[Serial Masa Terus Berganti] Do It with Your Style

Dian Nugraheni

 

Anakku yang gede, aku lihat, dia pengennya “tampil” mlulu. Ada lomba kontes-kontesan, maunya ikut terus. Sekali dua kali, aku turuti, tapi lama-lama, kok kantongku jebol juga. Bayangkan kalau sekali tampil butuh bujet setengah juta untuk beli-beli busana sesuai tema, sebulan sekali ikut event, pastilah sudah mengurangi jatah bensinku.

Atau, ketika ada lomba nyanyi, dia juga ngotot pengen ikut.. Wo..lha iki, jan.., piye to.. “Kak, lomba kontes, boleh jadi cuma jalan di atas cat walk, tapi lomba nyanyi tanpa persiapan.., no way lah..”

Akhirnya, aku suruh dia les nyanyi. Kualitas suaranya memang cuma standard saja, aku pun bilang pada guru nyanyinya, “minimal dia bisa bernyanyi dengan nada yang benar..”

Dan, suatu hari ada lomba nyanyi, ikutlah dia. Lagunya juga agak “berat” bagi pemula, macam lagu Sherina waktu kecil, atau lagu-lagu Akademi Fantasi anak-anak. Yeahh, babak penyisihan sepuluh besar, dia masih terjaring. Itu pasti karena dia menyanyi dengan “benar”, bukan sangat bagus atau mengejutkan. Sebab lawan-lawannya, aku lihat punya banyak kelebihan.

Apa yang terjadi, kawan-kawan…

Nah, untuk ini aku sudah mempersiapkan “jurus” tamba ati, ketika sesuai dugaanku, dia tidak memenangi satu pun dari piala-piala yang disediakan.

“Kok aku ga menang, sih, Mah, padahal nyanyiku kan ga fales..bla..bla..bla.. Padahal aku kan pengen dapat piala…”

paduan suara

Regu Paduan Suara, bersama bu Guru

 

“Kak, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Kakak tadi nyanyi tidak jelek, tapi yang lain memang banyak yang lebih bagus. Beri kesempatan mereka untuk menang lomba nyanyi, karena memang mereka layak untuk itu…”

“Tapi aku kan pengen piala..” masih kesal dia..

“Piala sangat berarti ya buat Kakak. Tu sudah ada piala menang lomba presenter, lomba wajah fotogenik. Ada kan beberapa punya kakak? Ayolah.., kam on, my girl.. kamu tahu, Joshua, dulu penyanyi cilik (dia ga tau siapa Joshua), gak pernah dapat piala, sepanjang pengetahuan Mamah, tapi, selama kurun waktu yang cukup panjang, Joshua pernah menjadi “penghibur” buat anak-anak, maupun orang-orang dewasa. Jadi kalau Kakak pengen piala, kita bisa beli di toko Sport & Music sana tuh, tapi kalau Kakak pengen lebih berarti dari sekedar piala…, itu lain lagi masalahnya.., yang paling penting, kita harus tahu siapa diri kita, dan bagaimana kemampuan kita, trus mau ngapain dengan itu semua”

“Jadi, gimana..” tanya Kakak, pasti ga mudeng, he2, kalimatku, kata teman-teman “Lo ngomong ma anak, ma orang dewasa, ma orang goblok, ma orang pinter, bahasanya samaaaa aja..”

“Gini, Kak. Bagi Mamah, Mamah tau persis siapa Kakak, keinginan Kakak, dan sebagainya. Tapi kalau boleh Mamah bilang, Mamah lebih senang kalau memang Kakak pengen nyanyi, bernyanyilah dengan hati, untuk menghibur orang lain, dan sekaligus menyenangkan hati Kakak sendiri. Di ulang tahun teman, di acara-acara lain yang ga ada pialanya, cobalah Kakak nyanyi.., nanti Kakak akan merasa senang, lebih senang daripada ketika Kakak dapat piala..Pialamu, adalah hatimu, kemenanganmu, adalah rasa bersyukurmu, ketika melihat ekspresi orang-orang yang kau hibur, semua bertepuk tangan, dengan kasih sayang.., meski.., meski mungkin Kakak tak bernyanyi seperti penyanyi-penyanyi berbakat yang sering menang lomba… Gmana.. Oke, gak?”

 

*******

Atau, ini klip kecil dari kehidupan, ketika si Adik, yang cukup cuex dan serba jawab “Mbuhlah..” kalau aku sedang mengatakan sesuatu yang dia kurang minat. Di Taman Kanak-Kanak, dia pegang melodi untuk alat musik balera ketika latihan Marching Band.

Dia memang sedikit agak mengejutkan dalam hal menangkap nada. Di rumah, dia menuliskan sendiri not lagu-lagu yang dia suka nyanyikan, seperti Ibu Kita Kartini, misalnya, dia cari nadanya di tuts piano, dan menulisnya di sebuah kertas. Percaya ga percaya, bila dalam satu lagu ada 32 ketukan not, sepanjang itu pula angka-angka nada dia tuliskan di kertasnya, maka niscaya orang lain ga akan bisa membaca untuk memainkannya sebagai nada, karena itu cuma nampak sebagai deretan angka. Misalnya lagu X, nadanya dari awal sampai akhir, akan dia catat seperti ini :

2 3 4 2 3 5 1 6 7 3 2 1 4 5 4 4 5 5 6 6 1 1 1 2 3 4 3 4 3 4 5 5 6 6 3 4 3 4 2 2 1

 

Naah, sapa sangka tulisan angka ini adalah deretan nada lagu? Ya, makanya aku bilang, dia yang nulis, cuma dia yang bisa baca dan mainkan nada notnya di piano. Hehh..aneh juga ni anak..

Tapi sayangnya, kemudian si Cuex ini malah didaulat sebagai mayoret…Apa daya, coba? Aku sebagai ibunya “ketir-ketir”, apa iya anakku mampu “membawa” teman-temannya berlaga di arena lomba nanti, mengingat kecuekannya, sdikit ga peduli. Dan aku dengar Mamah-mamah lain banyak yang komentar ga setuju, ketika anakku dijadikan salah satu mayoret. Huhh, beban perasaan yang cukup berat, boo..

Sampai hari lomba tibalah, anak-anak kecil itu sudah berdandan seragam siap berlaga. Gagah, semarak, dan bersemangat. Dan ketika mereka memasuki GOR, Gedung Olah Raga yang full pemirsa.., aku lihat anakku yang akan memimpin kawan-kawannya selama sebelas menit ke depan,..pucat, keringat dingin, mengkeret, dan hilang keceriaan yang tadi dibawanya.

Aduhh, anakku stress, kiye.., Priwe..,Mungkin juga sudah demam panggung, kecil hati, dan sebagainya, demi melihat lautan manusia yang pastinya dia tidak pernah sangka. Mungkin dalam pikirannya, ya cuma tampil kayak latihan seperti biasanya, yang nonton cuma bu Guru dan Mamah-mamah lain. Duh Tuhan.., gmana ini…

Detik demi detik menuju lomba, aku berpacu dengan waktu, “Dek, sumuk ya, lepas dulu topinya..” sambil aku susut keringatnya.

“Aku takut, Mah.., kok buanyak banget yang liat. Ntar kalau gak menang gimana..” Nah, bener kan.., dia diliputi rasa takut…

“Hei, knapa takut, sayang. Tuh, liat, anak-anak TK lain juga banyak kok..,” aku menghibur, sambil terus berdoa, dzikir.., apa pun. Ya Allah, kuatkan hati anakku…

“Adek jangan berpikir menang atau tidak menang. Adek cuma harus bermain dengan baik, seperti yang selama ini Adek sudah latihan. Yang penting lagi, teman-temanmu yang 70 orang itu, menunggu kalian pimpin. Mayoretnya kan ada 3, Adek, Loren, dan Cria harus pimpin teman-teman. Oke? Jangan takut, santai aja. Mamah ada di tribun dekat juri, Adek bisa liat Mamah selalu di situ waktu Adek di arena. pegang tangan Mamah.., berdoa, ya..” Si Adik menatapku, mengangguk, masih dalam pucat dan ekspresi tegang, takut…

Dan, syukurlah, berangsur-angsur si Adik tenang, sampai detik waktunya dia dan teman-teman kecilnya berlaga. “Hei, tolong berdoa untuk anak-anak kita,” gitu teriakku pada Mamah-Mamah lain yang hadir sebagai suporter. “Ok, pasti..” jawab mereka…

lomba

Aku mau lomba..

 

Dan ketika anak-anak kecil itu membuka atraksi dengan irama pendek pemanasan, intro..baru sebuah intro.., lagi-lagi, GOR yang semula sorak sorai.., malah hening.. Di tribun sebelah juri, aku dan Mamah-mamah lain saling berpegangan tangan, tercekat haru, melihat anak-anak kecil yang dikaruniakan hati yang hebat oleh Tuhannya…

Tepuk tangan sesekali bergemuruh, ketika ada moment-moment atau irama indah yang dimainkan anak-anak.. Bergerak, bergeser, membentuk konfigurasi, memainkan nada-nada dengan bening dan tepat. Sampai tunai 11 menit permainan mereka..barulah GOR bergemuruh sepuasnya.. Setumpahnya. Penuh sorak sorai.

Sorak sorai, salah satu indikasi, bahwa permainan yang baru saja tersaji, memuaskan penonton, diapresiasi secara spontan dengan teriakan pujian yang tulus, bahkan dari pihak-pihak lawan (maksudnya supporter dari TK-TK lain yang bersaing dalam lomba ini, gitu loh..)

Aku berlari turun dari tribun, menyambut anak-anak di pintu keluar, tapi tak kutemukan si Adik, si Cuex yang Mbuhlah.., duhh, mana anak ini.. Dan setelah pontang panting mencari, ternyata anakku sudah “ditangkap” Bapaknya,..lagi cemat cemot makan es krim sunduk (es krim yang ada gagangnya…)

Wuihh, lega rasanya lihat si Adik sudah melalui sebelas menit berlaga bersama teman-temannya. Bukan permainan yang buruk, nyaris sempurna di kelasnya…

“Dek, makasih ya, Adek dan kawan-kawan tadi main sangat bagus.., berhasil kan? Tadi gak takut, kan ?”

