[Xixi Diary Sang Superstar] Mencari Second Opinion

Masopu

 

Tetes-tetes embun menghiasi pepucukan rumput dan bunga-bunga yang rapi berjajar di halaman apartemen tempat tinggal Xixi. Sejak pulang dari rumah sakit, baru hari ini Xixi terbangun di pagi hari dengan kondisi tubuh yang lebih baik dari yang sudah-sudah. Kemilau warna perak yang membias ketika menyambar embunan di pagi itu begitu indah untuk dinikmati. Nyanyian kenari dan tekukur laksana orkestra hidup di telinganya. Merdu menjalar ke setiap bagian tubuhnya. Relaksasi yang begitu menggodanya untuk terus menikmatinya.

Sejuknya udara di pagi itu mampu membangkitkan semangat baru dalam hidupnya. Merdu kicauan burung piaran tetangganya seperti stimulan yang memacu nyala asa yang sempat terlunta luka. Dibulatkan tekadnya untuk mencari second opinion untuk penyakit yang di deritanya. Apalagi kondisi tubuhnya kini telah membaik. Tak ada alasan lagi baginya untuk bermalas-malasan menunggu kesembuhan tanpa daya dan upaya yang diusahakan.

Masih terus terngiang di benaknya kisah perjuangan dua orang yang terpapar HIV untuk survive melawan kekejaman sang virus. “Jika mereka bisa kenapa aku tidak?” gumam Xixi sambil merapikan baju tidur pink yang membungkus tubuhnya yang telah jauh susut. Terbaring di bangsal rumah sakit selama kurang lebih tiga minggu telah menggerogoti tubuhnya yang padat berisi.

new-dawn

Tapi kini sinar wajahnya perlahan kembali. Kepulangannya telah membantu sinar kecantikannya tersembul bersaing dengan kilau keperakan yang terpapar di ujung embunan pagi. Masakan khas pembantu yang setia menemaninya melewati hari-hari yang melelahkan dalam dekapan penyakitnya begitu nikmat. Nafsu makannya seakan ingin menghabiskan setiap masakan yang disajikan, andai lebar perutnya mampu menampung semuanya. Seperti pagi ini, saat semangkuk bubur kacang ijo buatan sang pembantu membasuhi kerongkongannya, ingin sekali dia menikmatinya beberapa mangkok lagi.

“Buburnya enak banget mak,” puji Xixi pada pembantunya yang berusia seumuran ibunya di kampung sana.

“Ah mbak Xixi bisa saja. Orang buburnya biasa saja kok dibilang enak.” jawab sang pembantu dengan logat jawanya yang medok khas orang-orang jawa timuran.

“Benar lo mak jauh lebih enak dari menu yang aku makan selama di rumah sakit.” kata Xixi sambil merubah arah duduknya menghadap ke pintu di mana si mak berdiri.

“Menu di rumah sakit gak enak kan karena mbak Xixi lagi sakit. Coba kalau sehat, pastinya kan sama saja to mbak.”

“Ah mak ini bisa saja. Oh ya mak, apa pak Daniel sudah telepon pagi ini mak?” tanya Xixi.

“Hari ini beliau gak ada telepon masih mbak. Mungkin lagi sibuk beliaunya mbak.” jawabnya sambil sigap membereskan mangkok bekas Xixi makan bubur tadi.

“Ehm gitu ya mak. Kalau kemarin-kemarin pas aku di rumah sakit beliau sering nelepon kan mak?” tanya Xixi.

“Iya mbak. Hampir setiap hari beliau telepon 3 kali mbak. Tapi ya itu pas mbaknya lagi tidur, jadi mak gak berani bangunin mbak.”

“Ya uadh mak. Mak temenin aku ke rumah sakit lagi ya mak. Aku mau periksa ke rumah sakit yang lain hari ini mak.”

“Mau naik apa mbak? Jangan bawa mobil sendiri dulu ya, mbaknya kan belum sehat benar!” tegur sang pembantu memperingatkan sang majikannya.

“Gak lah mak. Aku mau naik taxi saja. mak mau kan menemani aku?” tanya Xixi penuh harap.

“Iya mbak.” jawab sang pembantu.

Setelah obrolan tersebut, Xixi segera berjalan menuju ke kamar mandi. Segera dibersihkannya tubuhnya. Air yang mengucur dari shower membuat rasa ngilu di tubuhnya yang jarang bergerak berangsur pergi. Rasa ngilu tersebut seakan luruh bersama tetes-tetes air yang terus mengaliri tubuhnya. Dibasuhnya setiap bagian tubuhnya dengan telaten. Tak lupa pijitan-pijitan halus dia lakukan di sekujur tubuhnya tersebut. Benar-benar kesejukan air telah membuainya.

Setelah lebih dari setengah jam Xixi berkutat di dalam kamar mandi, dia keluar dengan berbungkus handuk tebal berwarna putih. Sementara rambutnya yang sepanjang bahu basah oleh bekas guyuran air. Dikeringkannya rambut tersebut dengan hair dryernya. Ketika rambutnya mulai mengering, kilauan warna kepirangan yang menghias rambutnya memantulkan sinar matahari yang menerobos masuk ke ruang tidurnya. Dikenakannya t-shirt pink kesayangannya. Celana jeans hitam ketat membungkus kakinya yang jenjang. Perlahan tangannya menghias wajahnya yang putih merona dengan hiasan tipis. Setelah selesai dia segera keluar kamarnya.

“Mak sudah siap belum?” tanya Xixi ketika telah berdiri di depan kamar pembantunya. Tangan kanannya memegang tas tangan kecil sewarna dengan t-shirt yang dikenakannya. Sementara matanya terlindung di balik gelapnya kacamata hitam yang manis nangkring di hidungnya yang mancung.

“Sudah mbak.” jawab si mak sambil keluar dari kamarnya. Dengan baju batik yang dibelikan Xixi sewaktu ke Jogjakarta beberapa bulan lalu, sang pembantu terlihat berjalan keluar kamar. Xixi takjub, ternyata baju pembeliannya tersebut cocok sekali dengan penampilannya.

“Wah mak terlihat beda dengan baju ini. Aku jadi teringat sama ibuku mak. ” jawab Xixi dengan penuh takjub.

Setelah semua yang dibutuhkan siap, Xixi dan pembantunya segera berangkat menuju rumah sakit yang mereka tuju. Rumah sakit yang mereka tuju adalah rumah sakit terbesar di kota tersebut. Ya Xixi berencana untuk memeriksakan kondisi kesehatannya di rumah sakit yang banyak menjadi rujukan pasien dari berbagai daerah di Jawa Timur bahkan dari wilayah timur Indonesia tersebut. Dengan mengendarai Taxi mereka menuju ke sana.

Begitu taxi memasuki pelataran rumah sakit, Xixi dan pembantunya segera turun dan menuju ke resepsionis rumah sakit. Setelah berbicara sebentar mereka segera menuju ke ruang praktek dokter yang dimaksudkan. Kebetulan waktu masih pagi, sehingga antrean di dokter tersebut tidaklah terlalu banyak. Ketika tiba gilirannya, Xixi menceritakan sakit yang dia keluhkan beberapa hari yang lalu. Sakit yang memaksanya menginap di rumah sakit yang dikelola oleh sebuah yayasan sosial. Diserahkannya pula hasil diagnosa dari dokter di rumah sakit sebelumnya.

Dokter segera memeriksa hasil diagnosa dokter di rumah sakit sebelumnya. Ditelitinya lembar demi lembar hasil diagnosa tersebut. Mulai hasil test darah dan test-test yang lainya semu diperiksa dengan teliti. Matanya tak henti-hentinya memperhatikan setiap detaill dari hasil pemeriksaan sebelumnya.

“Mbak sepertinya hasil pemeriksaan mereka sudah sesuai prosedur. Untuk memastikan apakah mbak benar terjangkit virus HIV ataukah tidak, kami akan melakukan test ulang mbak.” kata sang Dokter sambil menutup hasil diagnosa dokter di rumah sakit sebelumnya.

“Saya siap untuk menjalani serangkaian test lagi dok.” jawab Xixi sambil memperhatikan nama dokter tersebut. Dokter Widodo, nama tersebut menggantng di bagian kiri bajunya.

“Mbak tadi sudah kena asupan makanan belum?” tanya Dokter Widodo.

“Sudah Dok” jawab Xixi singkat.

“Kalau begitu besok saja pemeriksaanya mbak. Mbak besok harus berpuasa dulu sebelum menjalani pemeriksaan,” kata Dokter Widodo. Kemudian dia menjelaskan semuanya dengan terperinci kenapa dia meminta Xixi untuk berpuasa terlebih dahulu. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar, akhirnya Xixi mengerti apa yang dikatakan oleh Dokter Widodo. Setelah itu dia berpamitan pulang sambil berjanji besok akan datang lagi untuk menjalani pemeriksaan. Dokter Widodo mengangguk perlahan mengiring kepulangannya Xixi.

 

Denpasar, 02122011.0400

Masopu

 

5 Comments to "[Xixi Diary Sang Superstar] Mencari Second Opinion"

  1. Dj. 813  18 June, 2013 at 00:41

    Banyak orang yang terkena HIV dan hidup normal.
    Semua juga tergantung cara hidup masing-masing.
    Salam,

  2. J C  17 June, 2013 at 20:52

    PamPam mau kenalan sama Xixi ya?

  3. [email protected]  17 June, 2013 at 15:59

    oooh… XIXI……

  4. probo  17 June, 2013 at 14:23

    ngekor mbak Lani…Doea

  5. Lani  17 June, 2013 at 08:46

    Satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.