Hidup Sehat Bersama Tanaman Obat

Gunawan Budi Susanto

 

DULU, ada istilah amat populer: apotek hidup. Itulah taman, kebun, atau sekadar setumpak tanah di pojok pekarangan rumah, di antara kerimbunan pohon pisang, jeruk, jambu. Dan, setumpak tanah itu ditanami aneka rempah dan tetumbuhan: jahe (Zingiber officinale), laos atau lengkuas (Orthosiphon stamineus), kencur (Kaempferia galanga L), kunyit (Curcuma longa), seledri (Apium graveolens L), kucai (Allium tuberosum Rottl ex Spreng), kenikir (Cosmos caudatus), serai (Cymbopogon nardus), dan lain-lain. Itulah sumber bumbu dapur sekaligus sumber obat alami.

Ya, Anda tak perlu panik jika saat memasak jari tersayat pisau. Ambil  dan oleskan kencur atau getah batang daun pisang ke luka itu. Agak perih memang. Namun tak seberapa lama, darah yang mengalir dari luka itu berhenti dan luka pun mengatup. Lebih afdal, jika setelah itu, Anda tutup luka dengan gumpalan bak kapas dari sarang sejenis laba-laba yang acap tertempel di dinding kayu rumah atau para-para. Gumpalan bak kapas putih nan lembut itu mempercepat pemulihan dari luka teriris pisau di tangan Anda.

Kini, nyaris tak terdengar lagi istilah apotek hidup terucap atau tertulis. Namun, tak perlu khawatir, ada gantinya: kebun tanaman obat keluarga (toga). Istilah itu amat sering terlontar dalam kegiatan para ibu anggota PKK di kampung, desa, dan kota. Kebun toga adalah penjelmaan ulang apotek hidup.

Banyak, teramat banyak, pepohonan dan tanaman yang bisa digunakan sebagai obat. Namun kita acap lupa, acap abai, tak peduli. Bahkan tak mau kenal. Tak ayal, banyak tanaman menghilang, lenyap, punah, entah lantaran tak sengaja terbabat ketika kita membersihkan pekarangan atau karena begitu intensif dan ekstensif alih guna lahan.

Padahal, ada ribuan! Paling tidak itulah yang terhimpun dalam buku Cabe Puyang: Warisan Nenek Moyang tiga jilid susunan Sudarman Mardisiwojo & Harsono Rajakmangunsudarso (Jakarta: Karya Wreda, cetakan kedua, 1975). Ya, dalam buku itu, misalnya, untuk mengatasi mencret kita bisa mengonsumsi ramuan tepung ganyong (Canna edulis), kulit manggis (Garcinia mangostana), rimpang kunyit, daun jambu biji (Psidium guajava), daun salam (Syzygium polyanthum), getah sonokembang atau angsana (Pterocarpus indicus). Anda mengidap kencing manis? Atasi dengan biji duwet atau jamblang (Syzygium cumini), biji petai china (Leucaena leucocephala), buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L), buah mengkudu (Morinda citrifolia L), daun sambilata (Andrographis paniculata Ness), daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus), daun sembung (Blurnea balsamifera), daun lidah buaya (Aloe vera atau Aloe barbadensis Milleer).

tanaman-obat

Haruskah kita kehilangan apotek hidup lantaran abai, ketidakpedulian? Sedangkan Singapura, yang liliput pun merasa perlu mempunyainya: at-sunrise globalchef academy

 

Nah, menggembirakan pula, kini muncul kecenderungan makin banyak orang mengobati diri dari serangan penyakit dengan berbagai obat tradisional, simplisia, atau herbal. Pengobatan herbal itu pada sebagian orang menjadi alternatif ketika hasil pengobatan medis secara modern seolah-olah mentok. Tak kunjung sembuh. Namun ada pula yang memilih pengobatan herbal sebagai pelengkap, komplemen, dalam pengobatan medis.

Lepas dari motif yang mendasari pemilihan obat itu, kini makin banyak pula dokter bersertifikasi pengobatan herbal. Di Jawa Tengah setidaknya ada hampir 125 orang dokter semacam itu; yang setelah memeriksa dan mendiagnosis penyakit seseorang, lalu menulis resep berupa berbagai ramuan alami. Dan, apoteker atau asisten apoteker yang akan meracik ramuan itu menjadi obat yang siap dikonsumsi pasien yang memeriksakan diri.

Jadi, tunggu apalagi? Buang keraguan Anda, dan mari: hidup sehat bersama tanaman obat di sekeliling kita.

Gunawan Budi Susanto

(Laporan Utama, Suara Merdeka, Minggu, 16 Juni 2013, halaman 1)

 

10 Comments to "Hidup Sehat Bersama Tanaman Obat"

  1. EA.Inakawa  23 June, 2013 at 03:24

    Yang alami yang bermanfaat , sulitnya setiap sakit kita ingin sembuh secara instant dengan obat siap saji……terima kasih atas artikel yg bermanfaat sangat ini. salam sejuk

  2. Dewi Aichi  21 June, 2013 at 02:58

    Tulisan ini sungguh sangat bermanfaat Kang Putu….terima kasih, sebagai ucapan terima kasihku, nanti kita ketemu di zebra cross ya….trus ke warung Pak Mungkin, kita minum kopi herbal he he..

  3. Matahari  20 June, 2013 at 22:27

    Pak JC saya juga percaya dengan beberapa tanaman yang bisa menyembuhkan penyakit….saya hanya heran apa dokter boleh membuat resep berupa rempah rempah dan tanaman ..dan pasien memeberikan resep itu ke apotik agar di racik…Di Eropa banyak orang memakai obat herbal tapi atas kemauan sendiri….bukan dalam bentuk resep yang mana kalau sudah dalam bentuk resep artinya …obat itu memang tepat….

  4. Dj. 813  20 June, 2013 at 21:25

    Kang Putu…
    Terimakasih….
    Menanam tanaman itu sendiri, sudah sangat menyenangkan.
    Membikin lingkungan semakin asri dan sejuk.
    Terlebih kalau bisa menggunakan sebagai obat ( kalau memang tahu khasiatnya )
    Dj. harap setiap orang juga harus hati-hati, jangan asal berbuat, seandainya belum tahu benar.
    Nanti malah keracunan…. hahahahahahaha….!!!!
    Jelas, kalau seperti rempah-rempah, walau kurang tahu sebagai obat, tapi untuk masakan membikin
    menjadi lebih berselera.
    Seperti kalau Dj. masak ( sok bisa masak ) bawang merah dan bawang putih, tidak pernah ketinggalan.
    Entah khasiatnya apa, yang jelas bikin makanan, makin enak…. benar kan…???
    Sorry bagi yang tiidak suka bawang.
    Atau juga kalau masak ikan, agar bau amis nya sedikit berkurang, maka sereh dan daun jeruk, akan
    membantu jadi harum…. Mudah-mudahan juga ada khasiatnya.

    Terimakasih dan salam,

  5. anoew  20 June, 2013 at 21:12

    Saya akan sakit bila di dekat saya tidak ada tanaman khusus.

  6. J C  20 June, 2013 at 20:49

    Ibu Matahari, dengan menyesal saya harus mengatakan, bahwa saya kadar percaya saya dengan lembaga-lembaga seperti itu belum 100%, karena dalam beberapa kasus masih bisa “dibeli”. Saya lebih percaya kepada para herbalist yang sudah teruji, berakhlak baik dan reputasi yang bagus.

    Beberapa tahun belakangan, sangat jarang saya bawa anak-anak ke dokter jika hanya flu, batuk, pilek biasa…

  7. Matahari  20 June, 2013 at 14:30

    “Lepas dari motif yang mendasari pemilihan obat itu, kini makin banyak pula dokter bersertifikasi pengobatan herbal. Di Jawa Tengah setidaknya ada hampir 125 orang dokter semacam itu; yang setelah memeriksa dan mendiagnosis penyakit seseorang, lalu menulis resep berupa berbagai ramuan alami. Dan, apoteker atau asisten apoteker yang akan meracik ramuan itu menjadi obat yang siap dikonsumsi pasien yang memeriksakan diri.”..

    Lantas diberikan ke pasien tanpa ijin dari suatu lembaga yang meneliti obat? Mungkin di Indonesia namanya BPOM ( Badan pengawas obat dan makanan)…

  8. Linda Cheang  20 June, 2013 at 10:05

    aku pengguna apotek hidup. baik yang dari kebun sendiri atau yang sudah berupa simplisia.

  9. Lani  20 June, 2013 at 08:21

    Sangan disayangkan klu tanaman “apotek hidup” sampai lenyap…….krn apotek hidup ini adl obat alami yg dpt digunakan sbg obat alternatif

  10. Lani  20 June, 2013 at 08:02

    satoe tanaman obat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *