Euro Trip (4)

Adhe Mirza Hakim

 

Dear temans…sorry ya lama menunggu lanjutan kisah Euro Trip ku, berhubung satu dan lain hal yang “sengaja” membuatku malas menulis hehe…semoga tidak berkelanjutan ya, mari dibaca…

 

Hari ke 4, Minggu 31 Maret 2013, Amsterdam – Brussel – Paris

Tour leader mengingatkan kami untuk bangun lebih awal dan mengumpulkan koper-koper di lobby hotel, perjalanan ke Paris, kota yang paling romantic di Eropa sudah terbayang di depan mata. Pagi ini lagi-lagi…aku buat kehebohan, hihihihi….sorry to say deh, sebenarnya aku sudah menyiapkan koper tepat waktu, aku juga sudah mengingatkan Hakim agar jangan telat.

eurotrip4-01

Sunrise di Meerkerk, Holland

Setelah sarapan pagi aku kembali ke kamar, tujuannya mau ke toilet, karena aku gak pakai jam tangan, aku tidak memperhatikan waktu, dengan tenang aku sempatkan sholat sunnah di pagi hari, telepon di kamar tidak terdengar berdering memberi kode.  Aku keluar kamar dengan santai, saat melihat ke Lobby hotel suasana sudah sepi, aku langsung berlari ke arah pintu keluar, ternyataaa….mobil bus sudah berada di pinggir jalan dan Uni Tati tampak berlari ke arahku sambil terengah-engah, “bu Adhe, semua sudah nungguin di bus, hampir saja kami tinggal…”  “aduuuh..maaaf Uni…aku nggak lihat jam,” sambil berlarian aku naik ke bus, tampaknya aku jadi trouble maker di group ini ya huhuhu…*tepokjidat.

Perjalanan ke Paris melalui Brussel, pemandangan sepanjang perjalanan sangat menarik mata, rumah-rumah  pedesaan khas Eropa menjadi landscape yang indah sangat sayang dilewatkan, aku tidak ingin tertidur sepanjang  perjalanan, semata-mata untuk menikmati keindahan alam yang kami lalui.

eurotrip4-02

Gedung Tua yang jadi meeting point para peserta tour

 

Sekitar pukul 11 siang, kami memasuki kota Brussel, Belgia, tampilan kota ini bersih, penuh dengan bangunan kuno  yang dijaga kelestariannya, berdampingan dengan bangunan modern, selintas teringat kota Frankfurt, kombinasi antic dan modern harmonis sekali. Seperti kita ketahui, badan dunia atau organisasi-organisasi yang berada di bawah naungan UN (PBB) ada yang berkantor pusat di Brussel. Kota ini seharusnya tidak dilalui hanya 2 jam, tetapi karena mengingat  tujuan wisata utamanya ke Paris, maka harap maklum jika tidak bisa lama di sini.

eurotrip4-03

Jalan-jalan kecil yang bersih di antara gedung-gedung tua yang antik

 

eurotrip4-04

Cafe kecil di antara bangunan tua

 

Kami turun di pusat kota, bus harus segera berlalu tidak ada tempat parkir buat bus. Seperti biasa kami harus tepat waktu menunggu di meeting point untuk dijemput kembali.  Uni Tati memimpin kami menuju “Grand Palace”,  hmm…ternyata dilokasi ini berderet bangunan-bangunan megah bergaya Gotic, asli kereen…*buatparapembacamogamogabisasampaikesinijugaya.

eurotrip4-05

Bangunan-bangunan yang bermotif Gotic di lokasi Grand Palace

 

eurotrip4-06

Gedung Grand Palace yang megah

 

eurotrip4-07

Grand Palace area

 

Camera kami langsung beraksi jeprat jepret sana sini, kami diingatkan UniTati, bahwa waktu tidak lama, harus melihat lokasi lainnya, kami diajak mampir di toko Waffle yang ngeTop di Brussel. Semua peserta menyempatkan diri  membeli sekedar untuk merasakan enaknya Waffle coklat dari Belgia ini. Rasa coklatnya begitu melted di lidah,  haiyaaa…maniisss pisan. Aku hanya sekedar mencicipi, cukuplah.  Toko-toko souvenir selalu memikat mata, tetapi  harganya lumayan mahal ya.  Selanjutnya kami melalui deretan toko-toko coklat, hadeew…benar-benar menyiksa mata,  maunya aku beli banyak itu coklat-coklat tapi kebayang volume koper ku nanti gimana ya? Belgia adalah Negara penghasil  coklat yang katanya paling enak sedunia.

