Pertolongan Pertama Pada Pencemaran Udara

Wesiati Setyaningsih

 

Piknik bersama murid-murid selalu memiliki kisah unik sendiri. Kali ini di perjalanan ke Bali mendampingi teman yang menjadi wali kelas.

Bis yang digunakan adalah bisa yang lumayan asyik. Kursinya bisa diatur agar yang duduk bisa nyaman, ber-AC, dengan layar LCD lengkap dengan pemutar CD atau DVD. Disediakan juga selimut dan bantal kecil.

Jauh dari jaman saya dulu, ketika saya SMP, piknik ke Jakarta. Bis yang kami gunakan tidak ber-AC sehingga untuk mendapatkan udara, jendela kaca harus dibuka. Kalau bis sedang jalan, jendela kami buka sedikit. Sedang kalau berhenti, jendela kami buka lebar-lebar. Repotnya, kalau sedang berhenti, biasanya pedagang asongan menyerbu dari jendela. Tidak ada yang bisa mengontrol tindakan para pedagang asongan yang kadang berbuat tidak baik. Dalam perjalanan pulang, teman perempuan yang duduk di belakang saya menangis sesenggukan. Ketika kami tanya, ternyata dia kesal sekali karena tadinya dia sedang tidur ketika seorang pedagang asongan iseng meremas payudaranya. Kami bisa merasakan kekesalannya. Saat itu saya termangu, berpikir andai ada yang bisa kami lakukan agar hal seperti itu tidak terjadi lagi.

Jaman sekarang yang namanya piknik semua sudah menyenangkan. Bis pariwisata biasanya memiliki standard seperti apa yang saya ceritakan di atas. Tidak perlu ada kejadian yang dialami teman SMP saya lagi. Bis memiliki pendingin ruangan sehingga tidak perlu membuka jendela lagi. Pintu bisa ditutup rapat jadi tidak ada pedagang asongan yang masuk.

Tapi ternyata, yang namanya teknologi semua memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dalam bis AC, bau yang tidak sedap bisa segera menyebar ke seluruh ruangan dan tidak hilang-hilang. Sampai di Pasuruan, dalam perjalanan ke Bali, ada bau menyengat yang sangat tidak enak. Saya yang duduk di paling depan sudah membauinya. Saya pikir, aroma sungai atau sampah. Tapi kok bisa aroma di luar bis masuk mencemari udara di dalam bis, kan bis tertutup?

Tiba-tiba ada anak yang berteriak-teriak mengatakan temannya kentut. Kontan semua orang menutup hidung. Bagian belakang bis ramai setengah mati karena anak-anak berteriak-teriak.

600px-Fart

“NI Vincent kentut nih!”

“Ivan tuh!”

“Wah, pasti cipirit nih!”

Kami tidak bisa marah. Saya, teman saya, tour leader, supir dan kernet, juga semua anak, tertawa. Kernet bis dengan segera bangkit membawa semprotan plastik berisi cairan, seolah ghost buster yang siap menangkap hantu.

“Gimana? Ada gas beracun ya?” katanya sabar sambil berjalan ke belakang.

Anak-anak tertawa.

“Iya nih pak, pencemaran udara!” teriak anak-anak

“Semprot pantatnya pak!” celetuk teman yang lain, disambut tawa teman-temannya.

Jendela kaca pintu depan di buka, bagian belakang disemprot pengharum ruangan. Perlahan udara yang tercemar mulai jernih lagi. Bagian belakang sudah tenang lagi. Benar-benar tindakan pertolongan pertama pada pencemaran udara.

Memang tidak ada lagi pengacau dari luar yang mengganggu seperti yang menimpa teman SMP saya. Tapi gangguan dari dalam bis bisa saja terjadi.

Selama perjalanan kejadian pencemaran udara ini menjadi bahan tertawaan.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

41 Comments to "Pertolongan Pertama Pada Pencemaran Udara"

  1. Lani  17 June, 2013 at 07:00

    40 EL-NANO-NANO : jd begitu to critanya………..hahaha lucu nemen

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *