang meninggi kini bercampur tangis.

Brian terkejut. Ia memegang kedua tanganku dan menatap tajam tepat pada kedua mataku.

“Lian… tatap aku! Kamu cemburu kan sama Olive?” suara Brian sungguh tenang.

Aku benci mendengar suara Brian. Aku benci pegangan tangannya. Aku… hiks, aku tak mampu menahan tangisku. Kupalingkan wajahku.

“Lian… jujur, kamu cemburu kan, Sayang?’tanya Brian lembut.

“Iya….. aku cemburu!” keluar juga pengakuanku.

Cup..cup.. cup. Astaga… Brian mengecup kedua tanganku yang masih ada di genggamannya.

“Terima kasih Tuhan! Akhirnya aku tahu bahwa kau pun menyayangiku,” seru Brian sambil memaksaku menatap wajahnya.

“Apan sih?” aku masih juga tak mengerti.

“Aku ingin melihatmu cemburu karena aku sungguh sayang padamu. Tapi kamu terlalu cuek Sayang,” Brian mencubit pipiku.

“Jadi….?” tanyaku tak selesai.

“Jadi… mulai detik ini kita jadian,”serunya.

love-story

Ha… jadi perasaanku tak bertepuk sebelah tangan. Hampir saja aku berteriak dan meloncat kegirangan jika Deo tidak tiba-tiba masuk ke sekretariat. Ia memandang kami berdua dengan wajah penuh tanya. Yang jelas wajahku tersipu saat ia penuh keheranan melihat betapa tangan Brian sedang memegang kedua tanganku.

“Kita ke kantin, Deo. Aku mau nraktir kamu,” ajak Brian pada Deo sambil menggandeng tanganku keluar sekretariat.

“Memang siapa yang ulang tahun?”Deo masih tak mengerti.

“Pangeran sedang berpesta sebab telah menemukan puteri impiannya,” sahut Bram sambil mengerlingkan matanya padaku.

Deo mengikuti langkah kami sambil tersenyum.

 

9 Comments to "Aku Benci Olive, Popeye, juga Brutus"

  1. indri  6 June, 2013 at 01:21

    he..he.. akhirnya si Lilian jadian sama Brian, yang untung si Deo ditraktir di kantinnya Pak J C…..

  2. faraizdhihary  4 June, 2013 at 21:06

    Mbak Dewi dan lainnya…. hehehe kalau saja Balytra gak ngupload cerpen ini, aku bisa kelupaan untuk buka balytra lho. lama banget gak nulis sih. Hehehehe.

  3. J C  4 June, 2013 at 21:03

    Hohoho…seperti komentarku di Group Baltyra FB…serasa kilas balik puluhan tahun lalu baca Anita Cemerlang…

  4. Dewi Aichi  4 June, 2013 at 17:22

    Mba Fara ha ha ha ha…khas banget masa remaja…duh…jadi mengenang kembali masa masa seperti itu….

  5. Dj. 813  4 June, 2013 at 15:08

    Hahahahahaha….
    Cinta monyet, terasa dunia semakin indah.
    Salam,

  6. faraizdhihary  4 June, 2013 at 11:58

    Wkwkwkwk itu emang cerita ABG banget. kutulis th 2010 an trs dimuat di Story. Wkwkwkwkw seru ya. idenya, karena salah satu siswiku namanya Olivia cantik banget. jadi membayangkan alangkah jealousnya siswi lain ya. Maka jadilah cerita yang mempersulit diri sendiri ini.

  7. Handoko Widagdo  4 June, 2013 at 08:54

    Berarti aku gak pernah melewati masa remaja.

  8. Linda Cheang  4 June, 2013 at 08:49

    memang kisah a la anak remaja… dibikin rumit sendiri, hihihi..

  9. [email protected]  4 June, 2013 at 08:41

    suit….suit…..
    nomor satu nunggu di kantin…. nunggu di traktir….
    wohooo….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.