Inspirasi di Bawah Pohon Keladi

EA. Inakawa – Africa

 

Sesaat tadi hujan turun begitu deras bagaikan tumpah dari sebuah bejana raksasa yang bocor dari sang pemilik semesta alam………suaranya tak lagi sama dengan bunyi kecapi malam, hingarnya menenggelamkan berisiknya persetubuhan daun dan batang bambu yang sedang bersenggama.

Lucunya aku, mencoba berdoa sembari berjongkok di bawah pohon keladi rimbun membayangkan sinar Matahari yang memanasi bumi sekaligus menerangi kegelapan hati kelam manusia, barangkali aku tidak sendiri…..di sudut lain para pembuat dosapun secara ber jama’ah melakukan ritual doa berharap hujan berhenti agar para komunitas pendosa pecinta sejati tetumbuhan liar hadir di kamar mereka merengkuhkan hati sunyi yang tersesat dalam bara dan ambisi pekat hitamnya napsu manusia yang bercinta dengan kepalsuan mereka di balik wajah-wajah teduh yang memelas merindu rupiah.

Sesaat tadi hujan sejatinya telah merampas banyak kemerdekaan……….ada langkah yang berlari dengan terpatah-patah atau duduk bersedekap tangan menahan dingin sembari memandang dedaunan dan pasir yang tersapu air hujan, semuanya telah dirampas alam tinggal kini aku termenung merebahkan tubuh di antara reruntuhan yang asing sembari meraup cuaca yang berpeluh peluh…..tanpa gaduh.

indonesia-carut-marut

Di sebuah bilik sekelompok komunitas di gedung pemerintahan sana, anugerah hujan yang berperan menggagalkan berbagai transaksi dan janji dicaci maki…….mereka menjadi gila sebagai penyembah Dewa Korupsi yang terlalu abadi dalam keduniawian yang berlumur dosa, noda dan dusta dalam sumpah jabatannya, jiwa dan raganya telah mereka sekutukan dalam kemunafikan yang mau tidak mau turut mengalir dalam tubuh dan roh 7  turunan anak cucunya, mereka bercinta dengan bayangan kembar jelmaan syaitan, mereka dengan sengaja memaksakan diri keluar dari kodratnya dan penyesalan itu datang ketika team KPK menggedor pintu rumah mereka di sesaat hujan turun di subuh tadi……..sang Wakil Rakyat – Politikus dan Ustad digiring dengan tangan tergari.

Mereka tertidur tak bisa nyenyak di dalam terali,terbayang Harta – Tahta dan Wanita simpanan mereka, mereka bercinta tanpa suara dengan alam pikirannya, mengatur strategy berikutnya…..

Semua nikmat telah terbayar

Semua rasa hormat telah tergadai

Semua ambisi telah hancur lebur

Semua cinta tak lagi suci

Semua teman, keluarga dan kerabat ikut bersaksi

Semuanya penuh dusta di depan Tuan Hakim dan Jaksa

Begitulah keabadian sebuah Fenomena anak manusia……

Tidak ada pertemanan dan permusuhan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi,

Hujan deras sekalipun tak mampu menjadi pembela,

Bahkan daun keladipun tak mampu melindunginya……

Piagam Penghargaan dari sebuah Lembaga Luar Negeri yang mereka beli pun tak mampu menolongnya,

Hujan masih belum mereda bahkan semakin mendera dera, ada gemuruh guntur – kilat dan petir disana, adakah TUHAN masih mengintip kita dari balik jendela langit di atas surga sana, adakah TUHAN tidak pernah bosan memandang kita

 

Leopoldville : 10 Juni 2013 – Salam Setepak Sirih Sejuta Pesan : EA.Inakawa

 

14 Comments to "Inspirasi di Bawah Pohon Keladi"

  1. EA.Inakawa  9 June, 2013 at 18:42

    Pak DJ : bagi yang sudah tidak memiliki ” Urat Malu ” semua amanah dijadikan sebagai moment inspiration melakukan korupsi yang luar biasa itu, dan mereka tau sebahagian oknum jaksa dan polisi bisa terbeli dengan mempermainkan fakta Hukum, tentunya mereka sudah berhitung anatara Hasil yang didapat dengan hukuman yg akan dijalani dan bisa dipermainkan atau melakukan PK termasuk mendapatkan keringanan hukuman yang dibayar, salam H

  2. Dj. 813  9 June, 2013 at 18:16

    Benar, setelah ada KPK baru kelihatan belang mereka.
    Padahal hal itu, sudah ada sejak dulu.
    Dan herannya, mereka merasa tidak bersalah, hebat memang.
    Salam,

  3. EA.Inakawa  9 June, 2013 at 18:05

    @ Pak DJ : keprihatinan kita cuma akhir akhir ini mereka yang berkuasa dan wakil rakyat kita SANGAT luar biasa korupsinya dan berjamaah lagi, bapak – anak,istri – menantu dan para kerabat…..salam H

  4. EA.Inakawa  9 June, 2013 at 17:56

    @ Pak Handoko : di sesaat itu yg ada emang pohon keladi, tapi jangan salah pohon keladi di Congo besar besar pak Handoko setinggi orang dewasa, justru saya bersyukur sama TUHAN, tidak hanya Pohon Beringin saja yg bisa kita teduhi, terima kasih Pak sudah singgah sesaat, salam sejuk

  5. EA.Inakawa  9 June, 2013 at 17:49

    @ Matahari : Jujur saja ketika menulis Matahari, saya juga teringat dengan nama ibu Matahari…..terima kasih sudah mampir didindng saya, salam baik

  6. EA.Inakawa  9 June, 2013 at 17:46

    @ James : SELAMAT yaa sudah berlomba lari dengan para Baltyran lainnya sehingga tidak sia sia dan akhirnya menjadi juara SATOE, terima kasih sudah mampir,salam sejuk

  7. Dj. 813  9 June, 2013 at 17:13

    Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi ya…???
    Jadi koruksi….
    Terimakasih bung EA Ibakawa….
    Salam sejuk dari Mainz, yang baru saja berhenti hujan.

  8. Handoko Widagdo  9 June, 2013 at 17:02

    Oh Tuhan, bangsaku jongkok di bawah rumpun keladi?

  9. Matahari  9 June, 2013 at 17:01

    Baru kali ini saya melihat kata matahari ditulis dengan huruf besar seolah sebuah nama….he he…salam: Matahari

  10. James  9 June, 2013 at 14:30

    SATOE, pohon keladi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.