Tiga Sahabat (13): Andai Tanpamu

Wesiati Setyaningsih

 

Aji dan Sekar masih berdiri di pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang makan. Aji menenteng tas plastik berisi bungkusan sate ayam

“Siapa yang mau nikah? Kok lamaran segala..” tukas Sekar.

Iyem melongo. “Nggak ada, kok.”

“Itu tadi apa? Papa mau ketemu sodaranya Iyem? Mau lamaran, kan?” Aji nimbrung.

“Itu bukan mau lamar Iyem, Mbak Sekaar! Hadduu…” Iyem menepuk dahinya.

“Terus apa?”

“Iyem mau diajak pulang sodaranya, Iyem nggak mau. Kalo nanti sodaranya datang, Papa yang mau hadapi.”

“Ooh..” Aji dan Sekar bersuara berbarengan.

“Kirain. Habis pake bilang sayang segala,” kata Aji.

“Mang kenapa kalo Papa lamar Iyem?” tanya Pak Han.

“Ah, enggak. Nggak pa-pa, dong,” kilah Aji.

Aji melengos. Iyem tersipu. Sekar pasang muka tak peduli.

“Mas Aji, maah.. “ Sekar ngeloyor meninggalkan Aji yang masih termangu, menuju meja makan dan meletakkan tas plastik berisi beberapa bungkus sate.

“Apa kamu?” Aji mengejar adiknya.

“Alaaah… Bukan aku yang malam-malam itu pegangin tangan Iyem sambil bilang, ‘Mama…Mama..’. Enggak ingat pasti ya?” kata Sekar sambil mengambil satu persatu bungkusan dan meletakkan di meja.

“Kapan?” suara Aji meninggi.

“Waktu sakit itu!” Suara Sekar agak nyinyir.

“Oh, Aji sampai mengigau begitu?”  Pak Han mulai tertarik.

“Demam tinggi, Pak Han. Saya aja sampai nangis saking bingung. Takut. Lha Bapak nggak di rumah. Kalo Mas Aji kenapa-kenapa, gimana?”

“Oh, terus yang diminumin sirup demam untuk anak-anak itu?”

“Iya.” Iyem mengangguk.

“Besok lagi bawa ke dokter aja. Jangan kasi obat sembarangan, Yem.”

“Dokter apa enggak mahal, Pak? Takutnya uang belanjanya nggak cukup buat biaya dokter sama beli obatnya.”

“Mmm… Mungkin bisa dikasi madu aja dulu. Minumkan yang banyak. Demam bisa diatasi dengan minum air yang banyak. Kayanya dulu Mamanya anak-anak selalu sedia madu. Kalo ada yang panas dikasi madu yang diseduh air hangat. Diminumin banyak-banyak sampai kencing-kencing, besoknya sembuh. Jarang minum obat kecuali kalo sampai dua hari belum sembuh juga. Makanya Aji nggak bisa minum pil. Karena memang jarang dikasi obat. Jarang sakit juga sih dia.”

So-Lost-Without-You

“Oh, gitu.” Iyem mengangguk-angguk.

“Ah, yang penting Mas Aji sudah sembuh. Biar dikasi obat demam sembarangan juga kan dosis anak-anak. Nggak bakal keracunan. Habis itu aja sudah ngabisin dua mangkuk mie instant.”

“Kamu, nih!” Aji mengulurkan tangannya akan mengetok kepala adiknya.

“Bingung kamu dikasi obat sembaranga, kamunya sekarang udah baik. Ngapain repot?”

“Maksudnya besok lagi, pake madu aja,” kata Pak Handoko bijak. “Juga jangan keseringan makan mie instant. Makan sayur sama buah aja.”

“Pokoknya itu tadi,” Sekar mengalihkan pembicaraan. “Mas Aji mengigau sambil menggenggam tangan Iyem. Papa harus tau itu.”

Begitu selesai mengucapkan kalimatnya Sekar segera menjauh dari kakaknya sambil tergelak-gelak. Aji yang berusaha mengejar adiknya dihalangi Iyem.

“Sudah, Mas Aji. Jangan berkelahi dulu. Makan dulu. Tadi kan belum jadi makan, to? Satenya sudah Iyem buka, tuh. Makan dulu.”

“Kamu sudah makan, Yem?” tanya Pak Handoko.

Iyem menggeleng.

“Nggak doyan makan sejak kemarin. Hari ini saya belum makan. Kepikiran terus takut sodara saya datang. Takut dipaksa nikah. Bingung saya.”

“Iyem dipaksa nikah?” tanya Aji. “Kita gimana dong kalo Iyem pergi.”

“Sudah, enggak usah dibahas sekarang. Belum tentu juga. Ayo Yem, ambil piring sana. Bawa sini. Kamu makan bareng sama kita.”

“Saya nanti saja. Kalo Bapak dan anak-anak sudah makan.”

“Enggak. Ambil piring sana, kita makan bareng.” Pak Han tak terbantah lagi.

“Iya, Yem. Ayo ambil piring lagi sana. Kita makan bareng.” Aji ikut semangat.

Sekar melirik kakaknya sembari senyum menggoda. Aji melotot pada adiknya yang segera meringis dan pura-pura tidak melihat kakaknya yang mulai kesal.

Malam itu kali Iyem makan bersama di satu meja bersama Pak Handoko, Aji dan Sekar.

***

“Ju, ini titipan Iyem.” Aji meletakkan beberapa lembar kertas folio bergaris yang penuh dengan tulisan tangan di meja Juwandi.

Jam sekolah telah usai. Bukannya ikut keluar bersama yang lain, Aji dan Juwandi tidak beranjak. Mereka duduk semeja sejak Anung pergi dan Tia sibuk ikut pertandingan di luar negeri.

“Ah, ini dia!” wajah Juwandi segera sumringah sambil memegang kertas tersebut.

“Cerpen Iyem ya?” tanya Aji.

Juwandi mengangguk mantap.

“Kamu nggak baca?”

Aji menggeleng. “Apa bagusnya?”

“Wooo.. Jangan salah! Keren punya. Itulah kenapa aku mau susah payah menyalinnya ke dalam bentuk ketikan dan mempostingnya ke blog. Tau sendiri, tulisan tangan Iyem itu..mmm..butuh kesabaran khusus untuk mampu membacanya.”

“Kamu buatin blog buat dia?”

Juwandi mengangguk.

“Apa nama blognya?”

“Jeritan Hati Iyem.” Juwandi meringis.

Aji mengerutkan dahi. “Nama blognya gitu amat. Lebay banget.”

Juwandi tertawa. “Biarin. Kan Iyem juga lebay orangnya. Imajinasinya tingkat dewa! Eh, banyak yang komen, lho. Nggak nyesel bantuin Iyem bikin blog. Ikut senang dengan perkembangan tulisan dia, juga membaca komentar-komentar orang atas tulisan dia.”

Aji diam saja.

“Kamu kenapa? Nggak suka ya pembantu kamu punya bakat keren begini?”

“Hush! Jangan sembarangan nuduh.”

“Na itu tadi. Kamu kaya yang nggak suka gitu.”

“Aku bukan nggak suka Iyem nulis. Tapi..”

Aji terdiam. Juwandi penasaran.

“Kenapa?”

“Enggak.”

“Karena Iyem cuma pembantu?”

“Jaga mulut kamu.” Aji mendesis. “Dia bukan CUMA.”

“Weits. Jangan tersinggung dong! Kamunya enggak bilang kenapa.”

“Aku malu.”

“Jangan bilang kamu naksir Iyem.”

Aji melotot lalu berdiri dan mencengkeram leher Juwandi dengan gemas. Juwandi yang kecil, imut dan lucu itu berteriak kengerian. Anak-anak lain yang masih ada di kelas untuk membahas tugas kelompok atau menunggu saat ekstra kurikuler atau pacaran, menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke arah kedua anak itu. Mereka memandang prihatin dan beberapa menunjukkan wajah ngeri.

“Bercanda!” kata Aji pada teman-teman lainnya sambil melepaskan cengkeramannya.

Juwandi memegangi lehernya yang sebenarnya tidak apa-apa dengan lega. Nafasnya terengah-engah.

“Alah, cuma digituin aja.” Aji terkekeh.

“Sumpah aku tadi takut banget kalo kamu beneran bunuh aku.”

