Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe

Linda Cheang

 

Penulis : Olivier Johannes Raap

Penerbit : Galang Pustaka

Pekerdja Di Djawa Tempo Doeloe

Membaca sejarah dan menikmati nostalgia dengan cara artistik, begitulah kesan saya ketika akhirnya selesai menikmati buku hasil tulisannya Olivier Johannes Raap, alias Mas Oli kalau di Jawa alias Kang Olipir bila di Tanah Pasundan.  Selanjutnya cukup disebut Oli. Beliau – kelahiran Belanda juga masih punya darah Perancis – pernah juga memberikan satu tulisannya di media Baltyra kita ini berkaitan perayaan 200 tahun Kota Bandung, pada 2010 lalu.

Buku ini, Pekerdja Di Djawa Tempo Doeloe, berisi tentang kumpulan gambar kartu pos koleksinya Oli, yang secara khusus menggambarkan tentang berbagai jenis pekerjaan di Pulau Jawa pada masa negeri yang  masih bernama Hindia Belanda, dan masih ada dari berbagai jenis pekerjaan tersebut masih bisa dijumpai hingga hari ini. Jika satu gambar mewakili seribu kata, maka bagaimana dengan ratusan gambar dalam buku yang dicetak apik ini?

Diberikan pengantar oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) dan epilog oleh Cahyadi Dewanto, seorang dosen pengajar fotografi, buku ini tak sekedar berisi kumpulan gambar kartu pos a la jaman baheula, namun kita diajak melihat dan menyimak cerita di balik gambar-gambar yang tercetak yang secara khusus menceritakan ragam profesi atau jabatan di Tanah Jawa pada saat itu. Buku ini menuntun nostalgia bagi para pelaku sejarah dan orang tua, juga menjadi satu  cara media pelajaran sejarah yang menarik bagi  generasi muda.  Disertai Daftar Isi yang sistematis untuk memudahkan pembaca mencari gambar yang diperlukan tanpa harus bersusah payah membuka halaman demi halaman lebih dulu, buku ini menjadi penuntun yang layak untuk dimiliki oleh para penyuka sejarah atau bahkan bagi yang sekedar hanya ingin tahu sejarah.

Banyak kisah diceritakan dalam gambar-gambar kartu pos dalam buku ini. Lintas etnis, lintas budaya, lintas bahasa, cara hidup masyarakat tempo dulu, eksotika a la mooi indie  sampai kita dapat membaca dan tahu alasannya mengapa begitu sulit untuk suatu bangsa membuat rakyatnya mengubah pola pikir ke arah cara berpikir yang lebih maju, hanya dari satu tema buku ini yaitu : jenis pekerjaan.

Saya menyukai cara bertutur Oli yang memilih untuk tidak beropini, seperti yang dikatakan SGA. Pembaca dibebaskan membangun opininya sendir, meski sebenarnya pilihan Oli membagi klasifikasi pekerjaan juga sudah merupakan sebuah opini. Cara bertutur yang apa adanya banyak informasi menarik yang tak hanya membangkitkan kenangan saya semasa masa kanak-kanak dulu namun juga informasi sejarah yang mungkin tak akan mudah dijumpai di buku-buku pelajaran resmi di sekolahan.

Sebagai contoh kartu pos “Penjual Kerupuk” (hal. 26) mengingatkan masa kanak-kanak saya ketika itu penjual kerupuk membawa dagangannya dengan tong besar dari lembaran seng. Belum lagi “Tukang Es” (hal. 4),  “Warung Makan” (hal. 44-47) dan masih banyak lagi yang unik dan menarik, dari yang masih bertahan di masa kini, sampai yang sudah hilang ditelan zaman. Di kartu pos lain, saya akhirnya mengetahui seperti apa hal yang disebut ‘kelontong’ itu, dari gambar kartu pos “Tukang Kelontong” (hal. 31) bergambar seorang lelaki keturunan China yang masih pakai kuncir kepang dengan bagian depan kepalanya yang botak, membawa pikulan berisi aneka barang yang dijual ke kampung-kampung. Kelontong sendiri merupakan alat musik keci yang diputar yang menghasilan suara ‘klontong, klontong’ sekarang bertransformasi bahwa kelontong adalah toko yang menjual aneka jenis barang.

