Ketika Suami Berjanji

Yeni Suryasusanti

 

ijab-kabul

Di dalam sebuah rumah tangga,
Yang menjadi pengikat sesungguhnya bukanlah :

Cincin yang melingkar di jemari,
Rasa cinta di hati,
Anak-anak yang kita buahi,
Bukan pula harta gono gini…

Melainkan…

Akad nikah yang menjadi kontrak bersama
Dimana pihak pertama dan kedua adalah ayah dan si dia
Dan seperti umumnya sebuah kontrak kerjasama
Ada syarat dan janji yang mengikatnya…

Bagaimanapun…

Cincin hanyalah simbol di jari
Cinta bisa datang lalu kemudian pergi
Anak-anak mungkin bisa jadi pengikat hati
Namun rizki itu jelas Allah yang memberi…

Sedangkan…

Janji suami kepada Allah adalah amanah
Meski tidak ditandatangani dengan darah
Ia tercantum di dalam Buku Nikah
Dan menjalankannya adalah bagian dari ibadah…

Ya Allah…

Semoga masih banyak Suami yang perduli dan paham
Bahwa janji “Pergauli istri dengan baik menurut syariat Agama Islam”
Bukanlah sekedar apa yang terjadi di atas tilam
Namun, juga bagaimana membuat hati sang istri menjadi tentram…

Sehingga…

Dia akan menerima pengabdian sang istri
Yang dilakukan dengan sepenuh hati
Tanpa kenal lelah setiap hari
Menciptakan rumah laksana surga di dunia ini…

Wahai….

Para suami pemimpin rumah tangga
Penuhilah janjimu kepada Allah Yang Maha Kuasa
Dan Bimbinglah kami dengan penuh cinta
Agar kami tak patah dalam prosesnya…

Duhai…

Para suami tempat kami bersandar
Genggamlah jemari kami agar kasih tidak memudar
Agar langkah kita bisa terus sejajar
Dan tidak sia-sia engkau memutuskan untuk berikrar…

 

Jakarta, 3 Juni 2013

Setelah mendengar sebuah cerita dari seorang teman :)

Yeni Suryasusanti

 

Catatan Sebagai Pengingat :

Sighat Ta’lik Yang Dibacakan Sesudah Akad Nikah Oleh Suami dalam Pernikahan/Perkawinan Islam

BismillahirrahmanirrahimWa Aufuu Bil-Ahdi Innal-Ahda Kaana Mas-Uulaa

“Tepatilah janjimu, sesungguhnya janji itu kelak akan dituntut”

 

Sighat Ta’lik Yang Dibacakan Sesudah Akad Nikah Sebagai Berikut :

Sesudah akad nikah, saya (Nama Mempelai Pria) bin (Nama Ayah Mempelai Pria) saya berjanji dengan sesungguh hati, bahwa saya akan menepati kewajiban saya sebagai seorang suami, dan akan saya pergauli istri saya bernama (Nama Mempelai Wanita) binti (Nama Ayah Mempelai Wanita) dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut syariat agama Islam.

 

27 Comments to "Ketika Suami Berjanji"

  1. Lani  9 June, 2013 at 23:50

    YENI : secara pribadi, aku punya pendpt sbg istri, baik suami tdk mampu, mampu, dan sgt amat mampu dlm urusan kebendaan (milioner, bilioner sekalipun), punya kedudukan, status, terpandang…….aku tetep memilih utk bekerja, wlu tentu saja tdk hrs ngoyo, semua tergantung dr kebutuhan, krn bekerja itu utk tiap orang jg disesuaikan dgn kebutuhan masing2, apakah utk ikut menopang perekonomian keluarga, tdk suka menganggur, sekedar senang punya duit sendiri, jd tdk hrs sll nyadong ke suami/pasangan (utk aku meminta duit kepada pasangan tiap kali utk keperluan apapun, merasa malu bener2 malu), oleh krn itu prinsipnya sbg istri harus bekerja, jg demi menjaga klu suami meninggal, ditinggal dgn alasan apapun wanita tetep mandiri, apalagi klu ada anak2…….
    Wanita/istri hrs punya pride! Dan kedudukan wanita/pria adalah setara, tdk hrs saling menginjak, merasa lbh kuat, lbh menang, dgn gaji/penghasilan lbh gede, krn dlm RT semuanya utk dikelola bersama, tp aku jd kelingan (ngakak iki) duwekmu, duwek-ku…….duwek-ku yo duwek-ku (milikmu adalah milikku, milik-ku ya milik-ku) hahaha……..serakah banget yo?

