Tiger Parenting: Are You a Tiger?

Wesiati Setyaningsih

 

Banyak orang tua yang menganggap dia paling jalan yang harus dilalui untuk kebahagiaan anak-anaknya. Saya sendiri jadi merenungi hal ini justru secara tidak sengaja setelah pembicaraan mengenai motion dalam latihan debat bahasa Inggris di sekolah.

Gara-gara saya membimbing ekstra debat bahasa Inggris di sekolah, banyak sekali yang saya dapatkan. Dari masalah pendidikan, ekonomi, nasional, sampai masalah internasional. Namun saya mengakui sebagai pembimbing yang ‘cuma’ guru di sekolah, saya tidak terlalu ‘update’. Karenanya, menjelang mengikuti debate competition, saya mengundang couch dari UNDIP khusus untuk melatih anak-anak yang akan ikut lomba.

tiger-mom

Awalnya kami membicarakan tentang pendidikan seks untuk anak usia dini. Pelatih yang kami undang, Hesti, akhirnya menyinggung bahwa ini ada hubungannya denganparenting. Sebagai debater juga, dia pernah mengikuti kompetisi debat dengan mosi ‘tiger parenting’. Jadinya dia menyinggung tentang ‘tiger parenting’ untuk menambah wacana anak-anak.

“Tiger Parenting itu menurut kalian apa?” tanya dia kepada murid-murid saya.

Saya yang menunggui latihan di bangku paling belakang segera ikut mengira-ira.

Ah, itu pasti orang tua yang mendidik anaknya ala ‘tiger’. Tapi tiger itu melindungi anaknya dengan cara bagaimana? Sepertinya macan itu galak banget sama anaknya, pikir saya.

“Tiger parenting is about parents who make their children do whatever their want.” Begitu kata Hesti.

“This kind of motion sometimes makes us misunderstand. Bahkan di kompetisi yang saya ikuti di tingkat varsity (universitas maksudnya), ada debater yang bilang bahwa ini ada hubungannya dengan ‘tiger’ gitu, padahal bukan.” Dia menambahkan.

Latihan hari itu dilanjutkan dengan membahas motion-motion lain karena memang tidak ada lagi motion yang berhubungan dengan parenting selain sex education tadi.

Cuma, sampai sekarang saya masih terngiang-ngiang istilah ‘tiger parenting’ itu. Betapa banyak saya menemui orang tua yang selalu merasa pandangannya selalu benar, cara yang dia tetapkan itu paling tepat.

Saya paling sering menemui peristiwa seperti ini pada waktu kenaikan kelas ke kelas XI. Di kelas XI ini anak-anak dijuruskan ke jurusan sesuai minat dan kemampuan mereka. Banyak orang tua yang ingin anaknya masuk jurusan IPA seolah jurusan itu paling hebat. Sampai-sampai ada orang tua yang mengeluh, kalau masuk IPS itu nanti kerja apa?

Ada juga anak yang bilang kalau dia ingin masuk IPS tapi orang tuanya tidak boleh dan dia disuruh les Fisika, Kimia dan Matematika habis-habisan dengan alasan, “masuk IPS nanti cari kerja susah”. Kadang saya pikir, orang tua ini kok pada jadi Tuhan yang sudah meramalkan gampang-susahnya mencari pekerjaan.

Sudah begitu, nanti ketika menjelang kelulusan, orang tua ribut lagi jurusan mana yang harus dimasuki anaknya di perguruan tinggi. Jangan-jangan nanti orang tua juga sudah meramalkan anaknya akan bahagia kalau menikah dengan si A dan akan menderita kalau menikah dengan si B.

Iseng saya mencari lewat Google mengenai ‘tiger parenting’ ini. Siapa tahu saya saja yang benar-benar tidak update karena baru dengar istilah itu waktu latihan debat kemarin. Benar saja, saya menemukan banyak artikel tentang ini. Salah satunya menyebutkan definisi dari ‘tiger mothering’ yaitu:

a very strict mother who makes her children work particularly hard and restricts their free time so that they continually achieve the highest grades

(terj bebas : ibu yang begitu keras membuat anaknya bekerja keras dan membatasi waktu senggangnya untuk meraih nilai tinggi di sekolah).

 

Ditambahkan bahwa:

‘tiger mother philosophy is that parents should drive their children to succeed even at the expense of the kids’ happiness.’

(terj : tiger mother adalah orang tua yang mengarahkan kesuksesan anak-anaknya meski itu mengorbankan kebahagiaan anak-anaknya).

 

Dan :

‘Demanding parents may believe that strict parenting can make their kids succeed, but a new study has claimed that tiger moms are actually contributing to the children’s low self-esteem and high levels of depression.’

(terj : orang tua yang terlalu mengatur percaya bahwa orang tua yang tegas bisa membuat anak-anaknya sukses, tapi penelitian terbaru menyebutkan bahwa ‘tiger mom’ sebenarnya berakibat pada rendahnya rasa percaya diri pada anak dan meningkatnya depresi).

Yang menarik adalah artikel yang memuat perdebatan tentang hal ini. Para orang tua yang merasa menerapkan hal ini berdalih bahwa anak-anak memang harus diajar untuk tegas dan dipaksa untuk melakukan hal yang tidak mereka sukai kalau ingin anak-anak ini sukses.

the_tiger_mom

Tetapi seorang ahli mengatakan bahwa, anak-anak itu mungkin saja bisa menjadi orang sukses. Tapi karena dia dulunya jarang diijinkan untuk menikmati kehidupan sosial mereka, maka di kemudian hari akan terjadi masalah dalam bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, adalah bahwa “The fact is that your kids are NOT you”, anak-anak anda itu BUKAN anda. Mereka punya jalannya sendiri, bakat, minat dan kemampuannya sendiri.

Akhirnya pertanyaan saya pada diri saya sendiri adalah:

“Are you a tiger?”

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

41 Comments to "Tiger Parenting: Are You a Tiger?"

  1. Nur Mberok  7 June, 2013 at 13:12

    Saat aku masih mengajar, aku merasa memang kadang pendidikan model tiger parenting ada benarnya juga….. karena aku merasa anak-anak sekarng telalu dimanja… lembek klemak klemek….. sedikit sedikit mengeluh….. Yah memang untuk beberapa hal seperti memaksakan kehendak terlebih untuk masa depan anka-anak dan tujuan hidup mereka, aku kuranng setuju…….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *