Embun di Mata Isah

Taufik Daryanto Jokolelono dan Juwandi Ahmad

 

Mereka dipertemukan oleh awan dan hujan, yang menggering mereka pada sebuah gubuk bambu di pematang sawah. Tak begitu deras memang, tapi telah cukup membuat kambing-kambing mereka berlarian, menepi di pepohonan. Atau pohon pisang yang rapat, selagi kambing-kambing itu belum kenyang mengais rerumputan, yang tadinya kering berlompatan banyak belalang.

Bulir-bulir air dari gubuk beratap daun enau itu lurus-lurus jatuh tepat dimana mereka lemparkan pandangan. Cukup lama mereka berdiam, namun tak satupun kata-kata meleleh, apalagi meloncat dari bibir keduanya. Hanya gemuruh di langit dan suara rintik-rintik, yang sesekali dilibas angin dan membasahi rambut mereka yang terdengar.

Gadis kecil kumal dan hitam itu menunduk saja dari tadi. Juga anak kambing dipelukannya yang baru kemarin dilahirkan. Sementara si bocah laki-lakinya berdiri dengan wajah malu, kupat dari janur kelapa itu ia rangkai, lepas dan rangkai kembali, seperti ingin merangkai yang baru, tapi yang lama juga akhirnya yang terjadi. Sama seperti hujan yang terlapau setia mengurung mereka.

Tiba-tiba terdengar suara petir beruntun. Dan anak kambing yang ada dalam pelukannya terlepas, berlari-lari kecil di bawah hujan yang kian deras. Belum sempat ia mengejarnya, laki-laki kecil yang berdiri di belangnya itu, langsung bergegas. Dan tak lama kemudian anak kambing itu telah berada di kedua lenganya. Tanpa kata, ia berikan anak kambing itu pada pemiliknya. Juga pemiliknya, tanpa kata menerimanya. Mereka hanya memandang selintas-selintas dalam banyak tunduk, seperti bekicot dipungut dari tempatnya.

Selang beberapa hari dari peristiwa itu, rasa malu keduanya kian surut. Mereka sering tertawa, tersenyum, bahkan bersama-sama merangkai ketupat sebanyak-banyaknya dan sesama mungkin. Atau berkejaran dengan gerombolan belalang, yang coba mereka kejar.

Kini mereka tak malu lagi kalau hanya untuk memandang, memegang kepala, atau menjorokkan tubuh untuk kemudian menertawakannya. Hujanpun tak selalu mereka berteduh, demi kambing-kambing mereka. Bergumulah keduanya dengan puluhan kambing dalam gubuk saat hujan benar-benar datang mengguyur tubuh mereka.

“Isah….!”

Seru Kasmin pada Isah yang masih asyik mengumpulkan kayu bakar di bawah pohon jati. Ubi yang masih melekat dengan batangnya itu ia angkat, dan senyum Isah mengembang, mengalahkan rambut merahnya yang tertimpa matahari siang.

“Ayo, Sah. Kita bakar ubinya.!”

Buru-buru diangkutnya kayu yang sudah terkumpul itu dengan selendang, yang tak lagi mampu mengenalli warnanya sendiri. Tak lama kemudian asap mulai membumbung, dan kemeretak api muncul dari sela-sela dedadaunan kering untuk kemudian mengabukankannya. Ranting-ranting kayu yang menumpuk itu mulai menghitan, dan lumat, merekapun terus menambahinya dengan kayu dan ranting-ranting baru yang masih tersisi disebelah mereka. Tak lama kemudian bara api kayu jati nampak kuning kemerahan, dan keduanya memasukan ubi kayu itu kedalamya, dengan senyum dan tawa-tawa kecil.

Asap mulai menipis. Satu gelintir ubi mereka ambil, dan tangan kecil mereka mengukur, apakah ubi sudah benar-benar masak. Masih keras, merekapun memasukannya lagi kedalam bara api. Dan kembali berkata-kata dengan bahasa mereka sendiri. Bahasa yang hanya dimegerti oleh awan, hujan, bara api, burung-burung, segerombolan belalang, dan kambing-kambing mereka. Mereka masih terlampau kecil untuk mengerti bahasa manusia dewasa.

“Nah, ubinya masak, Sah.”

Sesunging senyum menggaris, satu isyarat sampaikan niat. Singkat saja, mulut-mulut kecil itu belepotan, hitam, dan sesekali meringis menahan panas yang menyengat lidah. Juga kambing-kambing itu, mendekat menyantap kulit-kulit ubi yang sengaja mereka kumpulkan. Mereka lupa bahwa hari sudah sedemikian senja. Matahari yang hendak tenggelam hanya sedikit menyisakan warna merah kekuningan. Dan kambing-kambing mereka telah berhenti mengais rerumputan, bergerombol, menunggu sang penggembala mengantarkanya ke kandang. Dari kejauhan terdengar suara menyeru

“Kasmin….!!

Keduanya bangkit dari tempat duduknya. Langkah laki-laki setengah baya itu demikian tergesa, seperti dalam keperluan yang amat penting. Semakin dekat. Dan kedua anak kecil itu, belum juga tahu mengapa laki-laki itu begitu semangat menuju ke arahnya.

“Kasmin..!

Laki-laki kecil berusia tujuh tahun itu menunduk, dan sesekali melihat wajah ayahnya.

“Heh, berapa kali bapak bilang, jangan dekat-dekat sama anak itu. Najis, tahu!”

Ia lihat sekilas wajah Isah. Gadis kumal itu hanya melongo, sepotong ubi bakar masih tergenggam di tangannya.

Kau juga, bodoh.!!

Gadis kecil tersentak. Ia mundur selangkah demi selangkah dengan menunduk, lalu dengan susah payah ia giring kambing-kambingnya yang berlarian kesana kemari, tak tahu lagi kemana harus berjalan.

“Isaaaah….!

Panggilan itu tak didengarnya lagi. Isah terus berjalan menerobos gelap dengan kaki dan desah napasnya yang hanya diketahui awan, hujan, bara api, burung-burung, dan kambing-kambingnya. Dia masih terlampau kecil untuk mengeri bahasa manusia dewasa.

 

Rumahnya yang berdinding kayu itu masih gelap, ketika ia sampai di rumah. Dari lubang disebelah pintu, ia masukan tangannya dengan tubuh menunduk kesulitan, dan pintu itu terbuka. Ia berhenti melangkah. Dari kamar yang tak jauh dari tempatnya berdiri terdengar rintihan-rintihan aneh, dan kata-kata yang tak bisa dia mengeri apa artinya. Sudah beberapa kali ia mendengarnya, dan setiap kali mendengar suara itu, ia hanya tinggal memastikan benarkah itu suara ibunya, dan bukan suara ular atau binatang.

Ia menghela napas dalam, yakin itu suara ibunya. Dengan tenang ia melangkah menuju kamarnya. Tiba-tiba suara nyaring terdengar.

“Isaah…!”

Ia keluarkan sebanyak mungkin suara untuk ibunya. Dan teriakan ibunya tak terdengar lagi.

Isah meringkuk di atas tikar, dan suara rintihan-rintihan disebalah kamarnya itu kian aneh. Ia tak mengerti mengapa ibunya memiliki banyak teman, lebih banyak dari kambing-kambing yang digembalakannya setiap hari. Iapun tak tahu mengapa kambingnya bertambah banyak, padahal ibunya tak pernah membeli kambing-kambing baru. Juga kambing milik Kasmin.

Lamunannya buyar. Tiba-tiba dinding kamarnya seperti ada yang menendang, lalu hening berganti suara rintihan dan rintihan lagi. Ia sebenarnya ingin melihat apa yang dilakukan ibunya itu. Ibunya pernah bilang, kalau Isah mendengar suara itu Isah harus tidur. Iapun tak jadi melihatnya.

Ia masih ingin mengembalakan kambingnya, bermain sesukanya atau berlarian mengejar gerombolan belalang yang berlompatan di rerumputan. Tapi sayang, bapaknya Kasmin datang dan menyudahi hari itu.

Bebarapa saat lamanya suara rintihan itu tak terdengar. Mungkin ibunya sudah tidur, atau mungkin juga capai. Tak lama kemudian ia dengar langkah kaki mendengati kamarnya.

“Isaah…”

embun

Cahaya dari sumbu dian menyebar tipis dalam keremangan, dan ia lihat anaknya meringkuk memandangi wajahnya yang selalu awut-awutan setiap kali keluar dari kamar. Sepiring nasi yang dibawanya ia letakkan disamping Isah. Belum sempat ia berkata-kata suara dari balik kamar memangilnya. Iapun bergegas kembali ke kamarnya. Ingin sekali ia menghentikan langkah ibunya, namun ia tak memeiliki bahasa untuk itu. Yang mengerti bahasanya hanya awan, hujan, bara api, burung-burung, dan kambing-kambingnya. dan mata gadis kecil bisu itu berembun. Ingin sekali ia giring kembali kambing-kambingnya ke pematang sawah, sekalipun malam hari maupun hujan. Disana ia bisa tertawa, tersenyum, dan berlari dengan dengan tawa, senyum dan kakinya sendiri. Namun sayang pematang swahpun tak lagi bisa mengerti apa yang diisyaratkannya.

 

33 Comments to "Embun di Mata Isah"

  1. Hennie Triana Oberst  14 June, 2013 at 05:04

    Iya pete itu mendunia, kata yang suka pete. Aku belum pernah nyicipin hehehe…

    Pamit tidur dulu ya, mas Juwandi. Selamat beraktifitas.

  2. juwandi ahmad  14 June, 2013 at 04:58

    Seumuran dengan adik bungsuku. Sayang dia sudah punya suami hehehe….
    Siapa bilang tak ada pete di sini, selalu ada dijual di toko Asia (tanya pak Dj.).

    he he he he…..wah, telah iki he he. Ooo, nang njerman ada pete juga to? Wah, bisa dipertimbangkan ini ha ha ha

  3. Hennie Triana Oberst  14 June, 2013 at 04:56

    Seumuran dengan adik bungsuku. Sayang dia sudah punya suami hehehe….
    Siapa bilang tak ada pete di sini, selalu ada dijual di toko Asia (tanya pak Dj.).

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *