[Xixi Diary Sang Superstar] Pukulan Ke Dua

Masopu

 

Xixi dan Daniel duduk tertegun. Di seberang meja yang memisahkan mereka duduk dokter Widodo dengan wajahnya yang kalem dan bersahaja. Raut muka Xixi dan Daniel berubah-ubah dengan cepat. Tak beraturan seperti segumpal kertas yang telah lecek dimainkan tangan. Kadang datar. Kadang tegang. Di lain waktu kelihatan tak percaya. Hanya satu yang pasti dari mereka berdua, sorot mata mereka sama-sama terpaku dengan lembaran kertas yang mereka pegang.

Hampir sepuluh menit lamanya mereka terpaku dalam tatap mata tak percaya. Hanya komunikasi sunyi dengan lembar kertas di tangan saja yang mereka berdua lakukan. Sementara dokter Widodo hanya diam melihat perubahan raut muka mereka berdua. Dia sadar kalau mereka berdua butuh waktu untuk menguasai diri. Saat ini rasa tak percaya masih mencengkeram pikiran mereka. Ketakpercayaan akan hasil medical yang mereka jalani kemarin.

Suasana ruangan tersebut begitu sunyi. Hanya gesekan jarum jam berlarian mengejar helaan nafas Xixi dan Daniel yang tak teratur. Xixi yang datang berbalut kemeja berwarna biru muda dipadu bawahan rok mini hitamnya tentu berharap hasil yang berbeda dari medicalnya yang pertama. Pun demikian dengan Daniel yang ingin agar hasil medicalnya negatif.

fallen_angel_by_FairyDustClub

Tapi,…….

Harapan tinggallah harapan. Asa yang tumbuh subur di hati mereka berdua seakan layu seketika. Seperti siraman air panas mendidih pada tanaman yang baru bertunas, asa mereka musnah tak besisa. Baris-baris kalimat yang tereja oleh mata mereka telah membunuh asa tersebut. Xixi yang mengharap second opinion malah mendapatkan tamparan kedua dalam hidupnya. Tamparan yang terasa lebih sakit dibandingkan saat dirinya dikhianati oleh Denny. Tamparan yang telah melemahkan semua sendi-sendi tubunya. Hingga pijakan kakinya di atas tumpuan sepatu high heels silvernya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Lemas terduduk di kursi hitam ruangan tersebut.

Sementara Daniel yang datang dengan t-shirt hitam yang membungkus tubuh atletisnya lebih terpukul lagi. Bagaimana mungkin dirinya terjangkit penyakit terkutuk tersebut? Sementara Xixi saja baru sekitar 3 minggu ini positif terinfeksi HIV. Dari siapa dia terjangkit? Pertanyaan tersebut selalu terulang di benaknya. Nama-nama wanita yang sempat dikencaninya segera berseliweran mengalir di benaknya. Nama mereka muncul dengan berbagai kemungkinannya. Namun otaknya buntu. Mau menuduh istrinya yang sah tidaklah mungkin, karena istrinya cukup setia dan sepengetahuannya tidaklah suka ganti-ganti pasangan seperti dirinya. Mau menuduh Xixi, sepertinya juga tidak mungkin. Karena Xixi baru diketahui terjangkit sekitar 3 minggu ini. Sementara dirinya tak pernah menyentuh Xixi selama terbaring sakit. Mau menuduh wanita-wanita yang lainnya juga tak mungkin, karena tak ada bukti.

Matahari sorepun seakan ikut merasakan kesedihan mereka berdua. Sesekali sinarnya menyapa bumi ini, di saat lain disembunyikan wajahnya yang memerah di balik awan yang bergelantungan di langit barat. Semakin rendah matahari dari titik peraduannya, semakin memerah wajahnya. Seperti putri yang malu-malu saat diperhatikan terus menerus. Bergantian Xixi dan Daniel menggosok mata mereka berdua. Di lain waktu tatap mata tak percaya saling beradu.

“Mbak Xixi! Pak Daniel! Saya sadar kenyataan ini begitu berat untuk diterima. Apalagi dengan kenyataan anda berdua sebagai publik figur saat ini. Namun kadang kita tak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk hidup kita. Vonis ini bukanlah akhir dari kehidupan yang anda berdua jalani. Bahkan mungkin vonis ini bisa menjadi titik balik dalam hidup anda. Anda masih bisa berusaha untuk mencari kebenaran dari vonis tersebut. Dan anda juga masih bisa terus berusaha untuk mencari obat dari penyakit terkutuk ini. Meski menurut data medis, sampai saat ini belum diketemukan obat untuk penyakit ini. Namun janganlah berputus asa untuk mencarinya. Ingatlah Tuhan tak pernah menciptakan sesuatu tanpa pasangannya. Jadi kalau ada penyakit, pasti ada obatnya. Mbak Xixi dan Pak Daniel tetaplah semangat menghadapi hidup ini.” nasehat Dokter Widodo.

“Benarkah hasil test ini Dok?” tanya Xixi memotong nasehat Dokter Widodo dengan nada setengah tidak percaya. Sementara Daniel yang berada di sampingnya menganggukkan kepala tanda mendukung pertanyaan Xixi.

“Benar sekali mbak. Saya sendiri sebenarnya juga tak percaya. Saya sampai menganalisa data-data hasil test kemarin beberapa kali mbak. Tapi itulah kenyataan yang harus disampaikan. Itulah kenapa saya tadi juga memberi nasehat untuk anda berdua. Karena saya tak ingin anda terpukul dengan berita tersebut. ” jawab Dokter Widodo sambil merapikan posisi jas putihnya.

“Jadi saya pun juga positif HIV dok?” tanya Daniel.

“Iya pak.”

“Boleh saya tahu dok sejak kapan saya terjangkit virus ini?” tanya Daniel.

“Jika melihat hasil analisa data-data medis anda, sepertinya anda terjangkit lebih dahulu dari mbak Xixi pak,” jawab Dokter Widodo dengan suaranya yang tetap lembut. Namun suara tersebut terasa menghentak di telinga Daniel. Ditutupkannya lembaran kertas yang sedari tadi dipegang ke mukanya yang tampak memucat. Agak lama kertas tersebut menyembunyikan wajah Daniel. Rasa sesal. Rasa tak percaya. Rasa sedih bergantian membuncah di hatinya.

Tak kuasa lagi mereka berdua berkata-kata. Harapan kini tak sesuai dengan kenyataan yang mereka hadapi. Sementara rintihan di hati mereka semakin menjadi-jadi. Nasehat-nasehat dari dokter Widodo agar mereka tetap tabah dan kuat tak lagi indah di pendengaran mereka. Nasehat tersebut bahkan terasa lebih tajam mengguris hati mereka. Perlahan dan menyakitkan.

“Jika kalian masih belum percaya dengan hasil medical kalian di sini, kalian bisa melakukan test di tempat lain. Semisal di Jakarta, Bandung ataupun Jogjakarta.” kata Dokter Widodo mencoba memberi semangat mereka berdua.

“Di Jakarta? Dokter punya kenalan yang bisa dijadikan referensi saya dok?” tanya Daniel dengan penuh harap.

“Iya ada. Kamu bisa menghubungi Dokter Septian di Rumah Sakit Pertamina atau ke Dokter Andreas Susilo di RS Gatot Subroto,” kata Dokter Widodo mencoba menyebutkan nama dua orang sahabatnya saat kuliah dulu.

“Terima kasih Dok untuk informasinya. Kami akan mencoba test di sana,” jawab Xixi dan Daniel bersamaan.

Dokter Widodo tersenyum saat melihat wajah mereka berdua. Sedikit asa tampak tersembul di wajah mereka. Dan itu yang Dokter Widodo harapkan. Dengan telaten Dokter Widodo terus menyemangati mereka berdua. Cukup lama mereka mendengar nasehat Dokter Widodo, setelah merasa mampu menguasai diri mereka berdua pamit undur diri dari ruang praktek Dokter Widodo. Tangan mereka berjabat tangan dengan erat sebelum pergi.

 

Denpasar, 08122011.0209

 

6 Comments to "[Xixi Diary Sang Superstar] Pukulan Ke Dua"

  1. J C  5 July, 2013 at 20:47

    Hhhmmm…berarti Xixi ketularan dari si Daniel ini…

  2. Matahari  5 July, 2013 at 00:31

    Xixi dan Daniel sangat cocok untuk pepatah :..Siapa menabur angin…akan menuai badai”….dan Daniel sangat niaf…kaget karena dia terinfeksi HIV sementara dia sadar sesadar sadarnya kalau dia sering berganti ganti pasangan….Rasain

  3. Dj. 813  4 July, 2013 at 15:31

    *** Ingatlah Tuhan tak pernah menciptakan sesuatu tanpa pasangannya. Jadi kalau ada penyakit, pasti ada obatnya ***

    Kalimat yang indah,semua penyakit ada obatnya.
    Asal percaya saja, maka bilurnya akan menyembuhkan segala penyakit.

    Salam,

  4. probo  4 July, 2013 at 08:33

    eh…ternyata loro

  5. probo  4 July, 2013 at 08:33

    siji…

  6. Linda Cheang  4 July, 2013 at 08:28

    masih lambat, ya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.