Pak Erte dan (bukan) Bu Erte

Fire – Yogyakarta

 

“Maaf ada tamu datang … Nanti saya telpon lagi ya..”, begitu interupsi di saat saya sedang ngobrol di telpon dengan rekanku, sebut saja Pak Rus.

Di kesempatan lain Pak Rus cerita, tadi adalah tetangganya yang sedang mengurus surat-surat untuk keperluan tertentu. Begitulah salah satu kesibukan baru Pak Rus, setelah beberapa bulan yang lalu “dilantik” menjadi Ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya. Ketika ditanya mengapa tidak warga lainnya, apa nggak ada yang lain yang lebih pantas (he he … sambil nyindir Rak Rus). Jelas Pak Rus, “Soalnya pas warga pada kumpul buat rapat, ternyata semua yang jauh lebih senior dari saya sudah dapat giliran jadi Ketua RT, jadi mau nggak mau ya tinggal saya yang ketiban sampur. Nggak pake pilih-pilihan tapi aklamasi gitu …” Dan tanpa banyak seremoni stempel RT pun berpindah ke Pak Rus.

“Nanti kalo ke rumahku, jangan kaget ya, banyak karung beras”, kata Pak Rus. Saya pikir apa itu dagangan istrinya, karena selain Pak Rus kerja kantoran, sang istri punya banyak samben nggak tetap, entah itu njualin barang saudaranya, jadi semacam “reseller”, pokoknya yang masih berhubungan dengan jualan, meski tidak buka toko. “Bukan, itu beras raskin”, kata Pak Rus yang rupanya kebagian tugas mengurus pembagiannya. Untuk beras raskin tersebut, ada kebijakan yang disepakati bersama, karena ternyata jumlah warga yang berhak, melampaui jatah beras yang tersedia. Hanya saja berkaitan dengan rencana bantuan langsung tunai yang bakal digelontorkan pemerintah tahun ini, Pak Rus dan para Ketua RT lainnya sudah rasan-rasan potensi permasalahan yang bakal timbul. Bukan cuma yang ngaku mendadak jadi miskin, tapi juga “mendadak jadi warga”. Dan ujungnya para Ketua RT yang akan puyeng. Statistik jothakan dan nggak wawuh bakal melejit.

Menjadi Ketua RT, Pak Rus memang mesti mengalokasikan waktu untuk melayani warga dan tugas-tugas lainnya. Apalagi kesibukan kantornya membuat Pak Rus, meski bukan perokok, tapi termasuk pria berkategori “jarum super” alias jarang di rumah suka pergi.

Alay

Dulu, setiap akhir minggu, Pak Rus sekeluarga sering menginap di rumah mertua. Maklum Pak Rus nggak punya pembantu, sedang di rumah mertua pasti ibu mertua rajin masak yang enak-enak. Selain itu rumah mertua, yang masih terbilang kental dengan suasana pedesaan, juga nyaman buat anaknya yang masih kecil, dan banyak teman main sepantar anaknya, dari para kerabat istri. “Wah, Pak RT harus rajin kerja bakti nih, masak minggu pagi warga mau kerja bakti, RT-nya ngilang …”, candaku. Kalo Pak Rus tiap Sabtu-Minggu ngilang, bisa dikomplen warga yang ingin mengurus surat-surat.

Pak Rus baru mulai ngeh dengan sejumlah permasalahan warganya, yang tadinya meski Pak Rus sudah tinggal cukup lama di situ tapi kurang menyadarinya. Ada warga yang tinggal di dekat sebuah toko. Toko tersebut laris, tentu ada yang seneng, tapi ada juga yang senep. Warga tersebut komplain karena pengunjung toko kerap memarkir mobil di depan rumahnya, sehingga menghalangi jalan keluar.

Pelanpelan

Ada juga warga yang mengadukan ulah pemilik warung soto. Karena pengunjung warungnya membludak, sehingga pengunjung digelarkan tikar untuk lesehan. Masalahnya, tempat lesehan tersebut berada pada trotoar yang terletak di depan rumah warga lain. Tentu saja warga tersebut merasa terganggu kenyamanannya, nggak dapat duitnya, cuman kebagian ributnya …

Ada lagi persoalan mengenai gerundelan warga yang ingin menggrebek rumah seorang warga yang tadinya seorang janda, lalu baru saja menikah lagi. Lalu saya tanyakan ke Pak Rus, mengapa seperti itu, bukannya ada warga menikah kan turut senang. Ternyata itu sekedar grenengan ibu-ibu, yang entah mengapa mempermasalahkan, yaitu ketika sewaktu menikah lagi, dari penduduk di situ, hanya Ketua RT dan RW saja yang diundang kondangan. Sepertinya dari penjelasan Pak Rus, memang akar masalahnya adalah kecemburuan yang lama terpendam dari para ibu kepada janda tersebut. Lha wong para bapaknya nggak diundang ya tetep adem-ayem saja …

Sumbangan

Ada satu kejadian lucu, sewaktu Pak Rus mendapat SMS dari Ketua RW berisi pengumuman penyuluhan dari kelurahan untuk para Ketua RT dan Ketua RW. Tanpa mengkonfirmasi ulang, pada jam yang ditentukan Pak Rus pun berangkat ke tempat pertemuan. Di sana Pak Rus bertemu dengan sejumlah Ketua RT dari RW yang sama. Tapi kok Pak RW-nya nggak ada? Dan gedung tempat pertemuan juga sepi tidak ada tanda persiapan aktivitas. Akhirnya mereka coba SMS Ketua RW, ternyata info SMS dulu itu belum komplit, jadi jamnya sudah benar tapi acara pertemuannya masih minggu depan.

Di lingkungan tinggal kami ada yang pernah menjadi Ketua RW cukup lama, sebut saja Pak Kar. Karena itu, warga kerap mengacunya dengan sebutan Pak RW, dan istrinya menjadi Bu RW. Kebetulan istri Pak Kar membuka warung kelontong kecil-kecilan. Jadi kadang kalo yang habis belanja ke sana, maka obrolan warga semacam begini:

“Dari mana?”

“Belanja di warung Bu RW”

Nah, saat Pak Kar sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua RW, ternyata banyak warga yang masih mengacunya dengan sebutan Pak RW, begitu pula istrinya masih disebut Bu RW. Jadi warga masih tetap belanja ke warung “Bu RW”. Untunglah Bu RW yang “sekarang” tidak buka warung, soalnya nanti warga bisa bingung, mungkin semacam begini obrolannya:

“Dari mana?”

“Belanja di warung Bu RW”

“Bu RW yang mana …?”

Kalo didengar yang nggak paham, bisa jadi salah mengira Pak RW punya “lebih dari satu” Bu RW … wehhh …..

Kalo di pilem atau sinetron tokoh Ketua RT seringkali muncul baik sebagai figuran maupun peran utama, terutama di komedi. Mungkin Ketua RT cuma kalah sama Hansip. Tapi kalo di berita tipi, ya Ketua RT seringnya tampil di berita kriminal, kalo ditanya reporter tipi mengenai kejadian tindak kejahatan yang terjadi di lingkungannya.

Saya bercanda dengan Pak Rus, “Wah nanti bakal sering muncul di tipi, minimal di acara semacam Patroli, TKP, Sidik. Kan, kalo ada teroris ketangkep yang sering diwawancara Ketua RT-nya.” Pak Rus misuh-misuh, “Teroris gundulmu … Kalo bikin bomnya di sini, kalo njeblug duluan, piye jal?”

Nah, seandainya Brad Pitt menjadi Ketua RT, mungkin kayak gini suasana kehidupan warganya:

Miss Laniyem Van Kona adalah warga RT yang cukup rajin berolahraga. Tiap pagi Miss Laniyem sudah bangun untuk mulai olahraga pagi. Sayang kebiasaan Miss Laniyem ini diprotes oleh seorang warga yang memelihara ayam jago. Katanya ayam jagonya ngambek berkokok gara-gara sering keduluan bangun sama Miss Laniyem.

