Gaun Merah

Wendly Jebatu Marot

 

Itulah saat terakhirku melihat kamu, saat kamu berjalan dengan rambut terutai di bawah sengatan mentari..

The last October, sekian tahun silam di Kota bermatahari penuh…

Malam ini, kau datang lagi.. Aku bahkan sudah lupa siapa namamu..

Aku hanya ingat gaun merah yang kau pakai itu dulu pernah menjadi gaun istimewa di hari jadimu.

Sweetseventeen..

Kau bilang itu gaun spesial dari pangeranmu.. Dia membelinya di satu-satunya supermarket di Kota Panas ini.

Ya, jujur. Itu gaun yang membuatmu kelihatan anggun. Aku tak tahu dan memang tak ingin tahu sedikit pun, apakah pangeranmu mampu melihat keanggunanmu dari gaun yang kau pakai.

Aku yang kala itu kau anggap sebagai teman curhat sempat kalang kabut menghadapimu dengan pakaian dan penampilan seanggun itu. Merah menyala, mempesona dan kemilau.

Jujur! aku memang fobia darah. Aku bisa pening dan bahkan pingsan kalau melihat darah merah. Namun entah kenapa melihat gaun merahmu aku malah menjdi begitu terpikat…

gaun merah

Misterius…

Nah, lupakan itu. Aku mau tanya, kenapa kamu datang kepadaku dengan gaun itu lagi? Apakah pangeranmu yang menyuruh kamu?

Ayo, katakan! jangan diam membisu seperti itu.

Ingatkah kataku dulu? Aku tak suka membisu! Aku bukan pencinta keheningan. Aku adalah pengagum kegaduhan Kota. Lihat saja, aku tak pernah diam kalau ada bersama kamu. Kadang aku berteriak sendiri, tertawa terbahak-bahak sendiri tanpa kau melucu, menyanyi-nyanyi sendiri tanpa kamu meminta, berkotbah sendiri tanpa kau harus menyimak.

Kadang karena kesal,

Kamu bilang aku gila! Aku bilang biarin.

Kamu bilang aku mabuk! Aku bilang biarin!

Kamu bilang aku konyol, aku bilang biarin!

Kamu bilang aku psikopat, aku bilang biarin!

Kamu bilang aku bodoh, aku bilang biarin!

Kamu bilang aku konyol, aku bilang biarin!

Kamu bilang aku memalukan, aku bilang biarin!

Sekarang aku tanya lagi, apa maksudnya kau datang lagi di gubukku

dengan gaun merah,

dengan muka merah,

dengan mata merah,

dengan air mata merah,

dengan rambut terurai bercat merah,

dengan kuku tangan merah,

dengan kuku kaki merah,

dengan sendal bertali merah,

dengan sandal bersol merah,

dengan bibir merah,

O ya, mengapa kau tidak menulis lagi nama pangeranmu itu di bagian dada gaun merahmu?

Diam..

Membisu..

Menangis..

Terisak-isak..

Tapi jangan mengharapkan belaskasihanku. Aku sekarang tak mudah dibuai oleh wajah pedih kaya gitu. Aku sudah bosan dengan air mata dusta kaya gitu.

Kalau kamu tetap diam dan hanya menagis, aku ucapkan selamat malam buat kamu. Saya harap inilah saat terakhirku melihat kamu dengan gaun merah.

 

6 Comments to "Gaun Merah"

  1. Lani  24 June, 2013 at 10:08

    5 DA : wadoooooooooooh………….merah adl warna kesukaanku je………….klu gitu bakal banyak pria mikir sex klu aku pakai baju warna merah wakakakkaka…………pie iki kang Anuuuuuuu benarkah pendpt Dewi Murni tumpak Murtiati??????

  2. Dewi Aichi  24 June, 2013 at 08:27

    Gaun warna merah memang sangat menggoda….

    Ada survei di Brasil, orang(pria) yang melihat wanita berbaju merah , otak langsung mikirnya ke soal Sex….

  3. Matahari  23 June, 2013 at 21:38

    “dengan gaun merah,

    dengan muka merah,

    dengan mata merah,

    dengan air mata merah,

    Mungkin kena haemolacria makanya air mata merah ( blood)

  4. Dj. 813  23 June, 2013 at 20:56

    Kamu blang aka panas, bahkan sangat panas. Aku bilang, biarin,emang matahari ya harus panas.
    Hahahahahahahahahahaha……!!!

  5. Lani  23 June, 2013 at 10:51

    hahahaah……….matadornya kamu James?????

  6. James  23 June, 2013 at 09:54

    SATOE, diseruduk Banteng

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.