Tiga Sahabat (14): Lucky

Wesiati Setyaningsih

 

Pagi itu ada anak baru yang masuk ke kelas bersama pak Bambang. Entah kenapa tiap kali ada anak baru, selalu pas pelajaran pak Bambang, guru bahasa Inggris yang ganteng dan baik hati itu.

Anaknya kurus, tinggi dan berkulit bersih. Wajahnya lumayan ganteng. Karena pelajaran bahasa Inggris, pak Bambang meminta dia memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris seperti ketika Tia datang. Tapi berbeda dengan Tia yang malu-malu, anak ini begitu percaya diri.

Hi guys, “ sapanya pada anak satu kelas.

Hi…” anak-anak menjawab sementara beberapa cekikikan.

Juwandi dan Aji berpandangan.

“Jangan-jangan ni anak gokilnya sama ma Anung, ya?” bisik Juwandi pada Aji.

Aji mengangkat bahu lalu kembali mengarahkan pandangan ke depan kelas. Anak baru tadi sedang melanjutkan perkenalannya.

My name is Lukito. You can call me Luke, because I’m the Lucky Luke!” usai berkata begitu anak yang bernama Lukito itu berpose ala James Bond 007.

Lucky_Luke

Kontan anak sekelas terbahak-bahak. Pak Bambang yang kaget dengan cara yang tak biasa itu, mengangkat alis.

“Ini sih lebih gila dari Anung, kayanya,” bisik Aji pada Juwandi.

Juwandi mengangguk setuju.

I’m from Semarang!” Lukito mengatakan ini seraya melemparkan kepalan ke atas seperti orang sedang meneriakkan ‘Merdeka!’.

My father is a rice man!”

Rice man?” tanya Pak Bambang.

Lukito menoleh pada Pak Bambang sambil meringis, “Juragan beras, maksudnya Pak!”

Anak-anak semakin keras tawanya. Juwandi dan Aji berpandangan sambil terbahak.

Okay, anything else?” tanya Pak Bambang.

Yes!” anak itu mengangguk ke arah Pak Bambang, lalu menatap teman-temannya satu kelas dan berkata, “I’m single and available! You can purchase me if you want to.”

Suasana kelas makin tak terkendali. Bebeapa anak memegangi perutnya.

Purchase? Kamu dijual?” tanya Pak Bambang lagi.

“Maksudnya kalo ada yang mau jadi pacar saya, saya bersedia.” Anak itu meringis lagi.

Pak Bambang mengangguk maklum. “Anything else?”

Yes!” jawab anak itu cepat dan segera menyanyi, “I have a dream. A song to sing..”

OK, enough!” Pak Bambang tak tahan lagi.

Anak itu memandang Pak Bambang dengan kecewa.

Sit down, please!” Pak Bambang mengulurkan tangannya ke arah bangku kosong di belakang Aji dan Juwandi.

Ada Lukman yang duduk sendirian. Lukito segera melangkah menuju bangku di sebelah Lukman. Begitu Lukito duduk, dia mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Lukman. Lukman menyambut tangan Lukito.

“Lucky Luke,” kata Lukito.

“Lukman.”

“Wow! So you are a lucky man!”

Lukman tersenyum, “Nggak usah lebay.”

Lukito tidak berkata-kata lagi.

Juwandi dan Aji yang menyaksikan pemandangan itu tersenyum.

Pelajaran hari itu semakin hangat karena Pak Bambang yang kreatif mengajak mereka main game.

***

Usai pelajaran, Aji dan Juwandi berjalan bersama ke tempat parkir. Seperti biasa, sejak Anung pergi, Aji mengantar Juwandi pulang dengan motornya. Begitu sampai di motor Aji, terdengar suara menyapa.

Hi guys!”

Aji dan Juwandi menoleh. Tampak Lukito dengan senyum lebarnya.

“Kalian mau ke mana?”

Aji dan Juwandi berpandangan.

“Ke mana? Ya pulang, lah. Ke mana lagi?” kata Juwandi.

“Aji antar kamu pulang, Ju?”

“Iya, tapi aku mau ke rumah Aji dulu. Kangen main ke rumah dia.”

“Aku ikutan boleh?”

Juwandi menoleh ke arah Aji meminta jawaban.

“Boleh. Ayo, ikut.”

Juwandi tampak tidak sependapat dengan sahabatnya. Aji tak peduli. Dia menarik motornya dari tempat parkir dan segera mengajak Juwandi pergi. Di jalan Juwandi tidak tahan untuk tidak bicara. Lukito tampak dengan wajah senang mengikuti dari belakang.

