Dari Gunung Kemukus ke Panggung Kethoprak Siswobudoyo (3) : Panggung Para Pendekar Tobong

Nyai EQ – di panggung besar

 

Hari sudah menjadi sore. Saya masih berusaha untuk santai, sambil mencoba bercakap-cakap dengan sutradara kethoprak Siswo Budoyo, pak Sunarko, setelah saya ditinggalkan sendirian oleh teman-teman saya. Ini pengalaman pertama saya bermain di panggung kethoprak. Dan pengalaman terbesar karena saya akan main bersama para seniman kawakan dari kelompok kethoprak terbesar di jawa Timur yang pernah manggung di Yogyakarta selama 13 bulan, pada tahun ‘90an.

Siswo Budoyo didirikan oleh Ki Siswondo (almarhum) pada tahun ‘70an. Dan mengalami masa kejayaan di kisaran tahun ‘80an. Sayang sekali tidak ada data dan dokumentasi yang lengkap dan akurat tentang kethoprak ini. Awalnya sama seperti perkumpulan kethoprak yang lain, Siswo Budoyo merupakan kethoprak tobong. Namun dengan kesadaran akan perkembangan teknologi, Siswo Budoyo mengembangkan tekniknya sesuai dengan kemajuan jaman.

Pada tahun 1970-an dan 1980-an, bioskop menjadi primadona hiburan masyarakat. Dan ketoprak, seperti wayang orang, tak hanya dipandang “udik”, tapi juga hambar, kuno dan formal. Ketoprak hanya bisa bertahan jika menerapkan teknik-teknik filmografi. Teknik seperti itulah yang diperkenalkan Ki Siswondo dalam kesenian tradisional ketoprak. Untuk hal yang paling sederhana, misalnya, dialah yang memperkenalkan title/judul dalam pertunjukan ketoprak, menayangkan judul dan nama-nama pemain di layar memakai slide projector. Tak hanya itu. Untuk menyihir penonton, Siswo Budoyo juga menerapkan dekorasi, lampu, sound system, dan penciptaan efek khusus melalui video yang dikemas menjadi teknologi canggih. Efek suara, yang menggunakan rekaman suara alam dan satwa, serta pencahayaan telah dibuat sedemikian rupa untuk menghadirkan suasana dramatis seperti yang dikehendaki: horor, sedih, atau gembira.

Gebrakan Siswo Budoyo dengan kreasi begini dilakukan ketika kelompok kethoprak lainnya masih berkutat dengan teknik panggung kuno serta cerita klasik menjemukan. Tidak berlebihan bila pada awal 1980-an Siswo Budoyo memproklamasikan diri sebagai “Ketoprak Gaya Baru”. Ki Siswondo juga menghadirkan akrobat dalam panggung. Meminta anak-anak buahnya mempelajari serius pencak silat, dia misalnya bisa menghadirkan teknik perkelahian yang hidup dan tampak sungguhan, bukan adegan tipuan seperti dalam wayang orang kebanyakan.

Barangkali Siswo Budoyo merupakan kethoprak pertama yang menggunakan teknik salto ke belakang, yang benar-benar membutuhkan keterampilan khusus.  Ibu Endang Wijayanti Siswondo, mantan primadona Siswo Budoyo dan istri kedua Ki Siswondo, mengaku sering diminta sang pemimpin menemaninya mencari ide dan mengembangkan inovasi. Ia sering diajak ke bioskop untuk menggali cerita baru dan mempelajari kisah sejarah dan pewayangan. “Salah satu keberanian yang pernah dilakonkan Siswo Budoyo adalah mementaskan ketoprak yang diadaptasi dari film bioskop Manusia Ular,” kata Bu Endang Siswondo, “Lakon ini begitu menyedot penonton karena aksi panggungnya dilengkapi properti pendukung seperti tata lampu dan dekorasi yang sangat mahal.” Prinsipnya, Siswo Budoyo tahu dan peka terhadap apa yang dibutuhkan penonton. Tak hanya teknik penyajian, cerita yang disajikan Siswo Budoyo pun inovatif. Di saat-saat tertentu, mereka menggelar lakon Tutur Tinular, Pedang Naga Puspa, Saur Sepuh, dan film laga lokal yang sedang ngetop masa itu.

Pendek kata, Ki Siswondo ingin, siapa pun yang menyaksikan pementasan Siswo Budoyo akan merasa seperti di dalam gedung bioskop, menonton film teknik tinggi. Sayangnya, kreasi dan imajinasi seperti itu kini harus membentur kenyataan sejarah.

Hanya dengan di rumah menyaksikan televisi, orang kini bisa menikmati perkelahian yang hidup dan cerita tradisional kolosal serupa, tanpa harus bepergian. Seni panggung, seperti juga bioskop, kini tinggal kenangan tentu juga dengan penuh harapan bisa muncul kembali.

Pementasan kethoprak yang akan digelar malam itu adalah pementasan kethoprak dengan para pemain lama. Misinya adalah reuni, mempertemukan kembali para anggota Siswo Budoyo yang sudah belasan tahun tidak bertemu dan tidak bermain bersama di panggung Siswo Budoyo.

Di situ, oleh pak Sunarko saya dikenalkan pertama kali kepada ibu Anik. Beliau adalah perias handal, penari dan sekaligus juga anggota lama kethoprak Siswo Budoyo. Beliau juga yang akan menjadi pendamping saya. Perkenalan ini menjadi titik tolak saya untuk mempelajari karakter yang harus saya mainkan. Dan beliau membuat saya menjadi lebih nyaman. Kami segera pindah ke belakang panggung, siap untuk persiapan make up. Ibu Anik, yang minta dipanggil mbak Anik, sangat ramah dan menyenangkan. Saya benar-benar menjadi nyaman dan tidak canggung lagi.

Segera setelah saya mulai dirias dengan make up dasar, para pemain yang kebanyakan sudah sepuh, usia baya, berdatangan satu persatu. Suasana berubah menjadi meriah. Saling berpelukan, cipika cipiki, bertukar kabar, tebar senyum dan tawa. Lelucon dan guyonan bertaburan di belakang panggung. Suasana seperti ini membuat saya menjadi lebih bersemangat dan senang. Meskipun saya tidak mengenal satu pun dari para beliau ini, namun mbak Anik dengan keramahannya memperkenalkan saya kepada beberapa pemain yang duduk di sekitar kami. Sungguh suasana yang penuh kehangatan dan keakraban. Di antara mereka ada yang tidak saling bertemu selama 8 tahun, bahkan ada yang sampai 13 tahun tidak bertemu. Senang mendengarkan percakapan mereka yang penuh nostalgia.

Ternyata, di samping saya, ada juga seorang pemain tamu yang juga masih muda. Dia adalah keponakan salah satu pemain yang diminta untuk menggantikan pemain yang saat itu berhalangan hadir. Peran yang harus kami mainkan sama, yaitu menjadi selir Ratu Sabrang yang jumlahnya ada 4 orang.

Putra dari pelawak terkenal Leysus (alm) yang dulu selalu bermain bersama dengan saudara kembarnya, Topan, pada masa kejayaan kethoprak humor di layar tivi swasta, mas Haris, ikut pula dalam lakon ini. Beliau ini yang nantinya akan main dengan saya, bukan sebagai Ratu Sabrang, melainkan sebagai Pangeran yang mengalahkan ratu Sabrang dan meminta ke 4 selirnya.

Ceritanya adalah tentang kisah Panji. Kisah yang sangat umum untuk dimainkan di panggung kethoprak. Kisah ini diangkat karena dianggap sebagai lakon yang paling mudah dimainkan oleh para pemain kawakan. Bukan karena sederhana, namun karena tentu saja mereka sudah sangat hafal dengan segala adegannya, mengingat mereka tidak melakukan latihan apapun sebelum manggung.

Beliau-beliau ini sungguh luar biasa. Tanpa latihan sama sekali, tanpa casting sebelumnya dan bahkan dengan sigap mereka segera merias diri. Mereka tahu harus menjadi apa, mereka tahu bagaimana harus merias diri masing-masing, sambil tetap bercakap-cakap dengan meriah. Bukan itu saja, bahkan ada yang masih sibuk membuat kostum untuk keperluan pentas. Dalam waktu kurang dari satu jam, kostum yang berupa pakaian pendekar berwarna keemasan itu siap dengan begitu rapi dan bagus. Ck ck ck……

siswobudoyo (1)

Para pemain sedang sibuk merias diri di belakang panggung

 

siswobudoyo (2)

Menggarap kostum di sela-sela kegiatan merias diri

 

siswobudoyo (3)

Kostum penutup dada pendekar yang siap dalam waktu kurang dari 1 jam

 

Mbak Anik dan beberapa ibu yang lain bergerak cepat, karena mereka akan tampil sebagai penari pembuka, yaitu menarikan Gambyong sebagai tarian wajib sebelum pementasan dimulai. Mbak Anik juga akan berperan sebagai salah satu selir Ratu Sabrang.

Yang membuat saya kagum setengah mati adalah perubahan mereka sebelum dan sesudah dirias. Ketka sebelum dirias mereka tak lebih dari ibu-ibu biasa usia 50an ke atas. Bahkan ada juga bapak-bapak yang usianya sudah 60 tahun lebih. Namun begitu dirias, bagaikan Sailormoon atau Satria Baja Hitam, mereka berubah menjadi cantik, gagah dan luar biasa. Seolah-olah aura panggung terserap ke dalam tubuh dan menyatu bersama mereka..

siswobudoyo (4)

Kostum harimau loreng dan Raja Naga

 

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya teman-teman saya muncul juga. Lega rasanya melihat mas Trias masuk diikuti mbak Harnum sang kekasih, dan mas Roci, kemudian bli Komang yang membawakan gaun batik saya untuk berganti nanti seusai pertunjukan.

Saya yang sudah dirias dan disanggul, tinggal menunggu kostum yang berupa kain batik, kemben dan assesories lainnya. Bahkan tattoo saya pun ditutup dengan bedak lulur sehingga sedikit tersamar. Seperti yang lainnya, tidak ada naskah yang harus saya hafalkan. Jadi saya hanya berputar kian kemari, ngobrol ke sana kemari. Memantapkan diri dan mencoba bersandar kepada keyakinan sahabat-sahabat saya yang menjadi lebih bersemangat melihat saya yang sudah dirias.

Sebelum acara di mulai, ada semacam ritual kecil yang disebut dengan istilah “penuangan”, yaitu kami, para pemain, harus berkumpul di atas panggung yang masih tertutup rapat, duduk melingkar, dengan seorang dari dewan dalang di tengah-tengahnya. Pak dalang ini memberikan arahan adegan per adegan, dengan memberikan contoh dialog yang harus diucapkan tiap pemain dengan pengembangan yang diserahkan pada si pemain. Kali ini para sahabat saya juga diijinkan untuk turut serta dalam ritual penuangan. Jadi mas Trias, mas Roci dan bli Komang duduk bersama kami dan menyimak dengan khusuk, meskipun tidak paham bahasanya, karena pak dalang mengucapkan setiap kata-kata dalam bahasa Jawa dan cepat.

siswobudoyo (5)

Suasana penuangan, semua orang memperhatikan dengan sepenuh hati

 

Suatu hal lagi yang membuat kami terkagum-kagum. Dalam setiap pementasan teater yang kami lakukan, selalu ada latihan fisik dan emosi berminggu-minggu, bahkan berbulan, menghafalkan naskah, menyerap karakter tokoh, persiapan ini itu. Namun dalam pementasan kethoprak besar Siswo Budoyo kali ini, hal tersebut sama sekali tidak ada. Hanya dengan penuangan yang tak lebih dari 30 menit, setiap pemain seperti sudah sangat faham dengan semua dialog, improvisasi dan apapun yang harus mereka lakukan di atas panggung. Kami merasa sangat kecil. Apalagi mas Roci yang seorang aktor, jam terbangnya cukup tinggi, saat itu merasa sangat kecil.

Sementara kami masih sibuk di belakang panggung, gending sudah mulai ditabuh. Karawitan mulai memperdengarkan tembang-tembang yang sangat enak didengar. Suasana aula klenteng Tri Dharma menjadi padat oleh penonton. 1800 lembar tiket terjual habis. Cara menjualnya pun tidak dengan membuka ticket box atau menjual melalui internet, melainkan dengan menawarkan dari rumah ke rumah. Dengan harga 100 ribu IDR untuk dua orang, tiket tersebut terjual laris bagai bakso. Orang-orang sudah merindukan pertunjukan ini sejak lama. Tak terbayangkan jika tiket dijual secara on line dan membuka ticket box, pasti lebih dari 1800 tiket yang harus dibuat, sebab ternyata masih banyak para penggemar yang menyatakan penyesalannya karena tidak kebagian tiket.

Adegan pertama dimulai setelah tari Gambyong, disusul dengan adegan demi adegan berikutnya yang berlangsung dengan lancar. Tepuk tangan penonton membahana. Apalagi ketika ada adegan-adegan lucu. Penonton tertawa dengan begitu meriahnya. Menurut mas Roci yang berasal dari Padang dan bli Komang yang berasal dari Bali, tidak perlu mengerti artinya, ulah mereka sudah cukup membuat perut terkocok saking serunya tertawa.

Lakon yang digelar kali ini adalah lakon Panji yang menceritakan tentang kisah Raden Panji Asmara Bangun, putra raja Lembu Amisena dari kerajaan Jenggala yang pergi dari kerajaan, padahal hendak dinikahkan dengan sepupunya, Dewi Sekartaji, putri Raja Lembu Amiluhur dari kerajaan Kediri yang jauh lebih besar. Sang Panji pergi traveling, dan kemudian bertemu dengan Dewi Anggreni, putri seorang Tumenggung dan kemudian menikahinya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tentu saja orang tua sang Panji dan sang Putri Dewi Sekartaji menjadi marah dan hendak menghancurkan katumenggungan tersebut jika tidak menyerahkan kembali sang Panji.

Sementara itu, di pihak lain, ada seorang pangeran muda, berandalan yang jatuh hati pada Dewi Angreni. Namun pangeran muda, meskipun sakti mandraguna, tidak memiliki kerajaan, oleh karena itu dia bermaksud meminjam kerajaan kepada Ratu Sabrang. Tentu saja permohonan itu ditolak. Tak ada ceritanya sebuah kerajaan kok dipinjam. Namun karena sakti sekali, akhirnya Kerajaan Sabrang dapat ditaklukan. Ratu Sabrang dibuat lumpuh dan menyerahkan kerajaannya beserta seluruh isinya. Adegan ini sama lucunya dengan adegan Bancak Doyok, yaitu adegan dagelan yang juga membawa nilai-nilai moral dan budi pekerti, meskipun menyampaikannya dengan cara yang sangat konyol dan kocak.

Kebetulan juga yang menjadi Bancak adalah mas Haris, putra almarhum Leysus. Mas Haris juga memainkan peran sang Pangeran sakti yang  berandalan. Sehingga adegan Ratu Sabrang ini menjadi lucu sekali. Penonton diajak tertawa melihat adegan demi adegan. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa selir Ratu Sabrang yang jumlah 4 orang itu ternyata cacat semua. Selir pertama, selir tertua, diperankan oleh salah seorang pemain kawakan yang berumur baya, menjawab semua pertanyaan sang pangeran dengan begitu lembut, namun begitu diangkat berdiri dan diajak berjalan, selir cantik ini ternyata pincang. Cara jalan yang terpincang-pincang seolah-olah kakinya benar-benar bengkok ini membuat para penonton seketika tertawa seru.

Giliran kedua adalah saya, sebagai selir ke 3 yang masih muda dan seksi (begitu menurut kisah). Selir ketiga ini mempunyai cacat tidak bisa mendengar dengan baik alias bolot. Sehingga semua pertanyaan sang Pangeran selalu mendapat jawaban yang menyimpang jauh. Seperti misalnya pertanyaan, maukah kau menjadi istriku, dijawab, iya pangeran, saya tadi sudah sarapan di warung burjo depan sana. Dalam bahasa Jawa istri adalah = bojo, sehingga ketika diplesetkan dengan kata burjo, dialog ini menjadi lucu. Terutama jika diucapkan dengan cara yang begitu lembut, tanpa rasa salah, senyum dan lugu.

Sungguh sulit buat saya. Saya merasa suara saya agak gemetar, dan jujur, saya sangat grogi! Untung mas Haris dapat membantu saya dengan mengkover melalui dialog-dialog ringan dan lucu, yang membuat saya ingat dengan latihan singkat yang diajarkan pada saya di belakang panggung. Kurang dari 3 menit adegan yang harus saya mainkan. Menjadi putri cantik, selir yang bolot, harus lucu dan genit. Saya gembira melihat penonton tertawa dengan plesetan-plesetan saya. Dan sangat lega ketika saya “diusir” sang Pangeran dan harus kembali duduk di samping selir-selir yang lain. Selir berikutnya yang dimainkan oleh pemain tamu satunya, adalah selir termuda yang bisu. Dia juga cukup lancar memainkan perannya. Yang terakhir, selir yang dimainkan oleh mbak Anik, tidak hanya pengkor (kakinya bengkok) namun juga salah satu tangannya bengkok. Sangat lucu. Peran yang sulit seperti ini memang hanya bisa dimainkan oleh pemain yang sudah handal.

Meskipun saya menikmati peran dan akting ini, namun tak dapat diingkari bahwa saya bisa menghela nafas selega mungkin ketika kami kembali ke belakang panggung karena adegan lain akan segera dimainkan. Dan betapa senangnya ketika melihat mas Trias menemui saya dibelakang panggung. Pak Sunarko mengucapkan selamat sambil mengkritik sedikit soal blocking saya yang sempat membelakangi penonton, meski cuma beberapa detik. Duh!!

Sayang sekali saya tidak memiliki fotonya saat ini, sebab kamera saya di bawa mas Trias, dan mas Triasnya belum datang ketika kami belum merias diri. Saya juga tidak memiliki foto panggung, sebab kamera saya kurang canggih untuk membidik adegan di atas panggung yang jauh letaknya dari tempat duduk mas Trias. Dokumentasi panggung ada di tangan mas Joko, teman mas Trias dan belum bisa saya dapatkan karena masih diolah bersama dengan rekaman videonya. Namun bagaimana pun juga saya tetap menyempatkan diri untuk sejenak berfoto sebelum saya berganti pakaian.

siswobudoyo (7)

Saya sebagai selir ke 3 berpose bersama salah satu patih Ratu Sabrang

 

siswobudoyo (8)

Berpose bersama pak Sunarko (putra Ki Siswondo alm), sutradara pementasan kali ini

 

Setelah berganti pakaian dan melepaskan semua asesoris, mengembalikannya kepada mbak Anik, saya mengambil jatah makan saya dan makan dengan lahap, sementara mas Trias kembali bergabung dengan para sahabat untuk menyaksikan kelanjutan cerita yang memang belum selesai. Saya sungguh merasa berterimakasih padanya.

Meskipun tujuan saya menonton Kethoprak Siswo Budoyo tidak kesampaian, namun sudah terbayar lunas dengan ikut bermain dalam satu panggung bersama mereka. Pengalaman itu tak tergantikan oleh apapun. Bahkan ketika ada pembagian honor dan saya tidak mendapat bagian, saya sungguh merasa sangat bahagia. Honor terbesar saya adalah pengalaman emas ini. Apalagi ketika pak Sunarko memperkenalkan saya kepada ibundanya, ibu Endang Siswondo, yang notabene adalah istri Ki Siswondo, lengkap sudah kebahagiaan dan kebanggaan saya. Beliau sangat terkesan dengan olah bahasa Jawa halus saya. Beliau terus menerus mengajak saya ngobrol dalam bahasa Jawa Kromo Inggil. Dalam hati saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada mamah dan eyang (semuanya alm) yang sudah membekali saya dengan pelajaran bahasa Jawa yang baik dan benar. Ibu Siswondo inilah yang sampai saat ini menjadi pemilik, pemimpin dan pengayom Kethoprak Siswo Budoyo. Pak Sunarko bahkan menawari saya untuk ikut bermain lagi. Puji Tuhan!!

Selesai pementasan, setelah seluruh lakon dimainkan dan penonton meninggalkan tempat, pak Trias menyusul saya kembali dan mengajak untuk bergabung dengan yang lainnya. Mas Roci menyalami saya dengan hangat. Bli Komang dengan gaya cueknya hanya tersenyum, tapi saya tahu, ada saatnya nanti dia akan memberikan komentarnya mengenai pementasan saya (dan itu ternyata benar, setelah lebih dari seminggu kemudian, ketika kami sedang ngobrol di ruang kaca tempat kami berlatih teater, dia memberikan komentar yang membuat saya tersenyum dan lega).

Betapa gembiranya saya mendengar komentar mas Roci mengenai pementasan saya. Menurutnya saya bermain cukup bagus. Penonton tertawa dengan banyolan saya sebagai putri yang bolot. Tidak terdengar begitu grogi, terutama karena tertolong oleh permainan mas Haris. Pendek kata, saya tidak memalukan. Itu yang penting. Mas Trias juga mengatakan hal yang sama, bahwa permainan saya di atas panggung cukup sempurna. Lega rasanya mendengar bahwa saya tidak memalukan ketika bermain bersama para pakar. Meskipun tanpa persiapan apapun, bahkan tanpa persiapan mental sedikit pun.

Ibu Siswondo memberikan pujian yang membuat saya senang dan malu. Lalu semua anggota persahabatan dikenalkan kepada ibu Siswondo yang menerima kami dengan hangat dan hati terbuka. Kata mas Trias, tidak biasanya ibu Siswondo bersikap begitu terbuka pada orang asing. Apalagi mau memberikan peran. Siswo Budoyo terkenal ketat dalam pemilihan pemain. Sikap terbuka dan hangat ini membuat kami bangga dan merasa sangat dihargai. Kemudian kami berjanji akan menghadirkan kembali kethoprak Siswo Budoyo di Yogyakarta. Reuni sekaligus memperkenalkannya kepada kalangan muda Yogyakarta. Kami serius dengan hal ini, sebab sesampainya di Yogyakarta, kembali ke kampus, kami segera membicarakannya dengan dosen kami.

Sebelum berpisah, kami berpotret dulu. Karena saya dan bli Komang serta lik Marjuki akan langsung kembali ke Yogya, sedangkan mas Roci berangkat ke Surabaya malam itu juga. Hanya mas Trias yang akan tetap di Tulungagung sampai Minggu malam (malam itu adalah hari Sabtu malam).

siswobudoyo (9)

Kami, para sahabat, bersama ibu Siswondo dan pak Sunarko

(ki-ka : mas Roci, saya, ibu Sis, mas Trias, bli Komang. Berdiri di belakang : pak Sunarko)

 

Segera setelah semua beres, kami kembali ke rumah mas Trias. Kami harus berkemas untuk perjalanan panjang berikutnya. Sesampainya di rumah mas Trias saya segera mandi dan berganti pakaian santai untuk perjalanan pulang ke Yogya. Mengatur kembali tas ransel yang sempat berantakan dan menyusun semua barang yang harus kami bawa pulang.

Perjalanan pulang kali ini terpecah. Saya, bli Komang dan lik Marjuki mengendarai mobil kampus, berangkat ke Yogya, mas Trias mengantar mas Roci ke stasiun bis untuk ke Surabaya. Saat itu sudah pukul 1 lebih sedikit, dini hari.

Bli Komang tetap menempati tempat duduknya di samping sopir, tentu saja sambil menemani lik Marjuki. Saya duduk di deretan tengah, namun karena terlampau jauh untuk ngobrol, saya mendekat dan duduk di box mesin mobil, tepat di belakang kursi antara sopir dan bli Komang, sehingga kami bisa bercakap-cakap dengan enak. Namun bagaimanapun juga pada akhirnya saya menjadi mengantuk. Bli Komang bahkan terlihat beberapa kali jatuh tertidur, sementara saya masih berusaha ngobrol dengan lik Marjuki. Sampai di Trenggalek kami sempat kehilangan arah jalan, sehingga harus berputar mencari jalan kembali. Untunglah, kami segera menemukan jalan yang benar, sehingga tidak jadi tersesat. Tentu ceritanya akan menjadi semakin panjang jika kami benar-benar tersesat. Hiii…tidak mau ah!

Pada akhirnya saya minta ijin lik Marjuki untuk tidur. Sebenarnya saya dan bli Komang bermaksud bergiliran tidur, seperti ketika camping, supaya lik Marjuki ada yang menemani, tetapi lik Marjuki sendiri bilang kalau kami boleh tidur bersamaan, tidak harus bergantian, nanti kalau lik Marjuki merasa ngantuk dan capek, pasti akan menepi dan istirahat. Dan memang, begitu saya merebahkan kepala saya di kursi jok, berbantal backpack, saya segera lenyap. Masih sempat mendengar bli Komang mengatakan sesuatu pada lik Marjuki sebelum saya benar-benar masuk ke dunia mimpi yang menyenangkan. Saat itu kira-kira pukul 3 dini hari

Ketika saya membuka mata, suasana di luar mobil sudah cukup terang. Kami sudah sampai di daerah Sragen. Agak mendung. Jam menunjukkan pukul 6 pagi kurang sedikit. Alarm biologis saya memang selalu membangunkan saya pada sekitar jam 6, tanpa perduli jam berapapun saya tertidur. Bli Komang masih terlihat lelap dalam tidurnya.

Saya menyapa lik Marjuki yang menjawab dengan sedikit senyum. Ah, sopir kampus yang satu ini memang menyenangkan. Hampir sama gilanya dengan anak-anak seni pertunjukan. Mungkin saking seringnya mengantar para aktor dan musisi etnis pentas ke sana  kemari sehingga terkontaminasi dengan akut.

Kami meneruskan perjalanan tanpa banyak bicara, karena masih mengantuk, lelah dan lapar. Ketika bli Komang terbangun, kami sempat ngobrol singkat. Hari itu, minggu pagi, kami ada undangan makan pagi bersama, dalam rangka ulang tahun sahabat kami yang lain, teman satu kelas di mata kuliah Penciptaan (komposisi) Musik, yang memiliki warung nasi kuning yang buka setiap Sabtu dan Minggu pagi (dari jam 6 hingga jam 10an di lapangan dekat kampus S2). Undangannya jam 8 pagi, tapi karena jam 8an kami masih berada di sekitar Prambanan, maka saya sms teman tersebut dan memberitahu bahwa kemungkinan saya dan bli Komang akan sangat terlambat.

Sesampainya di kampus S1 (karena kandang mobil ada di kampus S1 yang jaraknya beberapa kilometer dari kampus S2), kami tidak bisa segera berangkat ke warung makan teman kami, karena motor kami belum datang. Motor-motor kami dibawa oleh teman-teman S1. Berkali-kali saya berusaha sms dan bahkan menelpon, namun tak ada jawaban. Akhirnya bli Komang meminta tolong teman-temannya dari komunitas Bali yang kebetulan nongkrong di gedung etnomusikologi (rupanya mereka semalam berlatih di kampus hingga pagi) untuk mengantar kami ke lapangan dekat kampus S2.

Sesampainya di sana kami masih ditunggu, namun suasana sudah agak sepi. Pak Ucok, sahabat kami yang punya acara, menyambut dengan gembira. Dan segera mempersilakan kami mengambil hidangan yang berupa coto makasar yang masih berkebul-kebul. Sarapan yang mengenyangkan dan lezat. Juga tentu saja guyonan dan obrolan gembira mengiringi makan pagi yang ceria.

Perjalanan yang penuh kesan dan makna, penuh kegembiraan, kebahagiaan, kebanggaan dan semua kebaikan, tepat seperti doa yang saya ucapkan di makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, dua hari sebelumnya[1], diakhiri dengan semangkuk coto makasar yang membuat perut sehangat hati kami.

Terima kasih Tuhan.

 



[1] Baca bagian (1) : DARI GUNUNG KEMUKUS KE PANGGUNG KETHOPRAK SISWOBUDOYO (1) : Gunung Kemukus, antara ritual dan syahwat.

 

17 Comments to "Dari Gunung Kemukus ke Panggung Kethoprak Siswobudoyo (3) : Panggung Para Pendekar Tobong"

  1. Lani  17 June, 2013 at 02:53

    11 KANG JUWANDI : dadi minak jinggo? koyok merk rokok wae………

    MAS DJ : hahaha…..ngakak baca komentar mas buat kang Juwandi………

    14 AKI BUTO : hahahah………kuwi opo meneh? bar main ketoprak njur main pilem ngono??????

  2. Dewi Aichi  17 June, 2013 at 01:01

    Ngakak dengan komen no 14 ha ha ha..

  3. Dewi Aichi  17 June, 2013 at 01:01

    Sekar….duh aku salut banget ini, hebat, luar biasa….Sekar, pas aku di Jogja, beberapa kali diundang bu Probo, ikut nonton pagelaran kethoprak maupun wayang, tapi sayang banget, selalu ada halangan, pernah nyaris ngajak mas Juwandi, ketika itu pagelaran di SMK1 Jogja….

    Ketoprak Siswobudoyo ini sangat terkenal dan berada dipuncak ketenaran sekitar tahun 80-an, dan sering mengadakan sayembara di TVRI..mungkin personilnya sudah banyak yang ganti.

    Oya, pak Ngabdul denger-denger meninggal dunia beberapa minggu yang lalu.

  4. J C  16 June, 2013 at 20:58

    Nyai, wuiiiihhh level’mu sudah di Siswobudoyo…sebentar lagi nyusul Joe Taslim, kowe casting main di Fast and Furios 7…

  5. Dj. 813  16 June, 2013 at 00:35

    juwandi ahmad Says:
    June 15th, 2013 at 19:40

    Yu Lani: ha ha ha ha..nanti tak melu main kethoprak, tak dadi minak ndjingo aku….
    —————————————————-
    Mas Juwandi…..
    Minak Jinggo ya mas…

    MI ring eNAK, NJING.. mongGO….!!!
    Hahahahahahahahaha…..!!!

  6. elnino  15 June, 2013 at 22:48

    Pengalaman yg luar biasa Nyi… Periasnya handal, hasilnya cantik

  7. juwandi ahmad  15 June, 2013 at 19:40

    Yu Lani: ha ha ha ha..nanti tak melu main kethoprak, tak dadi minak ndjingo aku…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)