Tiga Sahabat (12): Iyem Bingung

Wesiati Setyaningsih

 

Pak Han sudah pulang dari perjalanan dinas ke Jakarta selama seminggu. Aji dan Sekar gembira karena banyak yang ingin mereka sampaikan pada ayahnya. Berebutan mereka meminta perhatian dari ayah mereka.

“Waktu papa pergi Mas Aji sakit.” Sekar membuka pembicaraan.

“Ah, cuma gitu aja. Flu biasa, pa. Sekar nih selama papa pergi pacaran mulu.”

“Pacaran apaan? Wuu.. Tau gitu pas sakit kemarin minta dibeliin roti, enggak aku beliin!” Mulut Sekar monyong tak karuan.

“Ah, kan ada Iyem yang mau beliin.”

“Alah, giliran udah sembuh aja bilang gitu.”

Pak Han memandang kedua anaknya dengan senyum. Iyem keluar menyajikan teh hangat buat mereka bertiga. Sekar memandang heran ketika Iyem meletakkan tiga cangkir di meja.

“Tumben Iyem bikin buat kita juga? Biasanya cuma papa yang dibikinin… “

Aji ikut melongo melihat ada tiga cangkir di meja. Dia mendongak menatap Iyem yang kebingungan.

“Kamu kenapa, Yem? Lagi sakit apa gimana? Biasanya cuma buat papa aja kan?” tanya Aji.

“Oh, iya. Lha terus ini gimana? Dibawa masuk lagi?”

“Eittss, jangan! Sekar mau kok.” Tanpa menunggu lama Sekar meraih satu cangkir dan menyeruput pelan. “Hmm… Enak, anget.”

Aji ikut mengambil satu cangkir. Iyem berdiri mematung masih dengan wajah bingung. Pak Han melihat ke arah Iyem yang aneh.

“Yem,” panggilnya.

“Eh, iya, pak.”

“Kamu baik-baik saja?”

Dengan gugup Iyem memandang Pak Handoko, “Eh, iya, saya sehat.”

“Saya tanya apa kamu baik-baik saja, bukan apa kamu sehat. Sehat dengan baik-baik saja itu beda.”

Iyem semakin bingung. “Oh, iya. Saya baik.”

Aji dan Sekar terbahak.

“Kita tau kok Yem kalo kamu baik. Kan tiap hari kamu masakin kami.” Sekar menggoda.

Iyem bergegas masuk ke dalam tanpa menjawab lagi.

“Kenapa, sih Iyem?” Aji bertanya pada Sekar.

“Tauk tuh. Galau.” Sekar mengedikkan bahunya.

Kembali mereka membicarakan hal-hal yang mereka alami selama Pak Handoko pergi. Terdengar suara Iyem sedang memasak di dapur. Lalu terdengar denting piring juga wajan yang digosok di tempat cuci piring. Pak Han masih asyik mendengarkan kedua anaknya berebutan bicara.

Tiba-tiba terdengar bunyi,”Praang!” seperti bunyi piring yang beradu dengan lantai dan pecah berkeping.

Aji dan Sekar kontan terdiam. Aji membelalakkan mata, sementara Sekar mengangkat bahu.

“Wah, parah nih, “gumam Aji pelan.

“Apanya?” tanya Pak Han, ingin tahu apa yang dipikirkan anaknya.

“Iyem pasti lagi galau berat.”

“Kira-kira kenapa?” tanya Pak Han lagi. “Kan kalian yang selama ini di rumah sama dia.”

“Papa kali, “Sekar menyenggol lengan Pak Han.

“Kok Papa. Papa kenapa memangnya?” Pak Han melongo menatap Sekar.

“Uang belanjanya kurang.”

“Masak sih?” Pak Han tak percaya.

“Mmm… Iya juga ya. Kemarin waktu aku ngambil tempat uang belanja sehari-hari di dapur, masih banyak kok. Enggak mungkin karena uang belanja yang kurang.”

“Iyem galau karena pacarnya kali.. “ Aji ikut menebak-nebak.

“Memang pacar Iyem siapa?” tanya Pak Han dengan wajah sangat ingin tahu.

“Yang mas-mas belanjaan itu kali.”

“Kok kali. Kamu enggak tau benar jangan mengira-ira. Kalo salah nanti jadi fitnah.”

“Ups!” Aji menutup mulutnya, “Maaf Pa.”

“Nanti Iyem diajak bicara saja.” Kata-kata Pak Han seperti keputusan final yang tidak bisa diganggung gugat.

***

Malam malam tersedia di meja. Sop dan ikan lele goreng dihidangkan di meja oleh Iyem.

