Ronda Kampung

Joko Prayitno

 

Malam semakin merayap, sementara kelelahan menghinggapi tubuh-tubuh yang seharian beraktifitas. Di dalam kelelahan terbentik niat untuk merebahkan diri melepaskan penat, tetapi tugas dan kewajiban dalam kehidupan sosial juga harus dipenuhi. Menjaga keamanan lingkungan secara bersama-sama atau biasa disebut juga “Ronda Kampung” menjadi kewajiban kita dalam menjaga keamanan lingkungan.

Sebenarnya ronda kampung dalam gambaran saya dan penafsiran saya adalah sebuah kegiatan ala militer dalam mengamankan base camp mereka. Dalam beberapa games strategi yang saya mainkan selalu ada opsi untuk membuat “Watch House” atau Pos Ronda. Tempat ini biasanya sebagai tempat berkumpul petugas ronda untuk mengintai para penyusup ataupun serangan musuh yang dilakukan secara diam-diam. Pos ronda juga memberikan pandangan yang luas atas wilayah yang dikuasai sehingga memberikan peringatan dini akan datangnya suatu bahaya.

wachthuis-corps-de-garde-javanais-1853

Pos Ronda di Jawa tahun 1853 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

 

Tugas ronda memang terkadang membosankan karena harus menunggu di sebuah pos setelah awalnya berkeliling lingkungan memastikan suasana aman, maka untuk melepaskan kebosanan maka biasanya di pos ronda disediakan makanan camilan dan teh hangat serta kopi sebagai teman ngobrol. Bahkan terkadang ada juga hiburan berupa TV dan Organ Tunggal ditambah kartu remi dan gaple, maka menjadi lengkaplah acara ronda malam. Kenyaman ini membuat petugas ronda betah untuk berlama-lama di pos ronda, bahkan hingga pagi hari.

Ronda memang mengasyikan, dan mari kita sedikit memundurkan waktu bahwa aktifitas ini mungkin sudah ada sejak manusia harus survival di lingkungannya. Mereka menjaga kelompoknya dari serangan hewan atau kelompok lain yang hendak mencelakakan mereka. Tetapi tentu saja tidak senyaman sekarang. Dan saya beruntung mendapatkan suasana yang mirip dengan jaman sekarang dari sebuah foto masa kolonial milik KITLV, walaupun banyak perbedaannya. Tetapi pada dasarnya bahwa aktifitas jaga Ronda mendekatkan kita kepada hubungan interaksi yang intensif dengan tetangga kita sehingga dapat memunculkan keakraban ditengah semakin individualisnya manusia. Dan kita sungguh beruntung masyarakat kita masih menjalankan budaya Ronda ini….

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2013/06/26/ronda-kampung/

 

11 Comments to "Ronda Kampung"

  1. juwandi ahmad  1 July, 2013 at 01:45

    He he he..kalau saya dapat jadwal ronda malam rabu kang. Tugase keliling dari rumah ke rumah, ambil jimpitan, pulang ke pos, dihuting. Setelah itu ngobRol ngalor ngidul he he

  2. AH  28 June, 2013 at 06:43

    tumben tulisane muk ‘klimis’, biasane penuh sejarah hal ihwal ronda

  3. Hennie Triana Oberst  28 June, 2013 at 05:06

    Dulu Ronda kampung aktif sekali. Masyarakatnya juga kompak mau bergiliran.
    Yang laki-laki ikut ronda, yang wanita biasanya menyiapkan bekal mnuman dan makanan.
    Belakangan sudah nggak ada lagi.

  4. Matahari  27 June, 2013 at 23:27

    Malam ini yang tugas ronda seluruh kota Jakarta…mbak Mur dan dia akan sendirian…do’n’t disturb please….

  5. Dj. 813  27 June, 2013 at 18:09

    Ingat saat kecil,ikutan kaka beronda keliling kampoeng…
    Ronda ada baiknya juga, mengrangi aktivitas orang-orang nakal diwaktu malam hari.
    Kadang sanang kalau boleh nabuh ( mukul ) kentongan dari bambu.

    Saat sudah di SMA di Makassar, karena pacar jaga malam, maka ikutan ngeronda, keliling rumah sakit.
    Karena senang, jadi waktu berjalan cepat juga.

    Terimakasih mas Joko P.
    Selam Sejahtera dari Mainz.

  6. Dewi Aichi  27 June, 2013 at 18:00

    Suka sekali, ronda ala kampung seperti ini. Berkumpul di gardu ronda, bapak bapak dapat giliran, setiap grup punya ketua. Mereka berkumpul di gardu ronda, kemudian pada jam yang telah ditentukan mereka berkeliling, dari rumah ke rumah, ada kesepakatan juga setiap rumah menyediakan koin atau beras, untuk kas (dana bersama)kampung. Yang ronda akan mengambil jimpitan itu, lalu dikumpulkan, sebagai kas yang akan digunakan untuk keperluan bersama. Ronda, sederhana, tapi sebagai budaya yang keren ala kampung, tak tergantikan meski sekarang bisa saja memakai alat pengaman modern.

    Terutama dalam menjaga interaksi dengan sesama tetangga, sebagai makhluk sosial, ronda adalah salah satu sarana.

  7. Lani  27 June, 2013 at 14:36

    JP : ngomongin soal RONDA………..jd ingat duluuuuuu sekali dikampung halaman…….ronda digilir demi menjaga keamanan dikampung bersama……..tp di LN digantikan oleh security dimana mrk pakai seragam baik menjalankan tugas dgn berjalan atau pakai mobil krn jangkauan yg jauh…………

  8. Matahari  27 June, 2013 at 14:26

    EA Inakawa…yang anda lakukan itu sepertinya sangat sering di Indonesia…kakak saya juga selalu begitu…dia bayar orang dan tidak hadir…pernah dia hadir dan baru jam 2 pagi dia sudah pukul tiang listrik 5 kali dan pulang…eh he

  9. James  27 June, 2013 at 11:19

    Ronda Kota

  10. EA.Inakawa  27 June, 2013 at 08:16

    Jadi teringat ketika satu waktu diminta Ronda Kampung, saya bayar seseorang pengangguran, tapi lebih sering jatah ronda nya saya kompensasikan dengan ubi goreng dan kopi, lalu Tidurrrrrrrrrrr, peace

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.