Akankah Kunikahi Lelaki Yang Menikahi Banyak Perempuan Dalam Cerpennya?

Handoko Widagdo – Solo

 

Ratna termenung. Kopi di meja telah menjadi dingin. Kopi itu tak disentuhnya sejak disajikan oleh pelayan kedai kopi. Sesekali Ratna menatap lewat jendela yang menjadi pintu penghubung dirinya dengan dunia di luar kedai kopi. Setiap kali dia menatap, matanya selalu tertumbuk dinding beton berwarna kelabu. Angin bermain di jalanan di antara jendela dan dinding beton. Angin yang berubah-ubah arah itu membingungkan ranting-ranting pohon cemara yang mulai bosan menunggu Ratna menyeruput kopinya. Sesekali dilihatnya jam berwarna biru yang melingkar di tangannya. Ratna tidak sedang gundah menunggu. Tapi dia khawatir. Apa yang akan dikatakannya nanti kepada Guswandi?

Pertemuan awal Ratna dengan Guswandi terjadi di Koran Minggu. Saat tak ada acara di sebuah minggu, Ratna membalik-balik Koran Minggu. Sebuah cerpen tentang Orang Karo menarik hatinya. Paparan keindahan Tanah Karo dalam cerpen itu mengusik hati Ratna. Dia menjadi ingin berkunjung ke Tanah Karo. Lagipula ilustrasi nisan salib yang terkulai itu sungguh membuat hatinya tergetar. Akankah orang Karo kehilangan budayanya, seperti yang dikisahkan dalam cerpen tersebut?

Secara kebetulan Ratna bertemu Guswandi. Saat itu kantor dimana Ratna bekerja menyelenggarakan gala dinner. Dalam acara tersebut, yang diisi pembacaan cerpen-cerpen pilihan Koran Minggu, Ratna menjadi MC. Salah satu cerpen yang dibacakan oleh penulisnya adalah “Tak Ada Pesta Cawir Metua” tulisan Guswandi. Sejak itu Ratna berkawan dengan Guswandi. Beberapa kali mereka keluar bersama, melarikan diri dari siksaan Jakarta.

Menurut Ratna, Guswandi tidak terlalu gagah. Penampilan fisiknya biasa saja. Tingginya hanya sekitar 160cm rambutnya agak botak, dan berkacamata. Namun, menurut Ratna, mata Guswandi begitu cemerlang. Mata itu memancarkan optimisme dan keterus-terangan. Apalagi saat Guswandi berbicara. Pancaran mata yang mengiringi ucapan-ucapan yang meluncur dari bibirnya membangun kekuatan magis yang memenjarakan angan.

Ratna semakin tertarik pada Guswandi saat dia, dalam satu kesempatan, berkunjung ke rumah kontrakan Guswandi. Tidak tepat kalau itu disebut rumah. Sebab sebenarnya hanya terdiri atas dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Kedua kamar tersebut dipenuhi dengan buku-buku dan asap rokok. Beberapa gelas bekas kopi terserak di berbagai tempat. Bau tengik baru sedikit berkurang saat jendela satu-satunya di rumah itu dibuka. Buku-buku itu menarik minat Ratna. Di antara yang tergolek di sana adalah Gunung Jiwa, Rambut Sang Nabi, 1983, Ronggeng Dukuh Paruk, Senyum Karyamin, Waiting dan banyak lagi.

“Yang ini kamar kerjaku, yang itu kamar istriku,” Guswandi memberi penjelasan. Saat Ratna terkejut, Guswandi segera mengoreksinya sambil tergelak: “itu istri saya,” sambil menunjuk sebuah desktop butut. “Dia yang memuaskan malam-malam saya.” Sejak itu rumah kontrakan Guswandi menjadi salah satu tempat bagi mereka berdua untuk melarikan diri dari kekejaman Ibukota.

“Kau suka Steinbeck?” Sambar Guswandi saat Ratna membelai The Grapes of Wrath. “Entah mengapa editornya meluluskan bagian yang sama sekali tidak berhubungan dengan cerita. Itu sungguh aneh. Lagipula, saya heran mengapa Panitia Nobel memilih novel ini menjadi pemenang sastra. Bukankah Steinbeck mengakhiri novelnya dengan sangat buruk? Saya yakin, seperti keputusan-keputusan pemenang nobel sastra lainnya, ini hanya pilihan politis. Itulah sebabnya Pram tidak pernah memenangkan Nobel. Karena saat itu pihak barat sedang memusuhi komunisme. Padahal Pram berada pada kubu kiri. Pram hanya salah posisi sehingga tak jadi mendapat Nobel.” Ratna segera saja menarik tangannya yang sudah terlanjur terulur pada buku yang covernya sudah lusuh itu. Diliriknya Guswandi yang berdiri di samping kiri agak di belakang punggungnya. Wajah Guswandi berbinar saat memberi penjelasan tentang novel yang berlatar belakang jaman malaise itu.

“Coba kau baca ini,” Guswandi menyodorkan The Map of Love, “buku ini hebat. Soueif berhasil membungkus kegelisahan orang Mesir dalam kisah dua percintaan yang paralel dan terpisah waktu selama 100 tahun. Yang hebat lagi, dia berhasil mempertebal buku dengan memasukkan outline yang dia buat sebelum novelnya disusun. Menurut saya Soueif lebih berhasil daripada Stenbeck dalam mempertebal buku. Sayang dia perempuan Mesir sehingga belum dilirik oleh panitia Nobel. Seandainya dia dari Amerika Latin pasti dia sudah menerima Nobel.” Ratna menerima buku yang disodorkan oleh Guswandi. “Bawalah kalau kau suka.”

“Ini buku yang sangat menarik”, Guswandi membawakan buku bergambar buah pala. “Penulis buku ini berhasil menulis tentang hal yang remeh-temeh menjadi sebuah kisah yang dalam dan menakjubkan. Tidak banyak penulis yang mampu menggunakan hal yang remeh-temeh, tokoh yang bukan tokoh untuk menjadi tulisan yang memukau.”

Ketika Ratna berpamitan, Guswandi memberikan sebuah map. “Bawa juga ini. Ini kumpulan cerpen yang pernah aku tulis. Beberapa dari cerpen tersebut terbit di berbagai media. Hasilnya sudah kusimpan di jamban melalui closet di sebelah sana, ha…ha…ha… Cerpen memang cukup baik untuk mengganjal perut yang lapar.” Ratna menerima map berwarna pink tersebut. Map itu berisi fotocopy guntingan dari cerpen-cerpen dari berbagai surat kabar. Ada juga beberapa print out dari cerita-certita yang belum pernah diterbitkan. “Aku akan membacanya,” ucap Ratna.

Cerpen-cerpen Guswandi penuh dengan kegelisahan tentang dampak pembangunan. Namun bukan kegelisahan itu yang menarik Ratna, melainkan perempuan-perempuan yang menjadi pendamping tokoh lelaki –si AKU, yang muncul dalam cerpen-cerpen Guswandi. Siapakah mereka para perempuan-perempuan itu? Entah mengapa Ratna menjadi begitu peduli dengan perempuan-perempuan yang menjadi pendamping dalam cerpen-cerpen Guswandi. Semua perempuan tersebut selalu berposisi sebagai istri dari si AKU. Adakah salah satu dari perempuan tersebut yang menggambarkan sosok dirinya? Ratna menakar, menimbang, menelisik kalau-kalau ada sosok perempuan yang mirip dengan dirinya di salah satu cerpen Guswandi.

lamaran-menikah

“Ah mereka adalah perempuan-perempuan yang menyangkut di hatiku. Aku menikahinya dalam cerpenku, karena aku bisa meninggalkannya begitu saja saat aku bertemu dengan perempuan lain yang menarik hatiku. Banyak perempuan yang menarik. Tapi, tentu saja saya tak mungkin menikahi mereka semua.” Guswandi menjelaskan alasannya saat Ratna menanyakan mengapa selalu ada tokoh istri dalam cerpen-cerpen Guswandi. “Akankah kau menjadikanku salah satu istrimu dalam cerpenmu?” Ratna bertanya. “Kau? Tentu saja tidak”. Mendengar jawaban itu Ratna kecewa. Ratna berpikir bahwa dia bukan salah satu perempuan yang menarik hati Guswandi. “ Sebab aku berencana menjadikanmu menjadi istriku yang sebenarnya. Bukan dalam cerpenku. Maukah?” Ratna sungguh terkejut dengan jawaban dan permintaan Guswandi yang meluncur begitu saja. Ratna tak percaya pada pernyataan Guswandi, meski sebenarnya dia pernah berharap.

Di depan kopi yang semakin dingin, sekali lagi Ratna memandang tembok melalui jendela. Akankah dia menerima tawaran Guswandi? Akankah dia menikahi lelaki yang menikahi banyak perempuan di cerpennya? Akankah Guswandi menceraikannya ketika suatu saat dia menemukan perempuan yang lebih menarik hatinya, seperti dia mengganti tokoh istri si AKU dalam setiap cerpennya? Angin yang berubah-ubah arah itu terus membuat bingung ranting-ranting pohon yang mulai bosan menunggu Ratna menyeruput kopinya. Sesekali ditengoknya jarum jam pada jam berwarna biru yang melingkar di tangannya.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

67 Comments to "Akankah Kunikahi Lelaki Yang Menikahi Banyak Perempuan Dalam Cerpennya?"

  1. Handoko Widagdo  18 June, 2013 at 08:59

    Lho….Ratna mikir serius kok malah dibilang koplak Mas Juwandi?

  2. juwandi ahamd  17 June, 2013 at 21:43

    ha ha ha ha…..tambah koplak iki

  3. Handoko Widagdo  17 June, 2013 at 16:48

    Lani, kok malah dibalang Theklek?

  4. Handoko Widagdo  17 June, 2013 at 16:47

    Waw ternyata EA Inakawa mulai merayu Ratna.

  5. Handoko Widagdo  17 June, 2013 at 14:34

    Wah berarti Guswandi = orangutan? Bagaimana ini Mbak Ratna?

  6. Silvia  17 June, 2013 at 06:30

    EN, sini-sini tak bisikin…..Hihihi

  7. elnino  17 June, 2013 at 06:24

    Vie, siapakah gerangan si Ratna itu?

    Guswandi, berarti yang beraninya hanya menikahi Ratna dalam cerpennya itu bukan dirimu. Kalo kamu kan berani menjadikan Ratna istri sebenarnya. Kamu lebih bernyali kalo gitu
    Tapi penulis cerpen ini memang agak kejam, mosok kemarin saya disuruh menikahi orang utan. Parah!

    IDM, mana cerpenmu? Ditunggu ya… Ck ck ck…Ratna kok jadi tokoh favorit ya di cerpen2 Baltyra. Asal jangan dibikin bunuh diri deh, sereeem….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *