Papa, Mama…Pulang Ya…

Imam Dairoby

 

Kilau cahaya matahari membuat kerlip di gelombang laut. Cahaya merah di langit serta hembusan angin sore membuat suasana sangat sejuk. Sesekali ku bergidik kedinginan menjauh dari riak ombak kecil di tepi pantai. Tubuhku sebagian basah terkena air laut yang menerjang ketika aku mancing. Gelak canda temanku terdengar diselingi bunyi debur ombak. Seember ikan hasil tangkapan aku dan dua temanku dibagi rata untuk dibawa pulang masing-masing ke rumah.

Menjelang magrib aku baru sampai di rumah. Omelan nenek yang sering kupanggil mama tua pasti akan kudengar, tapi dengan ikan yang ada di tanganku mungkin akan mempersingkat  omelannya. Dengan berjingkat ku pergi ke sungai belakang rumah untuk mandi dan bersihkan ikan yang tadi kudapat. Terdengar suara mama tua meneriaki ku agar mempercepat mandiku karena suara adzan Magrib di surau samping rumah telah berkumandang. Ku selesaikan segera mandiku dan menyerahkan ikan pada mama tua di dapur.

Syukurlah walau omelan mama tua masih terdengar tapi ku lihat wajahnya senang karena malam ini kami tidak membeli ikan untuk dimasak. Mama tua pasti akan memasakkan masakan kesukaanku yaitu ikan kuah. Ku lihat kakek baru saja pulang dari kebun menjinjing sebuah nangka yang besar. Berbeda dengan mama tua, papa tua sebutanku untuk kakek sangat pendiam. Beliau jarang memarahiku dan adikku. Papa tua sangat sayang pada kami berdua. Mungkin karena papa dan mamaku tak berada di samping aku dan adikku.

Namaku Kiki, usiaku sebelas tahun sekarang aku duduk di Sekolah Menengah Pertama kelas 1. Aku memiliki adik laki-laki bernama Dandy. Aku dan Dandy berperawakan kurus dan hitam karena seringnya kami berdua bermain di tepi pantai.

Aku tinggal di sebuah kampung kecil bernama Watambo di pulau Buton sulawesi Tenggara. Pulau yang terkenal di buku pelajaran sebagi pulau penghasil aspal. Kampung kami berbatasan langsung dengan laut yang di atasnya berjajar  drum dan botol air mineral sebagai pelampung yang dipakai untuk budi daya rumput laut. Berjejer pula rakit-rakit yang digunakan untuk menanam Mabe atau kerang. Itulah sumber kehidupan kampungku yang banyak bermata pencaharian sebagai nelayan. Di  samping itu orang di kampung kami berladang jagung, ketela pohon dan jambu mente.

Ibuku asli dari kampung dan anak sulung dari mama tua dan papa tua sedang ayah adalah seorang perantau dari Jawa. Aku dan adikku berada di kampung ini sejak 3 tahun yang lalu, ketika mama dan papa memutuskan untuk meninggalkan kota Manado dan menetap di kampung ini.

Dulu aku sangat tak suka berada di kampung ini karena sangat sunyi dan tak ada keramaian. Sempat beberapa kali aku protes pada papa dan mama mengapa harus tinggal di kampung. Sesekali aku menangis dan ingin kembali ke tempat nenekku dari pihak papa di Manado. Kadang aku ngambek tidak mau makan karena aku tak suka di kampung. Apalagi dengan bahasa Wolio atau bahasa Buton yang tak ku paham sama sekali. Aku sempat tidak mau sekolah karena teman-temanku tak ada yang bisa ku ajak bermain. Permainan mereka sangat kampungan.

Seiring waktu dan kasih sayang yang diberi oleh mama tua dan papa tua serta saudara-saudara di kampung aku mulai merasa betah, apalagi aku bisa bermain sepuasnya di sungai kecil belakang rumah, berlarian di tepi pantai dan memancing ikan yang seperti tak akan pernah habis berenang di laut . Ketika  hari libur sekolah aku akan diajak ke kebun, menanam sayur atau jagung. Dan bila tiba saat panen jambu mente, kami sekeluarga akan ke ladang dan memunguti mente yang telah terpisah dari dari buahnya karena buahnya dimakan oleh monyet.

Aku masuk ke kamar untuk berganti pakaian, dan ketika ku buka lemari terlihat pakaian papa dan mama. Rasa rinduku tak terbendung lagi ketika melihat pakaian mereka tergantung di lemari atau saat melihat foto mereka. Di lemari terdapat tumpukan buku milik papa, dan beberapa buku harian papa. Buku itu masih tertata dan  beberapa sudah ku baca sebagai pelepas rindu pada papa.

Setahuku papa telah dua tahun meninggalkan aku dan Dandy. Ketika lebaran Idul Adha 2 tahun yang lalu papa pulangselama seminggu di rumah. Dan mulai saat itulah ku tahu hubungan papa dan mama mulai tak harmonis lagi. Entah mengapa mama sejak itu sering marah-marah kepada kami. Papa berkata mama sedang sakit, makanya mama sering marah-marah.

