Tiga Sahabat (15): Ndak Isa

Wesiati Setyaningsih

 

Pak John guru olahraga tiba-tiba masuk saat pelajaran Kimia.

“Nanti sore ada kegiatan aquatic. Semua harap datang. Diabsen.”

Hanya begitu saja, lantas beliau mengangguk pada guru Kimia yang melongo pelajarannya dipotong tanpa aba-aba. Sejenak kelas menjadi riuh karena gumaman.

“Kegiatan aquatic tuh apa?” tanya Lukito pada Lukman.

“Nyuci piring sama nyuci baju.” Lukman menjawab singkat.

Aji terkekeh sambil menoleh ke belakang, “Bohong, dia Luk, kegiatan aquatic itu renang.”

“Hah? Di mana?” Lukito tampak agak panik.

“Di lintasan lari.” Lukman masih saja bercanda, tapi segera meralatnya sendiri, “Di kolam renang, lah. “

“Aku ndak isa renang.” Lukito mengeluh pelan.

“Ndak isa?” ulang Aji.

Lukito menggeleng.

“Nggak papa. Yang penting datang aja.” Aji menenangkan.

Percakapan terputus karena pak Joko, guru Kimia yang galak itu sudah berteriak.

“Sudah! Perhatikan ke sini lagi. Jadi..”

Anak-anak kembali memperhatikan pelajaran.

***

Sore itu Aji dan teman-temannya datang ke kolam renang yang ada di stadion. Aji dan Juwandi duduk-duduk di pinggir kolam menunggu pak John datang untuk tanda tangan absen. Itulah sebenarnya tujuan utama mereka datang.

Tampak Lukito datang dengan langkah ragu-ragu. Aji segera melambaikan tangannya mengajaknya bergabung.

“Kamu suka banget ngajakin dia gabung sama kita.” Juwandi menggumam.

“Biar saja. I see something in him.”

“Apa?”

Aji mengangkat bahu. “I just see.”

Lukito sudah sampai di dekat mereka, lalu ikut duduk di bangku samping Aji yang kosong.

“Terus ini ceritanya ngapain?”

“Entar, tunggu pak John datang. Terus kita ngabsen. Habis itu kalo mau turun, boleh. Enggak juga nggak papa.”

“Jadi enggak renang enggak papa?”

Aji menggeleng. “Enggak. Cuma ya itu, nanti kelas dua belas kan ada ujian praktek. Kita harus bisa paling tidak dua gaya, sama harus bisa ngambil koin di dasar kolam.”

“Apa??” Lukito melonjak kaget.

“Kamu kenapa, sih?” Aji heran.

“Aku takut air.”

“Hah?” Juwandi dan Aji berseru hampir berbarengan.

“Takut air, memang kenapa sih? Kagetnya gitu banget. Biasa aja.”

“Takut air itu nggak biasa,” tukas Juwandi.

“Kenapa takut air?” tanya Aji.

“Ndak tau.”

“Pasti ada sesuatu.” Aji menggumam.

“Maksud kamu apa, Ji?” Juwandi menatap heran.

Aji mengangkat bahu. Juwandi tampak kesal.

“Pulang aja, yuk,” ajak Lukito.

“Gimana sih ni bocah! Baru datang ngajak pulang.”

“Lha sudah dibilang aku takut air. Melihat air melimpah begini nafasku sesak.”

“Aneh.”

Aji diam saja melihat kedua temannya berselisih.

“Sudahlah, ayo pulang. Eh, ada yang tau Jalan Kemenyan itu mana?” Lukito menatap Aji dan Juwandi bergantian.

“Aku tahu,” kata Juwandi.

“Mana itu?” Aji menoleh.

“Pokoknya aku tahu. Dekat kantor ibuku.”

“Oh, berarti di sekitar kantor kelurahan situ?”

Juwandi mengangguk.

“Tapi kita belum renang.” Juwandi tampak kesal.

“Ah, sekali-sekali datang cuma ngabsen kan nggak papa. Kamu juga biasanya datang cuma pengen liat cewek-cewek pake baju renang. Nyemplung bentar buat formalitas lalu nongkrongnya lama banget.” Aji mendorong lengan Juwandi.

Juwandi tergelak. “Tau aja kamu.”

“Ayo sudah. Antar aku ke Jalan Kemenyan.”

“Ya deh. Nomor berapa?” tanya Juwandi.

“Tiga puluh.”

“Oke, aku tahu. Eh, itu bukannya tempat jualan kweetiau ya?”

Lukito mengangguk.

“Wuih. Kweetiaunya uenak banget, Ji. Kali-kali kita ditraktir di sana. Ayo deh.”

