Langit Jingga pada Sepotong Senja

Wendly Jebatu Marot

 

Tak ada pengalaman yang lebih indah dari pengalaman pada sepotong senja, duduk menatap langit tepi barat dan menyaksikan jejak sang surya pada petak-petak langit jingga. Seperti senja itu, saat aku melepas lelah setelah seharian berjalan, merangkak menelusuri padang tandus menuju kampung halamanku yang kian sunyi. Sunyi ditinggal pergi oleh penghuninya karena bencana kelaparan yang berkepanjangan.

Aku rindu kembali duduk di atas batu besar, menatap langit senja jingga!

Senja itu, aku berjalan menyusuri lorong berdebu di tengah kampungku yang sepi ditinggal pergi oleh penghuninya. Aku memang sengaja datang walaupun semua sanakku dan warga kampung ini telah banyak yang pergi. Aku datang sekedar bernostalgia. Ingin merasakan kembali pengalaman senja di atas sebuah batu di bawah naungan sebuah pohon yang rindang. Ini tempat aku dulu biasa duduk menyendiri saban sore sepulang dari kebun menjaga padi menguning dari serangan burung pipit.

Aku datang sekedar bernostalgia. Dan aku berjumpa dengan kesunyian tiada tara. Tak ada lagi suara anak-anak, tak ada lagi kejar-kejaran para anak seperti yang kami lakukan dulu. Semuanya hilang, lenyap ditimbun waktu. Yang ada cuma rumah-rumah tua yang reot tak berpenghuni. Yang sama hanya lorong berdebu dengan pohon gamal berjajar sepanjang jalan. Dan satu lagi yang masih sama, yaitu batu besar di bawah pohon yang rindang. Tapi sekarang tempat itu tidak sebersih dulu lagi. Batu itu tetap membisu. Dia menyambutku dalam kesunyian. Andai saja dia hidup, dia pasti gembira menyambutku. Akulah dulu bocah kecil yang selalu setia duduk di atasnya saban senja, memandang langit barat pada sepotong senja.

Tak ada jejak bahwa ada yang baru saja lewat. Sudah sepuluh tahun kampung ini ditinggal pergi oleh penghuninya. Tak tahu apa alasanya! Yang aku dengar cuma ceritera tentang banyaknya orang yang meninggal sepuluh tahun lalu karena kelaparan. Sejak itu mereka terpencar mencari rejeki.

Aku datang ke kampungku ini menembusi kabut debu di bawah panasnya sinar mentari. Aku tiba pada senja hari disambut kesunyian.

Langkah tertatih, peluh membasahi sekujur tubuh kurus dekil. Wajah mengkilat karena keringat dan pantulan mentari yang kian dekat di garis batas di puncak gunung tepi barat. Sesekali mataku melirik mentari itu. Bisakah aku berlomba dengannya sehingga sampai di atas batu di sudut kampung itu aku bisa menyaksikan dia terbela? Aku berharap, pas aku menginjakkan kakiku di batu, aku menyaksikan mentari terbelah dua.

Terbelah? Iya, karena saat itu, setengah dari mentari akan dipele oleh gunung dan sebelahnya lagi masih bisa memancar ke mukakku.

Walau lelah aku mempercepat langkahku. Sungguh! Pengalaman yang kucari adalah melihat mentari senja terbelah kemudian perlahan-lahan hilang dan meninggalkan petak-petak jingga pada awan yang tak beraturan di langit. Hanya dulu ketika masih kecil saja aku menyaksikannya dengan penuh rasa. Sekarang aku mau mengulangi lagi walaupun sekali saja „duduk di atas batu pada sepotong senja dan mata terpana memandang pada mentari yang terbelah dua dan jejak mentari di langit yang menjingga.

Hari-hari ini aku memang membenci matahari atas keganasannya membakar alam sehingga kampungku gersang. Tapi aku mencintainya pas pada senja hari ketika dia mau pamit pergi ke peraduannya. Pengalaman senja adalah saat aku merasakan bisikan permohonan maaf dari sang mentari karena telah menyerangku dengan panasnya. Pengalaman pada sepotong senja adalah saat mentari memberikan kesejukan sebelum dia beristirahat di peraduannya. Memang aku tahu, kepergiannya itu hanya sebentar saja. Dia akan datang lagi besok dan akan menjalani rutinitas sama. Datang dengan keindahan fajar, melewati keganasan siang dengan kejam dan mohon pamit dengan senyuman. Itu lah mentari. Ia tidak munafik.

Tak terasa aku sudah sampai di dekat batu yang dulu jadi tempat mangkalku. Dan saat itu aku menyaksikan mentari terbelah menjadi dua keping. Yang aku lihat Cuma sekeping saja yang masih memancarkan sinar. Yang sebelahnya sudah terututup gunung seperti seorang yang dikubur hidup-hidup dengan kepala di atas permukaan tanah dan melemparkan senyum kepada semua orang yang lewat.

Aku duduk di atas batu dan mataku terpana pada langit jingga jejak sang mentari. Indah sekali! Menakjupkan! Pujiku dengan suara tak teucap. Ini suara dalam keheningan, sebuah pujian hati pada sepotong senja yang indah tak terkatakan. Mataku terpana. Jiwaku yang merana seakan terhibur dan seakan tersenyum menyambut keindahan senja yang menakjubkan itu. Aku tahu ini sementara saja tapi aku mau menikmati yang sementara itu. Hembusan angin senja itu menyejukkan untuk aku yang baru saja menyelesaikan perjalanan yang melelahkan. Betapa tidak, sepanjang hari aku telah berjalan di bawah sengatan mentari yang membakar kulit. Peluh mengalir seperti sungai pada tubuh. Lidah berkeluh mendamba setetas air, perut dan cacing perutku berteriak meminta seremah roti dan sebutir nasi. Tapi yang aku dapat cuma tetesan keringat yang mengalir memasuki mulut, menyentuh lidah dan terasa asin. Yang aku dapat adalah debu yang berterbangan dan bersarang di bibir dan menyatu membentuk gumpalan. Memang perih tapi bersyukur masih ada sepotong senja yang memberi kesejukan di penghujung hari.

Sepotong senja! Berwarna jingga pada langit! Langit yang tadinya biru berlapis awan putih, tipis. Awan tipis yang tak sanggup menghalang serangan api dari langit yang mebakar kulitku dan membuatku lelah tak berdaya. Langit itu sekarang berwarna jingga. Mengagumkan. Angin panas tadi kini diganti dengan angin dingin, tapi menyejukkan.

Aku tahu, sepotong senja itu sebentar saja dan langit jingga itu adalah jejak mentari yang segera terhapus dalam kelam. Warna jingga di langit itu adalah pratanda bahwa mentari semakin menjauh dan sang malam kian mendekat. Mentari pergi dengan rasa puas karena sudah membakarku. Malam datang dengan berlari tergesa-gesa karena ingin segera menguasaiku. Tapi aku tak takut. Aku sudah melewati tantangan hebat dari api langit itu. Kelam malam yang akan datang tidak lagi kutakuti. Dia juga datang tidak seganas siang hanya dia bisa membutakan mata. Tapi lagi-lagi aku tak takut. Malam boleh menyerang. Mataku boleh tak melihat apa-apa yang penting aku bisa merasakan sedikit kelembutan sapaan angin malam ini.

Di atas batu itu aku tetap menatap langit jingga yang semakin lama semakin menghilang. Bayang-bayang malam semakin nampak. Suara nafasnya kian bergelora. Ia mendengus tapi tak mampu melawan waktu. Ia terus tergesa-gesa tapi sang waktu selalu mengontrolnya dan mengingatkan sang malam agar ikut aturan. Jangan buru-buru. Biarkan mentari melampiaskan senyumannya yang terakhir hari ini sebelum besok pagi dia datang dengan senyum untuk selanjutnya menyerang alam lagi. Perlahan bayangan malam itu semakin mendekat dan jejak jingga sang mentari kian terhapus.

Hati memang perih, tapi aku tetap menatap jejak samar-samar itu yang semakin lama-semakin menghilang ditelan sang malam. Dan malam kini tiba dan aku diliputi kegelapan. Sebelum jejak jingga itu lenyap aku berangan-angan. Andai aku bisa, aku akan mendirikan tembok setinggi langit di tepi barat pada senja hari. Aku mau biar mentari itu tetap bertengger di atas puncak gunung di bagian barat tempat dia biasa bertengger dan tempat dia dibelah dua. Tembok itu aku dirikan juga untuk menghalangi sang malam agar dia tidak membawa kelamnya. Biarkan aku menikmati senja dengan jejak jingga di langit. Tapi aku tahu ini angan kosong dan konyol. Dan jika orang dengar dan tahu isi anganku aku akan dinilai gila.

Ketika malam tiba aku pasrah. Dia datang dengan membawa langitnya sendiri yang dipenuhi dengan cahaya bintang. Melihat bintang yang bertaburan itu, mengingatkanku pada sebuah pengalaman pada awal sebuah malam dan ketika jejak jingga baru saja terhapus. Waktu itu aku masih kecil dan aku dan papa duduk di atas batu itu dan memandang ke arah laut. Aku melihat cahaya lampu yang berserakan di sana. “pa cahaya apa itu? (sambil menunjuk ke arah kota di pinggir laut itu). “Oh itu cahaya lampu di kota! Jawab ayahku. Lalu aku menengadah ke langit dan bertanya pada papa; berartti di langit ada kota ya pa?

Lalu dia tersenyum dan sambil memelukku dia mengatakan bahwa cahaya yang berserakan di langit pada malam hari itu adalah cahaya bintang-bintang. Aku pun mengangguk.

Langit malam memang indah dengan warna-warninya. Ada kedipan mata bintang dari sana, tapi aku merasa itu kedipan sinis. Dia mereka pasti kasihan dengan kesendirianku, kekonyolanku yang duduk menyendiri di atas batu, di kampung yang sunyi meratapi sepotong senja yang sudah terhempas dan mencari kembali jejak mentari pada langit yang tadinya jingga kini gelap, hitam.

Sampai jumpa senja jingga di hari lain!

 

 

Dipublikasikan di Harian Umum Pos Kupang, Minggu 23 Mei 2010

Eban, April 2010

 

11 Comments to "Langit Jingga pada Sepotong Senja"

  1. Matahari  17 June, 2013 at 05:01

    Tadi pagi..saya hanya melihat ilustrasi foto dan tidak membaca tulisan ini…ternyata tulisan ini sangat bagus…wajar pernah dimuat di Harian Umum Pos Kupang…kalimat kalimatnya begitu indah…kerinduan seorang anak yang pernah mempunyai kenangan indah dimasa kecil…melihat jingganya langit menyambut matahari terbenam..serta kegusaran hatinya melihat kampung halamannya yang tidak lagi seperti disaat beliau masih kecil…Alinea yang saya suka adalah seperti berikut

    :” Hari-hari ini aku memang membenci matahari atas keganasannya membakar alam sehingga kampungku gersang. Tapi aku mencintainya pas pada senja hari ketika dia mau pamit pergi ke peraduannya. Pengalaman senja adalah saat aku merasakan bisikan permohonan maaf dari sang mentari karena telah menyerangku dengan panasnya. Pengalaman pada sepotong senja adalah saat mentari memberikan kesejukan sebelum dia beristirahat di peraduannya.”

    Benar sekali..sudah jam 0.00 dan saatnya Matahari beristirahat diperaduannya…good night all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.