“Asik nih. Lama nggak makan masakan Iyem, kangen.” Pak Han mulai menyendok nasi.

Aji dan Sekar menunggu sampai Pak Han selesai menyendok. Iseng Sekar melongok ke mangkuk sayur.

“Ini sop isinya apa, Yem?” teriaknya.

“Ya?” Iyem tergopoh-gopoh keluar dari dapur. “Ya sayur seperti biasa, to mbak.”

“Ini yang panjang-panjang apa? Kamu kasi buncis? Bukannya sop biasanya dikasi kapri ya? Kok buncis, sih?”

“Buncis? Enggak kok.” Iyem mendekat.

Pak Handoko dan Aji diam saja menyaksikan Sekar dan Iyem melongok isi mangkuk dan mengaduk untuk memperlihatkan buncis yang dimaksud Sekar.

“Ini apa? Loh.. Ini lombok hijau.”

Iyem pucat pasi. “Kok bisa ada lombok ijo di situ?”

“Lha memangnya aku yang masak apa?” tanya Sekar.

Aji melotot pada adiknya. Sekar menunduk dan menata duduknya.

“Maaf. Iyem lupa.”

Dengan lesu Iyem menunduk diam. Tak lama air matanya turun satu-satu. Aji berpandangan dengan ayahnya sekejap.

“Yem,” panggil Pak Han dengan suara berwibawa. “Duduk!”

Perlahan Iyem menarik kursi dan mendudukinya dengan takut-takut.

“Katakan kenapa!”

Iyem diam.

“Yem.”

Iyem menggeleng. “Nggak ada apa-apa.”

“Ya nggak mungkin kalo nggak ada apa-apa.” Sekar mulai berisik.

Kembali Aji melotot dan menendang kaki adiknya. Sekar balas melotot dengan kesal.

“Kalian berdua pergi sana, ambil uang di laci dapur itu tempat uang belanjaan. Beli sate ayam di pertigaan situ. Tiga puluh tusuk.”

Demi mendengar perintah ayahnya, kedua anak itu bergegas meninggalkan meja makan. Tak lama terdengar suara langkah kaki mereka menuju pintu pagar dan menjauh.

“Katakan sekarang, kenapa?”

Iyem masih belum membuka mulutnya, malah semakin terisak-isak. Pak Han membiarkan saja Iyem menangis.

“Apa kamu mau minta kenaikan gaji, Yem?” tanya Pak Han.

Iyem menggeleng. “Gaji saya aja lebih banyak dari pembantu sebelah, Pak. Masak saya mau minta naik gaji lagi. Sebentar lagi lebaran, biasanya kan dinaikin sama Pak Han.”

“Lantas kenapa?”

“Kemarin itu.. “

Kalimat Iyem terhenti karena isak tangis. Pak Han menunggu dengan sabar.

“Kemarin itu ada telpon dari sodara saya. Dia bilang emak pengen saya pulang.”

Pak Han terkejut tapi segera ditahannya sendiri agar Iyem tidak tahu.

“Ya sudah, pulang saja.”

Iyem mendongak. “Saya nggak mau.”

“Lah, kenapa? Jangan-jangan emak kamu sakit.. Kan kasian.”

“Bukan!”

“Lantas?”

“Saya disuruh nikah.”

Pak Han menghela nafas. “Oalaaah… Ya sudah, nikah aja.”

Iyem cemberut. “Kok Pak Han begitu? Saya belum mau nikah!”

“Lah, kenapa?”

“Saya nggak punya pacar!”

“Oh…ya bilang sama emakmu.”

“Bilang gimana?”

“Ya bilang, to. Kalo kamu belum punya pacar. Jadi kamu belum pengen nikah.”

“Enggak mau!”

“Lah, gimana to?”

“Kalo saya bilang begitu, nanti saya dicariin suami. Saya enggak mau dijodohin!”

Tangis Iyem meledak. Pak Han terdiam. Bukan hal yang menyenangkan melihat ada menangis di dekatnya sementara dia tak bisa apa-apa.

“Emak kamu sudah nyariin kamu suami?” tanya Pak Han hati-hati.

Iyem menggeleng.

“Lha, itu belum. Terus kenapa kamu nangis?”

“Pak Han ini gimana sih? Katanya orang pinter, kok nggak mudeng-mudeng juga!” Iyem mulai kesal.

“Lha terus gimana?”

“Emak saya mau saya pulang dan menikah!” Iyem menatap Pak Han dengan serius.

Pak Han mengangguk.

“Saya nggak mau.”

“Karena?”tanya Pak Han berusaha memahami Iyem.

“Karena saya belum punya pacar!”

“Lha iya, bilang sama emakmu.”

“Kalo saya bilang, nanti saya langsung dijodohin! Gitu lho. Masak memahami gitu aja susah!” tukas Iyem kesal.

“Nah, sekarang gimana kalo kamu bilang enggak mau dijodohin karena kamu belum ingin menikah?”

Iyem langsung monyong, “Ya enggak bisa. Umur sak saya ini, sudah harus nikah. Lagian, sudah ada Carik yang dari dulu memang ingin melamar saya. Emak sebenarnya tidak suka, wong usianya sak Pak Han begini. Duda juga, tapi anaknya lima. Lha kalo saya memang bisa cari jodoh sendiri, emak bolehin. Tapi kalo enggak, emak akan segera cariin, karena kalo tidak Pak Carik itu pasti akan maksa-maksa terus untuk melamar saya!”

“Oalah… Lha nggak bilang dari tadi kalo sudah ada yang naksir begitu.”

Iyem mecucu. “Pak Han jangan bercanda. Saya ini bingung beneran sejak kemarin.”

“Sudah, jangan bingung. Kita pikir bersama. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan kalo kamu enggak mau pulang?”

“Enggak tau.”

“Sodara kamu akan ke sini dan menyeret kamu pulang, mungkin?”

“Enggak tau. Bisa saja. Tapi kalo ke sini tanpa emak saya, saya nggak mau pulang. Bisa saja mereka suruhannya Pak Carik itu. Nanti saya langsung dibawa ke rumah Pak Carik itu lantas diperkosa gimana?”

Pak Han melongo. “Ah, masak sih bisa segitunya?”

“Lha kan bisa saja. Nanti pas saya lagi diperkosa Pak Carik itu, orang-orang suruhannya teriak-teriak panggil Hansip biar saya sama Pak Carik itu digeropyok. Lantas langsung dinikahin. Bisa aja kan?”

“Otak kamu kebanyakan nonton sinetron, Yem.”

“Halah, Bapak ini. Mana ada sinetron Indonesia kok tentang Carik desa yang digropyok. Nggak ada. Yang ada orang kaya-kaya di kota metropolitan semua!”

Pak Handoko merasa kalah berbantahan dengan Iyem.

“Iya, tapi kayanya prasangka kamu berlebihan.”

“Yang paling mungkin sih diguna-guna pak.”

“Memang masih ada?”

“Ya ampun paaak. ADA! Dulu sodara saya dinikah sama lelaki tua jadi istri ketiga mau saja. Tau-tau pas sudah jadi istrinya beneran, genap tiga bulan kaya orang linglung. Dia suka bilang ke saya, ‘aku kok iso dadi bojone kuwi, to?’ gitu.Bulan keempat dia bunuh diri nyemplung sumur pak. Mati.”

Lost and Confused Signpost

Iyem bergidik sendiri. Pak Han memandang Iyem dengan serius. Sepertinya dia mulai percaya dengan cerita Iyem yang terakhir ini.

Dari luar terdengar pintu pagar dibuka lalu ditutup lagi. Suara langkah-langkah kali dengan alas sandal mendekat.

“Ya sudah. Nanti kita bahas lagi. Pokoknya kamu di sini saja. Kalo memang itu keinginan kamu, kami akan lindungi kamu.”

“Baik Pak. Saya sayang sama Mas Aji dan Mbak Sekar. Saya masih ingin di sini.”

“Kami juga sayang sama kamu, Yem. Nanti kalo sodara kamu ke sini, aku yang bicara sama mereka.”

Tepat pada saat itu, Aji dan Sekar sudah di ambang pintu, berdiri mematung.

“Ada apa memangnya? Papa mau lamar Iyem?” Sekar langsung ikut nimbrung.

Aji menatap ayahnya menunggu kejelasan.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

23 Comments to "Tiga Sahabat (12): Iyem Bingung"

  1. elnino  11 June, 2013 at 17:49

    Matahari benar, logat means aksen. Jadi logat Batak akan berbeda secara nyata untuk kata2 yang sama. Misalnya, Jakarta akan diucapkan orang Jawa dg bunyi J yang jelas, tebal, sedangkan orang Batak totok mungkin akan mengucapkannya sebagai Zakarta

  2. Dewi Aichi  11 June, 2013 at 07:41

    Wesi emang oke banget ceritanya he he…

  3. EA.Inakawa  11 June, 2013 at 07:02

    artikelnya Apik ik ! , Nyatus buat Semeh Wesiati…..peace

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.