Bung Karno, Nasionalisme, Demokrasi dan Revolusi

Ratman Aspari

 

DEPOK –  Sosok seorang Bung Karno tidak sekedar seorang presiden pertama Republik Indonesia, namun duniapun mengakui ketokohan sosok sang proklamator.  Namun sangat  ironis, selama ini pemikiran pemikiran Bung Karno tidak pernah ada dalam studi di lembaga pendidikan formal. Walaupun ada biasanya dilakukan oleh para penggiat Sukarnois.

Kondisi seperti ini terus terang menjadi kperihatinan tersendiri bagi sekelompok aktivias dan penggiat seni di Kota Depok. Lantas dalam bulan Juni 2013 ini, dimana merupakan bulan Bung Karno.

DSCF1003

Atas dasar tersebut, Jaringan Pekerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) Kota Depok, menggandeng Sanggar Teater Gedek dan Komunitas Padepokan Kendalisodo, menggelar malam apresiasi budaya dan diskusi memperingati bulan Bung Karno, Sabtu (29/06).

“Setidaknya kita membuat empat kegiatan, yakni peringatan Hari Lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni, lalu Hari Lahirnya Bung Karno tanggal 6 Juni, Hari Meninggalnya Bung Karno tanggal 21 Juni, dan penutupan Bulan Bung Karno dengan event budaya,” pria yang akrab di sapa  Tora.

Kegiatan ini sengaja kami gelar secara sederhana, jelas Rando. Namun dalam kesederhanaan tersebut kami kira tidak akan mengurangi makna yang sangat dalam, untuk menyerap nilai-nilai pemikiran Bung Karno.

Ini murni dukungan dari kawan-kawan yang masih memiliki kepedulian terhadap pemikiran besar Bung Karno. Terus terang untuk Kota Depok ini, jelas Rando apresiasi terhadap peringatan bulan Bung Karno sangat minim, tidak ada kepedulian sedikitpun dari para elit, termasuk partai yang mengaku trah Bung Karno, Kota Depok, kita miris sekali, jelas Ketua Jaker Kota Depok.

DSCF1018

DSCF1029

DSCF1033

Dalam malam budaya itu, sejumlah seniman tampil membawakan karya seninya, seperti membaca puisi, musikalisasi puisi, dan lagu-lagu perjuangan. Sudibyanto, adik penyair WS Rendra, tak ketinggalan membacakan puisi-puisi tentang Bung Karno.

Selain itu, ada penampilan seniman lain seperti Padepokan Kendalisodo dan Sangger Gedek. Mereka membawakan musikalisasi puisi berisi apresiasi terhadap Bung Karno dan perjuangannya.

Tak hanya itu, di sela-sela acara ini juga diisi dengan diskusi buku berjudul “Bung Karno: Nasionalisme, Demokrasi, dan Revolusi” dengan penulis buku, yakni Rudi Hartono. Hadir pula Mustiman, salah seorang mantan sopir sekaligus  pengawal pribadi Bung Karno, yang bercerita tentang kisah hidup Bung Karno.

Menurut Rudi Hartono, banyak pemikiran Bung Karno yang sangat relevan untuk menjawab persoalan ekonomi, politik, dan sosial-budaya yang terjadi saat ini. “Saya kira, ini adalah momentum untuk menggali kembali pemikiran Bung Karno. Pemikiran Bung Karno sangat relevan untuk menjawab persoalan kebangsaan hari ini,” ujarnya.

Dalam seksi diskusi mengemuka berbagai masukan dan pandangan yang sangat mencerahkan, Mantan pengawal dan sopir pribadi Bung Karno, Mustiman memaparkan dengan gamblang, berbagai hal yang selama ini justru tidak pernah terpublikasikan.

DSCF1037

DSCF1042

Sementara sastrawan yang banyak menulis novel-novel sejarah, Putra Gara dengan penuh semangat mencoba memotret sosok seorang Bung Karno, dalam pandangan pria yang sukses menulis novel sejarah Samudra Pasai, sosok  Bung Karno tidak saja sebagai presiden pertama Indonesia, tetapi sosok kepemimpinannya sudah diakui oleh dunia internasional. Gagasan dan pemikiran Bung Karno, terus dikaji dan dipelajari oleh berbagai lembaga di luar negeri, sementara di Indonesia sendiri justru pemikiran Bung Karno seolah diamputasi.

Kondisi tersebut menurut Putra Gara sudah tidak aneh, menurutnya sejak awal berkuasa Orde Baru secara tidak langsung telah menenggelamkan pemikiran-pemikiran Bung Karno.  Forum-forum kecil seperti ini, lanjut Gara sangat penting untuk menggaungkan kembali berbagai pemikiran Bung Karno yang luar biasa, kita tidak bisa berharap banyak dari lembaga-lembaga resmi yang ada.

Acara malam budaya ini ditutup dengan musikalisasi puisi berjudul “Kidung Hitam-Putih”, yang melibatkan Titok Hardiman, Dewi Gedek, Sudibyanto, dan anak-anak muda dari padepokan Kendalisodo. (ratman aspari)

 

6 Comments to "Bung Karno, Nasionalisme, Demokrasi dan Revolusi"

  1. Sang Tokek  9 July, 2013 at 15:53

    keren bro…. Trims beritanya……

  2. ratman aspari  9 July, 2013 at 08:06

    Terima kasih atas komentar dari para senior semua…Depok sebagai penyangga ibu kota, ekspresi para penggiat seni budaya cukup dinamis, namun yang banyak di keluhkan oleh temen-temen pekerja kreatif sampai saat ini pemerintah kota belum bisa mewujudkan gedung kesenian di Kota Depok sebagai sarana untuk berkreasi bagi rekan-rekan pekerja kreatif….

  3. J C  9 July, 2013 at 06:50

    Topik tentang Soekarno memang tidak akan pernah habis sepanjang masa…

  4. Dewi Aichi  8 July, 2013 at 21:45

    Pak Ratman, terima kasih tulisan untuk mewujudkan bahwa bung Karno merupakan tokoh besar yang dimiliki Indonesia, yang diakui dunia.

  5. Handoko Widagdo  8 July, 2013 at 18:54

    Terima kasih Bung Ratman Aspari.

  6. Lani  8 July, 2013 at 09:52

    satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.