Aji tergelak. “Enggak mungkin, lah. Setelah Anung pergi, aku enggak mungkin ingin kehilangan kamu. Apa lagi itu dengan tanganku sendiri.” Aji tiba-tiba terdiam. “Kok kata-kataku jadi kaya dialog sinetron begini ya?”

Juwandi terkekeh. “Tuh kan? Ketularan Iyem. Sukurin.”

“Memangnya tulisan Iyem kaya sinetron?”

Juwandi diam, berpikir. “Engg… Enggak juga, sih.”

“Memangnya, kaya apa?”

Bola mata Juwandi melebar. “Ini anak aneh banget ya? Tiap hari ketemu Iyem, baca tulisan Iyem nggak pernah. Disuruh baca nggak mau. Sekarang nanya.”

Juwandi geleng-geleng. “Aji, kamu benar-benar menyedihkan… Addduh!”

Sebuah pukulan mendarat di lengan Juwandi.

“Main pukul aja, aku laporkan kamu ke KOMNAS Anak!”

“Kamu kan bukan anak-anak.” Aji berdiri seraya mengambil tasnya. “Ayo pulang! Aku bonceng sampai rumah.”

“Asssikkk. Tapi, tunggu.”

Juwandi menarik tas punggung Aji.

“Apa lagi?”

“Kamu mesti jelasin kenapa kamu nggak terlalu suka tulisan Iyem terkenal. Kita ini sahabat, Ji. Ingat.”

“Ck… Nanti aku jelasin!” Aji berjalan meninggalkan Juwandi yang harus berlari-lari kecil mengejarnya.

“Nanti, kapan? Di jalan?”

“Di pinggir jalan! Di tengah jalan bisa habis diterjang truk nanti.”

Juwandi tertawa. “Ikut aja deh.”

Keluar dari gerbang sekolah, Aji tidak mengambil arah seperti biasa. Juwandi sempat bertanya mereka akan ke mana, tapi Aji tak menjawab. Akhirnya Juwandi pasrah saja ke mana mereka akan pergi.

Sampai di sebuah warung bakso dan mie ayam, Aji berbelok. Mata Juwandi membelalak senang. Wajahnya semakin cerah saja ketika Aji mengajak masuk dan memilih tempat duduk untuk mereka berdua. Ketika pelayan datang, Juwandi segera memesan mie ayam dan bakso.

“Maksudnya mie ayam bakso, mas?” pelayan bertanya.

“Bukan. Satu mangkuk mie ayam, satu mangkuk bakso. Jadi buat saya dua mangkuk. Minumnya es teh.”

Pelayan mengangguk mengerti. Aji yang sudah paham kebiasaan temannya, hanya tersenyum.

“Saya mie ayam bakso aja, mas. Satu mangkok, ya” Aji menegaskan. “Minumnya jeruk panas.”

Pelayan mengangguk dan pergi.

So, tell me.” Juwandi melipat tangannya sambil menatap Aji.

Aji bergerak tak tenang.

“Kemarin itu aku sakit.” Aji menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.

“Lantas?”

“Aku demam, panas tinggi. Papa pergi. Cuma ada Iyem sama Sekar. Aku nggak sadar apa yang aku lakuin waktu demam itu. Tapi kata Sekar aku menggenggam erat tangan Iyem sambil memanggil-manggil, ‘Mama,’ gitu. Kata Sekar sih.”

“Iyem menyangkal nggak?”

“Enggak.”

“Ya berarti benar.”

Pesanan datang. Mereka berhenti bicara. Aji segera menghadapi pesanannya dan mulai mengaduk-aduk agar panasnya berkurang sementara Juwandi bingung akan menghabiskan yang mana dulu.

“Makanya, jadi orang jangan maruk. Pesan satu dulu, kek. Nanti kalo masih mau nambah bisa pesan lagi. Ini enggak. Pesan langsung dua.”

Juwandi meringis. “Orang poligami juga gini kali ya, Ji? Bingung mau ngabisin yang mana dulu.”

Aji tertawa. Akhirnya Juwandi memutuskan untuk melahap mie ayam lebih dulu.

“Terus, apa hubungannya sama blog si Iyem?”

