The Butterfly Code [Lesson 1: Children of The Valley]

Awan Tenggara

 

Saat itu Desember. Di pagar depan, bunga-bunga Pyrostegia Venusta ramai bermekaran. Kabut acap datang dan pergi melamun atap rumah kami yang basah dan hijau oleh lumut. Di sana, tiga ekor tupai tampak kejar-kejaran riang menikmati dingin. Pagi masih penuh kicau burung-burung lembah dan pekik ayam-ayam hutan. Kami bertiga—aku, Paman dan Linggar—meninggalkan rumah pada hari yang belum genap pukul enam itu. Hari minggu adalah hari yang menyenangkan untuk pergi memancing. Kami libur dari mengurus kebun kopi dan ladang sawi hari ini. Memancing bersama memang sudah seperti menjadi ritual rutin yang Paman, aku, dan Linggar lakukan.

Embun-embun masih mengakrabi pucuk-pucuk rumput yang tumbuh semrawut di jalan setapak. Mereka puput dari tempatnya semula ketika kaki-kaki mungil kami menginjaknya—jatuh ke tanah, dan membikin kaki kami basah. Hutan pagi itu riuh oleh kicau burung dan nyaring suara serangga dari pohon-pohon tinggi. Siul paman melengkapinya sebagai kidung hutan pagi yang sempurna.

Menempuh satu setengah jam perjalanan ke kaki gunung menuju danau tempat kami akan memancing, aku dan Linggar lebih gembira memetik dan memenuhi saku kemeja lusuh kami dengan buah-buah berry liar ketimbang bersiul seperti paman. Mereka tumbuh di sepanjang jalan setapak. Kadang kami menemukan juga jamur-jamur kuping di kayu-kayu tua di sana. Lantaran Nenek yang menjaga sendiri rumah kami ketika kami pergi begini sangat menyukai jamur ini, mengumpulkan jamur kuping juga sudah seperti menjadi kewajiban yang kami harus lakukan. Katanya, jamur kuping bagus untuk meringankan sakit darah tinggi yang dideritanya. Itulah kenapa selain membawa tas untuk wadah ikan, kami juga membawa tas khusus untuk wadah jenis jamur yang memiliki nama ilmiah seperti sebuah mantra jika diucapkan ini; Auricularia auricula.

butterfly-code-1

                                            ***

Danau itu betapa tenang, begitu cerlang dan bersahaja, seperti mata Mahatma Gandhi ketika melihat luas dunia dengan cinta. Kembang-kembang merah yang tanggal dari ranting flamboyan kelihatan hening di permukaan, mereka berkawan daun-daun mati yang kuning dan setengah kering. Sesekali permukaan air danau itu pecah oleh ikan-ikan nila dan wader yang mencekau udara dengan mulutnya.

Danau pagi itu kedatangan tamu lain dari kota entah, seorang pemuda dengan rambut yang seperti tak pernah disisir duduk di sebatang pohon mati. Ia mengenakan surjan—baju khas Jawa—dengan motif lurik hitam dan coklat muda, rambut depannya menutup setengah mata bagian kirinya. Ia juga membawa sebuah buku usang yang tebal dan sebuah pensil isi ulang di tangan. Pemuda itu adalah Yoenda Faizik Suhendar, dialah yang dikemudian hari dinobatkan Linggar sebagai guru besarnya.

“Orang aneh, orang aneh..” kata Linggar saat pertama kami menemui lelaki asing yang duduk di sebuah batu besar di pinggir danau itu, “Apa yang kau lakukan di sini dengan potlot aneh dan buku tua itu?”

Pemuda itu hanya tersenyum. Ia kemudian melihat paman kami yang tenang memancing di sudut danau yang lain. Lalu menyentuh kening Linggar dengan jari telunjuknya setelah ia merasa apa yang akan dilakukannya kemudian tidak akan menjadi hal yang mengusik paman.

TUK!

“Aku adalah monster gunung yang sedang menjelma manusia,” katanya, “Kau apakah bocah gunung yang nakal? Mari kita berkenalan.”

“Iya, aku adalah anak nakal. Bukan, bukan cuma aku tapi, kami berdua!” Kata Linggar. “Kami berdua adalah anak nakal. Kita tidak perlu berkenalan sebab kau harus takut sama kami. Kami adalah penguasa gunung ini, kau tahu.”

Aku cuma nyengir dan menggaruk kepala melihat tingkahnya.

“Hahahaha, kalau begitu nanti aku akan memakan kalian. Monster gunung tidak takut sama anak-anak nakal!” kata pemuda itu.

Aku melihat wajah Linggar yang mendadak cemas. Seperti ia menganggap pernyataan pemuda tersebut sebagai sebuah ancaman. Ia segera menarik tanganku dan mengajak pergi.

“Dia monster gunung. Monster itu sangat kuat. Kita harus belajar dulu biar jadi lebih hebat.”

Kemudian seperti biasa, ia bertingkah seperti seorang ksatria dari negri dongeng, merebut singgasana para kera gunung, sebuah dahan flamboyan kokoh yang menjorok ke tengah danau. Linggar mengusir mereka dengan buah flamboyan yang pipih memanjang serupa pedang. Kera-kera itu hanya bisa memekik dan sepakat pergi seperti biasanya jika Linggar sudah bertingkah begini.

“Ini belum waktunya, Nggar,” kataku.

“Aku sedang stress, Ga.”

“Kenapa kau tiba-tiba stress?”

“Aku memikirkan monster itu. Mungkin segera duduk di singgasana kita bisa membuat pikiranku lebih baik.”

“Tapi air sepagi ini masih dingin, Nggar. Aku tidak mau terjun dari dahan ini seperti biasanya jika matahari belum benar-benar muncul. Kita juga ‘kan belum dapat satu ikan pun.”

“Aku mengajakmu ke sini bukan untuk hal itu.” Ia bersidekap tangan, kedua kakinya bergoyang-goyang ke depan belakang sehingga membikin gelombang kecil di muka danau yang cuma berjarak sejengkal dari kaki kami itu. “Kita juga tidak akan memancing. Kita akan memata-matai orang asing yang aneh itu. Dia seaneh Raya, teman satu sekolahan kita di kelas satu A itu, kau tahu.”

“Ada apa memangnya dengan keduanya sehingga membuat kamu stress?”

“Aku merasa mereka ini adalah orang-orang yang pada suatu hari nanti akan menghalangiku menguasai dunia!”

Aku tertawa.

Aku ketika itu merasa justru Linggarlah orang yang aneh. Ia terobsesi pada sebuah komik yang kami baca yang pernah diberikan oleh seorang pendaki gunung ketika ia lewat di depan rumah kami. Baginya, menguasai dunia adalah cita-cita yang keren. Wajar saja, anak usia tujuh tahun seperti kami ketika itu tak pernah memikirkan resiko atau rumitnya jalan mewujudkan cita-cita. Yang ada di kepala kami, Linggar khususnya, cuma imajinasi gila dan sebuah kata yang terdiri dari lima buah huruf; K-E-R-E-N. Itu saja.

 

Pada mulanya Linggar cuma berniat tiduran di dahan, menunggu matahari bergerak sedikit lebih ke atas supaya kami bisa segera bermain air—loncat dari dahan itu seperti biasanya. Tapi kemudian apa yang dilakukan pemuda asing itu membuatnya penasaran. Linggar heran dengan tingkahnya yang sedikit-sedikit melihat sekitar, melihat benda-benda tak bergerak, kemudian menghadap buku dan menulis sesuatu. Lelaki kecil yang serba ingin tahu seperti Linggar pun akhirnya menarik kembali tanganku untuk diajak menghampirinya.

“Hey, kau monster gunung.” Kata Linggar. “Kau sedang membuat apa? Menggambar peta tempat ini kah? Kau mau menguasai benar daerah ini ya? Tidak akan bisa! Aku akan jadi lebih hebat dan mengalahkanmu!”

“Nggar! Yang sopan sama orang yang lebih tua!” teriak paman yang ternyata melihat dan mendengar apa yang dikatakan Linggar dari sebrang.

