The Incredible (& Real) India

Ita Siregar

 

Incredible India. Promosi yang digulirkan pemerintah India sejak 2002 untuk menyedot turis internasional ke dalam negeri, bukanlah mengada-ada. Dengan warisan sejarah memikat, tradisi dan budaya yang kaya, kuliner yang dikenal dunia, serta keberagaman manusianya, India adalah sebuah festival.

Menurut Vineet, pemandu wisata kami, India adalah salah satu negara Asia yang paling banyak dikunjungi selain Cina. Negeri yang sekarang berpenduduk sekitar 1,5 milyar ini memiliki 31 negara bagian dan kurang lebih 200 bahasa daerah dengan aksen berbeda.

“Sedikitnya perlu dua bulan untuk menjelajahi seluruh bagian India,” kata Vineet kepada kami, yang berwisata hanya sembilan hari, 17-25 Agustus 2012, ke India dan Kashmir.

Grup kami terdiri dari 18 orang. Saya dan teman saya, Otta, 16 peserta lain, dan Sylvia, tour-leader. Berikut catatan serunya.

incredible-india01

Warna-warni

 

17 Agustus

Merdeka! Dirgahayu Indonesia. Musim Lebaran. Menurut perkiraan, bandara akan padat. Jadi kami harus sudah ada di bandara pukul 7. Sylvia, tour leader kami, sudah menunggu di sana.

Saya tiba di bandara pukul 630. Ternyata banyak grup wisata yang berangkat hari itu. Menurut Sylvia, agen perjalanan tempatnya bekerja menerbangkan sekitar 390 grup dengan anggota minimal 15 orang, pada musim liburan kali ini.

Pukul 1140 kami terbang dengan Malaysian Airlines menuju Kuala Lumpur. Transit selama 4 jam bandara, kami berangkat lagi pukul 1830 waktu Malaysia menuju India. Penerbangan selama lima jam. Kami tiba di Indira Gandhi International Airport pukul 2100 waktu setempat. Perbedaan waktu India dan Malaysia adalah 1,5 jam.

Vineet, pemandu kami selama di India, menyambut kami dengan garland bunga kuning khas India. Kami diarahkan ke satu bus besar berisi 50 tempat duduk dan ber-AC. Sopirnya adalah Mr Singh dan asistennya Leelo.

Malam itu kami menginap di Park Plaza, sekitar 1,5 jam dari bandara. Ketika saya dan Otta berada di dalam lift, tiba-tiba lampu mati. Kami kaget setengah mati. Kejadian seperti ini jarang terjadi di Jakarta. Tetapi satu menit kemudian listrik kembali menyala. Menurut pegawai hotel, kejadian listrik mati mendadak hal biasa di India. Penyebabnya, terlalu banyak warga mencuri aliran  listrik. Wah, ngeri juga ya.

 

18  Agustus

incredible-india02

Dosa

 

Pagi yang cerah. Kami sarapan. Saya mencicipi dosa, hidangan yang terbuat dari tepung beras yang difermentasi, yang dicocolkan ke chutney tomat atau coconut, dan dimakan dengan sup sambar (lentil, sayuran, bumbu sambar). Lassi, minuman tradisional dari yogurt yang ditambah gula, rosewater, lemon, stroberi, dan saffron, adalah minuman India yang terkenal. Selain itu ada berbagai jenis yogurt asam dan manis.

Destinasi pertama kami adalah kota Agra. Banyak tur singgah ke kota ini untuk melihat Agra Fort dan tentu saja Taj Mahal yang terkenal itu. Perjalanan makan waktu empat jam. Udara di luar bus sekitar 33 derajat Celcius. Lembap seperti Jakarta. Langit cerah. Matahari bersinar terang. Mr Singh sudah siap di belakang kemudi. Bus turis di India hanya punya satu pintu pada bagian depan saja. Ada sekat antara sopir dan ruang penumpang yang ber-AC.

“Namaste,” sapa Vineet. Salam dari hati, dalam bahasa Hindi, yang berarti selamat pagi, siang, malam.

Perjalanan lima jam dengan bus cukup lama. Untung Vineet pintar menghibur. Dia kisahkan pengalaman pertamanya menjadi tour-guide rombongan Malaysia. Vineet didekati seorang  peserta, yang berkata, ”Kamu dekati gadis cantik itu dan bilang sama dia, ”You are so babi.” Babi artinya beautiful dalam bahasa Malaysia, tambahnya. Vineet menurut saja. Tetapi gadis itu malah murka mendengarnya. Vineet jadi bingung. Ternyata babi itu artinya ya, babi alias pig. Oh la la.

incredible-india03

Di depan satu istana di dalam Agra Fort.

Matahari berada pada puncak terik ketika kami tiba di Agra. Kami langsung ke Agra Fort. Benteng ini sudah menjadi milik dunia dan dilindungi UNESCO. Usia bangunan lebih dari 400 tahun. Didirikan abad ke-14 oleh seorang raja Hindu dengan bata merah yang membuatnya disebut benteng merah. Namun setelah kalah perang, istana ini diambil alih oleh kaisar Mughal yang beragama Islam.

Dinding-dinding setinggi 35 meter. Luas seluruh kompleks 38 hektar. Kalau mau dihitung sejak pertama, bangunan ini telah mempekerjakan sebanyak 1,44 juta orang. Angka yang fantastis! Kolam-kolam mandi raja dan keluarga merupakan pemandangan menarik. Dibuat khusus berbentuk bulat seperti kuali besar di atas tanah atau segiempat satu meter seperti kolam. Teknik sirkulasi air pada dinding-dindingnya membuat istana jadi sejuk meski tidak ber-AC.

Shah Jahan, putra Raja Akbar, membuat istana lain dari marmer putih dengan detil hiasan kaca, ukiran dan kaligrafi yang indah. Ia juga membangun Taj Mahal yang jarak sekitar 2,5 km dari istana merah ini.

incredible-india04

Taj Mahal

 

incredible-india05

Masjid di kompleks Taj Mahal

Tiba di Taj Mahal rasanya sudah tak sabar untuk melihat. Sejak di sekolah sudah sering mendengar cerita Taj Mahal. Dan sekarang ada di sini. Kompleksnya berada agak jauh di dalam. Untuk mencapai ke sana kami naik bus ukuran sedang yang bertenaga baterai. Bayarnya 5 rupee.

Vineet menjelaskan dulu seluruh kisah bangunan sebelum kami masuk ke Taj Mahal dan diberi waktu satu jam untuk antre masuk ke dalam bangunan. Sylvia membagikan pembungkus sepatu kepada kami agar tak perlu melepas sepatu. Turis-turis domestik bertelanjang kaki dan menaruh sepatu di rak-rak yang sudah disediakan.

Taj Mahal memiliki gaya arsitektur Mughal yang paling baik. Digelari Monumen Cinta karena raja membangunnya untuk istri ketiga yang sangat dicintainya, Mumtaz Mahal, yang meninggal dunia setelah melahirkan anak ke-14 dan dimakamkan di tengah-tengah bangunan. Di sekitar bangunan ada masjid-masjid yang besar dan berwarna cokelat-merah.

Sebanyak 20 jenis batu berharga melekat pada bangunan marmer putih tanpa cacat ini. Sekitar seribu gajah dipakai untuk membawa batu-batu ini sejauh 300 km. Pualam dari Rajasthan, batu jaspir dari Punjab, jade dan kristal dari Cina, turquoise dari Tibet, lapis lazuli dari Afganishtan, safir dari Srilanka, batu karneli dari Arab.

Monumen dibangun selama 22 tahun dari tahun 1631-1653. Sekitar 20 ribu pekerja didatangkan dari India utara, pemahat marmer dari Bukhara, seniman kaligrafi dari Syria dan Persia, penatah batu dari India selatan dan Balukistan. Tinggi dinding 25 meter. Empat minoretnya menjulang setinggi 40 meter. Luas seluruhnya termasuk taman dan masjid adalah sekitar 310 x 550 meter.

Kami sibuk berpotret dari segala posisi berlatar bangunan indah ini. Kompleks ini terlalu besar sementara waktu yang tersedia selalu mepet. Karena musim libur Lebaran, turis domestik pun memadati lokasi. Mereka antri dengan tertib untuk masuk dengan bertelanjang kaki. Bagi turis tersedia pembungkus sepatu dengan membayar beberapa rupee.

Pukul 1830 kami nonton pertunjukan tari Kalakriti dengan epik Mahabbat the Taj atau The Saga of Love. Penonton disuguhi tarian India yang atraktif dan kostum warna-warni khas India.

Malam ini kami menginap di Mansingh hotel. Hotel lama dengan bangunan antik yang masih dalam keadaan baik.

 

19  Agustus

Pukul 8 pagi kami check-out hotel menuju Jaipur. Perjalanan lima jam kali ini. Sepanjang perjalanan kami bisa menonton unta, kuda atau sapi menarik gerobak. Anjing berkeliaran bebas. Persis di tanah air, bahkan lebih kumuh. Unta dan kuda yang menarik kereta kayu adalah pemandangan biasa.

Bajaj seperti di Jakarta tetapi berwarna hijau putih. Pada bagian belakang dibuat semacam tempat duduk kayu hingga muat 6-8 orang. Fantastis! Kami tertawa takjub melihat seekor sapi putih menggelesot dengan anggun di tengah jalan raya dan tak seorang pun mengusik.

Bus-bus angkutan warna-warni. Pada bagian belakang bus memang disediakan tangga untuk naik ke atas bus. Jadi penumpang menumpang di atas bus itu pemandangan biasa. Sampah bertebaran seperti itulah keseharian. Pengemis, pedagang pinggir jalan, sapi, semua berjalan normal. Vineet bilang, penduduk Jaipur itu narrow-minded daripada penduduk Agra. Juga, apa yang ditampilkan orang India di jalan adalah real. Begitulah adanya. Bukan berprofesi pengemis seperti yang kita ketahui di Tanah Air, dan di kampungnya dia punya rumah besar.

Jaipur dikelilingi bukit dan gurun. Bukit-bukitnya mengandung banyak batu berharga. Kota Hindu ini berpenduduk sekitar 5 juta jiwa. Para pria masih memelihara kumis dan janggut. Laki-laki tua Jaipur mengenakan pakaian kurta panjang dan piyama putih, lambang damai dan kemurnian.  Penduduk vegetarian. Sapi dianggap binatang suci dan hanya diambil susunya. Dagingnya diekspor. Bahkan tahi sapi dikeringkan untuk dijadikan alat sembahyang.

Kami tiba di Jaipur dan tinggal di Mansigh Palace. Jaipur termasuk dalam propinsi Rajasthan, negara bagian terkaya di India. Raja-raja zaman dulu tinggal di sini. Benteng-benteng berwarna pink (cokelat jingga sebenarnya) menutupi lingkungan kumuh atau disebut pink city. Hawa Mahal atau palace of winds adalah simbol kota.

Kami melihat Museum Kuil BM Birla. Kuil ini seluruhnya dibuat dari pualam putih. Di dalam kuil ada patung Ganesh berkepala gajah yang adalah salah satu dewa di India. Di atas bukit sekitar kompleks terlihat bangunan kerajaan namun dibiarkan kosong tidak ditinggali.

incredible-india06

Istana Lama

Dalam perjalanan kami melihat banyak bangunan kuno zaman dahulu, bekas tempat tinggal raja-raja. Cukup kontras dengan penduduk yang sederhana. Kami juga melihat pembuatan karpet dan pertunjukan teknik pemblokan warna pada kain. Satu peserta mencoba memblokan satu motif gajah ke kausnya.

Makan malam di hotel disuguhi lagu-lagu India dengan alat musik tradisional. Pak Adnan, salah satu peserta rombongan, meminta pesanan lagu khusus. Kuch kuch Hota Hai. Dengan sengkok yang lembut dan khas India, lagu ini enak didengar sambil makan. Wah, jadi seru deh. Nambah teruss…

 

20 Agustus

incredible-india07

Amber Fort dari jalan

 

Pagi ini jadwal kami ke bangunan lain, yaitu Amer Fort atau Amber Fort. Benteng megah bak kota ini dibangun oleh Raja Man Singh I. Raja memiliki 12 istri dan 315 selir. Kota dengan luas empat kilometer persegi ini memiliki 18 kuil, tiga kuil Jain dan tiga bangunan masjid.

Karena bangunan ini tinggi, gajah-gajah siap mengantar turis untuk sampai ke puncaknya. Lagi-lagi karena musim liburan, kami ngantre untuk dapat giliran naik gajah. Bagi turis yang tidak bisa naik gajak disediakan jip-jip sewaan. Selama menunggu, pedagang lokal giat menjajakan dagangan. Kami sudah diwanti-wanti oleh Vineet untuk berhati-hati dengan para negosiator ulet ini. Sekali menawar, mereka akan mengejar sampai kita membeli.

Otta membeli topi untuk kepentingan foto nanti di atas gajah. Harganya 200 rupee (1 rupee = Rp180). Padahal tawaran pertama 600 rupee. Saya nurut saran teman ibu-ibu yang biasanya ‘si raja tega’ dalam menawar. Menawar sekitar 30-40% dari harga yang ditawarkan. Pedagang akan menggunakan sejuta cara agar dagangannya dibeli. Jangan khawatir! Mereka takkan marah meski turis menawar pada titik paling rendah.

Saya dan Otta naik satu gajah yang gagah. Jalannya cepat. Satu dua gajah salah-salah jalan, mepet ke tembok. Mungkin sudah keletihan. Orang yang duduk di atasnya harus ekstra hati-hati agar tetap seimbang. Kami melarang Rusman, joki gajah kami, memecut-mecut gajahnya. Santai saja, kami bilang. You happy, happy, tanya Rusman. Ya, ya, sure, happy, jawab kami. Tampaknya gajah binatang yang manis dan penurut.

Sampai di puncak pemandangan lebih indah. Ruang-ruang dalam bangunan masih kuat. Tempat raja duduk beristirahat menerima tamu, semuanya masih ada. Detil-detil dinding dan hiasan menunjukkan keterampilan budaya dan seni India zaman dulu. Semua bikin kami kagum. Pada satu dinding bangunan tempat tinggal para gundik raja, ada satu gambar kama sutra. Menurut Vineet, sebelumnya tiap dinding ada gambar kama sutra. Pada satu sisi bukit kelihatan tembok sepanjang 17 km seperti tembok Cina.

Ketika kami berada di puncak, hujan turun. Kami berteduh sebentar sambil membicarakan bangunan. Tak lama kami turun. Dalam perjalanan kami melewati satu bangunan kuno di atas semacam danau. Kami berfoto di sana. Hujan menghantar kami ke pusat kota.

incredible-india08

Palace of Wind

 

incredible-india09

Jantar Mantar

Kami pergi ke Jantar Mantar, museum jam astronomi yang dibangun pada abad ke-18 oleh Raja Jai Singh II. Observatori yang sudah menjadi warisan sejarah dunia ini merupakan ekspresi keterampilan astronomi zaman dulu dan konsep kosmologi dari para bangsawan Mughal. Sayangnya karena hujan, kami tak bisa berfoto di museum terbuka dan kebanyakan alat menjadi tak berfungsi.

Berdekatan dengan museum ini adalah city palace, tempat kediaman raja, atau Chandra Mahal palace. Bangunan di sini adalah gabungan antara kebudayaan tradisional Rajput (Hindu) serta Mughal (Islam). Pada festival Diwali istana ini indah dihiasi lampu dan lilin dan menjadi obyek wisata sendiri.

Dalam bangunan ada museum yang mengoleksi pakaian-pakaian raja zaman dulu. Di sini tak boleh mengambil gambar. Pada satu bangunan ada gentong perak yang tingginya 1,6 meter berisi 4000 liter air dan berat 340 kg. Gentong ini diisi air dari sungai Gangga sebagai air minum raja yang akan sekolah dan dibawa dalam perjalanan ke Inggris.

Akhirnya kami kembali ke hotel lebih cepat dan jalan-jalan dan belanja di sekitar hotel.

 

21 Agustus

incredible-india10

India Gate

 

Pukul 8 kami sudah check out hotel menuju New Delhi. Karena lalu lintas padat, perjalanan menjadi tujuh jam dari lima jam seharusnya. Pada satu ruas jalan ada kecelakaan mobil yang menewaskan seorang. Bus kami tertahan di sana. Kami agak khawatir akan lama tertahan di sini. Tetapi tak sampai lima belas menit polisi disertai ambulance tiba di lokasi. Wah, ternyata polisi lebih cepat datang tidak seperti yang ditampilkan film-film Bollywood, polisi telat datang.

Beberapa jalan banjir tapi Mr Singh adalah sopir yang cakap.

“Mr Singh, you are a good driver,” kata saya ketika turun.

“Ah, you must be very angry,” katanya sambil memberi salam India mengingat perjalanan jadi lebih panjang.

Sebagai pelipur lara terlewat makan siang, Vineet membawa kami ke restoran Chindian, yaitu Chinese Restaurant yang dibuat ala India. Lebih pas dengan lidah Indonesia pastinya. Tak banyak kari atau bumbu India lain. Pemilik restoran memberi bonus chicken wings setelah tahu kami menyukainya.

Setelah makan siang kami berkeliling kota New Delhi. Kami pergi ke toko yang menjual khusus teh-teh India dan minyak pijat atau terapi seperti olive oil atau ayurveda oils. Kami melihat simbol kota, Gate India, yang ramai seperti di Monas Jakarta.

Ibukota negara ini berpenduduk sekitar 22 juta jiwa waktu siang dan 17 juta jiwa waktu malam. Seperti Jakarta, New Delhi adalah pusat bisnis dan pemerintahan. Kurang lebih kota seperti Jakarta. Mulai dari jalan layang dan bus semacam TransJakarta meski tak berjalur khusus. Pepohonan di daerah elite dan wilayah kedutaan-kedutaan besar sangat rimbun seperti hutan.

 

Hotel

 

Di New Delhi kami menginap di Country Inn & Suites yang minimalis dan modern.

 

Itasiregar, 30 Agustus 2012

 

32 Comments to "The Incredible (& Real) India"

  1. Handoko Widagdo  6 July, 2013 at 09:42

    Saya hanya kenal India Selatan (Karnataka dan sekitarnya)

  2. Lani  6 July, 2013 at 07:58

    29 AKI BUTO : malah teringat masa kecil krn kebanyakan nonton kartun……….tuh salah satunya LION KING………
    Secara umum aku tdk tertarik ke Africa, tp klu sampai bs kesana kemungkinan di Africa selatan……….klu safarinya cukup membayangkan saja…….asyikkkkkkk jg was2…….kecuali iso ngelus2 cheetah………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.