Coklat merk GODIVA adalah yang termahal di Brussel, sorry aku gak berani masuk ke itu toko, sudah jiper duluan  lihat harganya hihi… godaan untuk membeli coklat tak terbendung, akhirnya aku membeli beberapa kotak coklat,  lumayan buat dicobain, tentu bukan coklat yang premium, yaa…yang standart aja, yang penting coklat Belgia judule hehe.

eurotrip4-08

Toko coklat Godiva

 

eurotrip4-09

Coklat oh coklat, ini yang kelas standart lho…

 

Uni Tati mengajak kami masuk ke toko coklat dekat “Mannekin Piss”, waduuh ramai sekali yang antri beli dan membayar di kasir, padahal tokonya gak besar-besar amat. Turis-turis dari China dan Korea tampak mendominasi toko, mereka belanja coklat sampai berkeranjang-keranjang, buat oleh-oleh sanak keluarga hihihi.

eurotrip4-10

Manekin Piss

 

Kami penasaran apa sih “Mannekin Piss” itu, eh…ternyata  patung anak kecil lagi pipis udah gitu ukurannya kecil dan nyempil di satu sudut bangunan. Konon katanya si Mannekin Piss ini symbol dari kota Brussel yang selamat dari kehancuran akibat ledakan bom selama perang dunia ke 2, kabarnya ada seorang anak kecil yang mengencingi bom yang mau meledak. Akibat tersiram air seni si bocah, bom itu tidak jadi meledak, tindakan berani si bocah ini diabadikan dalam bentuk patung MannekinPiss. Begitulah hikayat Mannekin Piss, mungkin ada kisah versi lainnya yang belum aku ketahui. Silahkan cari sendiri ya hihi…

Selain toko Waffle dan Coklat, kami sempat mampir ke toko kerajinan tangan berupa sulaman-sulaman halus khas Belgia, harganya tentu tidak murah, ada sih beberapa teman dalam rombongan kami yang membeli sulaman-sulaman ini, berupa sarung bantal, taplak meja, wall hanging (hiasan dinding), dompet dan aneka hiasan rumah lainnya.

Salah satu peserta tour, pak Nur Yuwono sempat ber-reuni dengan anak angkatnya,  aku tanya ke pak Nur koq bisa punya anak angkat orang Belgia? Ternyata anak angkat beliau dulu pernah ikut pertukaran pelajar di Indonesia dan menetap di rumah pak Nur di Jogjakarta,  senangnya bisa bertemu dengan anak angkat beliau.

eurotrip4-11

Toko Waffel yang kami masuki

 

Waktu 2 jam tak terasa berlalu kami harus segera ke meeting point, masih sempat kami berfoto-foto kembali di lokasi Grand Palace. Di lapangan terbuka di depan Grand Palace, berjejer pedagang lukisan cat air maupun cat minyak, pengen banget membeli tapi kebayang repot bawa gulungan lukisan selama perjalanan, akhirnya menyurutkan niatku  untuk membeli, ya foto-foto aja di depan lukisan-lukisan itu hiikkss.

Kami naik bus yang sudah menanti, teteup tidak bisa langsung berangkat, karena ada beberapa teman yang belum naik ke bus, kebanyakan pada antri di toilet umum, wajar pada cari toilet, dalam cuaca dingin kecenderungan ingin buang air kecil bisa terjadi setiap saat. Daripada repot nahan pipis di bus, mending cari toilet sebelum naik ke bus. Syukurlah aku jarang pipis, karena aku agak membatasi minum.

