Kehidupan dan Cerita Pendek Lu Xun

Kang Putu

 

Esai Ye Yishun*

 

LU XUN adalah pelopor sastra realis baru China. Dialah penulis yang membuka jalan bagi sastra realis sosialis China.

Seluruh hidup Lu Xun sejak awal hingga akhir bertalian dengan revolusi bangsa China. Seluruh pengalaman dengan keharuan mendalam sepanjang pasang surut dan pasang naik gerakan revolusioner, dia ekspresikan secara kuat dalam karya-karyanya. Karena itulah, tulisannya merupakan pencerminan tulus dari revolusi bangsa China. Gelanggang revolusi berbeda-beda, yang dimengerti Lu Xun, merupakan persoalan terpenting dalam karyanya.

Lu Xun dilahirkan 25 September 1881 di Shaoxing, kota kecil di utara Yangtze; kira-kira 40 tahun setelah imperialis Eropa merambah ke China dan masyarakat lama lambat-laun menjadi masyarakat semifeodal dan semikolonial. Shaoxing adalah pusat administrasi sebuah kabupaten selama Dinasti Qing. Di sebelah utara membentang lautan, di selatan Pegunungan Kuaiji yang tersohor, serta dibelah jaringan sungai-sungai dan danau-danau; sungguh daerah yang sangat indah!

lu-xun

Ayah Lu Xun, Zhou Poti, adalah sarjana gaya lama. Sang ibu, Lu Jui, seorang perempuan desa. Pada waktu kecil, Lu Xun senang tinggal bersama sang nenek dari garis ibu. Di rumah itulah dia berkawan dengan banyak anak lelaki petani. Dalam masyarakat semifeodal dan semikolonial, para petani merintih-rintih di bawah penindasan luar biasa. Kemelaratan mereka menimbulkan kesan mendalam dan abadi bagi Lu Xun.

Begitu sang ayah meninggal dunia setelah sakit berlarut-larut, keluarganya jatuh miskin sehingga tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan anak lelaki mereka. Lu Xun meninggalkan rumah saat berusia 18 tahun untuk memasuki sebuah perguruan tinggi dengan tunjangan dari negara di Nanjing. Di sana dia mempelajari berbagai ilmu yang dibawa ke China dari Barat.

 

Dari Kedokteran ke Sastra

Dia pergi tak lama setelah gerakan Reformasi 1898 yang bertujuan membentuk monarki konstitusional gagal dan sebelum penindasan oleh tentara dari delapan kekuatan yang bersekutu pada tahun 1901 dari Gerakan Yi Ho Duan – gerakan massa untuk melawan agresi asing. Tahun 1901 pemerintahan Qing menandatangani sebuah protokol untuk memenuhi tuntutan kaum imperialis, bahkan menyerahkan hak-hak berkuasa kepada kekuasaan asing.

Pada masa mahasiswa, Lu Xun mengobarkan patriotisme yang mendalam dan hasrat yang bersungguh-sungguh untuk menemukan cara menyelamatkan negara. Selama periode itu dia mempelajari berbagai pemikiran modern, termasuk Teori Darwin dan Huxley, serta karya-karya yang membahas demokrasi.

Tahun 1902 Lu Xun pergi belajar ke Jepang. Dia mula-mula mendaftarkan diri ke fakultas kedokteran untuk melengkapi diri dengan pengetahuan ilmiah guna menghilangkan penyakit orang-orang sebangsa. Namun tahun 1905, selama Perang Jepang-Rusia, dia menonton sebuah film tentang seorang China yang sehat walafiat yang diikat oleh tentara Jepang untuk dipenggal kepalanya, sementara orang-orang China yang lain menonton, lesu, tak berdaya sama sekali untuk menolong…. Itu menyadarkan Lu Xun bahwa ilmu kedokteran bukan kebutuhan paling mendesak bagi rakyat yang lemah dan tertindas. Yang terpenting adalah mengubah pandangan mereka, dan menurut pendapat dia, hal itu paling tepat dikerjakan melalui sastra. Karena itulah, dia berhenti kuliah dari fakultas kedokteran untuk mencurahkan diri dalam kesusastraan. Tahun 1908, di Tokyo, dia bergabung dengan Liga Guang Fu, yang bekerja bagi revolusi demokratis.

Lu Xun kembali ke China tahun 1909. Oktober 1911, revolusi demokratis bersenjata pertama berkobar dan pemerintahan Qing terguling. Lu Xun, yang waktu itu menjadi Kepala Sekolah Shaoxing, mengorganisasikan korps pelajar bersenjata turun ke jalan-jalan untuk menerangkan makna revolusi.

Segera setelah Revolusi 1911, Lu Xun bergabung ke departemen pendidikan. Tahun 1912 dia pindah bersama pemerintah dari Nanjing ke Beijing. Dia berada di Beijing ketika Yuan Zhigai menyatakan diri sebagai kaisar tahun 1915 dan selama Chang Xun berupaya menghidupkan kembali monarki. Kegagalan revolusi demokratis borjuis menyedihkan dan memuakkan bagi Lu Xun.

 

Marxis Awal

Kemenangan Revolusi Oktober 1917 adalah ilham terbesar bagi rakyat China yang tertindas, dan kaum intelektual progresif China pun mulai mengenal pengalaman-pengalaman revolusi itu dan mempelajari marxisme. Tampaklah bagi Lu Xun, cahaya samar-samar yang mula-mula dari zaman baru; kaum marxis awal China itu pun menghanyutkan kemuraman mereka. “Catatan Harian Seorang Gila”, yang muncul tahun 1918, adalah tantangan sempurna bagi semifeodalisme dan membangun fondasi yang kukuh bagi sastra baru China. Cerita pendek itu diikuti “Kong Ji”, “Obat”, dan cerita-cerita lain, juga sejumlah esai militan, yang belakangan dihimpun dalam Omong Kosong.

Pada 4 Mei 1919, di bawah kepemimpinan kaum marxis awal, para intelektual muda melancarkan gerakan massa untuk menantang imperialisme dan feodalisme. Gerakan patriotis itu dengan cepat menjalar dari Beijing ke Shanghai dan berbagai daerah lain di China, dan pada 3 Juni hampir 70.000 orang buruh Shanghai mogok kerja untuk mendukung gerakan patriotis di Beijing dan protes menentang penganiayaan terhadap para mahasiswa oleh pemerintahan panglima perang.1)

Gerakan patriotis nasional itu tidak hanya berhasil membentuk front bersama yang sangat kuat melawan imperialisme, tetapi juga mengilhami revolusi antifeodal dan revolusi kesusastraan yang terbesar. Slogan-slogan mereka pada masa itu: “Ganyang moralitas lama! Bangun moralitas baru! Ganyang kesusastraan lama! Bangun kesusastraan baru!” Lu Xun berdiri sepenuhnya sebagai marxis di barisan terdepan dalam gerakan kultural, memimpin revolusi melawan imperialisme dan feodalisme, menyokong revolusi kebudayaan dan kesusastraan. Dipedomani marxisme, dia menjadi seorang demokrat revolusioner dan pejuang.

Selama periode 4 Mei, Lu Xun membantu dewan redaksi Pemuda Baru, yang memimpin kampanye penuh semangat bagi revolusi kebudayaan dan kesusastraan. Pekerjaan itu membuat dia berhubungan akrab dengan Li Dazhao, salah seorang pendiri Partai Komunis China. Kedua lelaki itu bersama-sama menentang liberalisme borjuis, kecenderungan reformis, tendensi berkompromi dari intelektual borjuis Hu Shi. Akhir tahun 1920, Hu Shi menulis kepada dewan redaksi Pemuda Baru, mengusulkan jurnal itu kembali ke kebijakan awal agar tidak mendiskusikan politik dan memuat pernyataan untuk memengaruhi. Lu Xun dan Li Dazhao sama sekali menentang usul itu, yang bermaksud menyerah kepada tekanan reaksi, dan terjadilah perpecahan. Lu Xun berkata, “Tampaklah padaku, Pemuda Baru saat ini cenderung mengarah ke perpecahan, tetapi kami tak akan bersikeras menjembatani jurang pemisah…. Biarlah pecah…. Soal penerbitan maklumat baru kurang-lebih untuk menyatakan bahwa kami bermaksud tetap berpolitik, aku tahu itu tidak perlu.” Jelas sudah sikap politik Lu Xun.

 

Turun ke Jalan

Di antara Gerakan 4 Mei 1919 dan Gerakan 30 Mei 1925, Lu Xun menulis “Besok”, “Badai dalam Semangkuk Teh”, “Kampung Halaman”, “Kisah Nyata Ah Q”, “Opera Desa”, “Pengorbanan Tahun Baru”, “Keluarga Bahagia”, “Sabun”, “Orang Aneh”, “Menyesali Masa Lalu”, dan “Perceraian”, serta sejumlah esai. Karya-karya itu belakangan dihimpun dalam Ajakan Berperang, Pengembaraan, Omong Kosong, Nasib Buruk, danKembang Fajar Terenggut Debu – keagungan utama sastra realis baru China.

Setelah Gerakan 30 Mei 1925, perlawanan nasional terhadap imperialisme menghimpun semangat. Pada 18 Maret 1926, 30.000 orang berdemonstrasi di Beijing 2), menentang intervensi imperialis ke China yang mendorong agar terjadi perang sipil. Para demonstran ditembaki di depan gedung pemerintah, dan lebih dari 200 orang terbunuh dan luka-luka. Sejak awal hingga akhir, Lu Xun berdiri di garis terdepan untuk menentang pembantaian terhadap para mahasiswa patriotis oleh “para sastrawan” pembebek. Karena itulah dia diburu oleh pemerintahan para panglima perang, sehingga Agustus 1926 terpaksa meninggalkan Beijing dan mencari perlindungan di Amoy.

Januari 1927 dia pergi ke Kanton. Beberapa tulisannya dalam Rumput Liar dan Kembanag Fajar Terenggut Debu berpenanggalan masa itu, seperti cerita-cerita berdasar legenda, “Penerbangan ke Bulan” dan Menempa Pedang”.

Pada waktu itu, Ekspedisi Utara diorganisasikan bersama-sama oleh Partai Komunis China dan Kuomintang. Angkatan bersenjata revolusioner telah menduduki Changsa, Zhejiang, Nanchang, Hangzhou. Pada 21 Maret 1927, 800.000 orang buruh di Shanghai dipimpin Partai Komunis bangkit melakukan pemberontakan bersenjata untuk mengusir tentara para panglima perang dan menyambut Angkatan Bersenjata Ekspedisi Utara. Tiga hari kemudian angkatan bersenjata revolusioner menduduki Nanjing. Namun 12 April 1927, sayap kanan Kuomintang yang dipimpin Chiang Kaishek dan didukung imperialis melakukan kudeta kontrarevolusioner di Shanghai. Maka, revolusi 1925-1927 pun berakhir dengan kekalahan. Lu Xun, setiba di Kanton, menerima sambutan hangat dari para mahasiswa. Saat mengajar di Universitas Sun Yatsen, dia tetap berhubungan dengan banyak revolusioner muda. Namun 15 April 1927, setelah pengkhianatan Chiang Kaishek terhadap revolusi, terjadilah pula pembantaian terhadap para revolusioner muda di Kanton.

Sebelum Gerakan 4 Mei, Lu Xun memercayai teori evolusi dan pembebasan individual. Setelah Gerakan 4 Mei, dia terpengaruh oleh marxisme dan hal itu, berpadu dengan pengalaman dia dalam perjuangan politik, membantu dia melancarkan gagasan pembangunan dalam teori evolusi dan menggunakannya untuk mengobservasi masyarakat. Dia secara tegas menantang semua yang usang dan busuk dalam sistem feodal lama dan meyakini bahwa yang baru bakal menang. Dia menyerang hierarki feodal, imperialisme, kaum birokrat reaksioner, dan bermacam-macam antek mereka. Dia yakin masa depan bakal lebih baik ketimbang masa lalu, dan kaum muda lebih baik ketimbang kaum tua. Maka, dia pun mulai menguraikan konsepsi materialis dari pembangunan sosial.

Setelah kudeta 1927, dia menyadari bahwa di kalangan muda ada pula kaum revolusioner dan kaum kontrarevolusioner. Kaum muda kontrarevolusioner, yang bertindak sebagai informan atau membantu penguasa untuk menangkap (orang), sama kejam dan hina dengan para senior mereka. Itu meruntuhkan keyakinan Lu Xun terhadap teori evolusi dan menempatkan dia secara berangsur-angsur mengambil pendirian kelas dan sampai pada keyakinan bahwa “masa depan semestinya semata-mata untuk kebangunan proletariat”. Dengan kata lain, dia pun menjadi seorang historis-materialis.

 

Sastra sebagai Senjata

Oktober 1927, Lu Xun pindah. Karena pasang surut revolusi merupakan periode sulit dan berbahaya bagi kaum revolusioner, Lu Xun melakukan studi yang hati-hati mengenai teori seni marxis. Dia juga menggabungkan kekuatan dengan para seniman muda progresif, seperti Jou Shi dan Yin Fu, untuk menggunakan kesusastraan sebagai senjata  melawan para penulis borjuis reaksioner dan kesusastraan reaksioner.

Pada musim semi 1930, di bawah kepemimpinan Partai Komunis China, Lu Xun dan para penulis revolusioner yang lain mengorganisasikan front bersama kesusastraan revolusioner – Liga Penulis Sayap Kiri China. Lu Xun menjadi pemimpin liga itu. Antara tahun 1930 dan 1936, dipandu Partai Komunis China dan dibantu sejumlah penulis muda revolusioner, Lu Xun memerangi tindakan represif pemerintahan Kuomintang.

Dia dan kawan-kawan melancarkan gerakan yang berkembang luas bagi kesusastraan revolusioner, bekerja keras mengajukan kesusastraan revolusioner kepada rakyat, dan mengembangkan lukisan dari ukiran kayu sebagai bentuk populer seni grafis. Mereka berjuang terus-menerus melawan Perhimpunan Bulan Sabit, klik para sastrawan borjuis sayap kanan, para penulis “nasionalis” yang bekerja untuk pemerintahan reaksioner Kuomintang, yang menganjurkan “kebebasan menulis” yang menyatakan bahwa kaum revolusioner mengingkari sifat dasar kesusastraan kelas yang disebut “kategori ketiga”.

Lu Xun adalah protagonis dalam seluruh perjuangan itu. Berkat penaklukannya yang luar biasa terhadap kaum reaksioner yang menyerang kesusastraan revolusioner, kesusastraan revolusioner kaum proletar pun menjadi kecenderungan kuat dalam kesusastraan China pada masa itu.

Antara tahun 1931 dan 1933, Lu Xun menjadi kawan akrab Shu Jiupai, salah seorang pemimpin Partai Komunis China. Mereka bersama-sama berjuang menentang “kategori ketiga” dan para sastrawan borjuis yang menganjurkan “kebebasan menulis”. Mereka bersama-sama memperkenalkan dan menganjurkan teori seni marxis. Shu Jiupai juga meneliti esai-esai Lu Xun, menghimpun dan menulis tidak hanya analisis sistematis dan tajam mengenai pemikiran-pemikiran Lu Xun tentang pembangunan, tetapi juga menunjukkan betapa penting peran Lu Xun dalam pergolakan pemikiran di China. Itu menjadi dorongan besar dan inspirasi bagi Lu Xun dan membantu dia melihat lebih jernih perannya dalam perjuangan, kekeliruan-kekeliruan pandangan, dan cita-cita yang harus dia wujudkan dengan upaya keras.

Dukungan Shu Jiupai kepada Lu Xun merupakan ekspresi kepedulian dan penghormatan yang tinggi dari Partai Komunis China kepadanya. Dengan terus-menerus didorong oleh Partai Komunis China serta menguatkan hati di jalan yang amat-sangat sulit dan perjuangan yang kompleks, Lu Xun berkembang menjadi seorang pejuang komunisme. Dia menjadi pemimpin revolusi kebudayaan China yang sangat tepat, berani, sangat tegas, dan sangat setia, serta salah seorang pemikir dan penulis terbesar China modern.

Pada masa itu Lu Xun bekerja tak kenal lelah menggunakan esai-esai sebagai senjata, menimbulkan pasang naik baru dalam revolusi kebudayaan. Dia meneruskan perjuangan ideologis yang dahsyat, mengungkapkan kejahatan kaum reaksioner Kuomintang dan membangkitkan antusiasme rakyat revolusioner. Esai-easai dia pada tahun-tahun itu mungkin bisa ditemukan dalam Esai-esai Zhian-zhian-ding dan berbagai kumpulan lain.

Awal Oktober 1935, Tentara Merah Buruh dan Petani China di bawah  kepemimpinan yang tepat dari Komite Sentral Partai Komunis yang  diketuai Mao Zedong dengan penuh kemenangan mengkahiri long march dan menetapkan basis revolusioner baru di Zhansi utara. Lambat-laun berita itu mencapai Shanghai. Lu Xun dan Ma Tou bersama-sama mengirim telegram ucapan selamat; mereka menyatakan, “Harapan seluruh rakyat China tertuju kepada Anda.”

Sementara itu, imperialis Jepang meneruskan pelanggaran terhadap batas wilayah China. Pada 5 Desember 1935, lebih dari 6.000 orang mahasiswa di Beijing di bawah kepemimpinan Partai Komunis China melancarkan gerakan patriotis baru untuk menuntut pemerintahan Kuomintang mengakhiri perang sipil melawan kaum komunis dan menyatukan semua kekuatan untuk menahan (gempuran) Jepang. Ketika pengusa Kuomintang membantai dan menahan para patriot tak bersenjata itu, kemarahan dahsyat menggetarkan seluruh negeri. Terjadilah gerakan massa untuk melawan Jepang dan menyelamatkan China. Pada masa itu para penulis dan pekerja kebudayaan di Shanghai menanggapi seruan Partai Komunis China untuk membubarkan organisasi-organisasi revolusioner seperti Liga Penulis Sayap Kiri, dan membentuk front bersama melawan Jepang dan mendukung gerakan massa. Meski sedang sakit parah, Lu Xun aktif ambil bagian dalam pekerjaan itu dan merekrut banyak pendukung.

 

Penulis Militan

Pada 29 Oktober 1936, Lu Xun meninggal dunia setelah sekian lama sakit. Lebih dari 10.000 orang dari segala macam profesi berduyun-duyun ke penguburannya, mengubah dukacita menjadi demonstrasi patriotis melawan agresi bangsa Jepang.

Lu Xun adalah penulis realis militan. Dia dengan tegas melawan pandangan bahwa sastra adalah “hiburan murni”, dan dia menghendaki sastra mencerminkan “kehidupan nyata… sesungguhnya, perjuangan dinamis… getaran-getaran, hasrat, dan gagasan-gagasan yang melejit” (“Gerakan Kesusastraan Kita Sekarang Ini”). Dia yakin, “Pekerjaan seorang pengarang adalah memberikan gambaran-gambaran yang peka dari masyarakat. Jika dilakukan sepenuh daya upaya, itu akan memengaruhi masyarakat dan menghasilkan perubahan.”

Dia menulis sebagian besar cerita pendeknya antara tahun 1918 dan 1925. Itulah periode awal revolusi China, ketika Gerakan 4 Mei dipimpin kaum marxis awal membentuk Partai Komunis China dan gerakan massa menentang imperialisme – Gerakan 30 Mei, ketika kelas pekerja memainkan peran utama. Itu juga periode ketika banyak peristiwa penting lain dalam sejarah berlangsung dan malam pecahnya perang sipil revolusioner pertama.

Selama periode itu Lu Xun menjadi makin berwatak dalam perjuangan revolusioner dan mulai terpengaruh gagasan-gagasan sosialis. Dia menjadi militan, tanpa kompromi menentang masyarakat semifeodal dan semikolonial. Sebagian cerita pendeknya menguraikan kehidupan sejak Revolusi 1911 sampai dengan Gerakan 4 Mei. Dia menyatakan, “Tema-tema cerita pendekku biasanya tentang ketidakberuntungan dalam masyarakat abnormal ini, dengan maksud mengungkapkan penyakit-penyakitnya dan menarik perhatian untuk menghilangkannya.” (“Kenapa Aku Menulis Cerita Pendek”). Cerita pendek pertamanya, “Catatan Harian Seorang Gila”, adalah pernyataan perang terhadap feodalisme. Dia menyisipkan kalimat melalui mulut “orang gila”: “Aku berupaya menengadah, tetapi sejarahku tidak kronologis…. Aku mulai melihat kata-kata yang tersirat, seluruh buku dipenuhi dua kata, ‘Makan orang!.”

Sejarah yang dia maksud adalah sejarah feodalisme di China. Dalam masyarakat feodal, yang berusia ribuan tahun itu, apa yang disebut “kebajikan dan moralitas” tidak ada sama sekali, kecuali yang memperdaya, penyepuh papan tanda di pintu rumah kelas penguasa, senjata-senjata penindas yang bisa saja membunuh tanpa menumpahkan darah. Masyarakat “pemakan manusia” itu telah  “berlangsung sejak dahulu kala”. Yakin bahwa masyarakat seperti itu bisa diperbaiki, dalam cerita pendeknya Lu Xun menyatakan dengan jelas dan tegas, “Kau pasti tahu, pada masa depan tidak ada tempat bagi para pemakan manusia di dunia.”

Lu Xun mempunyai kecintaan dan simpati amat-sangat kepada “kaum tak beruntung” dalam masyarakat semifeodal dan semikolonial China. Di antara “kaum tak beruntung” itu, tentu saja dan tak dapat dielakkan, perempuan petani yang tertindas memperoleh tempat utama. Dalam masyarakat feodal China, kaum petani miskin adalah kelas yang dieksploitasi dengan sangat berat dan perempuan berada pada posisi paling rendah dan celaka di dalam kelas itu.

Ah Q adalah petani miskin, tanpa tanah. Jundu dalam “Kampung Halaman” adalah pekerja keras, sederhana, petani yang lama menderita karena “tak pernah cukup makan”. Istri Xiang Lin dalam “Pengorbanan Tahun Baru”, yang suami dan anak lelakinya direnggut pergi oleh takdir yang kejam, pergi dengan perasaan bersalah sampai akhirnya menjadi pengemis dan diusir hingga mati tak dikenal. Aigu dalam “Perceraian”, yang berani menanggung risiko kehidupan, akhirnya menyerah dalam impitan penguasa feodal yang seram dan menakutkan….

Sosok-sosok itu hidup kekal dalam ingatan pembaca bangsa China sejak Revolusi 1911 sampai pendirian Partai Komunis China. Lu Xun mempunyai simpati kemanusiaan revolusioner kepada tokoh-tokoh tersebut. Tintanya meluap penuh perasaan, karena dia sangat tersentuh oleh nasib malang mereka. Dia sebenarnya mengekspresikan kritik keras atas ketololan dan kemasabodohan orang-orang itu dan cara-cara meremukkan dan membius mereka dengan gerinda moralitas kelas penguasa – sebagaimana Ah Q dan D Muda. Dia betapapun tidak mencemooh pengorbanan mereka, tetapi marah atas kelembaman mereka; reaksi dasar Lu Xun tertuju kepada kaum petani miskin yang belum mempunyai kesadaran politik.

Dia kerap kali juga mengekspresikan harapan yang pasti bahwa masa depan yang lebih baik menunggu mereka. Hingga, dalam “Kampung Halaman”, dia menyatakan, “Mereka akan memiliki kehidupan baru, kehidupan yang belum pernah kami alami…. Karena sesungguhnya bumi tak pernah mempunyai jalan-jalan untuk dilalui, tetapi karena begitu banyak orang melewati sebuah jalur, seruas jalan pun terbuat.” Dia menanti dengan tak sabar kebangkitan kaum tak beruntung itu, saat mereka menyatukan kekuatan untuk menderap ke jalan yang sebelumnya tak pernah ada sama sekali, untuk menciptakan kehidupan baru bagi diri mereka sendiri.

Kelompok “kaum tak beruntung” lain yang digambarkan Lu Xun adalah orang-orang kota sederhana yang tertindas, seperti Istri Keempat Shan yang menjanda dalam “Besok”, yang menopang kehidupannya dan anak lelaki kecilnya dengan pemintalan, atau Shan Tua dan istrinya yang menunggui kedai teh kecil. Penyayang, pekerja keras, orang-orang jujur yang mencintai anak mereka, dan bersimpati atas kesulitan-kesulitan orang lain. Ketika seorang anak sakit, mereka tak mempunyai pengetahuan medis atau keahlian merawat, kecerdasan mereka dibingungkan oleh ketidakjelasan feodalisme. Tertipu oleh para penguasa dan para penjilatnya, mereka melepaskan semua tabungan kecil untuk menyelamatkan anak mereka, sebelum mati lebih cepat dan lebih tragis. Setelah dia mati, rambut mereka memutih lebih cepat. Mereka merasakan rumah makin sepi tak tertahankan dan kosong; mereka tak mengerti penyebab kehilangan mereka, tetapi mencoba menganalisis kegagalan mereka untuk mencegahnya….

 

Tak Hilang Harapan

Meski berduka, Lu Xun memandang tak ada jalan keluar bagi mereka. Dia hanya bisa menghibur mereka dengan harapan, “Malam, hasrat untuk berubah, menjelang pagi, berlalu dalam keheningan.” Dia percaya, hari baru pasti menyingsing, membawa kehidupan baru bagi orang-orang yang tak beruntung itu.

Dalam keyakinan Lu Xun, entah sekolah lama atau baru, pada masa itu berubah dengan cepat, mendapatkan kritik lebih banyak ketimbang simpati. Kong Yiji, yang dilatih dan belakangan diusir oleh kaum terpelajar feodal, menggunakan model-model kuno, bentuk-bentuk klasik, untuk berbicara. Meski maling kecil-kecilan, dia menganggap dirinya pria terhormat dan tak mau membuang jubah panjangnya yang kotor dan compang-camping. Kakinya patah lantaran mencuri dan dia merangkak hingga akhirnya menghilang tak ketahuan rimbanya dari sebuah losmen; mengejek dunia.

Lu Weifu dalam “Di Kedai Minum” adalah lalaki cerdas yang mengajar pada masa sekitar Revolusi 1911. Sebagai lelaki muda, dia mempunyai bayangan ideal dan keinginan hidup dengan suatu tujuan. Namun setelah penerimaan mahkota Yuan Shigai, usaha Chang Xun memulihkan monarki, dan kecenderungan kaum raksioner mengikuti Gerakan 4 Meei, dia berhenti mematuhi perintah dari orang lain dan hidup dengan mengajarkan sastra Konfusian kepada anak-anak. Seperti lalat, dia meninggalkan posisi semula untuk berada di suatu lingkaran kecil dan terbang kembali. Dia tak berani memikirkan masa depan; bakal jadi apa dia, atau apakah esok hari bakal muncul atau tidak.

Wei Lianshu dalam “Orang Aneh” belajar di luar negeri dan percaya bahwa “anak-anak selalu baik… satu-satunya harapan China yang membentang saat ini”. Dia dikenal sebagai orang “modern” dan “radikal”. Namun dia tak mempunyai filosofi yang logis dan pemahaman jernih tentang dunia; dia mulai menjadi sangsi dan lambat-laun menjadi orang aneh. Akhirnya dia menjadi “terhormat” karena berkhianat, berpihak pada musuh – kelas penguasa dalam masyarakat lama. “Kini aku melakukan apa yang dulu kubenci dan kutentang. Kini aku membuang semua yang dulu kuyakini dan kujunjung tinggi.” Dia menjadi penasihat panglima perang dan hidup dalam kehidupan dekaden, bermain mahyong, minum minuman keras, mencerca orang-orang miskin dan tua, menghina anak-anak malang…. Namun dalam penderitaan spiritual, dia jatuh sakit dan mati.

Shuansheng dalam “Penyesalan Masa Lalu” adalah tipikal intelektual – pengecut, munafik, lemah. Dia menerima secara artifisial “tirani keluarga, kebutuhan memutuskan hubungan dari tradisi, kesetaraan lelaki-perempuan, Ibsen, dan Shelley”. Namun dia tetap tak dapat mempraktikkan apa yang dia ajarkan. Dia tetaplah seorang pengecut yang mementingkan diri sendiri. Kesepian membuat dia menerima seorang gadis murni, Zoshun. Namun setelah gadis itu menerima dia dengan ikhlas, mencintai dia tanpa pamrih, dia menyesali kehilangan koneksi sosialnya, menganggap kesulitan-kesulitan yang dia alami berasal dari gadis itu, dan dia yakin bisa mencampakkan sang gadis, dia yakin bakal sanggup mengayunkan langkah awal yang baru dan berdiri tegak di dunia. Maka, dia pun meninggalkan gadis itu.

Dan Zoshun, yang berani menolak berkompromi dengan masyarakat lama, mati di tengah-tengah kekerasan dan pandangan dingin. Shuansheng menyatakan diri menderita karena penyesalan mendalam dan dukacita, tetapi apa yang dia sebut sebagai awal baru dalam kehidupannya berpedoman pada pelupaan dan dusta. Lu Xun muak atas kepengecutan kaum intelektual yang mementingkan diri sendiri seperti itu, atau melakukan “akrobatik mental sebagaimana Lu Weifu itu”. Dia tak keberatan menyerang mereka dengan sengit dan mempermalukan mereka dalam cerita-ceritanya. Dalam “Di Kedai Minum”, dia menulis aku orang pertama untuk membedakan diri dari lelaki seperti Lu Weifu. “Selagi berjalan seorang diri menuju ke penginapanku, angin dingin dan salju menampar wajahku, tetapi aku merasa segar.” Dalam “Orang Aneh”, dia kembali menggunakan aku orang pertama untuk menyatakan perasaan setelah meninggalkan Wei Lianshu, “Aku melangkah makin cepat, seolah-olah ingin sekali menerjang semua rintangan berat, tetapi aku sadar itu mustahil. Sesuatu meronta-ronta dalam telingaku dan, setelah sekian lama, melejing keluar. Itu seperti raungan panjang, raungan seekor serigala terluka di hutan belantara pada tengah malam, murka, dan sedih bercampur aduk dalam kenyerian. Lalu aku merasa hatiku lebih lapang….” Dalam “Penyesalan Masa Lalu”, dia membuat Shuansheng mengungkapkan watak yang hina, “seorang lelaki harus bermata pencaharian sebelum berurusan dengan cinta…. Karena aku sudah bekerja, aku harus melakukan suatu awalan baru.”

 

Karakter Revolusioner

Cuma satu dia antara semua intelektual yang dilukiskan Lu Xun yang lebih dipuji ketimbang dipersalahkan, dan itu adalah Zoshun. Lu Xun melukiskan Zoshun sebagai tipe baru seorang gadis yang memiliki pendirian teguh. Mula-mula Zoshun mengatakan, “Aku nyonya rumah. Tak seorang pun di antara mereka berhak menggangguku.” Itu merupakan pandangan revolusioner bagi seorang perempuan China setelah ribuan tahun dalam feodalisme. Dia mengabaikan cemoohan, fitnah, dan pandangan tajam dari masyarakat lama.

Kesucian dan kemurnian membuat dia mustahil takut tetap tenang dan menyendiri. Ketika sang kekasih mencampakkan, dia tak lupa mengumpulkan makanan dan uang yang tersisa sehingga lelaki yang pernah mencintai dan kemudian meninggalkannya itu bisa agak memperpanjang kehidupan. Bahkan setelah ditinggalkan pun, dia tak mau menyerah kepada masyarakat lama, tetapi menggunakan bunuh diri sebagai aksi perlawanan terakhir. Meski Lu Xun menjelaskan bahwa protes individual Zoshun tak menyelesaikan apa pun, pelukisan tentang gadis itu memperlihatkan bahwa perempuan China bukan “tak berdaya”, dan kita akan melihat mereka “pada masa depan yang tak terlalu lama lagi dalam segala kemuliaan mereka”.

Intelektual muda lain yang dikagumi Lu Xun adalah Xia Yu dalam “Obat” yang mati tepat sebelum Revolusi 1911. Meski lelaki muda itu tak muncul sendiri, Lu Xun memakai pelukisan-pelukisan tidak langsung untuk menggambarkan dia yang terlupakan. Setelah ditangkap, Xia tetap melakukan kerja revolusioner. Dalam penjara dia mengajarkan cara penggulingan terhadap pemerintahan Qing. Setelah dia mati, dalam kematian sebagai pahlawan, Lu Xun meletakkan rangkaian bunga merah dan putih di kuburannya untuk mengunjukkan bahwa orang tak akan melupakan tugasnya yang belum rampung.

Lu Xun juga memperlihatkan kepada kita sejumlah potret akhir hidup orang-orang yang dimangsa orang lain dalam masyarakat semifeodal dan semikolonial China. Dia membenci dengan amat sengit dan mencemooh para anggota kelas penguasa itu. Maka dalam “Kisah Nyata Ah Q”, Tuan Zhao yang tampak sebagai penegak moralitas yang bermartabat tak melalaikan kesempatan membeli barang curian yang tak berharga dari Ah Q. Anak lelakinya yang menjadi sarjana menggulung kucir begitu mendengar kaum revolusioner memasuki kota dan menjadikan lembaran kekaisaran di biara sebagai objek serangannya, dan pada saat yang sama melarikan pedupaan yang berharga dari Kuil Dewi Welas Asih. Setan Asing Tiruan, yang belajar di Tokyo dan memotong kucir, tergopoh-gopoh ke kota pada malam revolusi untuk membeli beberapa buah persik sebagai tanda pengikut partai revolusioner dan memperoleh keuntungan dengan menjual buah itu kepada orang-orang lain.

Dalam “Badai dalam Semangkuk Teh” ada Tuan Zhao yang, sejak kaisar naik takhta kembali, menakut-nakuti orang-orang desa dengan desas-desus, “Peliharalah rambutmu dan kau bakal kehilangan kepala, atau peliharalah kepalamu dan kau bakal kehilangan rambut!” Dalam “Sabun”, kita punya Simin yang sangat menyokong pembukaan lebih banyak sekolah, yang percaya bahwa semua sekolah bakal ditutup jika para gadis bersekolah – karena itu bakal menjungkirbalikkan segala-galanya. Selain berpura-pura saja dengan sastra Konfusian dan induk Mencius, dia mempunyai hasrat berahi kepada seorang perempuan muda peminta-minta. Dalam “Perceraian”, Tuan Ketujuh, “seorang yang mengenal kebenaran” dan berlagak memperjuangkan keadilan, menekan secara tak wajar kepada Aigu…. Lu Xun menelanjangi jiwa buruk lelaki itu di bawah lapisan kebajikan mereka dan dia melakukan itu sedemikian efektif sehingga para pembaca hampir tak dapat melupakan tokoh-tokoh busuk tersebut.

 

Melawan Ketertindasan

Lu Xun menciptakan keserbaragaman karakter yang tiada habis, yang menggambarkan orang-orang dari setiap profesi pada waktu itu.

Sebelum kekalahan Revolusi 1927, Lu Xun tidak memiliki pandangan yang jelas; tetapi fakta bahwa dia berasal dari salah satu benteng feodalisme lama dan memiliki pengertian sangat mendalam mengenai masyarakat di bawah imperialisme dan feodalisme memungkinkan dia dengan jelas membedakan antara anggota kelas penguasa (para panglima perang, pegawai negeri, golongan baik-baik di daerah, sastrawan yang bekerja untuk kaum reaksioner, dan sebagainya) dan kaum tertindas (sebagian besar petani dan kaum miskin kota). Dia tahu mana yang memangsa yang lain dan mana yang dimangsa. Dia tahu ketidakadilan dalam hierarki feodal, kebusukan klik penguasa, dan dia yakin “kelas atas tidak sebaik kelas bawah”. Dia dengan tajam menegaskan dalam strata sosial mana tempat rakyat dan mana tempat musuh. Teguh pendirian sebagai seorang demokrat revolusioner, dia menyuarakan kebencian kepada musuh dan tak kenal lelah menyerang mereka dengan ketajaman penanya, menelanjangi mereka, mengungkapkan kepicikan hati mereka.

Di sisi lain, dia menunjukkan kecintaan mendalam dan simpati kepada kaum tertindas dan tereksploitasi di di kota-kota dan pedalaman. Dia mengungkapkan penderitaan mereka serta menunjukkan kejujuran dan keteguhan hati mereka, mengekspresikan kemarahan atas pembudakan dan pengorbanan mereka. Cerita dia semata-mata adalah pengungkapan atas kekuasaan yang sangat akut berdasar pengamatan dan pendirian politik yang sangat jelas, yang diliputi semangat perjuangan. Itulah keistimewaan semua cerita pendek Lu Xun.

Maka dalam “Kisah Nyata Ah Q”, sang pahlawan adalah seorang petani miskin, tunawisma, yang betul-betul dikandaskan oleh masyarakat lama, dan kita melihat betapa konsep kemenangan moral adalah akar kegagalan Ah Q untuk bertahan, meruntuhkan pembawaan lahir yang jujur dan teguh hati, menimbulkan kesulitan bagi dia untuk bangkit, melihat perjuangan dan mengenal musuh-musuhnya yang nyata. Apalagi bersama dengan petualangan-petualangan Ah Q, Lu Xun melukiskan kelakuan para tuan tanah, golongan baik-baik di daerah, pegawai negeri, dan para panglima perang seputar Revolusi 1911. Dia menjelaskan kenapa para petani tak tertarik pada revolusi dan kenapa revolusi itu gagal. Cakupan yang mendalam dan luas dari tema utama adalah keistimewaan khusus “Kisah Nyata Ah Q”.

 

Sapuan Minimal

Cerita-cerita Lu Xun ringkas dan padat karena dia mengadopsi metode tradisional China dalam tulisan-tulisannya. Opera rakyat dan lukisan-lukisan tahun baru bangsa China selalu memakai metode “bagan”. Jadi opera-opera itu membuang kerumitan properti panggung dan dekorasi, tidak memakai apa-apa, kecuali kain layar penutup sederhana untuk aksi-aksi di panggung yang makin menonjol secara tajam. Lu Xun berkata, “Aku melakukan yang terbaik untuk menghindari kepanjanglebaran. Jika aku merasa telah cukup jelas menyatakan maksudku, dengan senang hati aku membuang hiasan tambahan. Teater China kuno tidak mempunyai dekorasi, dan gambar-gambar tahun baru yang dijual kepada anak-anak hanya memperlihatkan beberapa sosok utama. Yakin bahwa metode itu sesuai dengan tujuanku, aku tak mengumbar detail yang tidak relevan dan membuat dialog seminim mungkin.” (“Kenapa Aku Menulis Cerita Pendek”).

Jelaslah dia menggunakan metode tradisional China dalam tulisan-tulisannya dan melakukan dengan sengaja. Maka “Kisah Nyata Ah Q” tidak berisi gambaran susunan perabot Kuil Dewa Perlindungan atau aula, ruang tamu, paviliun-paviliun, taman di gedung Tuan Zhao. Namun dia mengungkapkan atmosfer yang sangat kuat melalui pelukisan karakter yang sangat tepat. Dalam “Pengorbanan Tahun Baru”, dia tidak menggambarkan cara hidup mewah panglima perang, pada siapa istri Xiang Lin bekerja. Suatu referensi singkat dalam surat gulungan dan buku-buku di ruang kerjanya memberikan kepada kita suatu gambaran mengenai pandangan dan karakter manusia, sama seperti nasib tak terelakkan yang menunggu Xiang Lin dalam masyarakat seperti itu.

Lu Xun tak pernah mendasarkan tokoh-tokohnya pada individu-individu nyata, meski banyak percobaan tak berhasil yang dia lakukan membuktikan bahwa dia mengerjakan hal itu. Dia menceritakan kepada kita untuk menciptakan tokoh, dia mengombinasikan kualitas banyak orang yang berbeda-beda. “Metode itu juga sama dengaan konvensi China kuno kita,” ujar dia. “Maka ketika para pelukis kita melukis sosok-sosok, mereka mempelajari subjek mereka hingga mengakrabinya. Mereka tak pernah melukis dari model tunggal.” (dalam “Melintasi Celah”).

Metode tradisional itu digunakan Lu Xun, yang piawai meringkas pengalaman yang terhimpun dalam dari berbagai panggung revolusi demokratis yang berbeda-beda (dari revolusi demokratis borjuis ke revolusi demokratis yang dipimpin kaum proletar) dan orang dari setiap kelas di masyarakat. Berkat analisis dan studi melalui penyerapan dan pencernaan bahan, dia menciptakan suatu kekayaan keserbaragaman tokoh yang tipikal yang mempunyai makna universal. Karena itulah AH Q, istri Xiang Lin, dan banyak tokoh lain itu menjadi hidup. Dan karena tokoh-tokoh itu berasal dari kehidupan yang dikenal semua orang China, petualangan dan karakter mereka menarik perhatian kaum lelaki dan perempuan dari setiap kelas dan menyediakan cermin bagi mereka untuk menilai diri sendiri.

