Laksamana yang Tak Mati-mati

Gunawan Budi Susanto

 

ONG Bing Wie, benar apa yang kaukatakan: kebesaran seseorang tak bakal bisa terkubur sepenuhnya dalam sejarah. Apalagi jika para “pengubur” berharap: nama orang itu melenyap dalam keterbatasan ingatan kolektif masyarakat atau suatu bangsa. Makin dalam “sejarah” mengubur seseorang, dengan beragam pembunuhan karakter — sebagaimana dialami Syekh Siti Jenar, katamu – kerap kali justru kian mengilaplah “kebenaran” yang muncul kembali dari balik tilam masa lalu. Dan, meski berada di wilayah perbatasan antara “ada dan tiada”, sosok itu kian melegenda.

Nama Cheng Ho dengan seabreg alias: Ma He, Ceng Ho, Zheng He, Sam Po Bo, Sam Poo, Sam Po Kong, Sam Po Tay Djien, Panglima Besar The Hoo, misalnya, adalah tipikal manusia yang tak bakal pernah bisa mati. Meski dia telah dibunuh atau terbunuh berkali-kali, baik secara politis maupun boleh jadi semata-mata karena keterbatasan historiografis.

sam-po-kong01

Patung Laksamana Cheng Ho di kompleks Kelenteng Sam Po Kong, Gedung Batu, Simongan, Kota Semarang

 

“Jika tak percaya, bacalah kisah lelaki kasim beragama Islam itu dalam Babad Tanah Jawi. Atau, ikutilah kisah The Hoo dalam cerita silat Kho Ping Ho: serial Pedang Kayu Harum (Siang-bhok-kiam) danPetualangan Asmara,” ujarmu, Wie.

Ya, ya, nama itu memang masih ada dan terus beranak-pinak: menjadi nama kelenteng (Kelenteng Sam Po Kong, Gedung Batu, Simongan, Kota Semarang), judul novel (Sam Po Kong: Perjalanan Pertama karya Remy Sylado, 2004), atau sekadar merek rokok (produksi Pabrik Rokok Sam Poo Kong, Kudus). Dialah sang laksamana perkasa, yang tujuh kali putaran antara tahun 1405 dan 1433 menjejak ombak dan gelombang sekian samudra.

Perjalanan muhibah antarnegeri itu dia lakukan berpuluh-puluh tahun sebelum Christopher Columbus, Vasco da Gama, atau Ferdinand Magellhan mengembangkan layar kapal mereka. Cheng Ho memulai ekspedisi pertama tahun 1405, sedangkan Columbus baru tahun 1492 menjejakkan kaki di “dunia baru”, da Gama tahun 1498 berlabuh di Kalkuta, India, dan Magellhan tahun 1519-1522 mengelilingi dunia.

Dalam tujuh kali perjalanan panjang itulah, enam kali armada Cheng Ho singgah di Jawa, antara lain di Surabaya, Tuban, Semarang, dan Cirebon. Dan kini, Wie, lebih dari enam ratus tahun setelah pelayaran pertamanya, kebesaran lelaki yang konon bertubuh tinggi besar, bersuara mengguntur, tetapi rendah hati dan toleran, itu kembali dikenang. Berbagai acara diadakan untuk memperingati ekspedisinya di berbagai belahan dunia. Berbagai orang bergegas menelisik jejak sang pioner itu untuk merayakan hubungan indah antarbangsa. Juga di sini, di negeri kita ini. Hopla!

 

TUJUH EKSPEDISI CHENG HO

Tahun dan Rute

I 1405-1407 I, II, III: Nanjing, Changle (Fujian), Qui Nhon

II 1407-1409 (Campa/Vietnam), Jawa, Palembang, Malaka, Samudra Pasai, Gale (Sri Lanka), Quilon, Cochin.

III 1409-1411 Kalkuta (Pantai Malabar, India).

IV 1413-1415 Rute sama, lalu ke Hormus (Iran).

V 1417-1419 Rute sama, setelah Hormus ke Dhofar (Oman), Aden (Yaman), Mogadishu, Baraawe (Somalia), Malindi (Kenya).

VI 1421-1422 Rute sama, tujuan Baraawe.

VII 1431-1433 Rute sama, setelah tiba di Malindi ke Mombasa (Pantai Swahili, Tanzania).

(Diolah dari Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, penyunting Hembing Wijayakusuma, Jakarta: Obor, 2000, halaman 60-61, dan National Geographic Indonesia, Juli 2005, halaman 36-37.)

sam-po-kong02

Kelenteng Sam Po Kong, Gedung Batu, Simongan, Kota Semarang

 

Mendebur Pantai, Berlayar di Setiap Sanubari

ENAM dari tujuh kali perjalanan muhibah, armada Cheng Ho singgah di Tanah Jawa. Cirebon, Lasem, Tuban, dan Surabaya adalah beberapa bandar yang dia singgahi. Dan Semarang? Benarkah dia singgah ke kota ini dan bahkan beberapa kali salat jumat di masjid, yang kelak kemudian hari menjadi kelenteng, di kawasan Simongan?

Ya, itulah yang terceritakan dalam Sam Po Kong: Perjalanan Pertama karya Remy Sylado (Jakarta: Gramedia, 2004). Dalam novel, yang semula merupakan cerita bersambung yang dimuat Suara Merdeka, itu armada Cheng Ho singgah di Semarang lantaran Wang Jing Hong, kepala juru mudi, sakit dan dibawa ke daratan untuk penyembuhan. Pada saat-saat itulah Cheng Ho, seorang muslim yang saleh, kerap kali turun dari kapal dan salat jumat di sebuah masjid yang didirikan di kawasan perbukitan Simongan.

“Ah, itu kan kisah fiktif. Masa kau memercayai kenyataan fiksional sebagai kebenaran faktual? Bukankah tak mungkin menuntut pertanggungjawaban metodologis dari sisi kesejarahan atas kebenaran yang tersajikan?” ujar Kluprut, seraya menyeringai di sudut ruang batin saya.

Kenapa ucapan Kluprut terasa benar sebagai ejekan? Nyaris sarkastis. Tak ayal, saya segera teringat: bahkan sudah pada awal novel setebal 1.111 halaman itu Remy Sylado menuliskan ucapan sang tukang cerita (halaman 4), “Ceritaku tentang Sam Po Kong ini berbeda dengan sejarah yang ditulis oleh beberapa ahli sejarah, baik yang ahli sejarah Belanda, Prancis, maupun Cina. Oleh sebab itu, kalau kalian ingin mengetahui ceritaku tentang Sam Po Kong, pertama, aku minta kalian harus berpihak dulu pada kebenaran yang aku tawarkan. Menurut penelitian sejarah yang paling akhir, Ceng Ho tidak pernah ke Semarang. Padahal menurut sumber sejarah yang lain, disebut dengan jelas bahwa Ceng Ho pernah memimpin salat Jumat di sini. Nah, itulah uniknya.”

Dan, ketika seseorang mempertanyakan kejadian sebenarnya, tukang cerita pun berkata (halaman 4), “Cerita sejarah tidak ada yang disebut paling benar. Sebab, semua cerita sejarah dibuat berdasarkan kemauan untuk membuat orang percaya pada kebenaran yang hendak diacu. Makanya, …, sebuah cerita sejarah, bagi pihak yang tidak percaya, dianggap tidak benar. Yang penting… cerita sejarah harus selalu berpihak. Cerita sejarah tidak seperti buku telepon di mana semua nama dihadirkan dengan kedudukan sama penting. Dalam cerita sejarah, ada nama yang baik, ada juga nama yang jahat,….”

Yap, perdebatan soal benar atau tidak Cheng Ho singgah dan tinggal beberapa saat di Semarang menjadi bagian pula dari tabir sejarah yang belum penuh-seluruh tersibak. Bagian ini pula yang kerap mengundang kontroversi.

Kong Yuanzhi (Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Jakarta: Obor, 2000: 60-61) mengelaborasi dan menyajikan enam pendapat berbeda mengenai perkara itu. Pertama, Li Changfu (Sejarah Penjajahan Tiongkok, Taiwan: Shang Wu, 1983, halaman 110) pada tahun 1936 menulis bahwa “Armada Cheng Ho berangkat dari Sungai Liujia, (Kabupaten) Suzho (Provinsi Jiangsu), singgah di Provinsi Fujian, terus berlayar ke selatan. Setelah singgah di Campa, armada sampai di Jawa. Kala itu armada (Cheng Ho) mungkin mendarat di Semarang.”

Kedatangan armada itu tahun 1406. Itu pula pendapat Wu Shehuang (Sejarah Indonesia, Jakarta: Dunia, 1951, halaman 95).

Hartono Kasmadi dan Wiyono (Sejarah Sosial Kota Semarang 1900-1950, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1985, halaman 77) juga menyatakan, “Menurut dugaan,… Laksamana Cheng Ho yang telah diutus oleh Kaisar Yunglho dari Dinasti Ming untuk mengadakan pelayaran ke daerah-daerah di Laut Selatan dari tahun 1405 sampai 1433… mungkin telah mengunjungi Semarang pada tahun 1406.”

Kedua, Liu Ruzhong (Cheng Ho Berlayar ke Samudra Barat, Beijing: Toko Buku Tionghoa, 1983, halaman 17-18) menyatakan bahwa Cheng mendarat di Semarang pada pelayaran kedua (1407-1409) karena bentrokan antara awak kapal dan Raja Barat di Jawa.

Ketiga, Liem Ek Chang (Amen Budiman, Semarang Riwayatmu Dulu, Jilid 1, Semarang: Tanjung Sari, halaman 19) mengemukakan bahwa Cheng Ho mengunjungi Jawa dua kali antara tahun 1406 dan 1412. “Dia mendarat di Mangkang di dekat Kendal,” tulisnya,

Keempat, dalam Tjatatan Melajoe (MO Parlindungan, Tuanku Rao, Djakarta: Tandjung Pengharapan, 1964, halaman 653) disebutkan: “Armada Tiongkok/Ming Dynasty selama satu bulan singgah di Semarang untuk perbaikan kapal2. Laksmana Hadji Sam Po Bo, Hadji Mah Hwang, dan Hadji Feh Tsin, sangat sering datang Sembahjang di Mesdjid Tionghwa/Hanafi di Semarang.”

Kelima, Liem Thian Joe (Riwajat Semarang, Semarang-Batavia: Boekhandel Ho Kim Joe, 1933, halaman 1) menyatakan “… kira-kira taon 1416 sadja ada orang Tionghoa jang indjek daerah Semarang.” Dia menyatakan, orang China pertama yang tiba di Semarang adalah Sam Poo Tay Djin, yang meninggalkan bangunan yang tak terlupakan: Gedung Batu atau Sam Poo Tong.

Keenam, Heru Christiyono (“Cheng Ho” dalam Majalah Semarang Nomor 654, 1984) dan Li Changfu (Sejarah Penjajahan Tiongkok, Taiwan: Shangwu, 1973, halaman 111) mengemukakan bahwa Kaisar Xuan De bertakhta sejak tahun 1426 sampai 1436. Jika Cheng Ho memperoleh perintah dari Kaisar Xuan De untuk melakukan perjalanan muhibah ke selatan, tentu itu ekspedisi ketujuh yang berangkat tahun 1431. Sebab, pelayaran keenam berlangsung pada 1421-1422 ketika Xuan De belum naik takhta. Banyak sumber menyebutkan, armada Cheng Ho mendarat di Semarang pada tanggal 30 Juni Imlek.

“Apa pula pendapat Profesor Kong?” sergah Kluprut, lagi-lagi sembari menyeringai.

Ah, ya, saya lupa apa pula pendapat Kong Yuanzhi. “Sudahlah. Tak penting benar, Cheng Ho pernah singgah, mendarat, salat jumat atau tidak di Semarang. Kalaupun iya, ada bagian yang jauh lebih penting bukan?” ujar Kluprut tak sabar. “Itulah misi ekspedisi sang laksamana: menciptakan hubungan antarbangsa berdasar saling pengertian dan toleransi. Dan Cheng Ho berhasil! Itulah yang terpenting.”

Benarkah? Dan, masihkah hasrat itu mengalun, terus mengalun seperti gelombang yang senantiasa mendebur ke pantai, ke setiap pantai di mana pun di muka bumi ini? Dan di sanubari kita? Jika iya, betapa indah!

 

5 Comments to "Laksamana yang Tak Mati-mati"

  1. Martinus  30 June, 2013 at 20:53

    Saya sering membaca berita atau cerita2 Baltyra.com dan sekarang saya lebih yakin cerita2 Sam Po Kong atau Ceng Ho di kelenteng Semarang/ daereh Pecinan kalau tak salah sampai ke kesultanan Cirebon; dulu pernah saya kunjungi sebab sejarah2 di Indonesia sangat tertarik untuk saya selagi muda/kanak2.
    Cerita2 ini bisa dibaca dan diperbaiki atau disempurnakan dengan cerita2 dari buku 1421 yang ditulis oleh Gavin Menzies. Memang saya ada dengar bahwa Serdadu belanda ada menyita dan membakar cerita2 yang tercatat dari Semarang; karena banyak orang2 Tionghoa yang membantu atau menyaport rakyat Indonesia sebelum Proklamasi; yang saya pernah dengar cerita.
    Nenek Buyut saya asal, kemungkinan kelahiran Rembang dan dikenal/ dipanggil nyonyah Genah, dulu sebagai bendahara di kelenteng di Rembang.Memang Cerita Yang Harus dan bisa ditiru.

  2. J C  26 June, 2013 at 07:43

    Tulisan tentang Cheng Ho selalu tak ada habisnya…

  3. EA.Inakawa  25 June, 2013 at 19:44

    sejatinya setiap sejarah harus selalu disampaikan kepada anak cucu sehingga mereka tau kisah yang sesungguhnya seperti kisah ini yang tidak pernah ada matinya…..ingat Laksamana Cheng Ho jadi ingat Film nya Yusril Ihza Mahendra, salam sejuk

  4. Dj. 813  25 June, 2013 at 19:18

    Kang Putu, terimakasih untuk banyaknya informasi…
    tapi juga membingungkan ya, karena nggak tau yang benar yang mana.
    Kecuali masih ada yang hidup yang pernah melihat Laksamana Cheng Ho mendarat di Semarang.
    Hahahahahahahahahahah…!!!

    Nah ya, yang jelas, kami pernah ke sana, saat 2010, karena hanya ingin tahu saja.

  5. Dewi Aichi  25 June, 2013 at 17:58

    Terima kasih Kang …yang ini belum pernah baca. Awalnya saya ngga tertarik membaca apa saja tentang Laksamana yang satu ini. Tapi setelah melihat filmnya, saya jadi mencari banyak bacaan..saya ngga mampu mengingat nama nama satu per satu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.