Kisah Suatu Masa (5): Skandal

Anastasia Yuliantari

 

Cerita ini sampai kepadaku setahun setelah masa KKN. Seorang teman yang dinyatakan tidak lulus KKN, bayangkan betapa sengsaranya, diharuskan kembali mengikuti matakuliah yang berbobot 3 SKS (satuan kredit semester) di tempat yang hampir sama dengan tahun sebelumnya. Di tengah pelataran kampus yang saat itu lumayan asri dan sejuk kami beramai-ramai duduk di bangku beton.

Ngopo awakmu nang kene, Mbang?” Tanyaku melihat teman lelaki semasa KKN dulu yang duduk gelisah di bawah pohon.

“Nunggu dosen wali, mau minta tanda tangan.”

“Ya sabar aja, paling nanti tengah hari diadatang.” Kata temanku yang lain menyabarkan.

Gak isa.” Dia menggeleng-geleng dengan panik.

Lho, nyangapa gak isa?” Tanyaku penasaran mengapa dia tak bisa menunggu dosen walinya tiba di kampus.

Aku arepe balik nang ndesa.” Jawabnya kesal.

“Lho???”

Aku mbaleni KKN.” Ternyata Bambang harus mengulang KKNnya.

Kelompok kami terbagi menjadi dua. Separuh tertawa terbahak mengejek kemalangan Bambang, satunya menyatakan prihatin dan membantu menabahkan hati teman kami itu, walau ujung-ujungnya juga menertawakannya.

Usut punya usut, ternyata Bambang ketahuan sering pulang ke kota saat KKN tahun lalu. Kedudukannya sebagai Korcam (koordinator kecamatan) dipergunakannya sebagai alasan untuk mondar-mandir mengurus segala sesuatu yang sering tidak ada kaitannya dengan kampus. Modus itu ternyata tercium oleh dosen pembimbing lapangan, maka si Bambang harus mengulang kembali KKN karena memperoleh nilai kurang dari cukup.

Aku saiki nang cedhek kampungmu mbiyen, Tia.” Katanya menceritakan kalau lokasi KKNnya tak berapa jauh dari kampung tempatku tinggal dulu.

Mosok?” Tanyaku tak percaya.

Sumprit ki.” Ujarnya bersungguh.

Mendadak aku antusias menanyakan desa tempatku KKN tahun sebelumnya. Masih terbayang siang berdebu dan suasana lengang tengah hari saat matahari sedang bersinar begitu teriknya. “Yok opo kabare?”

“Wuuuuaahhhh rameeee. Pokoknya heboh sekali.” Wajah yang semula resah gelisah mendadak cerah ceria terbawa hasrat untuk bergosip yang sangat kental.

“Heboh apanya?”

Dengan gaya sok Bambang mencondongkan tubuh ke arah kami yang memasang wajah ingin tahu, “Kalian tahu Mbak Nar, kan? Tuh yang rumahnya di belakang SD tempat kalian tinggal dulu.”

“Iyaa….iyaa….terus????” Kami semakin mencondongkan badan dan melebarkan kuping.

“Dia janda, kan?”

“Iyaaa…iyaaaa…benaaarrr.”

“Nah, di situ masalahnya.”

Heeehhh??? Kenapa jadi masalah? Kan banyak juga  penduduk kampung itu yang menjanda. Seingatku Mbak Nar punya anak semata wayang, seorang gadis kecil berusia kira-kira tiga tahun. Aku tak tahu benar apa pekerjaan pokok Mbak Nar. Kelihatannya dia menjual penganan ke kampung-kampung sekitar. Ada kue cucur, onde-onde, dan tentu saja gorengan seperti pisang dan singkong. Di waktu luangnya perempuan itu menerima pekerjaan serabutan. Satu hal yang kutangkap saat bertemu perempuan itu, aku melihat sinar kelicikan dan tipu muslihat di matanya. Bekas luka memanjang dari rahang bawah ke arah mulutnya membuat wajahnya yang coklat kehitaman semakin tampak licik. Gayanya bercerita juga memperlihatkan kalau dia penggosip ulung. Secara naluri diriku merasa tak aman di dekatnya.

Forbidden_love

“Mbak Tia sekali-sekali menginap di sini, jangan hanya di tempat kost aja.” Ujarnya suatu siang saat dia mempersilahkanku makan jagung rebus.

“Wah, engga bisa, Mbak. Kami harus selalu siap di pos KKN, siapa tahu ada dosen datang.” Alasan yang sangat dibuat-buat dan kelihatan palsu, tapi aku malas mencari alasan lain yang lebih masuk akal. Toh tujuannya hanya menolak untuk menginap di rumahnya.

“Ya ijin, kan bisa.”

Aku hanya tersenyum.

Entah bagaimana dengan teman-teman lelaki, namun si Mbak memang berusaha ramah dengan semua anak KKN. Ibu kost dan kelompoknya memperingatkan kami dengan nada agak miring. Mereka mengungkapkan bila Mbak Nar bukan perempuan baik. Mereka tak menjelaskannya secara detail, tetapi dari ceritanya, Mbak Nar terkenal suka berkelahi dan membuat masalah dengan para tetangga. Suatu pagi pun aku pernah mendengar Mbak Nar bertengkar dengan suara melengking, berseteru dengan sesama perempuan tak jauh dari rumahnya. Masalahnya tak jelas benar, karena dalam pertengkaran semacam ini, masalah utama menjadi kabur, bertumpang-tindih dengan berbagai hal lain yang kadang sudah terjadi bertahun silam. Sama sekali tidak fokus dan kata orang Jawa: ngombro-ombro, melebar dan meluas permasalahannya.

