Menjadi Juara Itu Tidak Mudah

Dwi Klik Santosa

 

Siang tadi, 15/06/13, arena Istora Senayan bagai panggung drama. Cuma bingung rasanya, siapa menjadi sutradaranya? Menyaksikan kawan-kawan kita bertanding di babak semifinal untuk menentukan pertandingan besok, siapa layak jadi juara, betapa menegangkan dan menguasai sepenuhnya emosi. Saya rasa, semua atlet kita sudah bertanding dengan sepenuh daya. Meski didukung dengan fanatisme oleh 6.000 lebih suporter Indonesia, toh, tidak juga menjadikan kemenangan. Dan jika memang akhirnya kalah, ya, begitulah, harus ada menang dan kalah di ranah ini. Musuh yang dihadapi bagaimana pun harus diakui jauh lebih baik dan hebat.

juara01

Lesu terduduk di luar. Tak tahan menyaksikan alur drama di dalam arena

 

Soal kekalahan demi kekalahan, rasa-rasanya banyak pendapat, analisa atau yang lantas diyakini sebagai teori, sepertinya bisa jadi tidak begitu adanya, jika dengan jernih dan cermat kita renungkan. Gagalnya seorang atlet bulutangkis menjuarai itudisebabkan karena begini begitu. Dan sepertinya jika harus kita cerna lagi dari secara langsung menyaksikan di arena, betapa yang tadinya disebutkan sebagai begini, waaa .. masak sih begitu. Yang bisa saja dan biasanya disebutkan sebagai begitu, walaahh apa iya, ya? Tapi yang jelas, semua atlit yang bertanding di arena Istora adalah atlit handal dan mumpuni, yang terbaik dari wakil negaranya masing-masing. Maka tak heran, jika semuanya bagus-bagus dan hebat-hebat. Hanya saja ada satu dari sekian itu yang akhirnya nanti menyandang gelar sebagai juara.

Jika atlet China yang lantas kemudian mendominasi, memanglah harus diakui, mereka bertanding layaknya memiliki kesempurnaan. Selain teknis, stamina dan mental, juga entahlah, seakan-akan memiliki pula hoki atau keberuntungan dalam laganya. Tentu kita tidak akan menyalahkan Belaetrix Manuputty, tunggal putri kita, misalnya, ketika dikalahkan Yip Pui Yin, 21-16,21-23 dan 20-22 di babak perempat final kemari. Dengan dibumbui beberapa fragmen yang ambigu setidaknya sebagai bahan pengamatan, bola yang sepertinya masuk tapi dinyatakan wasit keluar, dan sebagainya. Hal serupa, bisa kita amati pula terhadap setiap performa legenda tunggal putra Malaysia, Lee Chong Wei. Nyaris ia memiliki semua hal kesempurnaan di atas, selama ia bertanding di arena Istora beberapa hari ini. Dan pada pertandingan semifinal tadi siang, meski tunggal putra kita, Hayom Rumbaka bermain all out atau habis-habisan, toh, kelebihan Lee yang komplit itu pula yang pada akhirnya menjadi penentu. Kendati seusai pertandingan, Lee memuji Hayom dengan uletnya perlawanan yang diberikan.

Menjadi hal yang menonjol kiranya, ternyata selama ini mitos bulutangkis dunia itu melulu China, Denmark, Korea Selatan, Indonesia dan Malaysia, ternyata negara-negara Eropa yang dianggap kuda hitam menunjukkan tajinya yang prima. Kekalahan Tommy Sugiarto atas Marc Zwiebler dari Jerman teramat menyolok mata dan sungguhlah membukakan mata. Bagaimana mungkin Marc yang atlet Jerman, nampak setangguh itu. Secara teknis, kiranya Tommy sebagai atlet muda kita, tak diragukan lagi. Setidaknya, sewaktu di babak awal ia mengalahkan unggulan dua dan momok dari China, Chen Long, membuktikan ketangguhan seorang Tommy. Moral dan mental Marc sewaktu mengalahkan Tommy betapa menjadi penentu atas rontoknya stamina putra pemain legendaris kita, Icuk Sugiarto itu, untuk bermain lama-lama dalam setiap rally pertandingan. Kemana shuutlekock melaju, meski sulit dan rumit, dikejar oleh Marc. Dan pada akhirnya, Tommy pun kelelahan sehingga ia melalukan kesalahan sendiri. Kalau bola tidak keluar lapangan, ya, pasti nyangkut di net.

