180 dan Kita

Atra Lophe

 

Waktu terus mengukir cerita. Mengiringi langkah yang hampir saja letih. Seperti hari ini saat hiruk pikuk langkah mengitari taman berbatu. Tanpa bunga disana. Tanpa cahaya remang. Tanpa ada kursi panjang atau pun kupu-kupu berterbangan liar. Memang, ini hanya taman berbatu. Gersang dan sedikit banjir jika hujan.

Kita berada di sisi lain taman ini. Bersama di antara kegersangan dan kekeringan dalam musim yang tak terduga. Tadi, saat senja runtuh kita sudah ada di sini. Menikmati warna senja dalam balutan gaun orange. Garis lentur putih menjadi pita, mengapit kekosongan langit luas. Tak terbatas karena memang tak terlihat batasnya.

180

Di sini, untuk pertama kalinya aku menikmati senja bersamamu. Kau mengenakan gaun biru dengan rambut dikucir. Sesekali rambutmu digerai, lalu dikepang dan kemudian digerai lagi. Aku suka melihat wajahmu dengan jelas. Apalagi menatapmu sedekat ini. aih, kuingin seribu tahun lagi  bersama seperti ini. Mengamati garis-garis wajah yang mungkin kan lentur. Tetapi, kecantikanmu memanglah abadi dan tak termakan waktu.

Kau tersenyum saat berada tepat di depanku. Kau menyentuh pipiku dengan lembut. Sesekali kau mengusap keringat kecil yang jatuh di keningku. Asal kau tahu saja, keringat ini karena aku terlalu bahagia. Berada dekat dengan ragamu. Sekalipun taman ini gersang, aku tetap sejuk di bawah naungan senyum indahmu.

Beberapa orang lalu-lalang melewati tempat kita duduk. Mereka seakan tak ingin mengusik kebahagiaan kita, Mayya. Atau memang mereka tak mau peduli? Persetan dengan mereka. Sebab aku hanya ingin bersamamu di sini.

Waktu merekam kisah kita hari ini dengan sangat lengkap. Ia seperti kamera yang sengaja digeraki. Merekam dari berbagai sudut hanya untuk menguatkan makna setiap gambarnya. Wajahmu merona dan aku terpesona. Angin berhembus pelan, membelai setiap helai rambutmu. Jari lentik bergerak cepat, menghalau rambut yang hampir saja menghalangi indahnya wajahmu. “cepat Mayya. Sibaklah rambut itu. Aku ingin melihat wajahmu”. Desahku dalam hati.

Sementara, waktu tak ingin berhenti bergerak. Ia berjalan seperti yang ia kehendaki. Di sana malam memberi kode, bahwa ia akan datang.  Kau tak bergegas, apalagi aku. Aku merasa sangat tentram di sini, melihat kau tersenyum dan menatap manja dalam diam. Seakan kau adalah milikku dan kuingin menyentuh pipimu yang mungil.

Warna gaunmu tak pudar meski debu berlomba merekat pada setiap helai benang. Rajutannya sangat sempurna.  Beberapa mata kini peduli pada kita. Mengajak untuk melangkah, meninggalkan taman ini. kemudian kita berjalan dengan sangat hati-hati. Dalam dada, jantungku berdegup kencang. Betapa indah hari ini.

“Hey, 180 menit! kita telah selesai melewatinya. Berjalanlah dengan hati-hati. Panggung itu menunggumu. Sukses ya.” suaramu lembut.

Aku melangkah menuju panggung pementasan itu dengan  seribu senyum. Sambil menghitung langkah dari jarak kita bersama.

“180 langkah menuju panggung ini, Mayya. Kita berhasil”. Seruku

Kau tersenyum lagi. Rambutmu jatuh menutupi sebagian bola matamu. Dari celah helai rambut itu aku melihat matamu mengirim cerita bermakna. Seketika halilintar bergema. Menyusul hujan jatuh dengan deras. Orang berlarian mencari tempat teduh dan aku merekam itu dalam angka  abadi, 180 dan kita.

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "180 dan Kita"

  1. atra lophe  11 July, 2013 at 21:01

    terimakasih semuanya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.