“Nggak bakalan traktir kalian. Aji yang segini gede pasti makannya banyak.”

“Weits, jangan salah.” Aji tidak terima. “Rayap yang kecil aja bisa ngabisin rumah, tau!”

Lukito tertawa. “Iya juga.”

Bertiga mereka keluar dari kolam renang menuju tempat parkir. Tak lama sampailah mereka di depan sebuah warung kweetiau. Tertulis besar-besar di plang, “KWEETIAU CIK LANI”.

kwetiau

“Ini tempatnya?” tanya Aji.

Lukito mengangguk yakin. “Benar. Ini punya tante Lani. Ayo masuk.”

Lukito segera berlari masuk meninggalkan Juwandi dan Aji di luar.

“Tanteee! Ini Lucky Luke datang..!”

Seorang perempuan kecil berkulit hitam manis bermata sipit keluar sambil berteriak senang.

“Aiii…! Lucky Luke! Kamu sudah sampai sini, to? Kok ndak bilang-bilang Tante?”

“Lha ini aku main ke sini to, Tante.”

“Itu teman-teman kamu?” Tante Lani menatap kedua anak yang berdiri di depan warung.

“Iya. Itu temanku sekolah tante. Teman baru. “ Lukito melambai ke arah dua temannya, “Sini, masuk.”

Juwandi dan Aji masuk lalu duduk di meja yang kosong. Seorang pelayan mendekati mereka dan mencatat pesanan.

“Lha kamu da (di) sini tinggal mbek (sama) sapa?” Tante Lani melanjutkan perbincangan dengan Lukito.

“Sama Om Pendi.”

“Oh, si Pendi payah. Ndak bilang-bilang nek (kalo) kamu dah pindah sini. Mamamu gimana? Sehat?”

“Sehat Tante. Cuma ini lagi agak stress aja sejak pisah sama papa. Jadi menyibukkan diri dengan pekerjaan.”

“Apa kerja mamamu sekarang?”

“Kerja di tempat les bahasa Mandarin gitu.”

“Mamamu ngelesi?”

“Ndak, ketoke (kayanya). Cuma tenaga administrasi apa gimana, gitu.”

“Mamamu itu isa bahasa Mandarin dikit-dikit, kok.”

“Nek Cuma dikit-dikit ya ndak isa buat ngelesi, to Tante.”

“Iya, juga. Wis (sudah) pokoke mamamu punya kerjaan. Biar dapet uang sendiri sama buat ngisi waktu.”

“Iya.”

“Pendi baik sama kamu?”

“Baik, kok.”

“Sekolah kamu, dia yang tanggung?”

Lukito mengangguk.

“Kalo kurang uang saku, da sini aja. Tante kasiin.”

“Iya, Tante. Semoga cukup. Om Pendi kasi cukup kok. Aku juga ndak biasa banyak jajan. Biasanya dulu mama bikinin bekal. Sekarang Tante Pendi kan sibuk. Aku bikin bekal sendiri. Semua bahan sudah ada di rumah. Tinggal bikin sendiri aja.”

“Kapan-kapan aku anterin kweetiau buat bekal ya?”

Lukito melirik kedua temannya yang sedang melahap kweetiau goreng mereka. Tampak mereka sangat senang mendapat kweetiau goreng gratisan yang terkenal lezat. Entah apa jadinya kalau pembantu Tante Lani mengantarkan kweetiau ke sekolah.

“Ah, ndak usah repot-repot, Tante.”

“Ndak papa. Cuma bikin, terus nanti orangnya Tante anterin ke sekolah. Biar kamu bisa makan pas istirahat siang mbek temen-temenmu. Pasti mereka senang.”

“Pasti senang, Tante. Itu Juwandi tau tempat ini.”

“Juwandi yang mana?”

“Yang kecil dan makannya sudah habis itu.”

“Lah, itu ndak anake Bu Carik?”

“Bu Carik? Ndak tau, Tante. Aku baru kenal mereka, kok. Ndak tau mamanya kerja di mana.”

“Iya, itu anaknya Bu Carik. Sering ke sini sama mamanya, kok. Mamanya kerja da kantor kelurahan situ. Baik orangnya. Ramah. Ndak kaya pegawai laine.”

Lukito menatap Juwandi yang sedang mengelus perutnya.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

22 Comments to "Tiga Sahabat (15): Ndak Isa"

  1. wesiati  2 July, 2013 at 16:51

    JC : rak entuk po? nek rak entuk aku mulih….

  2. Lani  2 July, 2013 at 08:53

    19 AKI BUTO : yo mmg bener kuwi mmg boso Semarangan……….kdg gatel kupingku mendengar boso kuwi……..hahahah……..lucu menggelitik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.