Jadi sekarang, apalagi kehebohan yang diciptakan oleh Mbak Nar?

“Dia minta dikawini oleh salah satu mahasiswa yang KKN di sana!”

“Haaaahhh??? Koq bisa? Koq bisa??”

“Dia minta pertanggungjawaban lelaki itu.”

“Waduuhh.” Pekik beberapa teman lelaki yang turut mendengar kisah ini.

“Lho, emangnya segampang itu minta pertanggungjawaban. Kalau si mahasiswa engga ngapa-ngapain masa kena digertak begitu?” Ujarku sambil membayangkan Mbak Nar dengan cara bicaranya yang seperti kereta ekspress mendesak si anak mahasiswa menikahinya.

Bambang menatapku seakan aku orang paling bodoh sedunia. “Dia punya kesempatan meminta pertanggungjawaban karena lelaki itu sudah terjebak olehnya.”

“Oalaaaahhhh…..yak amppuuunnnnn….” Bermacam seruan terdengar mengiringi berita itu. Ternyata si Mbak berhasil memperdaya si Mahasiswa yang sedang KKN untuk beberapa kali tinggal di rumahnya.

“Kasihan sungguh lelaki itu, ya?” Ujarku dengan rasa prihatin yang berasal dari lubuk hati terdalam.

Bambang mengangguk dan menceritakan bila kasus ini sudah terdengar oleh seantero kampung, bahkan merembet ke kampung-kampung lain dalam satu kecamatan. Mahasiswa KKN yang sedang merasa rindu kehidupan kota pasti menyantap dengan lahap gossip ini, paling tidak sebagai bahan obrolan untukmerintang-rintang waktu yang berjalan sangat lamban di desa-desa pelosok seperti itu.

“Masa dosen pembimbing lapangan tidak tahu, sih?” Tanyaku.

“Kejadiannya kan di kampung, malam hari lagi.” Bambang tertawa-tawa, “Tahu, kan maksudku?”

“Ya, tapi kita, kan mahasiswa, masa tidak bisa berpikir dulu sebelum bertindak, sih?” Aku masih tak bisa mengerti ada seorang mahasiswa yang bisa dijebak oleh seorang janda kampung. Tentu saat itu pikiranku masih sangat idealis dan tak bisa mengerti berbagai macam komplikasi yang mungkin dihadapi seorang laki-laki dalam menghadapi godaan dari perempuan berpengalaman semacam Mbak Nar. Maklum, di usia awal dua puluhan diriku masih sangat culun dan memandang dunia hanya berisi hitam dan putih saja. Abu-abu mungkin kuakui keberadaannya, namun asing dari kenyataan.

Bambang tertawa lagi, bahkan lebih keras.” Ya, kalau dipameri terus menerus, lama-lama juga tidak tahan.”

Teman-teman tertawa riuh. Mereka mulai mengejek-ejek Bambang yang mungkin juga punya gebetan di kampung KKN, entah gadis entah pula janda.

“Wuuuaahh, tobat aku. Kalau harus tak lulus KKN lagi bisa-bisa aku bunuh diri, nih.” Jawabnya sambil geleng kepala.

“Memangnya anak yang terlibat dengan Mbak Nur tidak lulus KKN, ya?” tanyaku ingin tahu.

“Jelas. Secara moral dia merusak nama baik kampus. Belum lagi kalau urusannya sampai ke polisi. Mbak Nur, kan mau membawa permasalahan ini ke Pak Camat dan Polsek setempat bila tak juga menemukan jalan keluar secara kekeluargaan.”

“Yang artinya harus menikahinya.” Kataku pelan.

Bambang mengangguk mengiyakan dengan penuh semangat.

“Aku turut sedih mendengarnya.” Ujarku ditimpali beberapa komentar serupa dari teman-teman di sekitarku. Dan sejenak pembicaraan terhenti, meninggalkan kelengangan di sekitar kami.

Siang kian terik. Beberapa dosen keluar dari ruangannya untuk pulang makan siang atau sekedar beristirahat sejenak di kantin yang tak jauh dari kompleks fakultasku. Dari ekor mata kulihat dosen yang dicari Bambang muncul di tikungan, namun langkahnya terhenti karena disapa oleh koleganya dan kelihatannya setuju untuk pergi makan siang bersama.

“Mbang, itu dosenmu, tapi kelihatannya mau pergi lagi.”

Bambang terperanjat dan segera membalikkan badan kearah jariku menunjuk. “Mana? Mana?” Tanyanya tergopoh.

“Tuh, di tikungan dekat tempat parkir.”

“Aduhhh….!!” Bambang bergegas menyambar tasnya.

“Cepat kejar, dia mau makan siang tuh kelihatannya.” Suaraku meninggi seiring langkah Bambang yang kian menjauh.

 

34 Comments to "Kisah Suatu Masa (5): Skandal"

  1. Anastasia Yuliantari  5 July, 2013 at 20:02

    JC….hahaha, kl ngemplok yg bukan miliknya ya hrs tanggungjawab to…..hehehe.

  2. Anastasia Yuliantari  5 July, 2013 at 19:59

    Matahari, hahahaha…..sapi2 sekarang juga menarik, lho….taya aja Kang JC dan Mas Anoew yg sering membahas ttg politik dagang sapi, hahaha.

  3. Anastasia Yuliantari  5 July, 2013 at 19:58

    Pak EA…..spt lagu Semut Merahnya Obbie Mesakh…..wkwkwk.

  4. Anastasia Yuliantari  5 July, 2013 at 19:58

    Yu Lani, nek perkara visual sdh terbukti dr komen Kang Anoe setiap kali ada gambar sing rok e agak2 nyincing atau hemline rada2 mlorot, hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.