Begitupun, pada pertandingan ganda putra kita, yang menjadi satu-satunya harapan, Mohamad Aksan/Hendra Setiawan, betapa ganda kita ini yang semestinya di atas kertas dijagokan untuk menang mudah, ternyata, harus jumpalitan dan menjalani partai yang keras dan tegang,  dengan skor 20-10, 20-22 dan 21-14, ketika menghadapi ganda putra Rusia, Ivanov/Sozonov yang sekali lagi berposisi sebagai kuda hitam dalam percaturan bulutangkis dunia.

Tidak saja, Rusia dan Jerman yang akhirnya memunculkan lagi kejutan melalui Julianne Schenk yang menggulung Saina Nehwal — juara tunggal putri dua kali berturut-turut Djarum Indonesia Open Premier Super Series, tahun 2011 dan 2012, dengan 12-21, 21-13 dan 21-14 — tapi atlet-atlet India, dan Jepang, rasa-rasanya memiliki kekuatan yang tak kalah tangguhnya. Kita bisa catat, kekalahan jagoan kita, Sonny Dwi Kuncoro yang tak terduga kalah sama Ajay Jayaram, 20-22 dan 12-20, begitupun Taufik Hidayat yang gantung raket dengan tidak indah, karena takluk di babak awal oleh B Sai Praneeth, 21-15, 12-21 dan 17-21.

Merenungkan beberapa fragmen dan peristiwa di arena Istora dalam perhelatan akbar memerebutkan hadiah total 700 ribu USD atau sekitar 7 milyard rupiah ini, bahwa merupakan tantangan tersendiri bagi atlet mana pun di cabang ini untuk layak dan pantas mendapatkan hadiah yang mewah tersebut. Sebagai juara, rasa-rasanya, gelar momok bagi atlet China, Denmark, Korea Selatan, Indonesia dan Malaysia sudah cabar dalam perkembangan mutakhir bulutangkis dunia.  Persaingan sengit tak terelakkan lagi. Dan menjadi bagus saya rasa, karena akan semakin merata dan tidak didominasi melulu oleh negara yang itu-itu saja.

Sangat terbuka pula bagi atlet-atlet bulutangkis kita dalam perkembangannya ke depan. Meski bagaimana pun, apa yang kita lihat dari sejak awal perhelatan, talenta kita cukup kuat dan bisa diharapkan meningkatkan performa dan perkembangan. Semoga saja manajemen PBSI memiliki strategi yang lebih baik lagi untuk mengolah daya dan kemampuan para atlet kita. Sehingga bukan tidak mungkin akan terus melaju menunjukkan kemampuan dan prestasinya. Meski belum juga mentereng mampu menjuarai tingkat Premier Super Series dan Kejuaraan Dunia, namun sejak Januari 2013 di bawah kepengurusan PBSI yang baru, banyak sekali atlet-atlet kita menjuarai kelas-kelas event Grand Prix dan Grand Prix Gold.

juara02

Enam ribu suporter yang antusias dan fanatis, toh, diuji lagi semangatnya untuk mendukung lagi ganda putra kita Mohamad Aksan/Hendra Setiawan pada partai final besok, yang akan melawan kampiun dari Korea Selatan, Ko Sung-hyun/Lee Yong-dae

 

Pondokaren

15 Juni 2013

: 23.oo

 

6 Comments to "Menjadi Juara Itu Tidak Mudah"

  1. Dewi Aichi  18 June, 2013 at 01:33

    Yah…tim kita memang kurang kuat, dulu masanya Icuk Sugiarto, Liem Swie King, merupakan puncak kejayaan badminton untuk tim Indonesia, pasangan susi Susanti dan Alan juga sudah ngga gegap gempita…

  2. Dj. 813  18 June, 2013 at 00:54

    Membaca judulnya….
    Hhhhhmmmmm…. Juara apa dulu….???
    Salam,

  3. J C  17 June, 2013 at 20:51

    Badminton Indonesia sepertinya tidak pernah bisa menyamai masa lalu, dengan beberapa puncak kejayaan: All England, Thomas, Uber dan Olimpiade…

  4. [email protected]  17 June, 2013 at 16:01

    tentunya… REGENERASI lebih sulit…
    blaeh…

  5. Handoko Widagdo  17 June, 2013 at 13:51

    Prinsipnya bermain bola. Jadi kalau bola mulai mempermainkan kita ya jangan dikejar.

  6. Lani  17 June, 2013 at 08:45

    Tentunya mempertahankan “juara” lbh sulit

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *