Buat Bapak Presiden

Ricky Raihan

 

(semoga beliau baca)

Pak Presiden yang baik,

Kelak bila harga BBM naik, dengan gagah dan baik hati konon Bapak akan memberi kami kompensasi…

surat-untuk-presiden

Bapak akan membuat kami mengantre untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan. Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak suka melihat kami mengantre panjang mengular dari Sabang sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak. Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin.

Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami, pakailah uang itu, kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan ‘perekonomian nasional’ yang konon sedang gawat itu.

Tak perlu naikkan BBM, pakailah uang kami itu: kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan bangsa!

Hidup kami sederhana, disambung lembaran-lembaran uang recehan.

Ilmu hitung kami kelas rendahan:

berapa untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya transportasi, biaya listrik bulanan, dan kadang-kadang cicilan motor, dispenser atau DVD player. Tak perlu kalkulator. Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila sedang sulit, kami tidak kemana-mana, Pak: Kami mencari kebahagiaan gratisan di televisi meski kadang kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita tentang beberapa anak buah Bapak yang korupsi.

Bila perlu, berdirilah di hadapan kami, katakan apa yang negara perlukan dari kami untuk menyelamatkan kegawatan bencana ekonomi negara ini? Bila Bapak perlu uang, kami akan menjual ayam, sapi, mesin jahit, jam tangan, atau apa saja agar terkumpul sejumlah uang untuk melakukan pembangunan dan penyelamatan perekonomian bangsa. Bila Bapak disandra mafia, pejabat-pejabat yang bangsat, atau pengusaha-pengusaha yang menghisap rakyat, tolong beritahu kami: siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk membantumu melenyapkan mereka.

Tentu saja, semoga Anda bukan salah satu bagian dari mereka!

 

Pak Presiden yang baik,

Dengarkanlah kami, berdirilah untuk kami, berbicaralah atas nama kami, belalah kami: maka kami akan selalu ada, berdiri, bahkan berlari mengorbankan apa saja untuk membelamu. Berhentilah berdiri dan berbicara atas nama sejumlah pihak—membela kepentingan-kepentingan golongan. Berhentilah jadi bagian dari mereka yang ingin kami benci sampai mati. Jangan jadi penakut, Pak Presiden, jangan jadi pengecut!

Buanglah kalkulatormu, singkirkan tumpukan kertas di hadapanmu, lupakan bisikan-bisikan penjilat di sekelilingmu! Lalu dengarkanlah suara kami, tataplah mata kami: tidak pernah ada satupun pemimpin di atas dunia yang sanggup bertahan dalam kekuasaannya jika ia terus-menerus menulikan dirinya dari suara-suara rakyatnya!

Pak Presiden, Sekali lagi, tentang kenaikan harga minyak, barangkali kami memang tak pandai berhitung. Tapi, sungguh, kami tak perlu menghitung apapun untuk untuk memutuskan mencintai atau membenci sesuatu; termasuk mencintai atau membencimu!

 

8 Comments to "Buat Bapak Presiden"

  1. J C  26 June, 2013 at 07:40

    Seandainya saja lebih banyak lagi yang santun seperti ini menyampaikan aspirasinya…

  2. EA.Inakawa  25 June, 2013 at 20:29

    Bapak Presiden SBY : Ingatlah janjimu ketika Bapak berkampanye dengan berbagai JANJI JANJI yang muluk bahkan memakai kata Demi Allah, katakan kepada kami apakah janji janji itu sesungguhnya PALSU, saya selalu ingat pepatah ” Lidah Tidak Bertulang ” kalau dulu di zaman ORDE BARU kami selalu tau tentang REPELITA & PELITA, tapi sekarang kami KABUR dengan berbagai rencana Bapak SBY, ada yang bilang kalau nama S B Y itu artinya Salah Berat Yaaa kami memilih Bapak.
    salam sejuk

  3. Dj. 813  24 June, 2013 at 22:11

    Semoga satu saat ada president yang berpikir dan bekerja seperti Jokowi dan Ahok.
    Mudah-mudahan Indonseia akan menjadi bangsa yang maju karena mereka tegas dan
    tidak takut melawan arus, demi rakyat dan untuk rakyat kecil.
    Salam,

  4. Matahari  24 June, 2013 at 18:31

    “Pak: Kami mencari kebahagiaan gratisan di televisi meski kadang kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita tentang beberapa anak buah Bapak yang korupsi.

    Tidak beberapa tapi ….sangat amat teramat banyak…mereka mereka inilah sebenarnya sumber segala kemelaratan di negri kita…….

  5. Lani  24 June, 2013 at 13:08

    3 ngakak aku Ocha………

  6. Ocha  24 June, 2013 at 13:01

    Saya sampai lupa kalo ternyata negara indonesia ini punya presiden.. Presiden kok terima titipan

  7. Sumonggo  24 June, 2013 at 10:22

    Balsem dibarter lumpur

  8. Lani  24 June, 2013 at 07:50

    satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.