Linggar hanya nyengir dan memejamkan matanya yang sipit, demikian juga dengan pemuda asing yang tak beranjak sedikitpun dari tempatnya semula itu.

“Paman, dia anakmu ya? Beruntung ya punya anak yang cerdas!” teriak pemuda itu ke arah paman.

“Iya. Terimakasih. Jewer saja dia kalau nakal. Dia memang terbiasa seperti itu.”

“Hehehe, baiklah.”

Pemuda itu kini menghadap Linggar. “Kau dengar apa yang bapakmu tadi katakan, ‘kan?” katanya.

Linggar hanya membuang muka. “Monster gunung sialan. Kau berhasil mempengaruhi ayahku, ya. Kau pasti memakai ilmu sihir.” Kata Linggar pelan. Ia mengucapkannya dengan bibir yang setengah ditarik ke bawah.

Pemuda itu hanya tersenyum. “Kau anak yang cerdas, Dik.”

Mendengar itu, raut Linggar jadi sedikit berubah. Aku melihat wajahnya memerah.

“Kau tidak akan bisa melemahkanku dengan pujian.” Katanya.

“Hahaha, anak yang unik. Aku tahu kau bukan anak yang nakal. Untuk ukuran anak seusiamu, kau terlalu cerdas dalam bicara. Apa kau sudah bisa membaca?”

“Tentu saja aku bisa. ‘kan aku sudah kelas satu SD.”

“Aku tahu kau pasti masih kelas satu SD. Itulah kenapa aku menyebutmu cerdas. Aku yakin teman sekelasmu banyak yang belum bisa membaca.”

“Ayah sudah mengajari kami membaca saat kami masih berusia empat tahun. Membaca itu hal yang remeh bagi kami.”

“Hahahaha, benar-benar unik kau ini.” Pemuda itu menatap dalam-dalam mata Linggar. “Tapi aku tidak yakin. Aku tidak percaya kau bisa membaca.”

“Bah! Aku akan menguasai dunia suatu hari nanti. Belajar adalah hal yang harus kulakukan mulai hari ini. Apa jadinya jika membaca saja aku tidak bisa.”

“Aku harus memujimu bagaimana lagi. Kata-katamu sudah seperti orang dewasa. Kau bisa jadi seorang pencerita yang baik jika kau mau.”

“Pencerita? Apa itu?”

“Penulis. Apa kau juga tidak tahu penulis? Kalau penulis saja tidak tahu, percuma aku bicara panjang lebar denganmu.”

“Aku tentu saja tahu. Tapi aku sama sekali tidak tertarik.” Linggar masih membuang muka. “Itu bukan cita-cita yang keren.”

“Bukan cita-cita yang keren?” pemuda itu menghadap ke langit, tapi kedua matanya melirik Linggar. “Apa kau tidak tahu bahwa sebuah buku bisa mengubah cara berfikir seseorang? Bayangkan jika kau bisa menulis sebuah buku yang dibaca oleh orang di seluruh dunia, bayangkan jika buku itu bisa mengubah jalan pikiran mereka. Apa kau pikir itu tidak keren? Kau akan bisa menguasai dunia dengan hanya menulis sebuah buku.”

“Kau pikir aku anak kecil yang bisa dibohongi?” Linggar dengan gesit merampas buku dari tangan pemuda itu. “Biar kulihat apa yang kamu lakukan dari tadi dengan buku usang ini.”

Pemuda itu tetap tak beranjak dari tempatnya. Ia hanya tersenyum kecil. “Pamanmu menyuruhku untuk tidak usah segan-segan menjewermu jika kau nakal. Tapi aku memaafkanmu,” katanya, “Sekarang buktikan pada kakak jika apa yang kau katakan tadi tidak bohong. Buktikan pada kakak jika kau bisa membaca.”

“Kau meremehkanku. Baiklah,“ Linggar membuka halaman yang berisi tulisan terakhir pemuda itu, “Apa ini? Aku baru melihat tulisan yang belum selesai hingga garis ujung tapi langsung ganti garis di bawahnya ini.”

“Itu disebut puisi.”

“Puisi?”

“Benar, puisi.”

Aku melihat sekilas wajah Linggar menjadi absurd begitu ia membaca tulisan di buku tersebut. Segala perasaan seperti tertuang menjadi satu di wajahnya.

“Ini apa bukan mantra sihir?”

“Kenapa kau bilang itu mantra sihir?”

Linggar membuka mulutnya, ia seperti hendak tertawa, namun sesuatu yang entah mencegah mulutnya mengeluarkan bunyi.

“Hey, hey, bocah nakal, aku tanya kenapa kau bilang itu mantra sihir?”

“Aku, aku..” lidah Linggar mendadak kaku. Ia terbata menjawab pertanyaan pemuda tersebut. “A, Aku seperti terbawa ke tempat lain setelah membacanya. Kepalaku bergetar.”

Ia nyengir kuda.

“Anak seusiamu..” Kata pemuda itu. Ia menyentuh kepala Linggar. Dan lantas tersenyum tanpa melanjutkan apa yang ingin diucapkannya. Ia seperti melihat bakat luar biasa dalam diri anak itu setelah reaksi yang ditunjukkan wajahnya usai membaca tulisan lelaki asing tersebut.

 

Kera-kera gunung berteriak-teriak, suaranya menggema di dinding-dinding lembah. Semerbak bunga dan wangi tanah mendadak memenuhi udara di sana, angin membawanya dari suatu tempat yang entah. Hujan datang beberapa waktu kemudian di tempat itu. Cuaca di gunung memang gampang berubah. Gunung memang tempat yang aneh. Banyak sesuatu yang aneh lahir dan tumbuh di sana. Linggar adalah salah satunya.

 

 

The Butterfly Code [Lesson #1st : Children of The Valley] – End

© Awan Tenggara 2013

 

17 Comments to "The Butterfly Code [Lesson 1: Children of The Valley]"

  1. Lani  28 June, 2013 at 12:04

    14 AWAN : nyathek?????? ora kliru yg suka nyathek kuwi kan……….

  2. Awan Tenggara  28 June, 2013 at 10:51

    Mbak Elnino, terimakasih….. semoga bang JC dan Mbak Dewi membaca da mau mengeditnya

  3. Awan Tenggara  28 June, 2013 at 10:50

    Pak Dj : terimakasih juga karena sudah membaca. Wow! 25 kilo? itu pasti pengalaman yang menyenangkan, ya. ayah saya dulu juga suka memancing, kalo mengajak saya, beliau suka memancing di pelosok2 kabupaten Demak naik perahu klotok tapi belum pernah dapat segede yang pernah dipancing pak Dj, sebab kami suka memancing mujahir dan kepiting saja, he he..

  4. Awan Tenggara  28 June, 2013 at 10:47

    Mbak Dewi : belum tahu kan, selain saya ini pendiam dan suka senyum, saya suka ‘nyatek’ juga lho hahahah,,,

  5. elnino  27 June, 2013 at 13:15

    Ini lho Awan:

    Linggar hanya membuang muka. “Monster gunung sialan. Kau berhasil mempengaruhi ayahku, ya. Kau pasti memakai ilmu sihir.” Kata Linggar pelan. Ia mengucapkannya dengan bibir yang setengah ditarik ke bawah.

    Pemuda itu tetap tak beranjak dari tempatnya. Ia hanya tersenyum kecil. “Pamanmu menyuruhku untuk tidak usah segan-segan menjewermu jika kau nakal. Tapi aku memaafkanmu,” katanya, “Sekarang buktikan pada kakak jika apa yang kau katakan tadi tidak bohong. Buktikan pada kakak jika kau bisa membaca.”

  6. Dj. 813  27 June, 2013 at 02:11

    Ibu Matahari…

    Pourquoi devrais-je le faire…???

    Wadoooh harus mikir lama sekali.
    Mbak MUR sudah keburu marah….
    Hahahahahahahaha…..!!!

  7. Matahari  27 June, 2013 at 01:42

    Je parle un peu le français….Pourriez-vous parler moins vite?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.