Su’i Uwi: Sebuah Contoh Perjumpaan Budaya Lokal dengan Gereja

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Su’i Uwi: Ritus Budaya Ngadha Dalam Perbandingan Dengan Perayaan Ekaristi

Penulis: Cristologus Dhogo

Penerbit: Penerbit Ledalero

Tebal: xvii + 250

ISBN: 978 979 9447 65 4

sui-uwi

Agama-agama Ibrahimic, kecuali Agama Yahudi, memiliki sifat ekspansif. Agama Kristen, Katholik dan Islam berupaya untuk menjadikan pihak lain menjadi bagian dari umatnya. Dalam proses perluasan, agama-agama tersebut mau tidak mau mereka mengalami perjumpaan dengan budaya-budaya lokal yang sudah lebih dulu ada di tempat tersebut. Tidak semua perjumpaan itu berjalan mulus. Sering terjadi pemusnahan atau penentangan yang luar biasa. Namun ada juga beberapa kasus yang perjumpaannya berjalan mulus dan bahkan menyatu menjadi sebuah prosesi baru. Upaya-upaya untuk menyatukan budaya lokal ke dalam gereja, umumnya disebut sebagai inkulturasi.

Perbincangan tentang bagaimana sebaiknya agama-agama pendatang memerlakukan budaya setempat adalah sebuah topik yang hangat, dan akan tetap terus hangat. Dalam hal Agama Kristen dan Katholik, perjumpaan dengan budaya-budaya lokal telah mengalami perkembangan ke arah yang semakin menghargai budaya lokal. Jika pada awalnya mereka menganggap bahwa budaya lokal adalah budaya yang tidak sesuai dengan Kerajaan Allah, maka lambat namun pasti, gereja mulai terbuka bahwa di budaya-budaya lokal tersebut terdapat cahaya Allah di dalamnya. Gereja semakin berupaya untuk belajar tentang budaya lokal tersebut dan merangkulnya menjadi bagian dari budaya Kerajaan Allah yang satu. Gereja menyadari bahwa karya Allah dalam Yesus Kristus tidak bisa hanya dibatasi dengan budaya dimana Kristus hidup, atau budaya Eropa (dan Romawi) dimana gereja mula-mula menjadi besar.

Salah satu perjumpaan gereja dengan budaya lokal terjadi di Ngadha, Flores. Jauh sebelum Agama Katholik masuk ke Ngadha, orang Ngada sudah mempunyai budaya dan ritual sebagai hasil pergumulan mereka dengan alam (dan Allah)-nya. Budaya yang tercipta dalam rangka mempertahankan hidup itu menjadi suatu ritual untuk menghormati ‘kekuatan’ yang menjaga mereka. Salah satu budaya tersebut adalah perayaan Su’i Uwi.

Dalam upaya untuk menghilangkan prasangka bahwa ritual lokal adalah ritual yang bukan bagian dari Kerajaan Allah dan ritual gereja adalah ritual impor bagi masyarakat lokal yang tidak bermakna, Cristologus Dhogo berupaya mencari titik temu antara ritual Su’i Uwi dengan perayaan ekaristi.  Su’i Uwi adalah perayaan ucapan syukur orang Ngadha. Sebagai orang Katholik dan sekaligus orang Ngadha, mereka mempunyai dua puncak ucapan syukur. Sebagai orang  Ngadha, puncak ucapan syukur mereka adalah perayaan Su’i Uwi; sedangkan sebagai umat Katholik puncak perayaan ucapan syukur mereka adalah perayaan ekaristi. Apakah kedua puncak ucapan syukur tersebut bisa dipersatukan?

Cris Dhogo menjelaskan dengan panjang lebar ritual Su’i Uwi dan maknanya bagi orang Toda di Ngada. Cris berupaya mencari kesesuaian antara perayaan Su’i Uwi dengan perayaan ekaristi. Cris Dhogo berkesimpulan bahwa ada banyak kesamaan antara ritual Su’i Uwi dengan perayaan ekaristi, meski Cris juga menemukan beberapa hal yang masih berbeda.