Keistimewaan yang nyata dari pelukisan karakter Lu Xun adalah dengan meminimalkan dialog dia menciptakan potret-potret yang sangat hidup. Lu Xun sangat mengagumi para seniman yang “tidak melukiskan setiap detail alis mata, tetapi dengan beberapa sapuan yang menampilkan jiwa” (“Para Sarjana Saling Mencemooh”), dengan melebih-lebihkan pelukisan karakter yang pasti, entah kebajikan atau kelemahan mereka. Dia yakin, “Jalan terbaik untuk melukiskan karakter seseorang adalah dengan sapuan minimal untuk melukis matanya…. Jika Anda melukiskan seluruh helai rambut di kepalanya, betapa akurat sekalipun, itu sama sekali tak berguna.” (“Kenapa Aku Menulis Cerita Pendek”). Dia piawai dalam metode sketsa itu sehingga cerita-ceritanya, meski pendek, sarat isi.

Demikianlah, ketika melukiskan Ah Q, dia menekankan pada kucirnya yang kecokelat-cokelatan dan ucapannya yang konsisten, “Inilah anak lelaki yang mengalahkan sang ayah.” Ketika menggambarkan pertarungan-pertarungan Ah Q, dia menyebutkan lebih dari sekali betapa kucir kecokelat-cokelatan itu tercekau dan kepalanya membentur tembok, namun Ah Q selalu berkata dan membatin, “Inilah anak lelaki yang mengalahkan sang ayah.” Di sinilah kita memperoleh saripati Ah Q.

Saat melukiskan istri Xiang Lin, Lu Xun menekankan pada aspek penampilan yang jelas. “Rambutnya terikat pita putih. Dia memakai rok hitam, jaket biru, dan korset hijau pucat… dengan kulit pucat tetapi pipi merah.” Ringkas tetapi hidup, dia menekankan pada kita suatu cara manakala kemelaratan dan penderitaan janda itu menjadi korban besar mereka. Melalui kontras antara “pipi merah” dan “pipinya kehilangan seri”, dia mengisyaratkan perubahan di antara berbagai periode yang berbeda-beda. Contoh-contoh tersebut memberikan bukti bahwa Lu Xun memakai metode “melukis mata, bukan setiap helai rambut”.

Kesimpulannya, Lu Xun adalah penulis cerita pendek yang meneruskan tradisi nasional yang tajam, mengadaptasi apa saja yang terbaik dari kesusastraan Rusia dan negara-negara Eropa Tenggara yang lain untuk mengungkapkan pengertian yang luas dan pengetahuan mendalam mengenai kehidupan masyarakat semifeodal dan semikolonial China. Dia dengan berani mengembangkan suatu gaya unik dan membangun fondasi kukuh bagi kesusastraan realis baru China. Dia menduduki tempat penting dalam sejarah kesusastraan China karena meneruskan tradisi lama yang baik dan menciptakan kesusastraan baru. Dia penulis sastra realis China modern terbesar dan terkemuka, yang membuka jalan bagi penulis realisme sosialis kita. Jalan Lu Xun adalah jalan bagi kesusastraan baru China. n

 

Shanghai, 17 Agustus 1959

 

 

Catatan:

  • Ye Yishun, saat menulis esai ini, 17 Agustus 1959, adalah Sekretaris Serikat Penulis China Cabang Shanghai, anggota dewan redaksi Shanghai Literature dan Literary Review, serta anggota Lembaga Penelitian Kesusastraan Akademi Ilmu Pengetahuan China.
  • 1) Panglima perang di China pada masa itu adalah penguasa lokal atau pemimpin bandit di suatu distrik, yang memiliki pasukan pengikut. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa pemerintah lemah.
  • 2) Protes menentang pembantaian besar-besaran terhadap bangsa China yang dilakukan polisi Inggris di Shanghai.

 

(Esai ini saya terjemahkan dari “Lu Hsun’s Life and His Short Stories” dalam Lu Hsun, Selected Stories of Lu Hsun, terjemahan bahasa China ke bahasa Inggris dikerjakan Yang Xianyi dan Gladys Yang, Peking: Foreign Languages Press, edisi kedua, 1963: halaman 1-19. Esai ini pernah dimuat secara serial di Suara Merdeka, Minggu 14, 21, 28 September 2003, dan 5 Oktober 2003, halaman 24.)

 

5 Comments to "Kehidupan dan Cerita Pendek Lu Xun"

  1. EA.Inakawa  5 July, 2013 at 23:37

    Bersyukurnya KITA punya Kang Putu, awak jadi tau siapa Lu Xun, bisa jd setara dengan Amir Hamzah atau Pramoedya Ananta Toer , yang berjuang melalui sastra & jurnalis. salam sejuk

  2. J C  2 July, 2013 at 06:23

    Matur nuwun, Kang Putu untuk pencerahan tentang Lu Xun…duluuuu pernah dengar nama ini…tapi tidak tahu se’detail ini…

  3. Handoko Widagdo  2 July, 2013 at 06:20

    Kumpulan cerpennya diterbitkan oleh Obor

  4. Dewi Aichi  1 July, 2013 at 20:47

    Kang Putu, beruntung banget dengan tulisan ini, paling tidak saya bisa tau tentang Lu Xun, tulisan ini padat dan jelas, jadi tidak seperti aslinya, apalagi berbahasa asing…berbahasa Indonesia saja kadang tidak mampu mengingat nama namanya…terima kasih Kang Putu, dengan demikian bertambah lagi wawasan ku.

  5. Lani  1 July, 2013 at 11:48

    satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.