Ketika Ifan Merasa Bersalah

Yeni Suryasusanti

 

Malam itu, sepulang saya dari kantor, Ifan menyambut dengan cerita serunya perpisahan kelas 6 SD Bhakti YKKP yang diadakan di Jambuluwuk Boutique Hotel & Resort Ciawi.

Sambil mendengarkan ceritanya, saya teringat bahwa sewaktu Ifan berangkat boleh membawa uang saku sebesar maksimal Rp 100.000,- dan menanyakan penggunaannya.

Ifan bilang, “Masih sisa Rp 45.000,- Bun…” dan beranjak ke kamar untuk mengambil dompetnya.

Ifan membuka dompetnya di depan saya, bermaksud mengembalikan sisa uang tersebut. Namun tiba-tiba wajahnya terlihat pucat, karena ternyata uang di dompetnya hanya ada Rp 5.000,-.

 

Saya pun menghela nafas. Ifan memang sangat pelupa dan cenderung ceroboh meletakkan barang-barangnya. Pernah uang sakunya hilang di sekolah, kemungkinan terjatuh saat menarik tangannya dari dalam saku celana.

Saya lalu mengajak Ifan ke kamar, agar bisa membantunya mengingat-ingat tanpa diganggu oleh Fian, menulusuri kemungkinan dimana uang tersebut berada atau jika sudah hilang.

Setelah berusaha menelusuri jejak uang dengan mengingat apa yang dibeli (Fanta, Milk Shake dan 2 botol Aqua), waktu pembelian dan baju yang dikenakan saat itu, uang tersebut tidak ketemu juga meski Ifan sudah mencoba mencari di seluruh saku baju, celana jeans dan jaket yang dikenakannya saat itu.

guilt1

Saya kembali hanya bisa menghela nafas dan memejamkan mata sejenak. Mau marah toh percuma, uangnya juga tidak akan ketemu hanya dengan kemarahan saya.

“Ifan, lain kali lebih hati-hati ya… Uang Rp 40.000,- itu setara dengan gaji Mbak Sri selama 2 hari lho… Bayangkan kalau Rahma kehilangan uang sebesar itu…” ucap saya mengingatkan Ifan agar menghargai nilai uang.

Sri adalah asisten rumah tangga kami yang datang dan pulang setiap hari, dan Rahma adalah putrinya yang Ifan sayangi seperti adiknya sendiri karena usianya sama dengan almarhumah Nada.

Dengan mata berkaca-kaca, Ifan memeluk saya sembari meminta maaf dan berjanji lain kali akan lebih berhati-hati.

 

Sempat karena penasaran, meski Ifan sudah meminta maaf, saya beberapa kali meminta Ifan mencoba mengingat-ingat lagi.

Saat itulah, suami saya masuk ke kamar dan melihat air mata yang menggenang di mata putranya.

Melihat hal itu, suami saya meminta Ifan keluar dengan menyuruhnya mencari sekali lagi di saku jaketnya. Setelah Ifan keluar, suami saya lalu menegur saya karena memarahi Ifan. Meskipun saya mengerti penghakiman ini terdorong karena lembutnya hati suami saya, karena rasa tidak tega melihat saat-saat bahagia Ifan yang  baru menjalani perpisahan yang manis untuk dikenang bersama teman-temannya menjadi ternoda. Namun, pemahaman ini tidak mengurangi rasa tidak nyaman di hati saya karena suami saya menuduh saya sebagai penyebab timbulnya air mata Ifan dengan tidak lebih dahulu bertanya agar jelas situasi baginya.

 

“Ifan menangis bukan karena Bunda marahi, Ayah… Bunda dari tadi memang tidak memarahi Ifan  juga… Ifan itu menangis karena merasa bersalah…” jelas saya yakin karena merasa sangat memahami karakter Ifan.

 

Ifan itu jika dimarahi, dan hatinya tidak menerima karena merasa tidak salah, Ifan cenderung akan mengatupkan bibirnya, menahan nafasnya dan ekspresi wajahnya akan menjadi keras meski dia tidak membantah.

Tapi jika diingatkan dengan lembut, dan dia merasa memang bersalah, maka Ifan akan luluh hatinya dan tanpa disuruh dia akan segera meminta maaf.

Itulah Ifan, yang sering saya sebut sebagai Si Penyejuk Hati, Si Lembut Hati…

Berbeda dengan Fian, yang akan segera mengeluarkan argumentasi, tidak perduli entah itu ketika dimarahi ataupun diingatkan dengan lembut. Di antara argumentasinya, saya harus menjelaskan panjang lebar bagaimana dan mengapa hal itu disebut sebagai sebuah kesalahan. Setelah Fian bisa menerima, baru dia bersedia disuruh meminta maaf.

Itulah Fian, yang sering saya sebut sebagai Si Pencerah Hari, Si Tukang Protes dan Pembela yang Gigih.

 

Sementara suami saya terdiam, saya memanggil Ifan lagi ke kamar kami.

Saya katakan, “Ya sudah, nggak usah dicari lagi, nggak apa-apa uangnya hilang kali ini. Tapi lain kali Bunda minta Ifan lebih hati-hati ya…”

Ifan mengangguk dan sekali lagi meminta maaf sambil memeluk saya.

Kemudian, setelah sebelumnya melirik penuh arti ke arah suami, saya menangkupkan tangan saya ke wajah Ifan,

“Ifan, Bunda boleh tanya? Ifan menangis karena Bunda marahi atau karena merasa bersalah?”

Dengan mata berkaca-kaca Ifan menjawab, “Karena merasa bersalah, Bun…”

Saya pun kembali memeluknya, kemudian mencoba menceriakan hatinya kembali dengan memintanya kembali bercerita kegiatan selama di Puncak. Suasana gembira di hati Ifan pun perlahan pulih seperti semula.