Perjalanan ke Paris masih memakan waktu kira-kira 2 jam lagi. Sekedar info mungkin ada yang ingin tahu makan siang kami bagaimana? makan siang kami itu kebanyakan di atas bus. Uni Tati sengaja membawa rice cooker untuk memasak nasi dan para peserta tour diminta membawa beras (1 liter/orang) dan lauk pauk yang awet dibawa untuk perjalanan jauh, hadeew..koq jadi inget pergi haji ya…hihihi, pakai bawa abon, kering tempe, rendang dan sambel. Makan siang bersama di atas bus ternyata nikmat rasanya, ada rasa kebersamaan di antara kami saat saling berbagi lauk makanan hehe. Ternyata bekal makanan yang dibawa para ibu-ibu yang usianya jauh lebih senior dari kami, enak-enak lho….hihihi, Etty sobatku sempat berseloroh, “hancuur deh program diet gue, alih-alih mau diet selama trip ini, eh…ternyata masih nemu makanan lezat selera Indonesia”, hahaha….apalagi makan di suhu udara yang dingin, dijamin lapar melulu bawaannya.

Tak terasa kota Paris sudah di depan mata, ah…pemandangan indah kota Paris menari-nari di kepalaku ( jadi ingat satu sinetron di station tv lokal SCTV, yang syutingnya di Paris ). Bus melalui highway dalam kota, hmm… apa mataku gak salah lihat? Maaaf yaa teman-teman, buat mereka yang sangat mencintai kota Paris, aku harus bilang jujur, pinggiran kota Paris selintas mirip pemandangan di kota Jakarta. Sampah kertas terlihat berterbangan di pinggir jalan, ada beberapa sudut kota yang agak kotor. Bayanganku kota Paris sebersih Amsterdam, Frankfurt dan Brussel, ternyata….kota ini kalah bersih. Apa aku lewat di daerah yang salah ya? Mungkin Paris kota yang cantik, hanya aku saja yang salah lihat hehehe.

eurotrip4-12

Eiffel …yang megah di antara pepohonan di musim semi

 

Bus memasuki avenue Arch de Triomph, jengjeng…..kemegahan Arch de Triomph seolah menyihir kami, mulai deh camera beraksi untuk mengabadikan kota ini. Deretan toko-toko dan rumah-rumah mode berlable dunia, gak usah aku sebut yaa udah pada tahu semua kan, memancing mata untuk melirik, iyaa melirik doang, kaga minat masuk no hadong hepeng buat digesek. Aku tak sabar ingin melihat menara Eiffel, dimanakah dirimu?  Sejurus tampak menara yang terbuat dari baja hitam yang begitu fenomenal di seantero dunia sebagai icon kota Paris, begitu kokoh dan berdiri angkuh sambil menjawab “Aku disini, mendekatlah!”

eurotrip4-13

Eiffel n me…

Di Paris ada guide lokal yang disiapkan untuk mengawal kami, bus yang kami tumpangi menurunkan kami di satu sisi dari Eiffel tower, menurut ku posisi dimana kami turun punya good view untuk membidik Eiffel, apalagi ada bangku taman yang apik sebagai objek tambahan. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan yang hanya sebentar untuk berfoto-foto, sebenarnya jadwal sore itu kami hanya melintasi kota Paris, untuk City Tour disiapkan waktu keesokan harinya. Sebelum menuju ke hotel, kami akan makan malam dahulu, jam di tanganku menunjukkan pukul 7 malam, tapi cuaca masih terang layaknya pukul 4 sore. Chinese restaurant yang kami tuju masih dalam kawasan avenue Champ Elysse, bus menurunkan kami di satu tempat lalu kami lanjutkan dengan jalan kaki sekitar 100 m. Ternyata rumah makan ini penuh sesak.