Dia cuma menggeleng tanpa beban sambil jilati es krimnya, “Kalau ga menang ?” tanyanya, kali ini sudah dengan ekspresi sehari-harinya, cuex dan EGP, Emang Gue Pikirin…

“Mamah ga minta kamu harus menang, kan? Adek sudah “menang”..Tuh sudah ga takut, sudah selesai bertugas, dan..bagus kok..”

Dan ketika pengumuman hasil lomba..Anak-anak kecil itu..memenangi juara kedua, dan Mayoret memenangi juara pertama..Mayoret terbaik, katanya…

Piala-piala itu, pasti membuat anak-anak bersorak, Mamah-mamah tak percuma kerja keras mendukung anak-anaknya, Ibu gurunya pun tersenyum bangga.

Tapi, anakku.., bagi aku, Mamahmu, kemenangan adalah kemenangan hatimu sendiri, ketika kau menatapku, mengangguk, setuju untuk berdoa bersama Mamah, singkirkan rasa khawatir, besarkan hatimu sendiri.. tadi, ketika kamu down melihat lautan manusia di sana…

“Thanks, Adek.., Terimakasih karena kamu mampu mengatasi dirimu sendiri..”

(Coba kalau tadi kamu ga bisa mengatasi dirimu sendiri, bisa-bisa Mamahmu ini yang tampil jadi mayoret…Halo Mamah-mamah teman ane di Indonesieee.., bisa bayangin gak.. wakakak dah.. Tuh ada yang nyletuk, “Iya, mayoret Kenthongan..huehh..huehh…)

“Thanks Tuhanku, ini pastilah, KARYAMU…”

 

 

North Carlin Spring,

Arlington, Virginia

 

Dian

Di sini jam 12.39 siang, hari Senin tanggal 9 September 2009,

Fall, menuju Winter, hari ini ada Matahari…

 

8 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Do It with Your Style"

  1. tri  26 June, 2013 at 10:42

    anak yang manis dan pintar, ini kisah dik Alma ya..?

  2. J C  26 June, 2013 at 07:43

    Dian, aku malah jadi penasaran, apakah di Amrik sono ada yang kayak gini?

  3. elnino  26 June, 2013 at 04:33

    Anak2 hebat yang dibesarkan oleh mama hebat… Matahari, itu cerita sebelum Dian dan keluarganya pindah ke Virginia, hehe…aku wakilin ya Dian

  4. Matahari  25 June, 2013 at 22:18

    Ini cerita dimana? Di USA? seragam sekolah Indonesia

  5. EA.Inakawa  25 June, 2013 at 19:15

    Begitulah dunia anak anak, penuh impian & ingin pujian…..kuncinya tinggal bagaimana orang tua memberikan motivasi & mengiburnya dengan cara dan bahasa anak anak yg membuat mereka bisa memahami, tidak cemburu dan putus asa, senang membaca artikel ini, salam sejuk

  6. Dj. 813  25 June, 2013 at 18:26

    Jadi ingat beberapa tahun yang lalu, saat cucu Dj.
    melihat digudang banyak piala Dj. saaat dulu sering ikutan lomba mancing.
    Dia sangat sumringah saat melihatnya dan bertanya, apa dia boleh minta satu…???
    Dj. jelaskan, sebenarnya lebih baik kalau dia latihan apa saja, nanti ikut pertandingan,
    kalau menang, akan dapat piala, itu lebih berarti.
    Tapi kalau mau, dari pada memenuhi gudang, kamu boleh ambil semua.
    Oooooo… dia sangat hepi dan benar dia bawa pulang.
    Nah saat dia nantang Dj. main catur, omanya berkata, kamu harus sangat hati-hati, karena
    belum ada yang ngalahi opa.
    Saat main, dia sangat serius dan bisa remis, tapi Dj. bilang, kamu sudah menang.
    Dj. sendiri kagun, karena dia baru berumur 7 tahun, tapi cara berpikir dan menjalankan catur sudah
    sangat bagus. Dj. bilang ke papanya, agar dia masuk club catur. Dia dengar dan dia bilang belum mau.
    karena saat ini masih getol ikut Break-Dance, walau baru awal, karena sahabatnya ada disana.

    Okay, selamat untuk putrinya, semoga sukses selalu.
    Salam,

  7. Dewi Aichi  25 June, 2013 at 18:19

    Memang sih, ada type mama yang hanya bisa menuntut anaknya harus menjadi nomor satu, hal ini sungguh menyedihkan.

    Eh Dian sedang menuju ke Indonesia kayaknya ya?

  8. Anastasia Yuliantari  25 June, 2013 at 12:06

    Enak kl mamanya spt Dian. Lha kapan hari aku lihat ada mama yg marahin anaknya gara2 si anak kurang maksimal katanya, ga bisa menang lomba. Wis……bisa stress anaknya tuh.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.