 

Malam itu, saya dan suami berbincang berdua.

Suami meminta maaf, karena telah salah menuduh saya. Dia berkata, hal itu karena rasa kasihan kepada Ifan, karena tidak tega melihat hati Ifan yang sedang bergembira menjadi rusak hanya karena masalah ini.

Saya berkata saya mengerti, dan saya juga tidak dengan sengaja ingin merusak suasana. Hal itu terjadi begitu saja ketika saya bertanya soal sisa uang saku yang saya berikan.

Jika melihat dari sudut pandang negatif, memang suasana hati Ifan sempat rusak. Tapi, mengapa kita tidak bisa melihat dari sudut pandang positifnya? Tidakkah hal itu menunjukkan keberhasilan kita dalam mendidiknya?

 

Saat itu Ifan sedang dalam keadaan euforia, bersuka cita karena telah melakukan sesuatu yang menyenangkan dan berkesan secara luar biasa, namun saat menyadari dia melakukan kesalahan di tengah kegiatannya, Ifan tidak mengabaikan kata hatinya hanya karena dia sedang bergembira. Ifan tidak menganggap enteng kesalahannya. Ifan bahkan tidak berusaha melemparkan masalah dengan berkata saya merusak suasana hatinya. Ifan justru mampu menyadari dia melakukan kesalahan dan merasa sedih karenanya. Meskipun hal itu sempat merusak suasana hatinya, bukankah kesadaran dan kejernihan hatinya itu merupakan hal yang luar biasa?

 

Menatap saya, suami saya terdiam sejenak, lalu kembali meminta maaf. Saya memutuskan menyudahi percakapan untuk menidurkan Fian dan membiarkan pemikiran ini mengendap di benak suami saya.

Entah suami saya sepakat atau tidak, saya tidak tahu. Kami memang terkadang tidak memaksakan harus ada kata sepakat ketika kami kebetulan berbeda pendapat.

Tapi paling tidak malam itu, dengan diamnya dan permintaan maafnya, saya merasa suami saya mau memahami sudut pandang saya, menerima dan menghargainya… Dan bagi saya terkadang hal itu sudah cukup luar biasa…

 

I love you, Ahmad Fahly Riza

 

Jakarta, 20 Juni 2013

Yeni Suryasusanti

 

17 Comments to "Ketika Ifan Merasa Bersalah"

  1. Yeni Suryasusanti  26 June, 2013 at 08:11

    EA.Inakawa, JC : hehehehe….. biasanya emang gitu ya? berdamainya di atas ranjang hehehehe…. meskipun aktivitas dan olah raga yang dilakukan di atas ranjang itu sendiri bukan merupakan solusi, tapi percakapan yang dilakukan setelahnya lebih santai jadi lebih mudah menerima pendapat orang lain. Bukan begitu kang Anoew? :p

  2. J C  26 June, 2013 at 07:39

    Yeni, satu lagi pelajaran yang bisa aku ambil dari tulisan Yeni…

    Walaaaaahh kok ada ranjang segala tho…Kang Anoew memang jiaaaannn…

  3. EA.Inakawa  25 June, 2013 at 20:53

    itulah Indah nya sebuah kebersamaan dalam RT, silakan berbeda pendapat dan berdamailah diatas ranjang, ini kata Kang Anoew ehehehe salam sejuk

  4. Dewi Aichi  24 June, 2013 at 20:22

    Iya Yeni he he…dalam berumah tangga itu, masalah tak akan ada habisnya, hanya butuh sikap yang super bijaksana dari kedua belah pihak untuk bisa tetap jalan bersama.

  5. Yeni Suryasusanti  24 June, 2013 at 19:11

    Dewi : hahahahaha….. berarti kita similar…. utk anak masih nggak susah, tapi utk bapaknya lebih tricky :p

  6. Dewi Aichi  24 June, 2013 at 18:27

    Iya benar, setiap rumah tangga, orang tua, anak, mempunyai tips sendiri sendiri dalam mencari solusi, atau dalam menghadapi setiap permasalahan, sesuai dengan karakter masing masing. Alhamdulilah …anak saya termasuk mudah dalam banyak hal. Yang susah itu menghadapi bapaknya he he he….

  7. Yeni Suryasusanti  24 June, 2013 at 16:23

    Matahari, meskipun saya sudah menjelaskan kepada suami saya dgn jawaban, tapi memang suami saya tidak melihat kejadian saya memarahi ifan atau tidak di depan matanya.
    Tujuan saya bertanya kepada Ifan selain untuk meyakinkan diri saya adalah untuk memberikan jawaban kepada suami saya
    Hal ini menurut saya penting untuk menghindari salah duga karena suami saya tipikal orang yang tidak terlalu banyak mengungkapkan penilaiannya (hanya mengamati dan kemudian mengambil kesimpulan sendiri di dalam benaknya saja), tapi kemudian hal itu mempengaruhi sikapnya. Jadi memang dalam cukup banyak hal saya harus strategis dan diplomatis.
    Jadi memang bagi saya lebih baik suami saya mendengar sendiri jawaban Ifan bahwa hal itu benar adanya tanpa saya harus membela diri dengan bertahan dengan kata-kata saya… sehingga tidak merusak hubungan kami karena hal yang seperti ini

    Jadi, ya, saya memang perlu bertanya lagi kepada Ifan selain utk meyakinkan diri saya, juga untuk meyakinkan suami saya

    Tentunya, dalam setiap pernikahan, berbeda tips dan triknya, karena masing2 karakter suami/istri berbeda
    Mungkin dalam pernikahan Matahari, karena karakter suami yang berbeda pula, hal yang saya lakukan tidak perlu Matahari lakukan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.