Miss Know It All (2)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Mbak Mur sebenernya tidak cantik, bukan aku mau mencela orang, tapi sejujurnya Pakde-lah pembawa bibit jelek. Kalau Bude termasuk cantik, wanita khas Surakarta. Pakde aslinya dari Madiun. Kulitnya gelap, hidung pesek dan bibir penuh. Awalnya Bude sangat tidak disetujui Almarhumah Eyang Putri saat ketahuan menjalin cinta dengan Pakde. Namun itulah cinta walau kami semua bilang Pakde buruk rupa, Bude Isah tetap saja cinta dan setia.

Sayangnya Pakde seperti keblinger, mendadak kaya membuatnya lupa diri dan menjadi sok. Namun sikap Pakde dan Bude secara umum biasa saja hanya gaya mereka yang terlihat serba dipaksakan. Beda dengan Mbak Mur, dia sekarang lebih cenderung meremehkan orang lain. Kami sepupunya tak ada yang luput dari hinaannya, baik diucap halus maupun kasar.

Misalnya anak Bulek Tini, Yunus yang sekarang kelas 12 dan paling anti bertemu Mbak Mur. Bocah ABG itu dihina Mbak Mur sewaktu liburan ke Jakarta bersama Bulek Tini dan Ibuku. Kata Mbak Mur bau badannya Yunus mirip kuli pasar, padahal itu sama sekali tidak benar, aku pun kesal waktu mendengar kejadian itu melalui Yunus yang sakit hati.

Lalu Vita, adiknya Yunus, dia dibilang tampilannya asli cewek udik, padahal bagiku kita biasa saja alias ukuran umum, tidak miskin melarat apalagi sampai norak. Tapi sejatinya Mbak Mur-lah yang udik, bagaimana bisa dia nyekar ke makam Eyang Putri dengan memakai gaun terusan bertali satu dengan make up seperti ronggeng? Dengan menenteng tas kecil penuh hiasan payet berkilau??

Intinya kami sekeluarga sudah tidak akrab dengan Mbak Mur. Dan gara-gara Job Training aku terpaksa satu rumah dengannya.

*****

“Haiiii pagiiiii, gud marning evi bodi (maksudnya everybody), udah pada siap yaa? Marning Mamiiiii”, Mbak Mur muncul ke teras untuk bergabung sarapan pagi. Aku nyaris tersedak potongan roti saat melihat tampilan Mbak Mur.

Baju tidur bahan satin sebatas paha warna lavender dirangkap dengan mantel dari bahan yang sama yang di sekeliling lehernya terdapat bulu bulu warna putih. Tak lupa sendal kamar Hello Kitty warna pink.

Aku juga baru menyadari kini Mbak Mur memanggil Ibunya dengan Mami dan Bapaknya dengan Papi. Apa aneh kalau kita memanggil Bapak dan Ibu?? Toh tadinya dia menyebut orang tuanya dengan Bapak dan Ibu.

“Ihh Ana?! Kenapa melotot liat aku? Iri ya liat gaun tidur aku? Ini persis kayak yang dipake Rohana, Debby sama Ida sahabatku bilang aku cantik dengan gaun ini.

Aku menunduk, ingin kugigit lidahku agar tawa yang ingin meledak ini hilang. Baru 10 menit muncul Mbak Mur bagai komedian sukses yang siap mengocok perut. Sudah dicekoki MARNING lalu EVI BODI lalu Rihanna jadi Rohana, dan dia merasa cantik dengan warna lavender yang nampak sangat aneh di kulitnya yang gelap.

Sungguh aku tidak kuasa menahan tawa, aku belagak pamit ke kamar mandi dan di sana aku tertawa tertahan hingga perutku sakit. Aduh Mbak Mur lebih baik diam, dalam hal ini pepatah diam itu emas akan tepat sekali rasanya.

****

“Nduk, hari ini kamu ada acara? Kalo Bude sih mau ke salon, biasalah mau shooting”, Ujar Bude sambil memoles roti dengan mentega.

Aku kurang paham? Lalu aku pun menjawab, “Shooting apaan Bude?”

Dan Mbak Mur kembali bersuara dan dia juga tertawa terkikik seolah aku ini melakukan hal bodoh, “Ampun deh ih!! Diana kampungan ndesooo!!! Itu lho maksud Mami aku ……. shooting yang rambutnya biar keliatan lembut dan halus gicu! Di Solo apa ndak ada??”

Kali ini aku benar benar nggak kuat menahan tawa, aku segera terbatuk batuk agar tawa itu tersamar. Ada apa sama keluarga ini? Kenapa sih harus melucu kalau nggak mau disebut pelawak? Lha bilang SMOOTHING aja jadi SHOOTING!!

“Aku siang ini mau jalan sama teman dari Jakarta De, Vina sama Mira. Aku dijemput kok sama mereka, rumah Mira ndak jauh dari sini”, Aku pun bicara dengan sok serius, rasa ingin tertawa masih terasa kuat.

Bude mengangguk tanda paham dan justru Mbak Mur mulai penasaran, “Lhoo kamu punya temen di Jakarta? Dari desa juga?” Tanya Mbak Mur sambil menandangi wajahnya di cermin kecil.

“Bukan Mbak, mereka asli Jakarta, yang satu sekolah mode dan yang satu udah kerja di bidang interior dan arsitektur. Aku mau diajak jalan ke Mall, kata temenku dia diundang ke butik yang baru pindah lokasi”, Aku menjawab lugas.

Mbak Mur melirikku penasaran tapi dia belagak acuh. “Ohh gitu? Lha aku boleh ikut ndak??? Yaa bukan apa apa sih, aku kan pengen juga ngajak kamu liat liat mall mewah”.

Sebuah permintaan yang tak aku bayangkan tiba-tiba terjadi, aduh aku harus izin Mira dan Vina dulu, kacau nih Mbak Mur. “Nanti ya Mbak, aku tanya temenku dulu, aku coba telpon dulu ya?”.

“Yo wes sana ndang ditelpon, bilang aja Mbakmu yang namanya Murtiarti mau ikut, mereka pasti tau aku kok kalo mereka tuh anak gaul”, Ujar Mbak Mur dengan rasa percaya diri setingkat dengan Syahrini.

*****

“Matiiiii akuuuu, Mbak Mur mau ikut Mir, gimana nih??!! Asli aku kok jadi lemes sama merinding gini ya?”, Aku bicara dengan Mira melalui telepon.

Mira bukannya panik malah tertawa terbahak-bahak, “Ajak aja say, asiiik ada hiburan!”.

Aku justru melongo, “Mir maksudmu apa? Kamu tau kan? Mbak Mur itu OKB, bakal malu deh kita”.

“Santai aja cwin, asal kamu tau, aku sama Vina paling hobi ngerjain yang kaya gitu, tapi inget kamu kudu bisa nahan ketawa ya? Jangan kaget kalo aku sama Vina mendadak katrok deh” Ujar Mira dengan semangat.

Aku kembali ke teras belakang dengan tetap tidak paham rencana Mira, tapi sejujurnya aku yakin bakal kocak, aku harus bawa saputangan agar bisa kusumpal mulutku kalau mau ketawa.

*****

Mbak Mur melirik ke arahku dengan sok anggun, lalu dia bicara bagai seorang Gusti Kanjeng, “Hmmm udah nelponnya? Gimana? Boleh donk aku ikut?”.

Aku tersenyum, “Boleh kok Mbak, jam sebelas kita dijemput Mira dan Vina”, Aku bicara sambil melanjutkan sarapanku.

“Ohhh emm jiii, aku harus dandan nih bisa nggak keburu, mendadak banged ngasih taunya, aku butuh 4 jam lho untuk berias”, Dan Mbak Mur lari-lari kecil menuju kamarnya, tak sabar menyulap dirinya menjadi seorang putri, sementara aku melongo, lha siapa juga yang ngajak dia ckckckckck…

****

Siang itu kita berempat sudah duduk manis di dalam mobil milik Mira. Dan tidak sampai 15 menit kemudian Mbak Mur mulai bicara ngalor ngidul alias berkeluh kesah tapi juga pamer.

“Ampun deh ihhhh!!! AC-nya nggak terasa dingin, kenapa juga sih harus beli mobil Jepang? Kaya akyu tuh kalo naik mobil biasanya Alfred, luas dan canggih! Tau gitu mending pakek mobil akyu aja deh”, Celoteh Mbak Mur sambil mengipas ngipas wajahnya dengan kipas kecil yang dibawanya.

Mira mulai melancarkan aksinya, dan aku mulai menggigit bibir agar tawaku tak menyembur begitu saja. “Aduhhh Mbak! Bukannya ALFRED itu buatan China? Kan bagusan mobil ini yang buatan Jepang?”

Mbak Mur nampak masam dan agak mencibir, “China gundulmu! Itu jelas buatan Jerman, mangkanya gaul ah! Ndeso jangan dipiara”, Sahut Mbak Mur. Dan kulihat wajah Vina merah menahan tawa, dia sempet sempetnya SMS aku bilang, “Gila ya Mbak Mur asli sotoy, Lha kenapa jadi buatan Jerman? Jelas-jelas Toyota!! Heran deh! Kenapa Alphard jadi Alfred??”

Aku membuang muka keluar jendela sambil terus menggigit bibir, perutku sakit karena menahan tawa dan tiba-tiba Mbak Mur mencolekku, “Kamu kenapa sih? Kok gigit bibir?? Sariawan ya?”.

