Impian Sukmawatie (1)

Yang Mulia Enief Adhara

 

“Hah??? Tempe sama sayur bening lagi??? Kok di rumah ini seperti nggak ada menu lain ya?”, Ujar Sukma bersungut-sungut di depan meja makan.

Ibu yang sedang meletakkan tempe penyet hanya memandang Sukma sekilas lalu menjawab, “Sudahlah Mai, kamu makan saja, bersyukur masih bisa makan, lagian ini tempe penyet, kalau kemarin kan tempe kecap!”

“Huh! Tetep aja tempe! Bisa muntah aku lama-lama!!”, Sahut Sukma sambil menyendok nasi.

Ibu mulai kesal, “Iya tapi nyatanya kamu ndak muntah tho selama ini?!! Bersyukur masih bisa makan, toh kalau rejeki Bapakmu bagus, Ibu ya masak lauk yang enak-enak kok”. Dan Ibu meninggalkan Sukma yang sudah asyik makan.

Sukmawatie anak pertama dari 3 bersaudara, dia adalah lulusan D1 Akuntansi dan tetap menganggur sejak lulus 6 bulan lalu. Dia gemar melawan kedua orang tuanya. Ada saja jawabannya ketika diberi nasehat. Dia biasa dipanggil Mai oleh orang-orang terdekatnya.

Bapak Sukma seorang pedagang dan hampir 2 tahun ini usahanya dalam masalah, Bapak ditipu oleh rekannya hingga akhirnya bangkrut. Namun Bapak orang yang ulet, dia kembali berjuang dari awal. Ibu dan kedua adik Sukma sangat mendukung Bapak sedangkan Sukma justru tidak mau mengerti. Selalu saja menuntut ini itu.

*****

“Dari pada kamu duduk nangkring bukannya kamu lebih baik mencari kerja Mai? Kalau punya uang kamu kan bisa makan apapun yang kamu suka?”, Ujar Ibu sambil menyapu.

Sukma mendengus kesal, “Kerja apa? Lha aku cuma disekolahin D1! Aku kan harusnya kuliah S1?! Emang aku harus jadi pembantu?”.

Ibu tersinggung mendengar ucapan Sukma yang tidak tahu diri, “Dengar ya! Di saat kami babak belur karena kesulitan uang, harusnya kamu tuh bersyukur bisa kuliah walau D1! Dan banyak kok yang kerja walau hanya lulus SMU. Kamu saja yang pemalas Mai!”.

“Syukur lagi??? Yang ada syukurin, kaya pita rusak bisanya ngulang kata itu-itu aja!”, Ujar Sukma seenaknya. Ibu kali ini benar-benar marah, Sukma dilempar lap yang dipegang Ibu.

Sukma keluar rumah dengan langkah menghentak-hentak bagai kuda liar. Ibu memandang putrinya dengan sedih, dosa apa ia dan Suaminya kok sampai punya anak seperti Sukma.

*****

Sukma duduk melamun di bangku warung Bu Mimin, dia nampak asyik mengunyah gorengan. Tak lama datang Yusi sambil menggendong keponakannya yang masih 3 tahun.

“Mai?! Asyik amat ngemilnya? Eh kamu udah kerja? Kalau belum tuh paman aku butuh pegawai buat toko sembako-nya di pasar”, Ujar Yusi sambil memberi ponakannya sepotong pisang goreng.

Sukma memandang Yusi sejenak lalu dia bicara sambil melanjutkan makan “Mosok anak D1 dijadiin pembantu? Emang Paman kamu mau gaji aku berapa Yus?”.

Yusi mengerutkan dahi, “Maksudmu apa? Siapa yang mau jadiin kamu pembantu? Lha wong jadi kasir kok! Kalau gaji setahu aku sekitar 900.000 gitu deh plus uang makan dan transport”.

Sukma nampak acuh, dia seperti tidak tertarik, “Ahh nggak deh kalo gaji cuma segitu, cuma capek doang! Kalo sejuta setengah plus uang makan dan ongkos aku mau!”.

“Wealah Mai! Gayamu! Lha udah bagus dapat gaji segitu dari pada kamu cuma makan tidur doang. Tapi ya udahlah toh kamu belum tentu becus juga kerjaannya!”, Yusi menjawab ketus sambil berpamitan dengan Bu Mimin yang juga nampak kesal melihat ulah Sukma yang sombong.

*****

Sukma paling rajin tidur siang dan kalau malam dia selalu tidur larut. Andai paginya Ibu meminta tolong sesuatu, Sukma pasti pura-pura tidak dengar atau kalaupun bangun dia akan marah untuk kemudian tidur lagi.

Hingga dari kebiasaannya tidur itulah dia berjumpa seorang lelaki. Lelaki itu muncul dalam mimpinya sudah 7x.

Sukma terbangun di kamarnya yang sangat berantakan, dikucek-kucek matanya karena kaget terkena sinar matahari dari jendela yang terbuka. “Pasti Ibu nih yang sok buka jendela pagi-pagi gini, beneran gak suka liat aku tenang sedikit deh”, Omel Sukma sambil kembali menutup tirai.

Namun sial, matanya tak lagi dapat terpejam lagi. Waktu sudah menunjuk pukul 9.12. Dia kembali teringat wajah lelaki dalam impiannya. “Siapa ya dia? 7x muncul dalam mimpi dan dalam mimpiku ada di Jakarta, ahhh aneh banged”, Gumam Sukma.