Penuturan Oli yang apa adanya juga ada di beberapa gambar “panas” tempo dulu, berupa gambar beberapa perempuan pribumi yang kelihatan payudaranya, baik kelihatan jelas polos seperti pada “Pelacur” (hal. 87) atau yang kelihatan sebagian seperti pada “Pemecah Kakao” (hal. 158). Di situ Oli menuliskan pengamatannya akan payudara seorang perempuan yang masih bagus, belum turun, kemungkinan si perempuan masih gadis, sampai ke kemungkinan kemben yang melorot karena pekerjaan di “Pembakaran Kapur” (hal. 170). Sepertinya pembaca di sini mesti sepakat dengan saya, untuk memberikan acungan jempol kepada Oli untuk pengamatannya yang tajam disertai informasi yang pas mengenai gambar-gambar tersebut.

Walau bertutur apa adanya, Oli tidak melupakan keharusan memberikan informasi yang membuat pembacanya dapat memperluas wawasan sejarahnya. Tak hanya sekedar informasi seputar gambar tentang berbagai pekerjaan unik , termasuk ada gambar Sultan, Susuhunan, dan Gubernur Jendral,  ada beberapa gambar kartu pos yang juga menyertakan sisi suratnya, yang membuat Oli bercerita tentang apa saja yang ada pada sisi surat tsb. Mulai dari perangko dari yang cetak tempel sampai perangko warna-warni, jenis dan asal stempel atau cap pos, sampai isi surat dari hal yang remeh sekedar menanyakan kabar, hingga hal yang serius tentang seorang pejabat yang kelupaan membawa peta di kartu pos “Pengemis” (hal 175).

Oli membagi jenis pekerjaan dari gambar-gambar kartu pos tsb,  diklasifikansikan ke dalam 9 jenis klasifikasi pekerjaan dalam 9 Bab. Tentunya Oli telah memiliki pertimbangan tersendiri mengapa jenis pekerjaan seperti “Tukang Pijat” (hal 104),  dimasukkan dalam klasifikasi Keahlian daripada Penjual Jasa atau “Pelacur” tidak dimasukkan dalam Keahlian karena toh, sebenarnya para pelacur – sekarang disebut sebagai Pekerja Seks Komersial-  punya keahlian juga yaitu : memuaskan pelanggannya.

Gambar-gambar kartu pos dalam buku ini,  meski dihasilkan dari berbagai kamera yang teknologinya belum secanggih teknologi fotografi, kecepatan bukaan rana  masih rendah, namun banyak yang menghasilkan kualitas baik untuk ukuran waktu gambar-gambar foto tsb dicetak.

Dari cara Oli membaca foto, kita bisa mempelajari lintasan sejarah yang terekam  dalam diam, seperti judul epilognya Cahyadi Dewanto, sampai kita bisa tahu bahwa Oli memang memiliki wawasan yang baik kapasitasnya dalam pembacaan foto-foto tsb. Saya teringat guru sejarah di SMP dulu yang mengingatkan akan pentingnya sejarah, bahwa dengan kita belajar sejarah, kita dapat bergerak untuk menjadi lebih bijaksana daripada  kita yang sebelumnya.

Tak lupa sebagai penghormatan terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual, Oli juga memberikan informasi mengenai para fotografer dan para penerbit kartu pos di bagian akhir dari buku.

Akhir kata, saya meneruskan pesan Oli. Selamat membaca, selamat melihat dan selamat bernostalgia. Ditambah pesan dari saya, selamat belajar sejarah.

 

Salam,

Linda Cheang

Bandung, 3 Juni 2013

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

14 Comments to "Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe"

  1. Linda Cheang  27 September, 2013 at 08:16

    dan tak lupa JAKARTA!

  2. Linda Cheang  27 September, 2013 at 08:15

    BANDUNG nih!

  3. Linda Cheang  18 September, 2013 at 09:24

    Bedah Buku Pekerdja Di Djawa Tempo Doeloe

    Kediri, 22 September 2013 Pk 08.00 – 15.00
    Mueseum Airlangga Kediri

  4. Linda Cheang  18 September, 2013 at 09:23

    Info :

    Bedah Buku Pekerdja Di Djawa Tempo Doelow

    Magelang : Kamis 19 September 2013 Pk 18.00 – 21.00
    Latar Kuncung Blawuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.