Setahun berikutnya giliran mama meninggalkan kami diasuh oleh mama dan papa tua. Aku tak bisa membayangkan ketika itu terpisah dari papa dan mama, tetapi aku dan Dandy harus menerimanya karena papa dan mama pernah berkata kepergian mereka untuk masa depan kami.

Aku teringat saat dulu kami seakan tak terpisahkan, selalu bersama walau  papa memang sering meninggalkan kami karena alasan pekerjaan, tetapi ada mama di samping kami yang menjaga dan merawat.

Saat malam menjelang tidur kadang aku kasihan dengan Dandy karena biasa ketika papa dan mama ada dia akan tertidur ditemani mereka berdua. Sekarang Dandy terkadang tertidur di depan televisi bersamaku. Mama Tua akan menyelimuti kami ketika kami sudah terlelap, dan terkadang Papa tua akan menemani dan memeluk kami saat tidur.

Air mataku jatuh, sungguh aku sangat merindukan papa dan mama. Demikian juga Dandy, saat dia menangis sering memanggil papa dan mama. Ingin rasanya protes apa yang terjadi pada kami, mengapa harus hidup terpisah dengan orang-orang yang kami sayangi, tapi harus protes pada siapa?

Teriakan Mama tua yang menyuruh aku dan Dandy makan malam membuyarkan lamunanku. Ku seka air mataku dan segera ku kenakan pakaian dan keluar menuju dapur. Ku lihat Dandy telah di dapur dan makan disuapi mama tua. Dua orang sepupuku yang tinggal serumah pun telah di dapur dan makan bersama. Papa Tua tak terlihat karena sedang menjaga warung kecil milik mama tua.

Dapur kami sangat luas, ini adalah ciri khas rumah suku Buton. Rumah panggung dengan panjang hampir 20 meter ke belakang. Rumah mama tua memiliki 4 buah kamar, dengan ruang tamu dan dapur yang luas. Dibuat seperti itu karena biasanya dipakai untuk acara Haroa atau baca doa yang sering sekali diadakan oleh orang-orang di kampung kami.

Ku lihat mama agla tanteku sedang di depan kompor memanaskan makanan untuk suaminya. Mereka berdua juga menyayangi aku dan adikku. Saat mau sekolah Papa agla yang akan menyetrikakan bajuku dan Dandy. Aku sangat bersyukur karena semua anggota keluarga memperhatikan kami.

“ Ki, makan yang cepat. Besok mungkin papamu datang, tadi dia sms sama mama tua, tapi papamu bilang jangan beritahu adikmu biar katanya ada kejutan,” mama tua membisikkan kabar gembira untukku.

Papa memang pernah berjanji akan datang saat lebaran haji, tak terkira senangku karena kau telah 2 tahun tak bertemu papa. Aku tersenyum senang, ku habiskan makan malamku dan ku ambil buku pelajaran karena besok ada ulangan harian. Aku tak mau hasil ulanganku jelek karena aku tidak belajar. Apalagi papa akan datang, aku harus memperlihatkan bahwa aku bisa membuat dia bangga.

Dandy telah berbaring di kasur yang di gelar di depan televisi. Aku menggodanya dengan menyentil hidung nya, dia ingin membalasku tapi aku segera berlari ke arah kamar. Aku memang senang menggoda adikku. Walau kami sering bertengkar tapi aku tak akan bisa jika harus terpisah dari adikku.

Saat ku keluar lagi dari kamar ku lihat Dandy telah tertidur, aku duduk di sampingnya sambil ku baca lagi pelajaran yang akan di uji besok hari. Ku matikan televisi dan hanya suara tokek sesekali terdengar, udara malam mulai dingin. Kantuk semakin tak tertahan dan mataku mulai tak bisa menahan untuk di pejamkan. Ku beranjak menyimpan buku pelajaranku dan kuambil sarung papa, ku pakai untuk tidur. Mungkin dengan begini papa juga merasakan bahwa kami pun rindu, sebagaimana kami juga merindukan papa dan mama berada di samping kami berdua.

Terlelap aku dan bermimpi melihat papa dan mama datang dari arah yang berlawanan. Semakin lama semakin dekat dan ingin ku rengkuh mereka dalam pelukan ku. Papa dan mama merentangkan tangan mereka memeluk ku. Mereka mendekapku, mendekap dengan erat.

akasia-thumbnail

Papa,

Mama

Rindu kami tak berkesudahan

Setiap saat berharap kalian telah ada di depan pintu

Terdengar suara kalian memanggil nama kami

Mata kami berkaca

Ketika melihat teman bercengkerama dengan orang tuanya

Teringat masa kita bersama

Tak terpisahkan selalu bersama

Papa, mama………….pulang ya, jangan biarkan kiki dan Dandy sendirian lagi”.

 

 Samarinda, 23 November 2011

Cerita Pendek ini termuat dalam Buku Kumpulan Cerita Pendek : Akasia (Di sini ku temukan diriku)

akasia

 

12 Comments to "Papa, Mama…Pulang Ya…"

  1. IDM  26 June, 2013 at 17:08

    @Mas JC : Terima kasih kembali mas….

  2. IDM  26 June, 2013 at 17:08

    @Mas DJ : Terima kasih mas . Salam kembali dari Bumi Borneo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.