Aku agak gelagapan lalu buru-buru ku jawab, “Aku pengen pipis Mbak”, Suara yang keluar terdengar agak sengau aneh karena aku tetap berjuang menahan tawa. Ahh sungguh siksaan harus menahan tawa.

*****

Setiba di Plaza Indonesia Mbak Mur kembali berceloteh, “Duh ini mall kok biasa banged ya? Nggak kaya waktu di Singapur, tapi demi kalian ya sudah aku ngikut aja”.

Kini Vina mulai bicara, “Iyah lho, ini asli kumuh, waktu aku ke Somalia ihh mall-nya keren banged deh”.

Mbak Mur langsung reaksi cepat, “Oh yaa? Somalia pasti kotanya keren banged ya? Aku kayanya harus liburan ke sana deh, duuhhh!!! Susah amat ya mau liburan, maklum aku sibuk sekalee”.

Aku buru-buru menggandeng Mira agar berjalan di depan, Mira melirik wajahku yang merah padam karena menahan tawa. Dan akhirnya kita tiba di butik Gucci. Sejujurnya ini kali pertama aku memasuki butik mewah. Dan seorang pria muda memakai jas hitam membukakan pintu kaca, kami masuk dan langsung berada di antara koleksi indah.

toko-gucci

Mira dan Vina melihat lihat tas yang dipajang dengan cantik, lalu juga ada koleksi sepatu dan segala urusan fashion lainnya.

Saat aku melihat harga sebuah tas, aku nyaris memekik, harganya sangat tak terbayangkan, 27 juta rupiah??? Hanya sebuah tas? Dan tiba-tiba Mbak Mur berceloteh dengan suara yang cukup kencang, “Ih disini harga kok mahal-mahal yaa? Aku punya lho tas ginian, ada kali tuh 11 biji! Nggak semahal ini, palingan 500 ribu sampai 1,5 juta.

Aku sebenarnya malu, salah satu shop assistant memandang ke arah kami, namun akhirnya aku pura-pura melihat lihat lagi. Mbak Mur kembali berkisah, “Nih tas aku yang sekarang aku pake, ini buatan Mat Jakop lho! Tuh tadi kita lewatin tokonya, yakin deh lebih mahal! Ini akyu beli cuma 400 ribu”.

Vina tiba-tiba muncul diantara kami, aku pun merasa terselamatkan, “Opo tho Mbak? Tas kamu kenapa?”. Vina bicara kearah Mbak Mur dengan wajah sok serius sambil merangkul pundakku dan pundak Mbak Mur.

“Ini lho si Diana kan gak tau harga apalagi mode, lha aku kasih tau dia tas Mat Jakop yang aku beli ini cuma 400 ribu, lha coba beli di sini? Pasti mahal gitu deh”, Ujar Mbak Mur sambil membedaki wajahnya yang nampak berminyak.

“Ohhh tas Marc Jacobs? Emangnya Mbak punya rahasia apa sih kok kalo belanja dikasih murah?”, Sahut Vina dengan wajah lugu.

Mbak Mur makin aksi, “Hmm pastinya kita harus nawar dan jangan lupa ya kita beri senyuman yang manis pada penjualnya”, Dan Mbak Mur seraya memamerkan senyumnya yang tidak manis berikut lipstik yang mengenai giginya.

Ingin kumasukan kepalaku ke dalam salah satu tas yang ada di depanku, kalau ini acara komedi, aku yakin ini benar-benar sukses. Dan tanpa diduga Mbak Mur mengambil tas yang dihargai 18.500.000 dan mendatangi shop assistant dengan gaya sok anggun.

“Mas?! Tas yang ini boleh kurang??? Biasanya cuma 1,5 juta lho, gimana? Buat langganan nih? Kurang dikitlah ini kan 1.850.000”, Sambil bicara genit Mbak Mur tersenyum. Shop assistant menarik nafas dan bicara.

“Maaf sekali Ibu, ini semua harga pas dan tidak bisa ditawar, lagi pula tas itu harganya 18.500.000 bukan 1.850.000”, Shop assistant bicara dengan sopan namun tegas.

“Talk to my band!!! Ibu??? Helloooo akyu ini masih 24 taon gitu loch!!!”, Pekik Mbak Mur kesal.

Aku hampir pingsan menahan tawa, Vina sudah berlutut di lantai sambil memegangi perutnya, “Anjriiit dia bilang Hand kok jadi Band? Asli Na sepupu kamu lucuuuu”.

*****

“Masyaallah ada apa sih? Kayanya geli banged??? Nih aku beli tas satu, lucu deh warnanya. Aku milih Biru muda bahan semi canvas trus talinya kulit coklat. Asli keren banged”, Mira muncul sambil menenteng tas yang memang cantik sekali berukuran agak besar.

Aku memandang kagum tas itu, tapi bagiku harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan kondisiku. Paling murah tas bisa 7 jutaan. Wah bisa buat ngapain aja duit segitu.

Dan Mira kembali sibuk bersama seorang shop assistant yang sedang mengemas tas itu kedalam kotak dan sekaligus membuat bon. Vina mengajakku keluar dan Mbak Mur mengekor saja. “Tuh Mira udah mau selesai, kita keluar aja yuk”.

*****

Kami berjalan menuju sebuah restoran Jepang, sebenarnya aku kurang suka namun ingin membantah rasanya tidak sopan, Mira dan Vina dari awal seperti sangat ngidam menu masakan Jepang.

Mbak Mur agak cemberut berjalan di belakang kita. Berkali-kali dia melirik kantong belanja milik Mira yang nampak mewah berwarna coklat tembaga bertuliskan Gucci. Aku sih mengira pasti Mbak Mur heran dia tidak mendapat kemasan seperti itu padahal dia juga membeli merek Gucci ….. Di Mangga Dua.

Kami duduk mengelilingi meja, dan aku memilih hidangan yang kiranya masih ‘aman’ di lidahku, tentunya aku dibantu Vina dan Mira dalam memilih menu. Mbak Mur hanya ‘copy paste’ pesananku, jelas dia tidak paham makanan Jepang.

Tiba-tiba Mira mengelurakan kotak agak kecil ukuran sekitar 10×20 cm yang diselipkan dalam kantong Gucci yang lumayan besar. Dan dia bicara kepadaku, “Diana, aku sama Vina menemukan sesuatu untuk kamu yang ada dalam kotak ini, buka deh”, Mira bicara dengan manis sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna gelap kehijauan dengan tulisan Gucci di atasnya.

Aku jujur saja gemetar, dan ku buka pelan pelan dan sebuah dompet panjang buatan Gucci tiba-tiba ada di depanku! “Ahh Mira? Vina? Maksud kalian apa? A … Aku …”, Aku bicara gagap dan gemetar. Dompet ini tadi ku lihat berharga hampir 4 juta.

“Diana, it’s your very own Gucci … Take it, itu hadiah dari aku sama Mira karena sekian lama kita bersahabat kamu selalu sama tak pernah berubah dan itu lebih dari apapun”, Ujar Vina.

“Iyah kami senang bersahabat dengan kamu Na, baik hati dan apa adanya dan kamu itu manusia tulus yang tak memandang orang dari harta atau status sosialnya”, Lanjut Mira seperti menyindir Mbak Mur secara halus.

Aku sangat terharu, airmata menetes begitu saja, tak ku kira ada orang yang begitu tinggi menilai diriku yang serba biasa saja. Kami bertiga segera berpelukan sementara itu sempat ku dengar Mbak Mur ngedumel, “Dasar ndeso! Entuk dompet ngono wae mewek!! Aku yo iso tuku 10 …. Neng Mangga Dua luweh murah!!!”

 

18 Comments to "Miss Know It All (2)"

  1. Matahari  20 June, 2013 at 01:50

    Penulisnya tidak muncul mucul….

  2. probo  19 June, 2013 at 23:05

    nak-sanake Tumpuk ki mesthi…..

  3. Dj. 813  19 June, 2013 at 14:00

    Matahari Says:
    June 18th, 2013 at 19:31

    “Ibu Matahari bisa melawak juga ya….
    Pak Djoko….ha ha ..habis…mbak Mur nya lucu sih…semua semua diputar balikkan…harusnya mbak Mur kursus bahasa Inggris dan bahasa Perancis dulu heheheh

    —————————————————–

    Ibu Matahari…
    Selamat Pagi dari Mainz…

    Hati-hati, jangan sampai ketularan mbak Mur….
    Hahahahahahahahaha….!!!!

    Jangan sampai nanti kalau mau beli Guci ( gentong ) di P.Lombok yang terkenal nyarinya jangan di Mangga tiga ya…. hahahahahaha…!!!

  4. Matahari  19 June, 2013 at 13:55

    Kita tunggu saja mbak Mur akan beli Mesin GUCCI….upsss mesin cuci

  5. Lani  19 June, 2013 at 07:46

    4 AH : Mur itu PEDE nya ruaaaaaaaaaaar biasa bablassssssssss wes

  6. Asianerata  19 June, 2013 at 04:13

    hehehe Mat Jakop buatan mangga dua….anjrittt ahh *ikutan puspita gebleg*

  7. Alvina VB  19 June, 2013 at 01:11

    Ha..ha…..memang lucu banget kl nemuin org2 spt mbak Mur ini, ini cerita kayanya based on a true story kali ya…… he..he…he….

  8. anoew  18 June, 2013 at 22:04

    Woalaaah baca lagi di sini tetep masih ngakak

    Muuuur, Mur..! Sana pulang ke ndesomu aja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.