Aji tidak langsung menjawab. Dilahapnya dulu mie bakso di hadapannya.

“Masalahnya, kalo Iyem terkenal, terus dia ganti profesi, gimana? Kemarin aja Iyem katanya mau disuruh nikah, aku sudah kepikiran. Untuk Iyem nggak mau.”

Juwandi tidak berkomentar. Dengan lahap dia habiskan mie ayamnya. Masih ada satu tugas lagi, menghabiskan satu mangkuk bakso. Aji sudah menyelesaikan mie baksonya ketika Juwandi mulai melahap mie bakso..

“Jadi, kenapa kalo Iyem ganti profesi?” tanya Juwandi.

“Nanti kami gimana?”

“Gimana apanya?” Juwandi menyedot es teh dengan sedotan.

“Nggak ada yang ngurus kami lagi.”

“Jelas ada, dong. Cari pembantu lain.”

“Nggak semudah itu.”

“Ya nggak usah cari pembantu lagi. Kamu dan Sekar sudah bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri. Bagi tugas, dong. Di rumahku tidak pernah ada pembantu, tapi aku bisa hidup. Jangan manja, Ji.”

Aji termenung mendengar kata-kata sahabatnya.

“Nyuci, bisa seminggu sekali. Pake mesin cuci kan? Jemurnya cuma bentar. Sambil nyuci, bisa nyapu dan bersih-bersih. Habis makan masing-masing bagi tugas. Satunya nyuci piring, satunya bersihin meja. Kalo nggak bisa masak, katering banyak. Dekat rumahku ada katering. Bisa pesan situ. Kalo nggak mau, bisa beli di warung aja. Nasi bisa bikin sendiri. Aku tiap pagi masak nasi pake magic jar. Semua gampang. Ibuku sudah masak lauk-lauk tiap hari Minggu, taruh kulkas, nanti pas butuh aku tinggal manasin, atau goreng-goreng. Cuma berdua sama ibuku, urusan makan tidak terlalu masalah.”

Aji mendengarkan dengan seksama.

“Sudahlah. Untuk urusan pekerjaan rumah pasti bisa diatur.”

“Iya, sih.”

“Nah, nggak ada masalah kan?”

Aji menggeleng pelan. Tampak dia masih tak yakin masalahnya sesederhana itu. Tapi Aji tak tahu apa yang menggelisahkan hatinya. Diajaknya Juwandi pulang. Juwandi bangkit dari tempat duduknya dengan wajah puas. Pertama, karena dia sangat kenyang siang itu. Kedua, karena Aji tidak menjawab lagi, berarti masalah Aji sudah selesai berkat nasehatnya.

Setelah membayar, Aji mengantar Juwandi pulang. Sampai di rumah Iyem menyambut dengan sapaan manisnya. Aji menatap Iyem dengan tatapan tak biasa.

“Mas Aji makan dulu, Mas. Iyem bikin sayur asem sama gurame goreng.”

Aji menggeleng. “Sudah kenyang Yem. Tadi makan mie ayam. Sore nanti aja aku makan. Sekarang aku mau tidur dulu.”

Iyem mengangguk pasrah. “Eh, Mas.” Iyem tiba-tiba memanggil Aji yang sedang naik menuju kamarnya. “Titipan Iyem sudah?”

“Sudah.” Aji menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Iyem menatap Aji dengan tatapan heran, lalu berbalik ke dapur

Di kamarnya, Aji menghidupkan laptop dan membuka laman Facebooknya, lalu menulis di kotak status,

 

Nggak bisa ngebayangin rumah ini tanpa kamu.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

24 Comments to "Tiga Sahabat (13): Andai Tanpamu"

  1. wesiati  26 June, 2013 at 05:34

    terima kasih, ikuti terus ya…

  2. Prince Parikesit  25 June, 2013 at 20:34

    Halo salam kenal, saya suka sekali cerpen ini

  3. Asianerata  19 June, 2013 at 00:47

    Wesiati…lanjuuttt terus yo…aku pembaca setiamu neh…tiga sahabat itu ngegemesin…kalau deket udah habis tak cubitin

  4. wesiati  17 June, 2013 at 18:29

    pampam kalo nggak baca yang minggu depan dijamin nyesel tenan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.