  2. J C  9 June, 2013 at 21:06

    Sejak aku kecil dalam keluarga sudah ditanamkan kesetaraan posisi perempuan dan laki-laki. Mendingan Mama juga wanita pekerja… sekarang, istri juga bekerja…posisi kami setara dalam keluarga…

  3. Yeni Suryasusanti  9 June, 2013 at 20:32

    Oom DJ, hehehehe jujur enaknya kalau kerja ya itu…. bisa beli barang pribadi nggak perlu izin2 dan cukup nanti nunjukkin aja kalau saya habis beli, juga untuk beli hadiah ulang tahun atau anniversary utk suami heheheh…. kan nggak lucu beli hadiah utk dia pakai uang dia juga :p

    EA Inakawa : pesan Ibu yang sampai sekarang saya pegang adalah peran istri itu sebagai leher. dia bisa saja menopang dan menentukan arah mana kepala menoleh, tapi dia tidak boleh berada diatasnya. jadi, sebesar apa pun gaji saya, atau seandainya penghasilan saya lebih besar dari suami, saya tidak boleh merendahkannya. ketika wanita mampu bekerja, berarti dia juga harus menguasai manajemen rumah tangga dan memiliki komunikasi yg baik dgn suami agar anak-anak tidak terlantar dan bisa berganti peran mendampingi anak2 jika dibutuhkan

    Matahari : Ibu saya menanamkan sebisanya wanita harus bekerja krn beliau juga tetap bekerja menjadi guru hingga beliau pensiun padahal papa saya saat itu menjadi dirut salah satu lembaga pemerintahan
    Berkaca juga pada pengalaman hidup beberapa keluarga dekat yg berhenti bekerja saat suaminya mapan, ketika suaminya meninggal di usia yg belum terlalu tua, sementara anak2 masih sma dan baru mau kuliah, sementara istri tidak bekerja sehingga kelimpungan mengharapkan bantuan keluarga besar hanya utk makan sehari2 dan agar anak2nya tidak putus sekolah.
    Akhirnya sang istri terpaksa mencari pekerjaan juga dan tentunya dengan susah payah krn sudah terlalu lama tidak bekerja sehingga ada bolong di cv mereka…

  4. Matahari  9 June, 2013 at 19:35

    Yeni…saya sangat setuju dengan respons kamu.Setiap saya mudik…sering saya mendengar obrolan teman teman yang kebetulan menikah dengan pria pria mapan…dan mereka sangat bangga karena sehari hari hanya ke spa…shopping…ngumpul2 dimall…Saya tanya mereka…kenapa tidak kerja ? Hampir semua serentak menjawab: Buat apa lagi kerja…hidup sudah lebih dari cukup”..Lantas saya jawab: Oh begitu ya”..Mereka balik tanya saya:Kamu kerja di Eropa?”Waktu saya jawab: “Iya”…beberapa dari mereka kaget ”Emangnya suamimu kerja apa kok kamu masih harus kerja juga?”Begitulah pola pikir banyak ( tidak semua) wanita dinegara kita…istri bekerja berarti karena income suami tidak cukup….sementara di Eropa banyak wanita bersuamikan pria pria kaya yang punya perusahaan sendiri …tinggal di rumah besar 800.000 euro…up… masih mau bekerja menjaga anak dipenitipan anak…di kantin perusahaan bersih bersih meja dan ngepel…bekerja sebagai sukarelawati dipanti jompo…bersihkan paroki gereja secara sukarela ..penerima tamu di rumah sakit secara sukarela…dll….tapi saya malas berdebat dengan teman teman saya itu karena saya tidak yakin mereka akan mengerti..dan demi gengsinya mereka pura pura tidak mengerti…

  5. EA.Inakawa  9 June, 2013 at 19:10

    saya juga setuju wanita/ para istri harus mampu mandiri, minimal kalaupun tidak bekerja sikap kemandirian itu harus TERCERMIN dalam perilaku mendidik & mengayomi suami , santun dan rendah hati, hal yang sering terjadi di Indonesia , ketika sang istri mandiri iya lupa kepada kodratnya sebagai istri sehingga anak dan suami terlantar tidak dihargai, dan sisi lain banyak istri yang tidak Mandiri ter aniaya oleh suami, karena apa ? karena kebodohan nya, para lelaki/suami cenderung menyukai wanita/istri yang Pintar & Cerdas sekaligus berpungsi sebagai nara sumber dan peduli kepada keluarga sesuai kodratnya, salam sejuk

  6. Dj. 813  9 June, 2013 at 18:39

    Yeni Suryasusanti Says:
    June 9th, 2013 at 17:58

    @matahari : setuju sekali bahwa perempuan sebisanya harus mandiri
    saya sendiri juga bekerja dan punya income bulanan agar bisa bersama2 menanggung pengeluaran rumah tangga dan punya peran. Tapi, di indonesia masih cukup banyak juga wanita yang sepenuhnya bersandar pada suami secara materi dan mengabdikan dirinya total untuk mengurus keluarga….
    ———————————————————————————-

    Emi….
    Ini ada cerita yang sungguh terjadi, sampai saat itu Dj. merasa salut, tapi juga bengong.
    Ada teman Dj., dia seorang Prof.Dr. Theology ( Pendeta ), kami sudah lama kenal dan sering
    juga adakan kebaktian bersama.
    Jelas, dengan kedudukannya, dia memiliki rumah yang cukup megah ( bukan mewah ).
    Satu saat, disawah, Dj. jalan melihat di bagian priduksi.
    Dj. benar-benar kaget, saat melihat istrinyna ( katakan si X ), kerja di bahn berjalan.
    Dj. sapa dia dan dia tidak mempperlihatkan wajah yang keget, dia tetap tenang yang kembali menyapa,
    apakabar…??? O… kamu kerja disawah ini ya….???
    Nah Dj. tanya ke dia, Lho mengapa kamu kerja disini…???
    Bukannya suamimu cukup berada dan kamu tidak harus kerja, apalagi ditempat ini…???
    Olehnya Dj. minta orang laiin menggantikan posisinya sementara Dj. mau ngobroldengan dia.
    Dia masih jawab dengan tenang:,, Kamu tau benar, karena kamu sudah beberapa kali mengunjungi kami.
    Dj.:,, Apa kamu pisah dengan dia…???
    Dia malah tertawa dan bertanya, apa yang kamu pikir itu tidakbenar, kami masih sama-sama.
    Dj.:,, Lha untuk apa kamu kerja kasar disini…???
    Si X :,, Kamu taukan, kalau istrimu mau beli misalnya pakaian, dia minta pendapat kamu atau tidak.
    Sering kamu bilang, kurang bagus, atau warnanya tidak cocok atau hal-hal yang lainnya.
    Nah, saya selalu cari uang untuk kepeprluan saya sendiri, kalau saya mau beli sepatu warna merah, karena saya suka, maka suami saya tidak akan bialng A atau B, karenna saya tidak pakai uangnya, tapi uang saya sendiri…. Uang hasil keringat saya sendiri, saya bisa pakai untuk keperluan saya.

    Kalau kami liburan ke Indonesia, atau kemana saja, ya jelas kami beli ticket dan yang lainnya, dengan uang keluarga.
    Tapi saat liburan, saya bisa belanja yang saya suka dengan uang saya dan tidak perlu tanya suami.

    Untuk atau sebagai orang Indonesia, saat itu ( sekitar 20 tahun yang lalu ), Dj. masih tetap bengong.
    Hahahahahahahahaha….!!!

  7. Dj. 813  9 June, 2013 at 18:21

    Liong…
    Terimakasih, jelas Dj. mengerti apa yang kamu maksudkan.
    Saat nulis yang pertama itu, Dj. kan hanya mengcopy ayat tersebut saja.
    Tidak ada maksud yang lain.
    Kamsia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.