“Ngapain sih ngajakin dia?”

“Aku kan nggak ngajakin. Dia yang mau ikut.”

“Kenapa dibolehin?”

“Kenapa enggak?”

“Dia orangnya lucu gitu.”

“Bagus, kan? Kita bisa ketawa-ketawa.”

“Ah, kamu!”

“Kenapa sih? Kita tidak tahu apa yang dia bawa untuk kita. Siapa tahu dibalik sikapnya yang konyol dia membawa hal yang baik buat kita.”

“Hal baik apa?”

“Mana kutahu? Kita akan temukan nanti kalo kita sudah dekat dengan dia. Pasti ada sesuatu yang baik yang dibawa setiap orang, Ju. Ingat itu. Kalo di awal kali kamu sudah antipati begitu, bisa-bisa nggak dapat apa-apa.”

“Aku juga nggak butuh apa-apa.”

“Alah, jangan sombong. Setidaknya saat ini kamu butuh makan siang. Hehehe… Aku juga lapar nih. Sudah, yang penting sampai rumahku dulu, makan siang, habis itu kamu mau langsung pulang juga boleh kalo nggak tahan sama dia.”

“Oke, sip. Aku juga kangen sama Iyem ada yang mau aku bicarakan sama dia tentang tulisan dia.”

“Nah, mikir itu aja. Lukito biarin aja. Toh dia cuma mau main ke rumahku.”

“Nanti kamu ajakin makan juga?”

“Iya lah. Memang kenapa?”

“Nggak pa-pa..”

“Tenang, kamu enggak akan kehabisan jatah. Kalo nasinya habis, Iyem bisa masak nasi lagi nanti.”

“Bagus lah.”

Aji tersenyum lebar. Tak lama mereka sudah sampai di rumah Aji yang memang tak seberapa jauh dari sekolah.

“Ini rumah kamu?” Lukito mengamati rumah besar lantai dua milik Pak Handoko dari halaman depan.

“Rumah papaku. Aku belum punya. Nanti kalo udah kerja baru beli sendiri.”

Juwandi meringis mendengar jawaban Aji. Lukito mengangguk-angguk.

“Masuk, yuk.” Aji mengajak kedua temannya masuk rumah.

Tepat pada saat yang sama Sekar masuk halaman rumah. Lukito langsung menoleh diikuti Juwandi.

“Hei, non Sekar sudah pulang…” Juwandi menyapa sok ramah.

Sekar menoleh sekejap sambil tersenyum lalu menghilang lewat pintu garasi.

“Itu adik kamu Ji? Cantiknya…” Lukito terperangah sambil mulutnya menganga.

“Hush! Tutup mulut kamu. Lalat-lalat langsung pada datang, tuh.” Juwandi mengibaskan tangannya di depan wajah Lukito.

Lukito menutup mulutnya dengan tangan sambil terkekeh lalu mengikuti kedua temannya masuk rumah.

“Rumahmu adeeem…” kata Lukito sambil duduk menyandar di sofa.

Aji tersenyum. “Kan ada atapnya. Jadi enggak panas.”

Juwandi terbahak. Lukito ikut tertawa. Aji masuk ke dalam mencari Iyem dan berpesan kalau dia membawa dua orang teman.

“Kaya biasanya ya, minum tiga. Aku bawa dua orang teman.”

“Mas Anung pulang?”

“Bukan! Anak baru di sekolah. Dia pengen ikut main, aku bolehin.”

“Oh, kirain.” Iyem tampak kecewa. “Kangen sama mas Anung. Celotehnya rame.”

“Yang sudah tenang di Paris mah nggak usah diingat lagi. Nanti kesandung cewek cakep dia. Yang ini lebih rame, Yem.”

“Masak?”

Aji mengangguk dan beranjak pergi. “Masak nasi lagi kalo tinggal dikit. Kayanya Juwandi lagi emosi.”

Iyem terkekeh. “Baik, bos.”

Di ruang tamu Lukito dan Juwandi saling diam tidak bicara. Lukito malam memejamkan matanya dengan tenang.

“Tidur, dia?” tanya Aji pada Juwandi.

Juwandi mengangkat bahu.

“Aku tidak tidur,” kata Lukito tanpa membuka matanya maupun merubah posisi duduknya yang menyandar nyaman di sofa.

