Commuter Line

Enta Nola – Bogor

 

Hi pembaca Baltyra yang setia,

Apa kabar? Semoga semuanya sehat selalu. Sudah lama nih tidak nulis di sini, selagi ada waktu saya mau nulis masalah unek-unek.

Sesuai judul di atas saya mau ngomongin soal kereta api. Sejak saya kembali dari Solo dan menetap kembali di Bogor, saya bekerja di Jakarta. Awalnya sih kantor perusahaan saya berlokasi daerah TB Simatupang jadi bawa mobil sendiri masih ok walaupun sedikit bermacet ria di dalam tol. Sejak awal Maret, kantor pindah lokasi ke daerah Kebon Nanas Jakarta Timur. Kebayang dong macetnya dari tol, UKI sampai depan kantor. Aduh, mau bawa mobil kok enggan, bisa pegal kaki bolak balik injak kopling.

bad-traffic

Memang kantor menyediakan bis jemputan masalahnya berangkat dari Bogor jam 7 pagi. Namanya karyawati merangkap ibu rumah tangga, mana keburu jam 7 pagi sampai bis jemputan karena harus menyiapkan bekal anak, antar ke sekolah baru saya terakhir berangkat kerja. Akhirnya saya putuskan naik kereta api. Tiket kereta harganya 9 ribu rupiah sekali jalan sampai stasiun Tebet waktu tempuh 1 jam lebih 5 menit.

Mulai awal Juli, mulai diterapkan elektronik tiket dengan tarif progresiv. Yang biasanya bayar 9 ribu rupiah, sekarang hanya bayar 4 ribu rupiah saja. Memang kalau dihitung lumayan mengurangi beban ongkos namun sangat disayangkan dengan ongkos progresiv yang sekarang diterapkan, waktu tempuh menjadi 1 jam lebih 40 menit. Kalau waktu tempuh seperti ini mesti jam 6 pagi saya harus start dari stasiun Bogor. Kalau begini caranya lebih banyak org yang beralih kembali bawa mobil sendiri atau motor. Hasilnya bukannya lancar tapi Jakarta tambah macet.

comutterline

Selain waktu tempuh yang lama, jadwal kedatangan kereta pun tengang waktunya sekitar 10-15 menit sekali sehingga jumlah penumpang melebihi kapasitas. Padatnya minta ampun sampai himpit-himpitan bahkan susah bergerak. Padahal waktu tempuh antar stasiun sebelum berlaku elektronik tiket hamya 5 menit seharusnya jadwal kedatangan kereta tiap 5 menit akan membuat rebutan naik kereta jadi terhindarkan. Harusnya pihak yang berkaitan meniru sistem negara tertangga yang jadwal kereta setiap 3 menit sekali hingga penumpang tidak rebutan naik.

Kapan ya Indonesia memiliki transportasi yang lancar seperti negara tetangga hingga penumpang pun nyaman.

 

Salam,

Shinta – Bogor

 

11 Comments to "Commuter Line"

  1. Evi Irons  7 July, 2013 at 10:27

    kalau dari skrg tidak ditambah jalanannya, dlm wkt dekat bisa macet & semrawut, betul kata bang Josh hrs menyebar penduduknya, bangunlah kota-kota baru di berbagai tempat & di daerah, lalu dimajukan, jgn Jakarta terus yg selalu dibangun & dimajukan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.