Jualan Apa?

Bagong Julianto, Sekayu – Muba

 

Kegiatan jual beli, lugas dan ataupun harfiah, ternyata kita lakukan sepanjang waktu. Selama masih diberi nafas, mulut masih memproduksi suara, rasa masih bergetar dan pikir masih menggelinjang, kita menjual dan membeli apapun. Barang materi, nilai, etika, keyakinan dan rasa percaya. Apa akibat yang timbul jika lain dijual lain pula yang dibeli? Jualan apa? Jualan citra? Atau sekedar bohong membohongi? Adakah upahnya?

what-is-selling

1. Sekayu th 2008: 400 Tongkol Jagung Bakar dan 1 Kedongkolan

Kami menikmati sore berputar-putar di Sekayu, Kota Kecamatan yang dijadikan Ibukota Kabupaten Musi Banyuasin atau Muba. Sebagai penduduk dan pendatang baru, saya berusaha mengakrabkan diri kepada siapapun juga, termasuk kepada si penjual jagung bakar yang kali ini adalah pembelian kami kali ke dua. Tampaknya sepasang suami isteri yang saling mendukung. Lokasi jualannya dekat rumah dinas Bupati pula.

“Sudah lama ‘Yung jualannya?”. Yung kependekan Kuyung artinya Bang atau Mas.

“Hampir lima tahunlah”, jawab si suami. Si isteri, saya lihat datar saja ekspresinya.

“Ada hasil kalau begitu?”, tanya saya lagi.

“Lumayan Pak! Itu sepeda motor. Rumah juga sudah ditembok. Ada pula kebon karet Pak. Satu bidang”. Satu bidang bisa berarti 2, 3, 4 ha atau lebih.

Bukan sekedar lumayan kalau begitu! Sepeda motor. Rumah. Kebon karet.

“Satu hari rata-rata bisa jual berapa tongkol?”, wajar pertanyaan saya ini.

“Empat ratusanlah Pak”, mantap jawaban si suami. Lagi-lagi si isteri nggak ada ekspresi.

“Empat ratus tongkol?”, cepat saya menyela.

“Ao”, jawabnya. Ao artinya iya.

“Bukan empat ratus ribu rupiah ‘kan?”, saya masih terkesima dengan angka 400 tongkol.

Pula saya ragu ada miskomunikasi, mispersepsi.

“Ao. Empat ratus jagung bakar Pak!”, si suami tampak kuat gigih meyakinkan saya.

Otak saya terkesima mendadak. 400 kali 3000 rupiah. Satu juta dua ratus ribu rupiah. Es dogannya lagi? (Dogan adalah degan atau kelapa muda). Teh botol dinginnya lagi? Nyaris dua juta rupiah omzet perhari. Keuntungan? Mudah-mudahan sekitar empat ratus ribu rupiah perhari. Wajarlah jika bisa beli kontan sepeda motor, bangun rumah dan beli kebun karet!.

Keterkesimaan saya masih berlanjut satu dua hari kemudian. Setiap ada kesempatan berkomunikasi dengan siapapun juga saya jualan kesaksian: betapa Sekayu mensukseskan sepasang keluarga muda yang berwiraswasta. Tapi tidak berselang lama, kebenaran yang sejati terungkap juga. Saat itu kami makan minum pempek dan dogan di satu kawasan dekat Pos PM. Si pemilik kedai beri info: si suami jagung bakar adalah perjaka yang terjebak oleh si isteri janda tiga kali cerai. Nikah baru dua tahun terakhir ini. Lhoh?! Usaha jagung bakar itu milik si isteri. Saya dongkol. Apalah gunanya cakap bohong dan membohongi saya.

Bukankah kami calon pelanggan setia karena kami adalah penyuka jagung bakar? Saya juga kesal terhadap diri sendiri karena cepat terkesima pada uraian kepemilikan sepeda motor-tembok rumah-kebun karet-lima tahun. Otak matematika dan daya lihat fakta sekitar saya demikian tumpul dan sangat menyedihkan ternyata!