“Aku meditasi,” katanya.

Juwandi tergelak, tapi demi melihat Lukito tetap terpejam dengan tenang, segera dia tahan tawanya dengan menutup mulut menggunakan telapak tangan. Aji tertawa lebar.

Iyem keluar membawa tiga gelas es sirup dan sepiring bakwan jagung.

“Ini sirupnya, diminum dulu. Sama ini ada bakwan jagung, tadi Iyem gorengkan sebentar, masih panas. Nanti kalo nasinya sudah matang, makan siang dulu ya sebelum pulang. Lima belas menit lagi matang kok nasinya.”

Hidung Lukito bergerak-gerak seperti membaui sesuatu. Kemudian dia membuka mata.

“Ah, baik hati sekali. Terima kasih ya sis..”

“Saya Iyem, bukan Sis,” kata Iyem.

“Sis itu maksudnya mbakyu,” kata Lukito menjelaskan.

“Oh, gitu..” Iyem mengangguk-angguk.

“Kenalkan, nama saya Lucky Luke..” Lukito mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

Iyem menyambut uluran tangan Lukito sambil menggumam, “Laki Liuk? Namanya bagus banget, ya?”

“Nama aslinya, Lukito!” tukas Juwandi.

“Aaah.. Lukito?” Iyem berseru.

“Kenapa?” tanya Aji heran.

“Kaya nama sir-siran saya waktu di desa dulu.”

“Wah, gebetan sis namanya kaya saya? Wow. Dunia ini memang penuh kebetulan yang bukan kebetulan! Pasti saya berjodoh dengan keluarga ini.”

Juwandi menjulingkan matanya ke atas dengan kesal. Aji terbahak. Begitu tangannya dilepaskan, Iyem segera masuk ke dalam.

“Ji, kakak kamu cantik ya. Kalo adik kamu cantik dan imut, kakak kamu cantik dan bahenol.”

Aji semakin terbahak, sementara Juwandi memegangi perutnya yang diserang kram mendadak.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Tiga Sahabat (14): Lucky"

  1. wesiati  26 June, 2013 at 07:40

    istilah Semarange : nggapleki.

  2. J C  26 June, 2013 at 07:38

    Walaaaahhh si Lukito tenan kemaki tur kemlinthi…huahahahaha…

  3. Nyai EQ  25 June, 2013 at 21:06

    hahahhahaha…ngampet ngguyu sak polnya!! lha Lucky Luke itu tokoh favorit-ku jeeeeee……….

  4. Dj. 813  24 June, 2013 at 00:56

    [email protected] Says:
    June 23rd, 2013 at 22:05

    HUHUEHUHUEHUEHUE…. om DJ, kan depannya doang yang sama S….. (Semarang / Singapura)

    begituh…..

    nasib…
    akan disiksa….

    ihik….
    ihik….

    *pasrah tingkat tinggi*

    ada baiknya saya liburan ke cambodja dulu…. (1minggu)
    sampai bertemu di serial 3sekawan berikutnya….
    ————————————————

    Pambrea…
    Selamat berlibur, jaga kesehatan, agar bisa menikmati semaksimal mungkin.

  5. Hennie Triana Oberst  24 June, 2013 at 00:23

    Ntar aku bilang Chiara, kalau yang jagain Pams, dia nggak usah takut, sudah jinak kan?

  6. [email protected]  24 June, 2013 at 00:11

    Suruh jagain chiara?… SIAP!!!…. butuh pasukan pengaman gak?

    BWEHEHEHEHE….
    ntar si chiara malah kabur liat daku…. kacau…

  7. Hennie Triana Oberst  23 June, 2013 at 23:57

    Lho…bukan imut tapi lucu. Bolehlah imut….kan masih tetap mau jagain Chiara ya?

  8. [email protected]  23 June, 2013 at 23:10

    aduh seneng dibilang imut sama hennie…

  9. Hennie Triana Oberst  23 June, 2013 at 22:48

    Hahaha… lucu banget minggu ini. Lukito…. kamu memang lucu….

  10. [email protected]  23 June, 2013 at 22:05

    HUHUEHUHUEHUEHUE…. om DJ, kan depannya doang yang sama S….. (Semarang / Singapura)

    begituh…..

    nasib…
    akan disiksa….

    ihik….
    ihik….

    *pasrah tingkat tinggi*

    ada baiknya saya liburan ke cambodja dulu…. (1minggu)
    sampai bertemu di serial 3sekawan berikutnya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.