Sukma keluar kamar lalu langsung menghampiri meja, dilihatnya ada sepiring pisang goreng. “Bu?! Mana nasi sama lauknya? Kok cuma ada pisang?”, Teriak Sukma sambil mencomot pisang.

Dari dapur Ibu menjawab, “Kamu tuh buat sendiri, emangnya kamu siapa?? Bangun siang tapi masih nagih sarapan??”.

Sukma kesal dengan jawaban Ibu. Dia mendapat ide untuk minggat, “Huh ini rumah makin bikin gak betah, apa aku kabur ke Jakarta ya??? Kan aku bisa kerja dan nyari tahu siapa laki-laki dalam mimpiku itu. Laki-laki itu di Jakarta, aku yakin! Tapi duit dari mana? Aku aja dikasih duit jajan cuma sepuluh ribu sehari”.

Sukma terus memikirkan niatnya itu, makin dipikir makin menggoda, dia bertekad akan kabur, “Biar nyesel deh Ibu kalo di Jakarta aku sukses, dia akan mohon-mohon maaf ke aku tuh karena sikapnya!”.

*****

Dan suatu siang dia tanpa sengaja melihat gelang dan kalung Ibu berada di atas buffet di ruang makan. Suasana sepi dan Sukma yang sudah dirasuki setan tanpa berpikir lagi langsung saja mengambil gelang dan kalung itu.

gelang-emas

“Lumayan buat modal ke Jakarta, hm entar toh aku ganti kalau aku dah dapat kerja, percuma juga aku minta baik-baik, lha minta sepuluh ribu aja ngomelnya sejam”, Gumam Sukma sambil menyembunyikan perhiasan itu di tumpukan pakaiannya.

*****

“Paaaakk!!!! Gelang sama kalungku hilang! Tadi sepertinya aku taruh di ruang makan”, Pekik Ibu sambil menangis.

Bapak masuk ke ruang makan, “Ahh masak hilang Bu? Mungkin Ibu lupa narohnya, coba diingat-ingat lagi”.

Ibu duduk di kursi makan sambil menangis, “Aku inget Pak, tadi aku kan ke pasar, aku buru-buru jadi aku taruh di situ. Itu perhiasan terakhirku sejak Bapak bangkrut, aku simpan buat keadaan sangat darurat Pak”.

Bapak memeluk Ibu, “Nanti kita cari lagi, siapa tahu terselip. Namun andai hilang mungkin saja itu bukan hak kita lagi ya Bu, kalau ada rejeki pasti Bapak belikan lagi, sudah jangan menangis … Ikhlaskan.”

Sukma lega, kedua orang tua-nya tidak mencurigai dirinya. Dalam hati Sukma akan menjual perhiasan itu besok. “Ahh Jakarta, tunggu aku, akan aku taklukan dirimu”, Sukma nampak puas membayangkan dia akan bekerja di Jakarta.

*****

Dan esok paginya Sukma sudah sibuk berkeliaran di pasar, ada rasa takut di hatinya yang keji namun nafsu untuk memenuhi hasratnya jauh lebih besar, akhirnya dia masuk ke sebuah toko emas yang nampak ramai. Sialnya baru 5 menit menunggu giliran untuk dilayani, muncul Bu Sasmi yang tak lain adalah tetangga satu gang.

“Lho? Sukma? Kamu mau beli perhiasan? Pagi-pagi sudah di sini?”, Sapa Bu Sasmi sambil duduk di samping Sukma.

Sukma panik, bisa kacau kalau Bu Sasmi mengadu pada orang tua-nya, “Ahh engga Bu, aku lagi lihat-lihat saja kok, kan Ibu aku nyuruh aku buat benerin kalungnya yang copot”, Ujar Sukma berdusta.

Bu Sasmi mengangguk dan tak lama Sukma belagak pamit pura-pura ingin membeli susu pesanan Ibunya.

“Sialan, entar aja deh aku nunggu Bu Sasmi selesai beli perhiasan, bisa rusak nih rencanaku”, Gumam Sukma sambil berjalan di trotoar pertokoan. Sekitar 2 jam dia kembali lagi dan tanpa banyak bicara dia segera saja menjual gelang dan kalung milik Ibunya.

Sukma tersenyum puas, kini di dompetnya berisi uang 6.300.000, ah ternyata berat juga perhiasan Ibu, gitu kok nggak dijual dari kemaren-kemaren, buat belanja yang bergizi. Dasar Ibu-ku pelit sekali.

 

12 Comments to "Impian Sukmawatie (1)"

  1. Lani  6 July, 2013 at 08:01

    EA : lo……….iki malah memberi contoh diriku????? hahahah……….klu soal kejujuran yo mmg bener, nek duwe anak kayak Sukma udah aku uncalke kelaut Kona……….kkkkkk bener tuh kata lurah Baltyra pas anak itu hrs dikeplaki…….dan dikaploki……..sekalian dikruwes-kruwes………anak tdk tau diri!

  2. Matahari  6 July, 2013 at 04:45

    Sukmawati mencuri gelang dirumah atau di toko?Banyak banget…cukup buat lari ke kutub utara dan BBQ disana….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.