Bukankah sebenarnya mudah mengungkap dan menyingkap dusta dan bualan si suami? Jualan dari jam lima sore dan katanya selalu sudah habis pada sekitar jam sepuluh malam. Berarti 400 tongkol dibagi 5 jam dibagi 60 menit = membakar 1,3 jagung per menit setara dengan menyiapkan 4 jagung bakar per 3 menit! Nggak pernah putus membakar dari awal buka sampai tutup! Faktanya: untuk pesanan kami yang hanya 3 jagung bakar, kami menunggu lebih dari lima menit. Juga pengamatan saya nggak ada pernah terlihat kerumunan pembeli jagung bakar. Jadi, untuk apa membual? Mereka melepaskan peluang mendapat calon 3 pelanggan setia yang biasanya memesan 5 jagung bakar sekali makan dan meminum minimal 5 teh botol………

 

2. Sekayu th 2010: Prasmanan dan Bebas Pandang?! Terima Kasih!

Kami nggak rutin masak. Selalu ada peluang untuk wisata kuliner lokal. Sampai dengan saat ini rasanya sedikit warung/kedai/restoran yang tampak ramai dikunjungi pelanggan yang belum kami coba masakannya di seantero Sekayu. Hasilnya selalu kami sepakatkan bersama: warung ini cukup sekali ini saja. Warung itu boleh dikunjungi lagi. Warung yang lain, apa boleh buatlah! Sekali waktu, bersendiri saya mencoba Warung Prasmanan di seputar bundaran Adipura Sekayu. Tampak ramai saat jam makan siang. Masakan Jawa lagi! juga celoteh Jawa saya dengar dominan. Seperti di Solo rasanya. Walau ada yang berbahasa lokalan Sekayu, cengkok Jawanya tetap terdengar. Saya coba soto ayam plus terong rebus sambal goreng. Sekilas saya memutar pandang. “Pedang” semua! Sungguh! Penikmat pelanggannya laki-laki semua. Nggak tampak pelanggan perempuan. Lhoh?! Bukankah ini jam makan siang?

Tak berapa lama, keluarlah dari meja kasir yang sedari tadi duduk manis sambil menanggapi akrab celoteh para pedang yang terkadang menjurus ke “pertempuran pedang dan tameng”. Sepertinya wanita ini pemilik warung prasmanan sekaligus kasir. Akrab dan riuh rendah berceloteh dengan para pelanggan. Parasnya tipikal Jawa. Kulit coklat sawo matang. Tata rias wajahnya cerah ceria. Yang mesti merah dibuatnya mencolok merah. Yang mesti hitam disajikannya hitam kelam nian.

Rambut panjangnya disimpul pucuk ujung. Blus ketat merah rendahnya memamerkan tengkuk dan belahan “pasangan gunung merapi dan merbabu” yang membusung menjulang tinggi. Begitu berjalan ke luar meja kasir tingginya: tersajilah pemandangan itu! Pemandangan alam yang menyesakkan napas. Celana karet hitam tiga per empatnya begitu erat melekat menempel di pinggul hingga lututnya. Cenderung mengikat bahkan. Lekuk liku pinggangnya yang subur serta bumper depan belakangnya demikian kentara. Dobel gardan dan anti selip dengan daya cengkeram yang pasti kuat nian! Mendadak saya hilang selera. Soto hilang rasa. Terong hambar. Cabe nggak pedas lagi. Itu adalah pemandangan alam yang nggak saya duga sama sekali! Cukup sekali itulah! Memang jualan apa?

 

3. Sekayu th 2011: Mie Celor Rasa Jengah

Satu warung mie celor di kawasan Jl Merdeka tampaknya baru buka, menarik perhatian kami. Berdua dengan si Agus, kami coba makan mie celor di satu sore yang penuh pelanggan. Warung baru cenderung ramai pelanggan. Tampak dikelola oleh satu keluarga. Ibu di meja kasir, anak-anak remajanya melayani dan membersihkan meja. Tampak berusaha profesional namun belum cukup. Buktinya kami dilewatkan dua kali. Posisi kami yang di pojok luar lepas dari pengamatan. Padahal hanya ada 6 meja. 2 rombongan pelanggan yang tiba selepas kami dan langsung menduduki kursi yang baru dibersihkan langsung ditanya dan dilayani. Lhoh, kami kok dibiarkan bengong?! Nggak apa. Kami berusaha sabar dan akhirnya tanya juga:

“Kami dua porsi mie celor, satu es teh dan satu teh hangat!”

“Oh iya Pak.”, datar saja jawaban si pelayan.

Lain hari kami bertiga coba lagi makan malam mie celor. Walau kemaren dulu dilewatkan seolah nggak dilihat ada, kami nggak ambil pusinglah. Maklum saja. Sekali itu justru lagi sepi pelanggan. Hanya kami bertiga di periode “prime-time” seputar jam tujuh malam. Si Ibu pemilik duduk di meja kasir dengan ekspresi datar dan nggak mau alihkan pandang dari tipi yang sepertinya baru tayang sinetron khas Indonesia: air mata-tahta-warisan-wanita. Saat jeda iklan dan si Ibu masuk ke dalam, sementara pesanan belum datang, iseng saya raih remote tipi yang tergeletak di meja arah dekat kasir. Kami menonton siaran tipi berita. Tambah volume suara. Pesanan belum datang juga. Tak lama kemudian si Ibu mencul lagi.