Cris Dhogo merekomendasikan supaya kedua belah pihak (gereja dan masyarakat Toda) sama-sama terbuka supaya inkulturasi bisa berjalan dengan lancar.

Upaya yang telah dilakukan oleh Cris Dhogo ini perlu didukung supaya agama-agama impor bisa lebih membumi di Nusantara. Masih banyak kesalah-pahaman antara agama dan budaya lokal. Misalnya ritual orang Punan untuk memanggil buah dan binatang buruan, masih dianggap belum selaras dengan ajaran gereja. Upaya inkulturasi baru bisa berjalan apabila para penganut agama tidak apriori pada budaya setempat dan tidak membatasi karya Allah hanya pada budaya dimana agama tersebut berasal. Semoga damai dari Allah melingkupi semua umat manusia dan budayanya.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

52 Comments to "Su’i Uwi: Sebuah Contoh Perjumpaan Budaya Lokal dengan Gereja"

  1. Handoko Widagdo  23 June, 2013 at 07:40

    Terima kasih untuk sharingnya EA Inakawa. Marilah kita upayakan supaya kebebasan beragama di Indonesia semakin meningkat.

  2. EA.Inakawa  23 June, 2013 at 04:56

    @ Pak Handoko : di RD. Congo Pemerintah memberikan kebebasan berkembangnya berbagai Agama, setiap orang bebas memilih Agamanya, ada beberapa agama yang ditempat lain tidak dibenarkan (seperti Ahmadiyah – Darul Arqam – Aga Khan ) tetapi disini berkembang dan bersanding aman dengan Agama lainnya. Pemerintah RDC memberi kebebasan sepanjang sesama UMMAT tidak melakukan keributan, saling menghormati Agama lainnya dan TIDAK merongrong Pemerintahan.

    Sejatinya : Agama adalah system yang mengatur keyakinan & Tata Cara peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Budaya adalah kebiasaan nenek moyang yang dilestarikan secara turun temurun.
    salam H

  3. Handoko Widagdo  22 June, 2013 at 11:27

    Agama sering menjadi bungkus yang rapi dan menarik untuk kegiatan-kegiatan yang kotor. Itulah sebabnya agama harus introspeksi supaya tetap bisa menjadi alat Tuhan untuk menyejahterakan manusia.

  4. Lani  22 June, 2013 at 10:19

    41 KANG CHANDRA : aku setuju dgn pendptmu iki……….tp kapan ya bs terlaksana?????

  5. Lani  22 June, 2013 at 10:18

    HAND : namanya bisnis………bs lewat jalan apa saja, bahkan agama pun bs dibisniskan……….krn mrk hanya melihat sisi duit dan duit dan keuntungan to?????? jd ora gumun aku……….yg penting aku ora melu2 titik!

  6. Handoko Widagdo  22 June, 2013 at 10:15

    Linda, agama memang sangat mudah ditumpangi oleh kepentingan bisnis.

  7. Linda Cheang  22 June, 2013 at 09:24

    Pak hand, jualan ‘naik haji’ ke Yerusalem, sudah ada yang pake metode MLM…

  8. Handoko Widagdo  21 June, 2013 at 14:07

    Saat ini banyak gereja ikut jualan naik haji ke Yerusalem!

  9. J C  21 June, 2013 at 07:50

    Kang Chandra, lha itu malah Kemenag tiap tahun dodolan agama (naik haji) gitu…piye kuwi?

  10. chandra sasadara  21 June, 2013 at 07:30

    Stuju negara ga perlu urus agama warganya. Negara hanya perlu jamin warga bebas memili keyakinan dan menjalankanya dg aman tanpa gangguan. Karena itu lembaga klerik yg kluarkan fatwa ini dan itu harusnya juga ga perlu ada, termasuk kemenag..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.