Sanggul

Probo Harjanti

 

Melihat perempuan bersanggul, selalu membuat saya suka apalagi ditambah kebaya, wow…bukan main. Entah kenapa, saya selalu merasa, setiap perempuan yang bersanggul dan berkebaya, memiliki kharisma tersendiri, selalu tampil menarik, luwes, tak peduli ukuran badannnya macam apa. Mau kurus apa gemuk, tinggi atau pun pendek, selalu luwes saat berkebaya. Sayangnya, semakin sedikit orang yang mau repot-repot berkebaya, meski hanya sesekali.

Aneka model sanggul saat sekolah mengadakan acara Kartinian sekaligus Hardiknas ini menarik perhatian saya. Jadilah foto-foto kepala, sebagian tanpa wajah, maksudnya wajahnya tidak kelihatan….nanti disangka hantu kalau tak berwajah.

Selain foto sanggul  dari sekolah tempat tugas saya, tak afdol tentu kalau tidak ada foto sanggul lain. Jadilah ada beberapa foto sanggul yang lain. Semoga foto-foto sanggul ini menjadikan kita makin Indonesia, dan semakin cinta Indonesia.

Tetapi, melihat kenyataan sekarang, dan perkembangan akhir-ahir ini, saya jadi kuatir, bahkan ngeri. Ngeri kalau-kalau anak cucu kita tak kenal apa itu sanggul.  Kalau kenal saja tidak, tentunya anak cucu kita tak akan bisa lagi bagaimana nggelung (menyanggul diri sendiri atau orang lain). Kalau ini sampai punah, wah….tentu sayang sekali. Hasil kebudayaan yang seelok ini harus hilang, hanya karena kebijakan sebagian pemimpin yang tidak jelas, dan berwawasan dangkal. Berapa banyak tangan yang nantinya harus menganggur, berapa banyak perut yang harus menahan lapar? Apakah mereka, para pejabat pembuat kebijakan itu mau memberi ganti sesuai dengan perolehan yang biasa mereka dapatkan? Ah…pusing mikir yang seperti ini, kembali ke ‘laptop’ saja ya……

Sanggul  banyak jenis dan modelnya, dari klasik hingga modern. Yang klasik saja ada banyak macam, ini sebagian yang saya ingat:

  • Gelung tekuk
  • Gelung konde
  • Gelung kadal menek
  • Gelung unthuk cacing
  • Gelung bokor

Sayangnya saya tidak memiliki foto-foto sanggul klasik lain, kapan-kapan saja ya….Kalau yang modern jelas lebih banyak, tapi hanya memiliki satu nama saja, sanggul modern. Sebagaimana tari, yang  klasik memiliki nama baku untuk setiap pose, gerak, dan rangkaian gerak. Sedangkan tari kreasi baru, apalagi kontemporer tak memiliki nama baku, untuk hal-hal seperti yang saya sebut sebelumnya.

Saya sangat senang, mendapati kraton Yogyakarta kembali menyelenggarakan latihan  rutin, yang mewajibkan penari putri berkebaya klasik (kartini) dan ukel tekuk (gelung tekuk) http://baltyra.com/2013/03/11/latihan-tari-di-kraton-yogyakarta-kembali-diselenggarakan/. Meski ada pihak-pihak yang keberatan dengan ketentuan tersebut, tapi itu urusan yang keberatan. Menurut saya sih, kalau keberatan ya tidak usah datang, mau ikut ya harus menuruti paugeran yang berlaku. Bukankan kalau  kita masuk lingkungan tertentu kita yang harus menyesuakin diri.  Karena pepatah ini : “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”,  tetap relevan, sampai kapan pun.

sanggul (1)

Gelung bokor

 

sanggul (2)

Gelung Tekuk pada Srimpi

 

sanggul (3)

GKR Pembayun, luwes dengan gelung tekuk dan kebaya

 

sanggul (4)

Sanggul modern

 

sanggul (5)

sanggul (6)

sanggul (7)

sanggul (8)

sanggul (9)

sanggul (10)

sanggul (11)

sanggul (12)

sanggul (13)

sanggul (14)

sanggul (15)

sanggul (16)

sanggul (17)

sanggul (18)

sanggul (19)

sanggul (20)

sanggul (21)

Salah satu siswa yang ber-gelung tekuk

 

33 Comments to "Sanggul"

  1. probo  29 June, 2013 at 17:06

    Asianerata, kalau kangen ayo sanggulan
    Matahari, tergantung kebutuhan dan pilihan saja…….
    Pak Dj: ondhe ketabrak sepur, lambe ndomble kakehan susur
    EA, ya nggak usah dipaksa……kan pilihan

  2. probo  29 June, 2013 at 16:57

    Mbak lani, seneng men ta kata terkintgil-kinthil……

  3. probo  29 June, 2013 at 16:42

    Nia, yang harus mengeluarkan gitok kan Anoew sama Ki Lurah JC

    Nur Mberok, halah melu-melu Ki Lurah…..
    IDM, @ Bu de Lani : lha tulisan iki khususon Mbak Probo tanpa Sutejo…..gelungan kintil kintil hahahah

    awas lo ya…kinthil-kinthil wae….merga isish cilik….nek gedhe kan….dolan dw

    DA, ya syukur kalau bisa ngitung sampai 10, aku ming 8 je….

    Pak Dj, itu foto putri sulung Sultan HB X

    Matahari, kayaknya kalau pakai terlalu memang nggak bagus, nggak ada lekuk-lekuknya….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.