“Siapa yang ganti tipi?”, ketus dan intonasi geramnya kami rasa. Wajahnya kusut dan tampak nggak ramah bersahabat. Nggak ada lain pelanggan, para pelayan juga masih di dalam. Jelas pertanyaan itu ditujukan bagi kami.

“Saya yang ganti siaran tadi. Sorry ‘Yuk. Ini remotenya”, secepat itu pula saya jawab pertanyaannya sambil saya berikan remotenya. Ayuk, sebutan Sekayu yang artinya Mbak atau kakak wanita. Tatapan wajahnya datar saja, sedikit berubah dari yang tadi tampak kusut. Aneh juga saya rasa. Mungkin terkena sindrom ketus sinetron. Saya segera bayangkan rasa hambar mie celor itu. Jika ada idiom “Bebas Tapi Sopan”, itu sepertinya nggak berlaku di warung ini. Kami nggak bebas (nonton berita tipi), sementara si Ibu nggak sopan (dalam bertutur sapa bagi kami). Kejadian itu berkesan bagi saya dan tak berapa lama sayapun dapat info: mereka sekeluarga adalah tipikal pengusaha wiraswasta yang sudah banyak berganti bidang usaha: dari kontraktor-pemborong, ganti jualan meubel, ganti lagi jualan pakaian semacam butik dan tak lama berselang buka warung mie celor. Tak sampai setahun, warung mie celor itupun kini sudah tutup…….

Jadi , apakah kesimpulan jual beli dari tiga pengalaman kami?

Silahkan ambil kesan sendiri.

 

Sampunnnnn. Suwunnnnn. (BgJ, 052013)

 

18 Comments to "Jualan Apa?"

  1. anoew  7 June, 2013 at 17:44

    Suatu ketika di pagi hari, sarapan soto di Sekayu Teladan arah TPA, sebelah barat jalan utama.

    + Yuk, ada sambal?
    – ndak suwek
    + jeruk nipis?
    – ndak suwek
    + kecap?
    – ndak suwek

    Sementara saya masih bingung dan menduga dengan apa yang dimaksud Si Ayuk penjual soto yang seksi itu, teman sekerja yang orang lokal berbisik, “ndak suwek itu artinya nggak ada”.

    Woalah, tiwas…! Saya pikir gara-gara saya minta sambal, kerupuk, jeruk nipis dan kecap bisa membuat belahan dadanya semakin suwek (Jw: suwek = sobek).

  2. Bagong Julianto  7 June, 2013 at 16:16

    elnino, betul: mblenger, enghk dan serasa tidak berada di warung makan…..

  3. elnino  5 June, 2013 at 18:34

    Hahaha…liat kasir prasmanan itu sak nalika langsung mblengerrr ya pak Bagjul?
    Wah, kalo ketemu bakul model penjual mie celor gitu, mending tak tinggal lunga wae…
    Benar kata pepatah, kalo gak bisa senyum, jangan coba2 jadi pedagang deh

  4. Bagong Julianto  5 June, 2013 at 00:45

    JC, hitungan rate itu justru yang menguak bualannya…… Entah kebanggan macam apa yang didapatnya dengan membual?!
    Memang postur tubuh si prasmanan babar blas nggak proporsional……

  5. Bagong Julianto  5 June, 2013 at 00:41

    DA, pernyataan umumnya adalah: kalau jualan iya jangan membual, jangan pamer tubuh dan mesti beradab sopan santun……

  6. Bagong Julianto  5 June, 2013 at 00:38

    Hennie TO, betul. Kalau tubuhnya proporsional mungkin jadi tambahan daya tarik…. lha ini terlalu menonjol plus terlalu ketat melekat erat minta disikat babat embat……… Justru eneghk jadinya.

  7. Bagong Julianto  5 June, 2013 at 00:32

    KangMas Dj, tampaknya memang pengalaman pahit yg selalu sertai mereka. Setiap jenis usaha yg digeluti nggak bertahan lama……

  8. Bagong Julianto  5 June, 2013 at 00:28

    Mas Hand’, Banggar bakul pasal….. Cuocok itu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.