Dua bulan lalu Sharon Stone pindah ke RT ini. Banyak bapak-bapak punya kebiasaan baru rajin lari sore keliling kompleks. Ternyata setiap sore Mpok Stone duduk-duduk di depan rumah menanti tukang siomay kegemarannya lewat (harap jangan salah baca: yang digemari Mpok Stone adalah siomay-nya bukan tukang-nya). Nah, denger-denger bapak-bapak sebelum lari pada taruhan, “Hari ini kathokan apa nggak ….” Para ibu-ibu kompleks yang mencium gelagat ini, melapor ke Mister Brad. Setelah Mister Brad bernegosiasi alot dengan Mpok Stone, akhirnya disepakati, Mpok Stone diperbolehkan duduk-duduk di depan rumah asalkan sarungan …

Papa Josh adalah salah satu warga RT yang jago masak, sehingga membuka usaha kuliner kecil-kecilan dengan nama Papa Josh Pizza. Pizza buatan Papa Josh rasanya luar biasa, menurut salah satu penggemarnya, rasanya josh gandoss … eh joss gandoss … Bahkan menurut review pemerhati kuliner, rasanya bukan sekedar mak nyus tapi mak jegagik, artinya kalo sudah menggigit pizza seolah dunia berhenti berputar. Jika tiba saat peringatan pitulasan, Papa Josh dilarang oleh Mister Brad untuk mengikuti lomba panjat pinang. Soalnya sekali disunggi oleh Papa Josh, maka Miss Laniyem van Kona bisa menggapai puncak pinang dengan cepat untuk menyabet hadiah utama, yaitu G-String anti-masuk-angin.

Suhu Elnino adalah satu warga RT yang disegani oleh para preman kampung di sekitar kompleks, karena di masa jayanya dalam dunia persilatan dikenal dengan sebutan Pendekar Gelung Maut, konon masih satu angkatan dengan Sinto Gendeng, cuma beda satu setrip. Sekali kena sabet gelungnya lawan akan menderita sudrun permanen. Suhu Elnino membuka kursus privat bagaimana cara menagih secara efektif. Jangan dikira yang pada ikut kursus adalah para pria kekar bertampang sangar bagai debt-collector. Tetapi adalah para gadis kenes dengan suara mendayu menggoda kalbu, karena ini adalah kursus bagaimana menagih janji para lelaki. Kelihatannya metode yang diterapkan Suhu Elnino cukup berhasil. Bisa diamati perubahan signifikan bagaimana para gadis yang ketika datang “mlakune koyo macan luwe” dan “polatane damar kanginan”, maka setelah tamat kursus menjadi “mlakune koyo macan kembrukan gori” dan “polatane damar njeblug”.

RTSUDRUN

Yu Mberok punya kios kecil di dalam kompleks untuk jualan jus buah dan rujak. Jus buah yang paling laris adalah jus terong, baik yang tanpa biji maupun yang spesial pake telor. Salah satu penggemar berat rujaknya adalah Miyabi yang sering mampir ke situ sehabis kecapekan syuting. Meski Miyabi sudah berusaha menyamar sedemikian rupa, tak urung ketahuan paparazzi. Gara-garanya Miyabi kalo pesan rujak, selalu pengin nguleg sambelnya sendiri. Padahal tiap Miyabi nguleg sambel, yang mubeng bukan munthunya tapi cobeknya …..

Nyonyah Mugiyem, tak mau ketinggalan mengajar kursus tari di rumahnya. Spesialisasinya khusus tari perut, baik versi padang pasir, padang rumput maupun padang bulan … Khusus untuk versi yang terakhir tersebut, bisa dikombinasikan dengan jetungan dan gobak slodor. Dijamin dalam sebulan bisa turun beberapa kilo, lebih-lebih bila bukan cuma rajin jetungan tapi juga betengan. Bila para ibu peserta kursus tari perut ingin maen betengan, Papa Josh sering diajak. Bukan ikut maen, tapi didapuk jadi betengnya. Lumayan kan bisa sering dicableki ibu-ibu, lha ketimbang dicablek tukang gendam …

