Curhat Jelatah Kepada Bulan

Wendly Jebatu Marot

 

Keresahanku semakin menggelora, ketika sebulan terakhir rembulan genit tak lagi melirikku yang saban malam meloi dari balik gorden lusuh..

Aku mau mengadu padanya tentang hujan yang kian rajin menyambangi rumah reot kami, yang membiarkan airnya merembes masuk lewat celah atap seng yang sudah usur termakan karat.

Rembesan airnya membasahi kasur lusuh dan menghancurkan tikar tua pemberian si nenek uban di kampung udik itu.

Oh bulan..

Pada siapa lagi aku bisa curhat melampiaskan keluh kesahku tentang kelambu hitam yang bumi bentangkan di atas langit, yang membujur dari utara ke selatan dan melintang dari timur ke barat.

Aku selalu terlambat bertemu matahari yang setia mampir sebentar, tersenym sebentar kepada bunga-bunga yang kian hari kian resah oleh hadirnya gulma di taman bundar.

Aku selalu dan selalu dibangunkan oleh riuh rendah anak sekolah yang ribut dan kadang repot dengan rumah reotku..

 

Maklum!

Aku selalu bangun kesiangan lantaran malamnya masih mencari tempat kering untuk kutaruh kepala yang kian berat oleh ngantuk yang selalu datang terlambat..

Tiap malam aku selalu keluyuran mencari paras genitmu bulan..

Aku selalu ngantuk telat..

Tidur telat..

Jangan heran kalau bangun pun tak jarang telat..

Sampai papaku mencapku pemalas

Karena tak pernah doa pagi bersama di ruang doa..

Ah rembulan genit..

Tau kah tidak, aku selalu berdoa pada Tuhan kita agar aku bisa membawamu kemari.

Aku pernah meminjam tongkat sepotong milik kakek jenggot untuk menjolokmu di kala purnama..

Bagiku, kau terlalu indah kalau bersinar dan tersenyum..

Tapi sekarang kamu begitu malas..

Atau kamu tak lagi ada cela untuk melirik..

Coba kamu ada tangan, coba sibakkan tirai kelambu di awan yang selalu dibentangkan itu..

 

Susah..

Aku sumpah serapah..

Sajanah..

Serakah..

 

Ah rembulan..

Aku sebenarnya tak membenci hujan

Seperti aku tak pernah membenci matahari

Seeprti aku tak pernah membenci bintang

Seperti aku tak pernah membenci engkau.

 

Aku cuma membenci diriku yang ditakdirkan miskin..

Karena miskin aku tak bisa mengganti atap seng bocor

karena miskin, aku tak bisa mengganti kasur dengan spring bad atau kasur busa..

Kasurku memang busa, karena kena air hujan lalu bercampur dengan kotoran tikus yang jatuh dari atap yang kotor dan reot itu.

Aku membenci diriku yang miskin

tak bisa membeli sprai baru menggantikan tikar pandan pemberian nenek uban..

 

Ah bulan..

Mungkin hujan membenci orang miskin kaya aku

Mungkin mentari membenci orang miskin kaya aku

Mungkin bintang membenci orang miskin kaya aku

Mungkinkah kau juga membenci orang miskin kaya aku?

Apa karena benci, kamu yang di langit seakat memasng kelambu hitam kelabu tiap hari biar aku tak boleh menikmati tidur malam yang indah.

tak boleh bermimpi indah

dan tak boleh menikmati fajar yang indah..

 

Kalaupun kau membenciku, aku takan menutup gorden lusuhku tiap malam..

Malah besok aku akan merubuhkan rumah reotku

Biar aku hidup di atas angin..

Biar orang akan mengenal aku sebagai orang gila

Yang berumahkan angin…

 

Bulan, maaf aku tidak bisa berlama-lama

Hujan sudah datang lagi

Dan aku harus menutup atap bocor itu dengan celana…

 

Larut malam, 12 Juni 2013

 

8 Comments to "Curhat Jelatah Kepada Bulan"