Jakarta

Night

 

28 Juni 2013, Jakarta terasa panas dan sesak, dan tentu saja berantakan, saya memang skeptis melihat masa depan Jakarta. Melewati jalan menggunakan taksi menuju penginapan melihat sepeda motor yang melaju tanpa aturan, pejalan kaki yang menyeberang seenaknya, mobil yang berhimpitan, dan juga kali yang kotor memang membuatku heran apa sebenarnya hal yang diharapkan masyarakatnya? Kota yang bisa dikatakan menjadi kota impian orang-orang seluruh Indonesia untuk memperoleh hidup yang lebih baik.

Setelah check in, saya bergegas mencegah taksi kembali, bersiap menuju pernikahan temanku. Supirnya mulai bercerita soal politik, saya tidak mengerti perpolitikan demikian namun berusaha memberi opini kosong, hanya untuk mengisi rasa jenuh dan melihat macetnya jalan. Sesampainya di lokasi, ternyata saya salah jadwal. Saya tertawa, merasa geli dengan kebodohan dan kecerobohanku ini, setelahnya saya memutuskan kembali ke penginapan dan beristirahat.

Sorenya saya menghubungi temanku, kami berjanjian bertemu di Plaza Indonesia setelah dia pulang kerja. Rasa jenuh menghampiri, saya memutuskan menggunakan bus Trans Jakarta menuju Sarinah, mengandalkan map gratis yang kudapat untuk menggunakan bus Trans Jakarta. Kulihat jalur busway digunakan kendaraan lain, sepertinya tidak ada yang peduli dengan aturan. Saya juga yakin diriku akan berkelakuan demikian jika tinggal di kota ini. Sesak dan pengap, penuh dengan keringat di sekelilingku, sayangnya saya bukan orang yang jijik dan justru merasa ini pengalaman yang unik.

Setelah berjalan sendirian, saya bertemu temanku dia mengajakku ke Monas. Ternyata ada pagelaran teaterikal Betawi berjudul Ariah. Pagelaran yang tiketnya 250 ribu rupiah, saya tentu saja enggan membayarnya. Apalagi begitu membaca tulisan spanduk “pertunjukan rakyat” (lupa-lupa ingat tapi kira-kira demikian) membuatku merasa tambah tidak rela. Temanku merogoh tag dari tasnya, ternyata dia bisa masuk gratis dan mengajakku, kesempatan yang tidak kusia-siakan memiliki teman yang bekerja di bidang jurnalistik.

Sesampainya di dalam, tampak rombongan berjalan, temanku mengatakan sosok itu adalah Jokowi, Gubernur DKI Jakarta. Semua orang berusaha menyalaminya, saya memilih duduk lesehan menghindari keramaian. Jokowi terus berjalan ke gerbang, meminta orang-orang masuk menonton gratis. Seketika lautan manusia menuju ke daerah pertunjukan. kulihat dia ke daerah VVIP, saya tetap di lesehan bersama temanku.

Sebelum pertunjukan dimulai, Jokowi tiba-tiba berjalan kearah lesehan, duduk tepat di sampingku. Orang-orang berkerumun dan saya langsung berdiri karena merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang bersesakan. Terdengar suara pecahan beling, keramaian dan kaca bukanlah hal yang bagus. Jokowi berusaha memungutnya namun dilarang seorang bapak, saya memilih menjauh meski ditawarkan tetap duduk pada posisiku.

Setidaknya saya sadar sekarang kenapa Jokowi begitu populer, mungkin Jakarta masih ada harapan…mungkin. Tapi tangan kecil satu orang tidaklah cukup…

 

16 Comments to "Jakarta"

  1. Evi Irons  7 July, 2013 at 10:49

    wah beruntung banget bisa dihampiri Pak Jokowi! sudah lumayan, walau cuma ada Jokowi-AHok dari pada tidak ada sama sekali, harapan saya semoga ada perbaikkan di negeri kita.

  2. Alvina VB  3 July, 2013 at 07:47

    Night, Gubernur Jkt masih ada harapan di bawah Jokowi….gubernur di sini sudah payah bangets….rakyat patah areng dyeh….2 gubernur dalam waktu 7 bulan mundur teratur krn tersangkut korupsi, kolusi dan kegiatan mafia. Pemilihan gubernur musim gugur y.a.d., kriterianya: dicari pemimpin yg bersih dan bisa mengembalikan kepercayaan rakyat pada aparat pem. lokal….

  3. EA.Inakawa  3 July, 2013 at 06:19

    @ Night : Paling tidak ! Jokowi hadir sebagai sebuah HARAPAN PASTI setelah sekian hitungan tahun & sekian sosok GUBERNUR memimpin tak becusssssss,
    Night jangan lupa …… 1 tangan yang kecil itu BERKUASA BESAR jika kita Rakyat Indonesia ikut membantunya …… Tanda Tangan nya luar biasa sakti untuk merubah Jakarta. salam sejuk.

  4. Lani  2 July, 2013 at 07:21

    12 Makanya klu mau ketemuan itu janjian yg persis, cocok, ben iso ketemu…….siji nunggu nang Pasar Minggu sijine nang Jepang………….la kapan meh ketemune??????? kkkkkkkkk………ngakak aku

  5. J C  2 July, 2013 at 06:27

    Night, ternyata memang kekeliruan meng’interpretasi tempat dan waktu is in your blood… kita tidak jadi ketemu karena hal yang sama juga beberapa tahun lalu…aku nunggunya di mana, dikau nunggunya di mana…

    Memang Jokowi sangat fenomenal…

  6. Handoko Widagdo  2 July, 2013 at 06:05

    Night adventure Jakarta.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.