Kami harus antri kurang lebih 20 menit untuk bisa masuk, saat menunggu di luar itu paling nggak nyaman buatku, biasalah….udara yang dingin plus berangin semakin menusuk-nusuk ke tubuh, yang bisa kami lakukan saat itu paling mengobrol dan foto-foto di antara gedung dan jalan yang ada di sekitar restaurant. Nah… sempat melihat ada kantor Notaris di antara gedung-gedung yang kami lalui, sangat berbeda dengan tampilan kantor Notaris di Indonesia, yang biasanya memakai papan nama dengan ukuran sekitar 1,5 m x 75 cm, di Paris kami lihat nama Notarisnya tidak disebut, hanya Plat Nama kecil bertuliskan Notaires dengan ukuran sekitar 30 cm x 50 cm, cukup kecil menurutku dan tidak terlalu menyolok. Bisa kufahami, jika mengacu kepada aturan jabatan Notaris, ada larangan untuk mengiklankan diri, jadi papan namanya tidak boleh besar. Di Indonesia aturan papan nama Notaris sudah ada ketentuan standart besarannya, ya setiap Negara tentu punya aturan yang berbeda kan.

eurotrip4-15

Contoh kantor notaris di Paris, sederhana tidak ada papan nama yang menyolok mata

 

Akhirnya kami dipanggil masuk oleh pihak restaurant, aah…legaa rasanya,merasakan hangatnya udara dalam ruangan serta menikmati makan malam yang “seragam” seperti di Chinese Restaurant Frankfurt dan Amsterdam.  Di buka dengan suguhan teh hijau hangat dan ditutup dengan buah jeruk yang dipotong tipis-tipis, kira-kira ada 10 irisan yang aku tebak dipotong dari 2 buah jeruk.

Setelah makan malam usai kami diantar ke hotel Ibis Paris di Nantere, letaknya masih di seputaran pusat kota, karena jarak tempuh dari restaurant ke hotel kurang lebih 15 menit. Hotelnya setype dengan Ibis Frankfurt, nyaman buat tidur, ah ….rasanya tubuh ini sudah protes minta direbahkan, jam ditangan sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan cuaca masih terlihat seperti pukul 6 sore,hihihi….benar-benar menipu suasananya. Baiklah kisah Paris City Tour dan Eiffel Tower akan dilanjutkan di Part 5, haraap sabar yaa…*Pembaca: eeeh..mba Adhe, sudaah sabaaar banget, hampir sebulan nunggu! Hihihi…kabuuur eh bersambung…..

 

BDL, 3 Juni 2013

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Euro Trip (4)"

  1. Matahari  6 June, 2013 at 13:56

    Di bawah Eiifel itu sering antrian panjang dan berjubel…jumlah turis dan pencopet sama banyaknya…
    Tapi Paris itu memang punya daya tarik sendiri..sayang Ibu Adhe tidak lama di Paris karena ada banyak sekali sudut kota Paris yang begitu bagus….mungkin lain kali bisa seperti saran Sdri LInda C yang lebih suka kalau tour tidak ikut rombongan…karena di Paris semua objek wisata dekat station Metro….dan bisa beli ticket metro untuk seminggu dan bebas kemana saja di Paris…

  2. J C  6 June, 2013 at 07:57

    Hehehe…mbak Adhe, di bagian itulah paling umum para turis di’drop untuk foto-foto. Aku 2 kali ke Paris, yang pertama ikut tour dari Belanda, juga diturunkan di tempat yang sama, yang kedua pergi sendiri dengan istri kelayapan ke mana-mana dan mendapatkan titik foto yang tidak kalah keren dengan yang itu. Waktu mau naik ke Eiffel, antreannya…wuiiihhh…ya sudah dilupakan saja…

  3. Lani  6 June, 2013 at 03:55

    12 Selamat ngorok mas, sdh aku balas, sambung besok lagi……………..

  4. Dj. 813  6 June, 2013 at 03:45

    Sudah Dj. balas yu.
    tapi sekarang mata sudah sangat berat.
    Mau istirahat dulu, sampai besok lagi.
    Salam manis dari Mainz.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.