Sepanjang Shanghai Street Airmata Berlinang

Mega Vristian Sambodo

 

Lo bak ko, makanan kesukaan Siu Mui, “anak gadis” saya, Sedari tadi tak disentuhnya. Hingga dingin, tentu tak enak lagi untuk dimakan. Saya malah diam-diam sudah menghabiskan beberapa piring kecil makanan dan meminum puluhan teh aroma mawar, dari cangkir mungil yang disediakan di restoran tempat Yam cha ( tradisi minum teh disertai makan, makanan khas China).

Wajah Siu Mui, gelap! Tak ada senyum cantiknya. Begitulah jika sedang tak enak hati, kalau sudah begitu tugas saya menemaninya dengan tanpa banyak bicara. Sejak semalam murung.

Dia tak krasan lagi tinggal di rumah, sebab kedua orang tuanya, juga kakak dan adiknya akan ribut menasehati, bahkan memarahinya. Makanya, pagi sekali kami pergi Yam Cha.

Acara liburan saya, jadi tertunda. Padahal minggu ini banyak aktivitas menarik yang bisa saya ikuti misalnya, work shop penulisan Andrie Wongso, pelatihan siaran radio yang diadakan Dompet Duafa, dzikir akbar di Victori Park bersama Ustadz Hadat Alwi atau membahas tentang Teater dan sastra, dengan Kelompok Teater Angin, Hong Kong.

“Masuk akal enggak sih, Me?! Masak masuk sekolah Pramugari, tak boleh memakai kawat gigi,” Kata Siu Mui, dengan nada ketus pada saya. Dia memanggil saya Meme, dalam bahasa Balikan artinya, Ibu. Meski saya jasun, Jawa-Sunda.

Saya jawab dengan mengelus pundaknya, untuk membantu menenangkan kecewa dan amarahnya.

“Kau lihat! dua gigiku sudah dicabut! Kupikir selama masa sekolah dua tahun itu gigiku dikawat, waktu kerja jadi Pramugari, nantikan sudah rapi tidak berantakan lagi gigiku!” Kali ini bicaranya disertai linangan airmata.

Saya bisa merasakan kekecewaan dan sedihnya. Menjadi Pramugari memang cita-citanya sejak kecil. Tujuan merapikan giginya dengan dikawat, itu pun untuk menyempurnakan penampilannya saat menjadi Pramugari. Giginya memang agak tongos, heran kok bisa mirip saya ya. Tongos itulah satu-satunya kemiripan antara dia sebagai “anak” saya itu.

Yang membuat saya terharu justru cita-cita bekerja sebagai Pramugari, karena untuk memudahkan bertemu saya nantinya. Sebab kelak saya harus meninggalkannya, kembali ke tanah air. Padahal kami kurang lebih 16 tahun dalam kebersamaan kasih sayang selayak ibu dan anak. Sejak dia lahir hingga beranjak menjadi gadis cantik.

Mulanya saya anggap cita-citanya yang selalu diucapkan sejak kecil itu cuma kayalan masa kanaknya saja. Jika besar tentu akan berubah. Ternyata setelah lulus sekolah sejajar SMA di Indonesia. Siu Lam, masih ingin mewujutkan mimpinya itu.

“Kau bisa menunda mengkawat gigimu itu, loi loik (panggilan sayang untuk anak perempuan/Cantonese),” nasehat saya dengan sangat hati-hati. Sambil dalam hati, saya memikirkan dua gigi yang sudah terlanjur dicabut itu, lucu juga kelihatan melompong saat dia berbicara.

Dia malah menangis, kontan menarik perhatian orang-orang yang sedang Yam cha, di sekitar meja kami. Saya memeluknya erat, sambil meredamkan emosinya. Tentu makin menjadi perhatian banyak orang yang sedang Yam Cha di restoran itu.

“Hu kam tung, pe yung dhong siu ce, kem hou,” Mengharukan pembantu dan anak majikan begitu baik hubungannya. Komentar, seorang nenek yang duduk persis di sebelah meja kami. Mungkin diam-diam dia mengamati kami. Apalagi saat berbicara, Siu Mui cukup keras, ya karena rasa kecewanya itu.