Suatu hari, baru saja sampe rumah Mister Brad sudah ditunggu seorang lelaki muda berkacamata yang dari badannya tercium aroma minyak wangi cap Putri Duyung. “Kenalkan saya baru saja pindah tinggal di kompleks ini”, kata lelaki itu yang rupanya ingin melapor ke Mister Brad sebagai Ketua RT. Sambil menjabat tangan Mister Brad, lelaki itu menyebutkan namanya dengan penuh penghayatan, “Don Juan.” Mister Brad mengobrol beberapa lama dengan lelaki tersebut, yang lalu berpamitan setelah mengisi formulir data diri di antaranya berisi berikut:

Name: Joe One Deuw Sastro Gentho

Age: Expired

Status: Single (limited edition)

Sex: Never before

Kebetulan lelaki tersebut berjalan pulang melewati rumah Mpok Stone yang sedang duduk-duduk di depan rumah. Seketika ia langsung terpana, terpaku, ndomblong, ngowoh, dan mulai buyuten … Untunglah Papa Josh yang sedang memandikan brompit kesayangannya cukup sigap segera buru-buru memanggulnya pergi, karena gawat bila sampe kejadian diajak rujakan sama Sharon Stone bisa buyuten stadium tiga … Lha piye toh katanya Don Juan kok liat Sharon Stone sarungan saja jadi buyuten ….

Salah satu warga RT yang gemar menggelar pesta sehingga membuat kebisingan adalah Paris Hilton. Bila sedang asyik berpesta dari rumah Miss Hilton bisa terdengar lagu Iwak Peyek diputar berulang-ulang semalam suntuk. Suatu kali sebuah insiden cukup merepotkan Mister Brad, gara-gara ulah Miss Hilton. Mungkin karena kecapekan berpesta Miss Hilton sembarangan melempar G-String-nya ke halaman. G-String tersebut lalu digondhol kirik, dan sialnya ditinggal tepat di cantelan pit jengki-nya Mister Brad. Pagi-pagi timbul kehebohan besar di rumah Mister Brad, Mrs Angellina Jollie mencak-mencak, “Papiii … Ini gombal siapa yang ada di sini …. Ini bukan gombalnya Mamiii …”

Tergopoh-gopoh Mister Brad datang sambil masih membersihkan lodhok, “Wah Mami … Masak sih Papi tega pake gombal lain … Papi hanya setia pada gombal Mami saja …”

Setelah Mister Brad mengamati barang bukti yang nyantel di pit dengan lebih seksama, “Mamii … ini sih G-String kepunyaan Miss Hilton …”

Mrs. Angelina Jolie yang mendengarnya langsung mendelik, “Kok Papi bisa tahu ….”

“Iya .. Papi tahu persis ukurannya …”

Mrs Angelina Jolie mulai menimang-nimang munthu.

“Ehm .. maksud Papi, Papi sudah sering lihat …”

Rambut Mrs Angelina Jollie mulai njegrak bagai landak habis rebonding.

“Ehm .. maksudnya Papi sudah sering lihat G-String tersebut di jemurannya Miss Hilton …”

Untunglah sebelum munthu melayang, datang Miss Laniyem van Kona yang pagi itu janjian hendak lari pagi bareng dengan Mrs Angelina Jolie.

RT-SUKOWI

Kembali lagi ke cerita Pak Rus, sang istri sih nggak keberatan suaminya ditunjuk menjadi Ketua RT. Cuma ada satu pesan yang diwanti-wanti oleh sang istri kepada Pak Rus, “Pokoknya aku nggak mau kalo sampe dipanggil Bu RT ….” Mungkin sang istri khawatir kalo suatu saat ada warga yang anaknya sakit panas, bisa kejadian seperti di iklan radio ini: “Bu RT … Bu RT … Bu RT punya termos es? Anak saya sakit panas ….” Padahal di rumah Pak Rus nggak ada termos es, yang ada kulkas …

 

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

32 Comments to "Pak Erte dan (bukan) Bu Erte"

  1. Lani  25 June, 2013 at 04:54

    30 KANG JUWANDI : limited edition?????? sampai lumuten ngono? saking larang regane po kang??????

  2. Dj. 813  25 June, 2013 at 02:02

    juwandi ahmad Says:
    June 25th, 2013 at 01:40

    ha ha ha ha..nganti ra payu ha ha ha ha
    —————————————————

    Soal e kesuwen leh e ngenteni yo mas…

    Hahahahahahaha….!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.