“Kalau pun kau tak menjadi Pramugari, kau masih bisa menemuiku di Indonesia. Sekolah yang baik, kelak kau akan dapat pekerjaan yang menghasilkan banyak uang,” Saya nekad menasehatinya.

Mamanya sebenarnya menginginkan anaknya, kuliah di bidang pengelolaan restoran . Sebab nenek Siu Mui, memiliki restoran yang cukup punya nama di wilayah Kowloon. Berharap anaknya jadi penerusnya.Tapi Siu Mui, menolaknya. Dari mamanya Siu Mui, saya mengetahui jika biaya kuliah pertahunnya untuk menjadi Pramugari kurang lebih HK$ 40. 000. Jika dihitung rupiah 50 jutaan.

Tiba-tiba saja sikap Siu Mui, mengejutkan saya dia jadi rakus! Memakan semua makanan yang sudah mendingin di meja kami. Minum teh pun tak beraturan, kemudian mengeluarkan uang Hk$ 500, bergegas pergi. Saya tak bisa cepat mengejar langkahnya sebab harus menunggu kembalian uang pembayaran.

Saya kehilangan jejaknya, hpnya tidak diaktipkan. Dari Mong Kok tempat restoran yang kami buat Yam Cha, saya sengaja pulang berjalan kaki menuju Hoi Wang Street, tempat tinggal majikan saya. Dengan tujuan menemukan “anak gadis” saya itu. Siu Mui, Tanpa sadar air mata saya mulai menetes sepanjang Shanghai Street. Saya paham benar sifat dia, pendiam. Jika sedang bersedih dia akan menyelusuri jalanan Hong Kong, tentu saya tak akan membiarkannya sendiri.

Saya menelepon majikan, menayakan tentang Siu Mui. Ternyata dia sudah tidur di kamarnya. Alhamdulilah! Saya merasa lega tapi dalam hati juga dleming, Lha bayangkan, saya disengat matahari sepanjang pencariannya. Eh dia malah sudah pulang naik taxi. Bodoh saya juga sih, kenapa tidak menelepon majikan secepatnya.

Saat ini, saya menunggui “anak saya” yang sedang tidur. Tidak apalah kehilangan libur saya di minggu ini. Ikatan kasih sayang sudah menjadi jalinan cinta yang kuat antara saya dengan anak majikan. Tak peduli apa kata siapa pun, dia adalah anak saya, tanpa tanda petik lagi.(*)

lampion

—- Lampian Menghembus Nyala

(Puisi ini untuk tiga anak saya di Hong Kong)

 

entah ke mana perginya kawanan burung

saat musim gugur memetik kuntum-kuntum bunga

tiga bocah bersimbah air mata

jemari mereka menggenggam dupa nyala

kepulan asap membawa doa

terbang mencari dewa

kuil Wong Tai Shin sunyi

 

ada dewi termangu di serambi purnama

tak melukis bayangan

dan seorang perempuan bermain sitar

melantunkan jejak langkah empat belas tahun

pada bait-bait pantun

menggelayut pada gerai rambut panjangnya

menjelaga hitam

 

tiga bocah berjalan bergandengan

menyusuri malam dari kuil ke kuil

lampion di tangan mereka berkedip-kedip

 

– benarkah dewa tak mengunci gerbang perpisahan?

 

melempar harap pada pohon tua besar di Sha Tin

selembar ang pao

sebatang daun bawang dan seledri

kepul asap dupa tertancap pada sebuah apel

mereka bersesaji

 

dua telaga kecil menggenang berair

di dawai sitar jemari lunglai menari

tiga potong moon’s cake utuh di piring

pada Agustus nanti

seorang perempuan dan dua bocah

menikmati purnama dari jendela berbeda

dan perlahan lampion menghembus nyala

 

Hong Kong, Hung Hom

 

31 Comments to "Sepanjang Shanghai Street Airmata Berlinang"

  1. J C  2 July, 2013 at 06:10

    Kisah-kisah Mega dan anak asuhannya selalu menyentuh hati…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.